Pendidikan Karakter dan Buddhadharma Melalui Karya Sastra

Home » Artikel » Pendidikan Karakter dan Buddhadharma Melalui Karya Sastra

Dilihat

Dilihat : 96 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 140
  • 571
  • 278,667
Pic 2633 Karya Sastra

Oleh: Jo Priastana

 

“Hal yang luar biasa tentang karya sastra hebat adalah ia mengubah

orang yang membacanya menuju kondisi orang yang menulisnya.”

(E.M. Foster, 1879-1970, novelis, penulis Inggris)

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kerap terlihat perilaku siswa yang masih jauh dari tujuan pendidikan karakter. Pendidikan karakter tampak terlihat kurang efektif, dan kesenjangan ini tentunya harus dijembatani, diantaranya melalui pendidikan seni dan sastra. Pendidikan humaniora ini memiliki kekuatan mencapai tujuan pendidikan karakter sesungguhnya, seperti kejujuran, tanggung jawab, empati kemandirian maupun daya juang.

Membaca karya sastra memudahkan seseorang menyelami dan merasakan segi-segi kemanusiaan yang tercermin dalam karakter dari tokoh yang diungkap dalam bentuk cerita atau kisah. Dalam pandangan guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis Suseno (lahir 26 Mei 1936), dalam membaca sastra seseorang terbuka akan segi-segi kemanusiaan, tahu apa itu cinta, benci jujur, berjuang, menyerah, takut, berani. Bagi Romo Katolik ini, selama dibaca sastra dapat menjadi suatu pendidikan yang mengembangkan hati.

Sedangkan filsuf dan astronom Karlina Supelli (lahir 15 Januari 1958) menyatakankan, bahwa di dalam sastra orang diajak bertemu dengan kisah tentang manusia dan penderitaannya, hidup dan mati, maupun pilihan yang tidak selalu tegas. Menurut dosen di STF Driyarkara ini, sastra mengajarkan orang berbicara dengan fasih tentang keyakinan para humanis yang mereka menyebut ini studi humanitatis, bahwa seni bicara atau seni bahasa akan menggerakkan seni pemikiran.

 

Menyulam Rasa, Menggerakkan Jiwa

Melalui sastra, bahasa bukan sekadar kata tapi menyulam rasa. Sastra menyentuh aspek afeksi pembaca, para siswa yang membacanya, dan sangat tepat untuk menumbuhkan karakter yang positif, belajar hidup melalui kisah, cerita, karakter tokoh yang disampaikan penulisnya dengan menjiwainya dan sepenuh jiwanya, dengan kacamata kejujuran hatinya. Dengan bersumber dari rasa, jiwa dan hati, sastra menjadikan seseorang tergugah.

Dalam sastra, cinta misalnya bukan hanya pernyataan, melainkan gelombang rasa yang pelan-pelan menemukan jalannya ke bibir, seolah-olah kata-kata pun harus berjuang untuk menampungnya. Begitulah kiranya, novelis Jane Austen (1775-1817) tidak berkata “I love you.” Penulis yang memiliki karya terkenal berjudul “Sense and Sensibility” ini justru menulis “You must allow me to tell you how ardently I admire and love you.”

Antonine de Saint-Exupery (1900-1944), memilih menulis dalam diam, dan seakan mau mengatakan bahwa sastra mengajarkan apa yang paling berharga justru tak bisa disentuh logika, dan cinta bukan tentang mengerti, melainkan tentang percaya pada sesuatu yang tak kasat mata. Penyair dan juga penerbang ini tidak sekadar berkata, “true love is obvious,” namun juga, “it is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye.”

Hidup adalah sebuah petualangan kerap tersaji dalam karya sastra dengan begitu menyentuh, mengagumkan dan kaya dengan detail-detail kehidupan, peristiwa maupun geografis, alam satwa fauna dalam ragam jalinan percikan karakter manusia di dalamnya. Sastra melukiskan hidup yang bukan semata garis lurus antara lahir dan mati, tetapi sebagai perjalanan tak tentu arah, penuh ketakutan, harapan, dan kejutan yang patut dirayakan. J.M. Barrie (1860-1937) tidak berseru, “Life is short. Time is fast. So, enjoy it.”, tapi novelis Skotlandia ini menulis seperti seseorang berbicara kepada dirinya sendiri, “To live would be an awfully big adventure.”

