“Peace Walk” Bhikkhu di Hutan Kota Amerika – Meditasi Kolektif Untuk Perdamaian Dunia

Home » Artikel » “Peace Walk” Bhikkhu di Hutan Kota Amerika – Meditasi Kolektif Untuk Perdamaian Dunia

Dilihat

Dilihat : 208 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 163
  • 571
  • 278,690
Pic 2623

Oleh: Jo Priastana

 

“Walk as if you are kissing the Earth with your feet.”

(Thich Nhat Hanh, Teacher, Peace Activist)

 

Jalan kaki Bhikkhu dari Texas ke Washington D.C, Amerika 2025-2026. Ia berjalan bukan untuk tiba tetapi karena dunia terlalu bising oleh luka. Dunia yang berada di ambang perang besar dengan panji-panji senjata pemusnah massal untuk janji keselamatan dunia yang kosong. Namun, di bahu para bhikkhu itu, tak ada panji, bukan kata berucap janji. Hanya jubah tipis yang mengibarkan kesunyian. Orang-orang menatapnya seperti berita aneh: mengapa seseorang memilih kaki sebagai bahasa di zaman teriakan dan peluru?

Bhikkhu tidak menjawab. Karena jawabannya bukan kata, melainkan langkah. Setiap tapak kaki menyentuh aspal seperti menyentuh luka yang sedang dihadapi dunia. Ia tahu jalan ini pernah dilewati oleh ibu-ibu yang kehilangan anak, oleh tentara yang kehilangan makna, oleh anak kecil yang tak pernah mengerti mengapa rumah bisa runtuh. Oleh pemimpin dunia yang siap dengan tombol kiamat. Ia tak mengutuk siapa pun. Ia hanya menghirup udara dunia yang retak.

Di dalam dadanya tak ada strategi, tak ada manifesto. Yang ada hanya langkah-langkah sunyi yang diulang ribuan jejak, “semoga semua makhluk bebas dari kebencian.” Angin menyentuh kepalanya yang gundul seperti tangan guru tua yang tak pernah terlihat namun mengabarkan damai abadi dari masa silam. Ia terus melangkah untuk dunia dimana damai masa deppan tak pasti. Kadang ia lelah, kaki berdarah, punggung perih, dan dunia tetap berisik. Ia terus melangkah dalam sunyi karena damai bersemayam dalam diam.

 

Walk for Peace dan Engaged Budhism

Sepuluh orang bhikkhu yang berjalan kaki melakukan “Walk for Peace” (Jalan Damai) dari Texas Amerika Serikat menuju Washington, D.C. sebagai bentuk ekspresi Buddhis. Mereka berasal dari Huong Dao Vipassana Bhavana Center di Fort Wort, Texas (AS), sebuah vihara Buddhis tradisi Theravada yang memiliki komunitas monastik aktif. Mereka ditemani anjing istimewa bernama Aloka yang turut berjalan sejauh 2.300 mil (3700 km), sebagai bentuk meditasi dalam tindakan, simbol kasih sayang dan inspirasi sepanjang perjalanan.

“Walk For Peace” atau “Peace Walk” para bhikkhu yang saat ini sedang terlihat di jalan-jalan di kota di Amerika, adalah kreasi ekspresi dari tradisi ritual meditasi jalan kaki, walking meditation, untuk dunia modern dari semangat Buddhadharma yang sangat otentik sebagai praktik welas asih (karuna), tanpa kekerasan (ahimsa), dan keterlibatan sosial. Tradisi modern jalan kaki yang kini sedang  mendunia, berakar pada spiritualitas Buddha sejak masa silam dalam Dhutanga berjalan dari satu hutan ke hutan lain, dan kini menjelma ke jalan raya dari satu hutan kota ke hutan kota modern lainnya.

Mereka mengabarkan ajaran Buddha, bahwa “Kebencian tidak akan pernah berakhir oleh kebencian. Kebencian akan berakhir oleh cinta.” (Dhammapada). Aksi akan mengundang reaksi, dan respons positif untuk dunia yang sedang berisik adalah diam namun tetap bergerak, karena damai itu juga adalah latihan dinamis dan stabilitas penguasaan diri.

