Anak-Anak Sekolah Tewas Diserang Senjata Rudal

Home » Artikel » Anak-Anak Sekolah Tewas Diserang Senjata Rudal

Dilihat

Dilihat : 95 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 119
  • 571
  • 278,646
Pic 2642

Oleh: Jo Priastana

 

“The sad truth is that most evil is done by people

who never make up their minds to be good or evil”

(Hannah Arendt, 1906-1975, Filsuf Politik, Penyintas Holokaus)

 

Sungguh prihatin dan mengenaskan. Perang Amerika-Israel melawan Iran, diawali dengan terbunuhnya sekitar 180 anak-anak sekolah. Para ibu menangis di kuburan massal meratapi kepergian putri-putrinya, anak-anak masa depan. Hari itu, Sabtu, 28 Februari 2026, sebuah sekolah SD putri Shahareh Tayyebeh di Minab, Iran diserang rudal misil dan menewaskan seketika sekitar 165 sampai 180 anak perempuan usia 7 sampai 12 tahun.

Bayangkan tangis ibu-ibu yang kehilangan putrinya yang pastinya ingin mendengar suara anak-anaknya yang telah menjadi korban perang. Kami datang ke sekolah membawa buku dan mimpi. Bukan senjata, bukan kebencian. Tetapi langit tiba-tiba berubah menjadi api. Kini dunia bertanya siapa yang salah. Padahal yang kami tahu hanya satu: kami ingin belajar tentang masa depan, bukan menjadi bagian dari sejarah kematian.

Peristiwa itu merupakan salah satu tragedi paling kontroversial dalam perang di abad modern ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sebuah rudal bisa menghantam Sekolah Dasar Putri saat kegiatan belajar berlangsung? Haruskah begitu tega membunuh anak-anak sekolah? Mungkinkah salah sasaran, bukankah persenjataan teknologi canggih terkenal dengan presisinya? Ada apa dengan senjata misil rudal itu? Mengapa perang harus menewaskan korban sipil seperti anak-anak yang tak bersalah?

 

Ada Apa dengan Senjata Misil-Rudal

Anak-anak masa depan itu diserang senjata misil atau rudal. Serangan misil sebagai peluncuran senjata berpemandu (rudal) yang membawa hulu ledak, bertujuan menghancurkan target spesifik yang menggunakan daya ledak tinggi atau energi kinetik. Prosesnya melibatkan deteksi target, peluncuran, pemanduan otomatis jarak jauh, dan dampaknya yang destruktif.

Misil atau rudal adalah senjata yang memiliki sistem pendorong roket atau jet dan sistem panduan (guidance) untuk mencapai target dengan akurat. Hulu ledak adalah bagian utama yang membawa bahan peledak, sering kali menggunakan tipe “shaped charge” untuk menembus target yang diperkuat. Misil adalah termasuk rudal balistik (lintasan parabola) dan rudal jelajah (terbang rendah).

Bagaimana serangan terjadi? Deteksi dan sasaran, target ditentukan menggunakan intelijen atau radar. Peluncuran rudal ditembakkan dari darat, laut, atau udara, dengan panduan (guidance). Rudal mengarahkan diri menggunakan GPS, radar, atau sensor panas/visual. Dampak rudal menghantam target dan meledak, menyebabkan kerusakan fisik dan sekunder yang besar.

Sistem pertahanan rudal (seperti sistem AS) berusaha menemukan, melacak di udara sebelum mencapai sasaran. Rudal adalah senjata jarak jauh yang dapat terbang sendiri dengan bantuan propelan, mesin jet, atau motor roket. Rudal juga umumnya diarahkan ke target spesifik yang disebut rudal berpemandu atau roket berpemandu.

Secara historis, rudal merujuk pada proyektil apa pun yang dilemparkan, ditembakkan, atau didorong ke arah target; penggunaan ini masih diakui hingga saat ini seperti rudal dengan senjata tanpa kendali yang digerakkan oleh dan digambarkan seperti jet atau roket. Perangkat peledak udara tanpa propulsi disebut peluru jika ditembakkan oleh meriam altireli dan bom jika dijatuhkan oleh pesawat terbang.

Rudal berasal dari bahasa Latin “missilis” yang berarti “yang dapat dilempar.” Penggunaan pertama kata ini adalah pada tahun 1960-an oleh Philemon Holland (1552-1637), seorang kepala sekolah asal Inggris, dokter dan penerjemah. Secara historis, rudal mengacu pada proyektil apa pun yang mampu dilempar atau senjata yang ditembakkan atau didorong ke arah target. Definisi militer selanjutnya mengacu pada rudal sebagai senjata jarak jauh di udara yang mampu terbang sendiri dan diarahkan ke target tertentu.

Bila rudal merupakan senjata canggih yang presisi, mengapa sekolah yang berisikan anak-anak yang menjadi sasaran diserang? Ada apa? Sungguh mengenaskan. Sekitar 180 orang tewas, sebagian besar anak perempuan usia 7-12 tahun, dan sekitar 95 orang terluka. Apakah anak-anak harus menjadi target serangan rudal? Sungguh diluar nalar dan tak habis pikir, membangkitkan amarah karena bertentangan dengan rasa kemanusiaan dan bisa dipandang sebagai kejahatan perang.