Dalam sastra, kita juga belajar bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang mudah diraih atau diucapkan, ia adalah sesuatu yang harus didekati dengan hati-hati, seperti api yang bisa menghangatkan atau membakar. Penulis terkenal, Oscar Wilde (1854-1900), dengan karyanya “The Important of Being Earnest,” tidak berkata, “speak the truth and all be well,” namun penulis, penyair dan dramawan Irlandia ini memilih merajut ironi dalam diam, “the truth is rarely pure and never simple.”

Pembaca juga dapat merasakan daya juang yang tak akan terkalahkan dari tokoh nelayan tua di tengah lautan dalam novel sastra “The Old Man and The Sea.” Dalam karyanya itu, Ernest Hemingway (1899-1961) seperti mau mengatakan bahwa melalui sastra, keteguhan bukan sekadar perintah untuk kuat, tapi kesadaran sunyi bahwa kehancuran tidak benar-benar bisa membatalkan makna hidupnya.

Hidup tokoh Santiago, nelayan tua yang dikalahkan ikan paus dalam mempertahankan ikan merlin hasil tangkapannya bukanlah berarti terkalahkan atau menyerah. “Man is not made for defeat. A man can be destroyed but not defeated.” Dan sepertinya “sastra bisa menampung semua gejolak dalam diri, mengurangi derita serta membuatmu lebih peka dan berdaya,” ungkap sastrawan Helvy Tiana Rosa.

 

Sastra dan Pendidikan Holistik

Fisikawan Albert Einstein (1879-1955) pernah berkata bahwa manusia sedang hidup di masa yang dilengkapi dengan berbagai teknologi yang sempurna, tetapi kebingungan apa tujuannya. Jika kita tidak tahu apa tujuan dari pendidikan, seberapa canggihnya pun teknologi pendidikan yang ada, maka itu tidak akan ada gunanya. Tanpa tujuan yang tepat, hal lainnya pun akan mengikuti, dan kenyataannya, dunia telah mengondisikan kita menilai pendidikan dengan cara-cara yang dapat diukur dengan angka.

Pendidikan yang hanya diukur dengan angka tanpa menyelami segi-segi kemanusiaan bukanlah pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia. Untuk itu, dibutuhkan sebuah sistem pendidikan yang menyeluruh untuk mempersiapkan anak didik menjadi manusia seutuhnya. Keutuhan hidup manusia tidak dapat direduksi. Karena itu, sebuah pendidikan liberal arts yang pernah dikembangkan di masa lampau dan masih berkembang di negara-negara tertentu perlu diketengahkan secara intensif.

Pendidikan liberal arts mencakup tata bahasa, logika, retorika, geometri, aritmatika, astronomi, dan pendidikan musik. Liberal arts mencerminkan self-education adalah juga sistem pendidikan yang bertujuan untuk membawa orang supaya menjadi manusia yang dapat “fit for everything”.

Disinilah pentingnya karya sastra dalam mewujudkan pendidikan yang holistik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan liberal arts yang membedakan dari pelatihan vokasi. Peranan karya sastra dalam pendidikan holistik akan menumbuhkan karakter positif dalam diri anak didik. Melalui karya sastra yang indah dan imajinatif berbagai karakter manusia terungkap dengan sangat hidup, menyentuh aspek afeksi pembaca.

Pendidikan karakter bukan hanya tentang teori, tetapi juga tentang pengalaman dan ekspresi yang mendalam sebagaimana yang lebih jelas tergambar dalam karya sastra. Karakter positif yang hendak ditumbuhkan seperti, kejujuran, bertangung jawab, empati, disiplin, optimis, ramah, mandiri, murah hati, ketekunan bisa mudah menjadi contoh dan idola karena sastra mengungkapkannya melalui kreativitas imajinasi yang hidup hingga mudah merasuk ke hati pembacanya.

Ada juga buku sehubungan dengan pendidikan karakter melalui Sastra dan Seni, yaitu “Peranan Karya Sastra, Seni dan Budaya dalam Pendidikan Karakter” karya Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U (Merpati Book, 2024). Buku ini mengajak kita untuk mengeksplorasi bagaimana karya sastra, seni, dan budaya dalam sejumlah perangkatnya dapat membentuk karakter yang kuat dan berintegritas.

Sastra, seni, dan budaya dengan psikologi karakter, memberikan kekuatan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pendidikan karakter. Pelajaran sastra akan memberikan dampak positif pada karakter generasi muda. Pendidikan sastra merupakan salah satu metode pendidikan holistik mampu menjembatani kesenjangan yang terdapat dalam pendidikan karakter yang tidak memiliki tokoh teladannya dalam realitas.