Sepertinya, para Bhikkhu yang melakukan “peace walk” sedang menghidupi ajaran Buddha. dimana metta (cinta kasih universal), Karuna (belas kasihan terhadap penderitaan sosial), Ahimsa (tanpa kekerasan dalam pikiran, ucapan, dan tindakan), maupun sila publik (moralitas sebagai kesaksian sosial) dimaksudkan untuk bisa dialirkan dari satu kota ke kota lain di dunia dan mungkin akan singgah dan meresapi di pusat kebijakan dunia.

Mereka hanya berjalan, “walk, only walk not the talk,” jalan kaki ribuan kilomenter, mungkin sebagai latihan untuk diri mereka sendiri, dan rasa damai batin yang tumbuh untuk berbagi kepada dunia. Mereka tidak berteriak-teriak politik, meski mesiu dan rudal balistik kerap berbunyi nyaring, tapi tetap berjalan dalam hening sebagai tubuh dhamma, kekuatan sunyi yang “tremendum et fascinan,” menggetarkan namun menarik. Publik Amerika pun berjejer sepanjang jalan menunduk hening merasakan damai.

Simpati dunia datang perlahan, seperti tangan yang dirangkapkan di dada yang menjadi tradisi modern dalam sapa dan hormat. Para bhikkhu “Peace Walk” yang sedang mewujudkan “Engaged Buddhism,” sebuah tipologi Buddhis masa kini untuk menjawab fenomena dunia yang berisik, bumi yang terluka dan anak-anak manusia yang dirundung duka.

Kalau dunia tidak bisa damai biar puisi dan spiritualitas berbicara, untuk dunia damai, suara ini juga kuat dalam gerakan Engaged Buddhism (Buddhisme terlibat sosial), yang muncul lewat tokoh-tokoh seperti Thich Nhat Hanh (Vietnam), Maha Ghosananda (Kamboja), Dalai Lama, Bhikkhu Buddhadasa (Thailand), maupun Sulak Sivaraksa. “Walking meditation” Buddhis tampaknya menjelma untuk dunia modern dalam meditasi kolektif dan gerakan bersama, melangkah untuk dunia damai.

Mereka membuktikan adanya keterlibatan sosial dan politik dalam Buddhadharma dengan caranya yang yang tak berisik, sebagaimana Mahatma Gandhi telah membuktikannya dalam kebangkitan kemerdekaan India yang memberi inspirasi banyak tokoh dunia. Maha Ghosananda pernah berjalan ribuan kilometer melewati ladang ranjau bekas perang Kamboja sambil berkata: “Langkah penuh cinta adalah doa bagi bumi.”

Demikian pula dengan Bhiksu Zen asal Vietnam, Thich Nhat Hanh yang menjadi ikon dunia untuk “melangkah dalam kesadaran.” Karyanya “Peace Is Every Step: The Path of Mindfulness in Everyday Life,” (1992), dan “The Miracle of Mindfulness: An Introduction to the Practice of Meditation,” (1975) menjadi rujukan dunia bagi mereka yang akan melangkah di jalan kesadaran, langkah-langkah mewujudkan perdamaian.

 

Peace Walk Thich Nhat Hanh dan Martin Luther Kung Jr.

Spiritualitas Timur dalam Buddhadharma untuk dunia damai telah hadir sejak tahun 1965. Di tahun itu, dunia Barat dikenali “peace walk.” Thich Nhat Hanh melakukan dan menginspirasi dunia Barat dengan peace walk. Peace Walk di dunia modern bahkan identik dengan Thich Nhat Hanh (1926-2022), guru Zen Vietnam dan pendiri komunitas Plum Village yang dikenal sebagai pelopor istilah “Engaged Buddhism” dan “mindfulness” yang mendunia.

Thich Nhat Hanh memimpin “peace march” (pawai damai) menentang Perang Vietnam sejak awal 1960-an. Ia mengajarkan walking meditation massal di jalan-jalan Eropa dan Amerika. Ia adalah tokoh kharismatik yang mengadakan “peace walk lintas agama.” Buddhis, Kristen, Yahudi, Muslim, dan menjadikan “walking meditation” sebagai aksi spiritual-politik tanpa kebencian.

