Oleh: Jo Priastana
“Jika Anda menginginkan perdamaian, perjuangkanlah keadilan”
(Paus Paulus VI, 1963-1978, Paus Gereja Katolik Roma)
Apakah pendidikan Buddhis tidak menyentuh persoalan sosial-politis untuk mengatasi kemiskinan? Apakah ajaran sosial Buddhis harus mati di tangan guru-guru sekolah yang tidak mengerti ajaran sosial-politis Buddhis? Adalah Sulak Sivaraksa, tokoh Engaged Buddhism, filsuf, spiritualis, aktivis, kritikus sosial, pemberontak intelektual yang memegang teguh etika non-kekerasan dan penuh perhatian terhadap masalah-masalah sosial, derita manusia di dunia dan lingkungan. Sulak Sivaraksa berjuang meneguhkan etika Buddhis dalam kehidupan nyata dan berupaya melakukan transformasi sosial dan politik.
Sulak adalah seorang yang terobsesi untuk membuat Buddhisme relevan dalam masyarakat modern. Perjuangan non-kekerasan dan misi kemanusiaan Sulak Sivaraksa ini bisa dibaca dalam bukunya yang terkenal, Seed of Peace. Tokoh Engaged Buddhism ini melihat beragam masalah penderitaan tidak hanya eksistensial namun juga bersifat sosial dan struktural. Masalah sosial ini perlu mendapat perhatian dunia pendidikan Buddhis dalam rangka mengajarkan kepekaan sosial dan amanah Buddhadharma dalam mengatasi penderitaan.
Berbagai problem sosial seperti merebaknya diskriminasi gender, etnisitas, agama, kesenjangan sosial maupun tingkat kesejahteraan antara negara berkembang dan negara maju. Masalah ketidakadilan gender, hak-hak asasi manusia, kekerasan terhadap anak, perang, pasar bebas yang menciptakan ketidakadilan, kemiskinan, masalah kesempatan kerja, women trafficking, kerusakan lingkungan, serta masalah-masalah yang bersinggungan dengan politik seperti otoritarianisme, kebebasan, keadilan dan berbagai problem sosial-kemanusiaan lainnya tidak luput dari pembahasan Engaged Buddhism.
Pendidikan Keadilan Sosial
Problem-problem sosial tersebut memang sepantasnya masuk dalam pendidikan Buddhis dan dikenali oleh segenap guru-guru, dosen-dosen agama Buddha, karena mencerminkan amanat Buddhadharma untuk melenyapkan penderitaan. Dalam pendidikan Buddhis yang berbasis budaya humanis, segenap masalah sosial itu harus mendapat perhatian, mengingat pendidikan tidak terpisahkan dari kehidupan, termasuk masalah keadilan sosial yang berhubungan dengan kemiskinan dan menyentuh rasa kemanusiaan atau humanisme.
Bagi filsuf Plato (427-347), peran pendidikan sangat penting untuk terjadinya perubahan yaitu membentuk manusia utuh. Manusia utuh adalah manusia yang berani menggapai segala keutamaan (virtue) dan moralitas jiwa yang akan mengantarnya kepada ide yang tinggi, yaitu kebajikan, kebaikan, dan keadilan. Keutamaan (virtue) inilah yang oleh Aristoteles perlu dibangkitkan dalam ranah kehidupan sosial-politik sebagaimana hakekat manusia sebagai makhluk sosial-politik (zoon-politicon) (Jo Priastana. 2018. “Etka: Moralitas Mandiri dan Keterlibatan Sosial.” Jakarta: Yasodhara Puteri).
Keadilan atau justice yang dalam Buddhisme dimaknai sebagai impartiality atau kesetaraan. The Buddhist Dictionary defines the Pali term ‘yutti; as impartiality. Kata “yutti” juga dapat bermakna sebagai ‘a man of virtue, dan digabungkan dengan kata “dhamma” sebagai ‘yuttidhamma” yang berarti ‘a virtue of impartiality” (Buddhadatta, 1995).