 

Kejahatan Perang

Peristiwa serangan ini merupakan ironi peperangan, sebuah pelanggaran dalam perang dan hak asasi manusia. Sebuah kejahatan perang karena tak seharusnya anak-anak tak bersalah di sekolah diserang. Perlu diselidiki secara tuntas, dan siapa yang menjadi pemutus kebijakan penyerangan harus bertanggung jawab dengan dibawa ke mahkamah militer internasional sebagai kejahatan perang.

Menurut penyelidikan awal militer AS dan investigasi media internasional, dikatakan bahwa kemungkinan besar anak-anak itu bukan target yang disengaja. Beberapa temuan awal menyebut, rudal yang digunakan kemungkinan rudal jelajah Tomahawk milik AS. Target yang dimaksud diduga kompleks militer Iran di dekat sekolah. Namun data intelijen yang dipakai sudah usang, sehingga lokasi yang diserang ternyata sudah menjadi sekolah. Akibatnya rudal menghantam gedung sekolah saat murid berada di dalam kelas.

Mengapa kesalahan seperti ini bisa terjadi? Dalam perang modern, kesalahan tragis seperti ini tak harus terjadi. Mungkin ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya, seperti: intelijen yang tidak diperbarui dimana data target mungkin berasal dari citra lama atau informasi lama. Lokasi sipil dekat fasilitas militer, dimana sekolah tersebut berada sangat dekat dengan kompleks militer yang dulu pernah terkait dengan fasilitas militer.

Keputusan serangan jarak jauh (rudal) dengan rudal jelajah yang diluncurkan dari jarak sangat jauh menyertakan target sepenuhnya yang tergantung pada data intelijen. Situasi perang yang cepat berubah, dimana infrastruktur sipil bisa berubah fungsi tanpa diketahui pihak berwenang menyebabkan sekolah itu menjadi sasaran.

Namun begitu, serangan tersebut patut mendapat reksi keras dari dunia. Serangan terhadap sekolah dianggap sangat serius karena menurut Hukum Humaniter Internasional (HHI), fasilitas seperti sekolah dan rumah sakit harus dilindungi. PBB menyebut serangan terhadap sekolah sebagai “serangan berat terhadap anak-anak dan masa depan komunitas.”

Karena itu, sekarang Pentagon sedang melakukan penyelidikan tingkat tinggi. Banyak pihak menyerukan kemungkinan kejahatan perang jika terbukti ada kelalaian serius. Makna peristiwa itu secara politik, menunjukkan tragedi besar dalam perang modern, bahwa bahkan ketika targetnya militer, kesalahan intelijen dapat berujung pada kematian korban sipil seperti anak-anak yang tak bersalah yang berada di sekolah. Lalu siapa yang harus bertangggung jawab?

 

Korban Sipil dalam Perang

Perang menimbulkan korban sipil seperti kematian anak-anak yang sering membuat orang bertanya: mengapa perang selalu menelan korban yang tidak bersalah? Ini bukan hanya masalah militer, tetapi juga persoalan dunia kehidupan, filsafat tentang manusia, kekuasaan, dan penderitaan.

Bagaimanakah logika kekuasaan dalam perang? Dalam pandangan seperti yang dikritik oleh Karl Marx (1818-1883), perang sering muncul dari perebutan kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Negara atau kekuatan besar bertarung untuk pengaruh politik, keamanan strategis, sumber daya, dominasi geopolitik. Dalam logika ini, manusia kadang berubah menjadi angka statistik. Korban sipil dianggap “kerusakan sampingan” (collateral damage), meskipun secara moral ini sangat tragis.

Banyak filsuf melihat perang sebagai dilema moral manusia. Filsuf Hannah Arendt (1906-1975) dalam pandangannya mengenai “banality of evil,” menjelaskan bahwa dalam sistem kekuasaan modern, kejahatan dengan kekerasan sering terjadi bukan karena orang ingin jahat, tetapi karena orang menjalankan sistem tanpa melihat kemanusiaan korbannya. Pilot, operator misil, atau analis intelijen bisa saja tidak pernah melihat wajah anak-anak yang menjadi korban.

Buddhadharma menentang penggunaan kekerasan. Dalam ajaran Buddha Gautama, akar kekerasan adalah tiga racun batin, yaitu lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan batin). Perang terjadi ketika tiga racun ini menguasai manusia atau negara. Akibatnya, penderitaan menyebar bahkan kepada mereka yang tidak terlibat sama sekali, seperti anak-anak. Karena itu Buddha menolak perang dan menekankan ahimsa, tanpa kekerasan. Adakah ini utopis?

Tragisnya, anak-anak yang tak bersalah menjadi korban karena mereka berada di tempat yang tidak mereka pilih, tidak memiliki kekuasaan untuk melindungi diri, hidup di wilayah konflik yang diputuskan oleh orang dewasa. Mereka adalah korban paling murni dari keputusan politik yang didasari moha atau kebodohan batin dan mendatangkan penderitaan.