Bagi Thay, panggilan akrab muridnya, berjalan dengan sadar adalah melatih dunia untuk tidak terburu membenci. Ia berkata: “Every step is peace. Every step is healing.” Setiap langkah adalah perdamaian. Setiap langkah adalah penyembuhan. Peace Walk baginya bukan strategi sosial-politis, melainkan praktik pencerahan kolektif, meditasi kolektif untuk perdamaian dunia.

Pada tahun 1966, Thich Nhat Hanh pergi ke Amerika untuk menyerukan penghentian Perang Vietnam, dan menjelaskan bahwa rakyat Vietnam bukan musuh, tapi korban. Di sana, ia bertemu dengan Martin Luther King Jr, dalam sebuah dialog mendalam. Martin Luther King Jr tersentuh oleh kelembutan Thich Nhat Hanh, kejernihan moralnya, dan sikap tanpa kebencian terhadap pihak mana pun.

Gerakan Thich Nhat Hanh itu menjadikannya berhubungan dengan Martin Luther King Jr, seorang pejuang hak asasi manusia dan perdamaian di Amerika. Pertemuan mereka dinilai sebagai salah satu pertemuan paling indah antara spiritualitas Timur dan perjuangan keadilan Barat, dimana Barat saat itu mengenal bahwa Buddhisme juga turun ke penderitaan nyata dunia.

Setelah pertemuan itu, Martin Luther King Jr berkata: “I do not know of anyone more worthy of the Nobel Peace Prize than this gentle monk from Vietnam.” Pada 1967, Martin Luther King Jr, secara resmi mencalonkan Thich Nhat Hanh untuk Nobel Peace Prize. Dan inilah yang penting:

Pidato terkenal Martin Luther King menentang Perang Vietnam (Beyond Vietnam) lahir setelah pertemuannya dengan Thich Nhat Hanh. Jadi ada pengaruh besar Thich Nhat Hanh tehadap Martin Luther King Jr. Dan bahkan mengubah arah perjuangan Martin Luther King Jr itu sendiri.

Kedua tokoh perdamaian dunia, dua jiwa, satu napas perjuangan. Keduanya berasal dari dunia yang berbeda, Barat dan Timur. Yang satu bhikkhu Zen dari Asia, yang satunya lagi, pendeta baptis kulit hitam dari Amerika. Tapi mereka bertemu di titik terdalam, perjuangan tanpa kebencian.

Martin Luther King Jr. berjuang dengan cinta kasih Kristen dan semangat non-kekerasan Mahatma Gandhi. Dan Thich Nhat Hanh berjuang dengan metta (cinta kasih universal), karuna (welas asih), dalam kesadaran napas dan langkah. Keduanya percaya, perdamaian bukan hanya tujuan politik, tapi kualitas batin yang harus dihidupi.

Perjuangan yang tragis namun indah. Tak lama setelah itu, Martin Luther King Jr. dibunuh (1968), dan Thich Nhat Hanh diasingkan dari Vietnam selama sepuluh tahun. Seorang warga dunia berkata, “suara damai sering terlalu jernih untuk dunia yang mabuk kekuasaan.”

Seorang bhikkhu datang tanpa senjata ke negeri penuh peluru. Seorang pendeta mendengar bahwa cinta bisa lebih kuat daripada pidato. Mereka tidak menandatangani perjanjian, hanya saling menatap dan tahu: jalan mereka satu. Thich Nhat Hanh tokoh yang melakukan dan memelopori peace walk. Ia bertemu Martin Luther King Jr. Mereka saling menguatkan dalam perjuangan non-kekerasan. Pertemuan dan persahabatan mereka adalah sejarah kebangkitan spiritual dunia.

Benih mereka tidak sia-sia dan tetap tumbuh subur. Menjelma dalam gerakan mindfulness global, peace walk lintas agama, dan spiritualitas sosial yang hidup sampai hari ini. Sampai kepada para Bhikkhu yang kini sedang menyusuri jalan-jalan di Amerika membawa pesan damai bagi pemimpin dunia agar jari jempolnya tetap tertahan untuk tidak menekan tombol senjata nuklir pemusnah massal yang meluncur melumat dunia.