Buddhadharma adalah sebuah pendidikan, dan karena itulah Sang Buddha membabarkan dharmanya demi kebahagiaan umat manusia yang hidup di dunia termasuk demi terwujudnya keadilan sosial yang menjadi prasyarat perdamaian dunia. Dokumen Visi Pendidikan UNESCO 2050 mengajak kita semua untuk memikirkan dan secara aktif menciptakan, dalam kapasitas kita masing-masing berbagai bentuk masyarakat yang kita inginkan dalam menjawab tiga tantangan global pendidikan yaitu: Damai, Adil, dan Berkelanjutan (Ismunandar, Kompas 29/1/2022. “Visi Pendidikan 2050 Unesco).
Untuk itu, dalam konteks pendidikan keadilan sosial ini, perlunya ditumbuhkan paradigma kontekstual dalam pendidikan Buddhis dan kurikulum pembelajaran agama Buddha. Pembelajaran Buddhadharma yang bersifat konteksual yakni Buddhadharma yang bersentuhan dengan masalah-masalah sosial, seperti yang menyangkut kemiskinan, keadilan sosial. Dalam kemiskinan orang sukar mendengarkan dharma, dan mengatasi kemiskinan merupakan bagian dari aktivitas Buddhadharma sebagai pendidikan.
Kemiskinan adalah sebuah fenomena penderitaan yang dialami banyak orang apalagi hal ini menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup yang mendasar. Kemiskinan melahirkan kesenjangan sosial dan ketidakadilan sosial dan bisa berdampak kepada moralitas dalam bentuk kriminalitas dan pelanggaran sila. Masih adanya kesenjangan itu memperlihatkan masih adanya penderitaan.
Untuk itulah, Sang Buddha mengajak raja, pimpinan negara untuk melakukan reformasi sosial dan politik dalam rangka mengatasi penderitaan yang disebabkan oleh kemiskinan dan adanya kesenjangan sosial, termasuk juga peran dari organisasi Sangha. Keluar dari lingkaran kemiskinan dan bebas dari ketidakadilan dan kesenjangan sosial adalah jalan untuk dapat mendengarkan dharma dengan baik, karenanya Buddha pun memperhatikan sarana-sarana kehidupan yang dibutuhkan manusia.
Karen Armstrong melukiskan: “The Buddha was creating an alternative way of life that brought the shortcomings of the new towns and states into sharp focus. Some Scholars believe that Buddha saw such rules as Pasenadi and Bimbisara as partners in a program of political and social reform. They suggest that Sangha was designed to counter the rampant individualism that was inevitable as society progressed from a tribal, communal ethos to a competitive, cut throat market economy. The Sangha would be a blueprint for a different type social organization, and its ideas would gradually filter done people.” (Buddha 2002:129).
Kemiskinan dan Ketidakadilan
Perbaikan kondisi sosial ekonomi adalah daya tarik perjuangan bagi para aktivis Buddhis. Keprihatinan terhadap fenomena kesenjangan sosial, menggerakkan Dr. Ariyaratne mendirikan gerakan sosial “Sarvodaya” di Srilanka yang menekankan prinsip-prinsip Buddhis dalam membantu warga desa terbebas dari kemiskinan. Prinsip Buddhis mengenai paticcasamuppada (sebab-akibat yang saling bergantungan) diterjemahkan ke lapangan sosial melalui dengan membentuk ikatan komunitas yang kuat berdasarkan saling membantu satu sama lain.
Kemiskinan dan keadilan menjadi keprihatinan Sulak Sivaraksa, penulis, aktivis, filsuf dan pemikir Buddhis dari Thailand, nominasi hadiah Nobel Perdamaian. Menurutnya, “Kita harus menentang kebijakan ekonomi yang tidak bertanggung jawab pada masyarakat yang seharusnya mereka layani dan menentang sistem hukum yang mempertahankan status quo yang tidak adil.” Materialisme dan kapitalisme kerap disebut-sebut sebagai sistem ekonomi yang menyebabkan terjadinya ketidakadilan.