Sejak lampau, perang memperlihatkan pola yang sama. Dalam “atomic bombing of Hiroshima,” ribuan anak-anak terbakar oleh bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang pada Perang Dunia II. Begitu pula dalam perang yang dilakukan AS di Vietnam tahun 1970, foto anak-anak yang berlari dari ledakan bom napalm pada Vietnam War, menjadi simbol penderitaan manusia. 

Di Timur Tengah, tragedi yang menimpa anak-anak juga terjadi. Dalam Syrian Civil War atau perang di Suriah dan konflik di Gaza, sekolah dan rumah sering ikut hancur. Korban sipil seperti anak-anak hampir selalu terjadi, mereka menjadi korban paling rentan dalam perang. Haruskah dunia berperang memakan anak-anaknya sendiri? Sebuah tindakan dehumanisasi yang harus ditolak oleh segenap umat manusia yang berprikemanusiaan.

 

Perang dan Dehumanisasi

Perang menghadapkan kepada kemanusiaan. Setiap tragedi yang terjadi dalam perang sebenarnya selalu menimbulkan pertanyaan besar bagi umat manusia. Apakah perang harus dibayar dengan anak-anak? Apakah teknologi perang membuat manusia semakin jauh dari rasa belas kasih? Apakah kita masih mampu melihat musuh sebagai manusia? Pertanyaan ini terus menghantui peradaban manusia.

Pertanyaan yang menyentuh sisi yang sangat dalam. Mengapa perang hampir selalu menelan korban sipil, bahkan anak-anak yang sama sekali tidak ikut berperang. Sejarah menunjukkan bahwa tragedi seperti ini bukan hal baru. Banyak tragedi terjadi pada anak-anak dalam sejarah perang.

Mengapa korban sipil hampir tak terhindarkan. Disebutkan bahwa ada beberapa sebab struktural mengapa tragedi seperti ini terus terjadi. Perang modern terjadi di tengah kota. Dulu pertempuran sering terjadi di medan terbuka. Sekarang fasilitas militer sering berada dekat kota, rumah, sekolah. Akibatnya ketika satu target diserang, lingkungan sipil ikut terkena.

Senjata modern jarak jauh bergantung pada data intelijen. Rudal, drone, dan bom pintar memang presisi, tetapi tetap bergantung pada data target. Jika data salah atau terlambat diperbarui, tragedi bisa terjadi.

Perang mengakibatkan dehumanisasi. Dalam perang, musuh sering dilihat bukan lagi manusia, tetapi target strategis. Para filsuf politik dan pejuang kemanusiaan pastinya akan menyebut perang sebagai proses dehumanisasi, ketika empati manusia melemah oleh ideologi, ketakutan, dan propaganda.

Logika militer sering lebih dingin dari logika kemanusiaan. Militer sering menggunakan konsep “collateral damage” atau kerusakan sampingan. Artinya target militer dianggap lebih penting walaupun ada risiko korban sipil. Apakah nyawa manusia anak-anak itu hanya dianggap sekedar angka, sebagai sampingan? Bukankah anak-anak itu manusia, dan siapapun mereka sebagai orang tua pastinya menyayangi anak-anaknya.

Dalam pandangan filsafat tentang tragedi perang, ada beberapa pemikir melihat tragedi ini sebagai bagian dari kondisi manusia. Filsuf Inggris Thomas Hobbes (1588-1679), mengatakan bahwa tanpa kendali moral, manusia berada dalam keadaan “perang semua melawan semua.” Karl Marx (1818-1883) berpendapat bahwa perang sering muncul dari konflik kekuasaan dan kepentingan ekonomi.

Sedangkan dalam Buddhadharma akar perang adalah keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin manusia. Perang adalah manifestasi kebodohan manusia yang terdalam, kebodohan batin karena tak menghargai kemanusiaan. Perang yang mendatangkan destruksi terhadap kehidupan juga berkelindan dengan naluri kematian atau vibhava-tanha.

Tragedi perang bukan hanya soal senjata, tetapi kondisi batin manusia dan struktur kekuasaan dunia. Jika demikian, maka renungan kemanusiaan pantas terus dihadirkan. Jika anak-anak yang mati dalam perang bisa berbicara, mungkin mereka akan berkata, “Kami tidak tahu geopolitik. Kami hanya datang ke sekolah dengan tas kecil di punggung. Tetapi langit tiba-tiba berubah menjadi api”.

Di situlah paradoks perang, yang paling tidak bersalah sering menjadi korban pertama. Dukacita mendalam kita panjatkan untuk anak-anak sekolah SD putri Shahareh Tayyebeh di Minab, Iran yang terkena serangan senjata rudal misil, semoga Husnul Khotimah! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://www.linkedin.com/posts/cartoonist-fahd-bahady-641b98110_my-cartoon-about-sudan-on-cartooning-for-activity-7317932088953921536-cGlW

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?