 

Langkah Tubuh Dharma

Mengapa jalan kaki? Adakah jalan kaki adalah jalan kesadaran? Dalam Buddhadharma, berjalan bukan sekadar gerak fisik. Ada praktik walking meditation (cankama), dimana tubuh menjadi sarana untuk kebangkitan batin, dimana setiap langkah adalah pernyataan sunyi: “Kami memilih hidup, bukan kekerasan.” Melangkah adalah kesadaran akan hidup, berjalan kemana-mana adalah mengabarkan kehidupan harus ada di mana-mana, ditumbuhkan dalam kesadaran.

Peace walk bukan demonstrasi agresif, tapi sebagai meditasi kolektif yang terlihat oleh dunia yang membawa misi perdamaian. Apakah ini sah sebagai tradisi Buddhis? Jawaban jujur dan dalam: bukan tradisi bentuknya, tetapi tradisi semangat dari rohnya, jiwa metta yang menggerakan langkah-langkah itu. Jiwa ahimsa yang menjejakkan kaki di bumi meski melukai kaki sendiri, jiwa upekkha langkah-langkah cerminan jalan kaki yang tetap tegar terus menerus lurus, dan jejak welas asih untuk menyapa mereka yang beduka.

Seperti Buddha dulu tidak mengajarkan “seminar mindfulness korporat” tapi rohnya sama: pembebasan dari dukkha. Buddha tidak membuat “peace walk modern” tapi hidupnya sendiri adalah ziarah welas asih tanpa kekerasan, berjalan perlahan penuh kesadaran untuk welas asih bagi dunia, dan doa yang selalu bergema dimana cinta bukan diskriminasi, dan empati dalam mendengarkan derita dunia, luka bumi, meluruskan benang kusut semesta.

Peace Walk, Buddha dalam langkah para bhikkhu adalah sebuah wujud demonstrasi sunyi dari rasa damai yang yang tak perlu didiskusikan. Peristiwa ini berbeda dari aktivisme dan demonstrasi biasa yang kerap gaduh dan kadang rusuh. Dalam Peace walk Buddhis, tidak ada marah, tidak memusuhi, tidak memaksa, tidak membawa ideologi kebencian, dan lebih dekat pada kesaksian batin daripada propaganda dalam pamflet.

Jalan kaki yang hening, sederhana, mengandung muatan yang sangat kuat secara simbolik untuk dunia damai. Mereka tidak membawa spanduk seruan, pamflet kritikan apalagi cacian, namun hanya tubuh yang terus berjalan menjinakkan ego. Setiap langkah bukan menuju musuh, tetapi menjauh dari kebencian, jalan ke hati manusia. “Peace Walk” para bhikkhu adalah praktik ekspresi spiritual Buddhis, kreasi cara tradisional dalam bentuknya yang modern, dan ia adalah dhamma yang berjalan di jalan raya, di hutan kota.

Di jalan raya beraspal yang panas itu, mereka melangkah dalam ritme upekkha dengan hati yang murni yang sudah tidak lagi membatu. Di sana mereka menjalankan latihan batin, bukan berjalan karena dunia berubah, melainkan agar batin dan hatinya mengalir dalam langkah-langkah yang seimbang dan pasti.

Ada seorang anak bertanya di pinggir jalan, “Mengapa bhante berjalan jauh sekali?” Bhante tersenyum, senyum yang bermakna lebih panjang dari perjalanan itu sendiri. “Agar dunia tahu,” katanya pelan, “bahwa masih mungkin hidup tanpa membenci.”

Malam turun. Ia tidur di teras rumah tak bernama dengan langit sebagai selimut. Bintang-bintang tidak memberi pujian, tetapi kelap kelipnya cukup sebagai restu. Dan ketika esok hari ia kembali bangkit dan melangkah lagi, tak seorang pun menyadari bahwa yang sedang berjalan itu bukan sekedar manusia, melainkan, cahaya dari sebuah doa damai untuk dunia yang mengambil bentuk tubuh, tubuh dharma, cahaya Buddha! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Walk_for_Peace#/media/Berkas%3AWalk_for_Peace_in_Greensboro%2C_NC_(2026-01-19).jpg

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?