Buddhisme Kontekstual: Kewaspadaan (Appamada) dalam Mempertahankan Eksistensi di Era Posmodern

Home » Artikel » Buddhisme Kontekstual: Kewaspadaan (Appamada) dalam Mempertahankan Eksistensi di Era Posmodern

Dilihat

Dilihat : 142 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 163
  • 571
  • 278,690
Pic 2 Buddhisme Kontekstual Appamada

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.

 

Appamada dalam bahasa Pali, secara leksikal bermakna ketidaklengahan, kewaspadaan, hal penuh sadar, tak leka, keseriusan (Bluesky 2015). Kata ini menjadi populer di kalangan umat Buddhis dan menjadi salah 1 core dalam ajaran Buddhisme. Sebagai contoh dalam Dhammapada 21 dikatakan kewaspadaan adalah jalan menuju ketidak matian, kelengahan adalah jalan menuju kematian, orang yang waspada tidak akan mati, dan orang yang tidak waspada tak ubahnya seperti orang yang sudah mati (Dhp21, Wilson 2010); Kemudian dalam frasa Appamado ca dhammesu (Tidak lengah melaksanakan Dhamma, KP6. Mangala Sutta, Suttacentral 2016); dan frasa Appamadena Sampadetha (Berjuanglah dengan keseriusan, DN16 Mahaparinibbana Sutta, Suttacentral 2016a). Dalam konteks kekinian (era posmodern), kewaspadaan dan keseriusan sangat diperlukan. Setidaknya ada beberapa hal di mana kewaspadaan benar-benar diperlukan:

 

A. Realita Disrupsi

Bila pada tulisan-tulisan saya sebelumnya kita mengenal istilah Dromologi yang dicetuskan oleh Paul Virlio yang bermakna ‘Percepatan dunia’, saat dunia berlari begitu cepat dan terus berkembang secara dinamis (Piliang 2017), kini kita berkenalan dengan istilah disrupsi. Kata disrupsi secara leksikal berarti ‘hal tercabut dari akarnya’ (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa 2016). Istilah ini menggambarkan perubahan besar dan cepat dalam teknologi, ekonomi, dan masyarakat yang disebabkan oleh inovasi teknologi digital. Teknologi lama menggantikan teknologi baru. Era ini ditandai dengan perubahan paradigma dalam cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi, yang dipicu oleh beberapa faktor, seperti: Evolusi teknologi digital akhir-akhir ini, globalisasi, dan perubahan perilaku konsumen (Imanuella Rutatan 2024).

Sebagaimana era-era sebelumnya, di mana ada evolusi teknologi, pasti ada kemampuan baik soft skill maupun hard skill manusia yang berkurang. Dahulu waktu pertama kali ada kalkulator, lekas alat hitung tradisional seperti sempoa mulai ditinggalkan, tinggal masuk-masukan saja ke dalam kalkulator dan hasil keluar tanpa perlu berpikir simpan pinjam butir sempoa. Kemudian muncul era Excel, bisa mempersingkat kerja banyak akuntan, tinggal masuk rumus dan data, semua hitungan yang mungkin butuh waktu 1 jam pakai kalkulator (dikerjakan 1 per 1) sekarang selesai hanya dalam beberapa detik. Era excel berlalu, kini masuk era AI, kita cukup scan soal dan semua dijawab otomatis oleh AI. Ajaibnya transisi antara era kalkulator-excel-AI hanya berselisih sekitar sepuluh tahunan, artinya lontaran teknologi terlalu jauh, bahkan tidak melewati satu generasi manusia.

Lalu apa kabar dengan kemampuan kognitif manusia dalam hal berhitung? Sudah terjadi pelemahan sejak era kallulator muncul. Saya masih ingat di kala saya masih SD muncul narasi ‘malas berhitung’ dari beberapa murid borjuis yang orang tuanya cukup kaya membelikan mereka kalkulator canggih alfalink yang bisa menghitung bukan hanya kalkulasi biasa namun juga kalkulasi saintifik bahkan kamus. ‘Gunakan saja kalkukalor, ngapain capek-capek hitung’ tegasnya. Celakanya adalah mereka kini telah menjelma menjadi ibu/ayah rumah tangga bagi generasi saat ini. Mungkin belum terasa dampaknya beberapa tahun ke belakang, baru saat ini saya kaget ada beberapa anak tidak bisa perkalian dasar. Beberapa viral di Tiktok anak SMP bahkan SMA tidak tahu 9 x 9 = berapa. Apalagi jika diminta menghitung rata-rata, tidak bisa, bahkan membaca jam analog saja tidak mampu mereka.