Tidak adanya keteladanan dan karakter positif pemimpin dalam realita kehidupan menunjukkan kemunduran bangsa. Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) mengingatkan, “kemunduran sastra menunjukkan kemunduran suatu bangsa.” Karya sastra penting bagi keberadaan suatu bangsa karena mencerminkan pendidikan karakater yang positif.

 

Karya Sastra Membentuk Karakter Positif

Karya sastra merupakan elemen yang tak terpisahkan dari pendidikan holistik, karena berperan besar mewujudkan segi-segi positif kepribadian dan mewujudkan karakter yang berintegritas. Sastra penting dalam membentuk karakter positif individu, seperti: menanamkan nilai dan moral etika, meningkatkan empati, mengembangkan pemikiran kritis, menumbuhkan rasa cinta tanah air, mendorong toleransi dan kerukunan.

Karya sastra sering kali mengangkat tema-tema moral, seperti kejujuran, keadilan, dan kebaikan. Melalui karakter-karakter dalam cerita, pembaca bisa belajar tentang akibat dari tindakan baik maupun buruk, serta pentingnya bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Selain itu, membaca karya sastra yang menggambarkan kehidupan dan perasaan orang lain, dapat membantu pembaca untuk lebih peka terhadap perasaan dan situasi orang lain. Ini membangun empati, yang merupakan salah satu aspek penting dalam karakter yang baik.

Karya sastra juga mendorong pembaca untuk berpikir secara mendalam tentang kehidupan, pilihan-pilihan yang diambil dan konsekuensinya. Sastra mengajarkan pentingnya refleksi diri, serta kemampuan untuk memahami perspektif yang berbeda. Terlebih lagi, banyak juga karya sastra yang berkaitan dengan sejarah dan budaya bangsa. Melalui cerita-cerita tersebut, pembaca dapat lebih memahami dan mencintai budaya serta sejarah bangsanya dan terbentuk karakter nasionalisme.

Karya sastra sering juga menggambarkan keindahan dan keberagaman dalam masyarakat. Melalui karya sastra yang menggambarkan keberagaman dan pluralitas masyarakat, beragam bangsa di dunia, mengajak pembaca belajar untuk menghargai perbedaan dan menghindari sikap diskriminatif. Karya sastra juga berperan penting dalam membangun karakter yang penuh toleransi.

Karya sastra berperan dalam membentuk karakter positif sikap mandiri dan tanggung jawab individu. Ada kutipan dari buku sastra “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang mengungkap peran sastra dalam mendidik karakter, terutama dalam hal semangat dan kejujuran. “Hidup adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk terjatuh, tapi kita juga bisa memilih untuk bangkit dan berlari.” (Laskar Pelangi, Andrea Hirata).

Kutipan ini mengajarkan bahwa hidup penuh dengan pilihan dan setiap individu memiliki tanggung jawab atas pilihan yang diambil. Kutipan yang juga mengajarkan tentang keteguhan hati dan semangat pantang menyerah sebagai karakter positif yang perlu ditumbuhkan. Novel Laskar Pelangi (2005) karya pertama Andrea Hirata mengisahkan perjalanan sepuluh anak dari keluarga miskin yang menempuh pendidikan di sebuah sekolah Muhammadiyah di Pulau Belitung dengan segala keterbatasan yang ada.

Karya sastra tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga sarana penting dalam membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra seperti dalam “Laskar Pelangi” pastinya juga berlaku dan sejalan dengan nilai-nilai yang mau diajarkan dalam pendidikan agama dan budi pekerti termasuk juga pendidikan agama Buddha di sekolah.

Dalam konteks pendidikan Buddhadharma, sudah sepatutnya para guru agama Buddha membekali dirinya dengan bacaan karya-karya sastra karena di sana tersimpan nilai-nilai karakter yang sejalan dengan kandungan nilai-nilai Buddhadharma. Dan dengan begitu, menjadikan pelajaran agama Buddha tidak semata teoritis-dogmatis dengan teks-teks dhammanya yang memang penting, namun tidak mencukupi untuk sebuah pedagogi pendidikan agama yang sekaligus adalah sebuah pendidikan karakter dalam membentuk pribadi yang luhur dan mulia!  (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://www.pexels.com/id-id/foto/buku-putih-terbuka-1447273/

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?