Data Tes Kemampuan Akademik (TKA) pengganti UN tahun 2025 yang diterbitkan KEMENDIKDASMEN-RI menunjukan rata-rata nilai Matematika siswa SMA se Indonesia tahun 2025 hanya ada di angka 36.10, memang ini tidak merefleksikan sebagian siswa bernilai jelek, ada siswa berpredikat istimewa 2.2%, baik 19.2%, memadai 33.9% dan sisanya kurang sebanyak 44.7% (Pusat Asesmen Pendidikan KEMENDIKDASMEN RI 2025) tetapi sebagian besar justru hancur di kemampuan berhitung. Apakah kita sudah mulai menjadi waspada akan penurunan kognitif manusia?

 

B. Utamakan Kontenisasi

Dunia manusia posmodern diisi dengan citraan-citraan imagologi, di saat ini eksistensi manusia dianggap hanya citraan yang terus menerus berlalu (Piliang 2011, 2017), bila dulu Buddha bilang manusia terjebak siklus samsara dalam siklus lahir-tua-sakit-mati, sekarang muncul siklus ‘Neo-samsara‘ bernama Algoritma, di sini manusia hanya trend algoritmik yang dipandang dalam siklus muncul-dikonteni-viral-eksis-redup, agak berbeda tipis tetapi skemanya tetap Uppada-Thiti-Bhanga (Muncul-Berlangsung-Lenyap). Sebagai bentuk keniscayaan bahwa apa yang muncul dan berlangsung tetap akan lenyap dan akan memulai siklus baru tanpa akhir, artinya bila kita mengejar konten maka ini akan menjadi perjalanan melelahkan tanpa akhir. Semakin berganti gaya semakin ada, kata sebagian orang. Apakah benar demikian?

Saya pribadi pernah bekerja di satu sekolah dan mengetahui beberapa anak didik jadi bahan konten sekolah. Anak itu cukup pintar dan dengan dikonteni sekolah orangtuanya menjadi bangga. Celakanya di saat konten justru mengambil jam pelajaran siswa tersebut dan gurupun yang seharusnya mengajar ataupun mengerjakan urusan administrasi yang sudah berjibun, terpaksa ada yang harus mendampingi siswa tersebut demi hasrat direksi sekolah memproduksi konten yang terkesan edukatif.

IG dan FB sama Youtube tidak boleh kosong! Demikian kata direksi kala itu, tetapi apa mereka berpikir dampak kalau terlalu mengeksploitasi jam belajar anak demi konten? Di tambah lagi ada peraturan tak tertulis yang mewajibkan semua anak wajib lulus, bila tidak lulus bukan anaknya yang diulang kelas namun standarnya yang diturunkan. Inilah pil pahit yang harus dirasakan, bahwa institusi pendidikan lebih sibuk membuat konten ketimbang sibuk mencerdaskan peserta didiknya, sementara kewaspadaan (awareness) orang tua pun tidak muncul karena ia justru bangga anaknya jadi bahan konten dan terkenal. Selamat datang di era kontenisasi pendidikan!

 

C. Kewaspadaan = Kunci Bertahan Hidup

Saat ini, Appamada menjelma dengan peran barunya sebagai Social awareness. Bila insting (naluri) bertahan hidup adalah bentuk paling awal pertahanan eksistensi sejak manusia ada di dunia ini, insting ini kemudian menjelma dan terus berevolusi bersama dengan dunia yang semakin kompleks. Social awareness (kewaspadaan sosial) adalah kemampuan untuk memahami dan peka terhadap perasaan, pikiran, situasi, serta perspektif orang lain dan lingkungan sekitar, termasuk perbedaan latar belakang budaya dan sosial (LANDMARK OUTREACH 2018). Sejak manusia membagi ilmu antara ilmu alam dan ilmu sosial, manusia tidak hanya waspada terhadap gejala perubahan alam, termasuk di antaranya perubahan sosial.

Bila di masa Buddha masih hidup, kewaspadaan lebih diarahkan ke internal batin dalam mengawasi Kilesa (Kotoran batin), kini bersama dengan semakin gilanya perputaran dunia, maka kitapun harus memiliki kewaspadaan yang diarahkan keluar. Semata-mata demi kelangsungan hidup kita dan komunitas masyarakat di sekitar kita. Bagaimana kita memulainya? Mulailah peduli dengan lingkungan dan perubahannya, baik itu lingkungan hidup (alam) dan lingkungan sosial. Bila kita menganut teori katastropik (bencana besar) sebagai dampak dromologi dunia yang terus berputar melampaui kewajaran, mungkin kitapun akan demikian ketika kita semakin sulit membedakan mana citraan imagologi mana realita (mana video AI mana video asli), mana esensi mana sensasi, mana hakikat mana kembangan, atau bahkan mana teori konspirasi (berbasis hipotesa kewaspadaan) mana teori konspirasi (berbasis propaganda).

Pada akhirnya, kita harus hidup di tengah disrupsi dunia yang semakin berlari cepat, lontaran teknologi dan citraan demi citraan berlalu lalang, hiper realitas semacam ini akan menjadi makanan sehari-hari, maka di sinilah kita perlu memiliki kewaspadaan yang akan menjadi ‘insting pertahanan’ dalam menjalani kehidupan. Bila anda masih ingat teori katak rebus yang tidak beranjak saat panci semakin lama semakin panas, mungkin ini akan terjadi pada kita semua ketika kita mengabaikan kewaspadaan kita. Kata ‘Jangan-jangan’ justru yang membuat kita berspekulatif dan berani memfalsifikasi sesuatu sekalipun hal tersebut sudah dijadikan konsumsi masal oleh publik. Lalu satu hal, kelak kalau saya menyekolahkan anak saya, saya tidak mau memasukan ke sekolah yang sibuk urus konten daripada siswanya. Saya belajar citraan kontenisasi hanya kepingan realita, bukan tidak penting namun itu tidak merepresentasikan realita.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan. 2016. “KBBI VI Daring.” Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia. Retrieved November 19, 2024 (https://kbbi.kemdikbud.go.id/).

Bluesky, Lions of. 2015. “Digital Universal Buddhist Dictionary (DUBD).”

Imanuella Rutatan, Euodia. 2024. “DISRUPSI : SIAPA YANG SALAH?” Kampung Literasi. Retrieved December 25, 2025 (https://kampungliterasi.untirta.ac.id/konten/baca-konten/disrupsi-siapa-yang-salah-80247).

LANDMARK OUTREACH. 2018. “Social Awareness.” LANDMARK OUTREACH. Retrieved December 25, 2025 (https://www.landmarkoutreach.org/strategies/social-awareness-sel/).

Piliang, Yasraf Amir. 2011. Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung: MATAHARI.

Piliang, Yasraf Amir. 2017. Dunia Yang Berlari Dromologi, Implosi, Fantasmagoria. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.

Pusat Asesmen Pendidikan KEMENDIKDASMEN RI. 2025. “HASIL TES KEMAMPUAN AKADEMIK 2025.” Retrieved December 25, 2025 (https://tka.kemendikdasmen.go.id/hasiltka/).

Suttacentral. 2016a. “Dīghanikaya.” Retrieved January 1, 2025 (https://suttacentral.net/pitaka/sutta/long?lang=en).

Suttacentral. 2016b. “Khuddakanikāya—Navigation.” Retrieved January 1, 2025 (https://suttacentral.net/pitaka/sutta/minor/kn?lang=en).

Wilson. 2010. Dhammapada Aṭṭhakathā 1. edited by B. Khemanando. Medan: Indonesia Tipitaka Center (Itc).

Foto: Gambar layar sebagian hasil Tes Kompetensi Akademik SMA Nasional tahun 2025 (Dok: Pusat Asesmen Pendidikan KEMENDIKDASMEN RI 2025)

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?