Materialisme dan kapitalisme mengajarkan pengalaman mengenai kesenangan-kesenangan duniawi yang bisa direguk karena kemajuan ekonomi, tetapi tidak mengajarkan cinta kasih dan keadilan kepada pihak-pihak yang kalah dalam persaingan. Sebab bagi kapitalisme kata kunci hanyalah kemajuan dan kesejahteraan bukan keadilan. Kemajuan untuk siapa? Ternyata tidak untuk semua. (A Sudiarja, “Bayang-bayang Kebijaksanaan dan Kemanusiaan,” Jakarta, 2018:181).
Sementara Sulak Sivaraksa (2013:52), menegaskan: “Kita memerlukan suatu perekonomian dan strategi politik alternatif, seperti yang dikatakan ilmuwan, ekonom Buddhis, E.S. Schumacher bahwa manusia juga dianggap penting (as if people mattered). Kita memerlukan sistem pendidikan yang mendorong integrasi dari berbagai aspek keberadaan kita, yang menghubungkan pikiran dan perasaan kita, dan melalui peroses-proses ini, kita dapat mewujudkan suatu dunia yang lebih adil dan damai.
Sepantasnya dunia pendidikan Buddhis mewujudkan kurikulum pendidikan keadilan sosial dalam perspektif Buddhis. Sebuah sumbangan yang patut dilakukan oleh segenap sivitas dunia pendidikan Buddhis dimana para tokoh, pemimpin organisasi, institusi pendidikan Buddhis dapat melakukannya. Terdapat sumber bacaan dan referensi yang kiranya dapat mempertegas pendidikan keadilan sosial dalam mengatasi kesenjangan sosial dan kemiskinan.
Banyak buku untuk dibaca, agar guru tidak kalah dengan siswa yang mampu menerjemahan spiritualitas Buddha dalam konteks kehidupan nyata. Ada beberapa buku diantaranya: C.B. Mulyatno. “Filsafat Perdamaian Menjadi Bijak Bersama Eric Weil.” Yogyakarta: Kanisius, 2012. Butt-Indr, Siddhi., “The Social Philosophy of Buddhism.” Bangkok-Thailand: Mahamakut Buddhist University, 1995. Karen Armstrong, “Compassion: 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih.” Bandung: Penerbit Mizan, 2013. Selain itu, Karen Armstrong, “Buddha”. Bandung: Mizan, 2022. Ada pula buku dari Venerable Ledi Sayadaw (Bhikkhu Pesala, Edited), “A Manual of The Excellent Man: Uttamapurisa Dipani.” Burma Publication Society, 1997.
Dan tentunya juga buku dari tokoh sosial Buddhis, engaged Buddhism masa kini, Ajahn Sulak Sivaraksa, diantaranya “Pembangunan untuk Manusia: Ekonomi Buddhis Abad ke-21”, yang diterbitkan pada tahun 2013 oleh Hikmahbudhi Jakarta, Institut Nagarjuna. Hikmahbudhi adalah kawah candradimuka bagi anak-anak muda sosial-humanis yang terus mengembangkan dan menyuarakan pemikiran sosial Buddhis serta melakukan keterlibatan aksi sosial humanis.
Pendidikan budaya humanis keadilan sosial mengatasi kemiskinan memerlukan keterlibatan sosial di lapangan. Praksis keterlibatan itu dapat dilakukan dalam berbagai macam, seperti: edukasi, diskusi, aksi karitas, community development, advokasi, demonstrasi dalam rangka mewujudkan spiritualitas sosial Buddhis mengatasi diskriminasi sosial dan kemiskinan. Keterlibatan sosial dalam budaya humanis yang tumbuh dari adanya rasa kemanusiaan dan impartialitas dalam diri para siswa dan mahasiswa.
Suara Siswa Buddhis Sosial-Humanis
Ada seorang siswa SMA yang selalu mencoret-coret di buku catatannya dan kadang ia menggambar sesuai lamunannya, sementara di depan papan tulis gurunya yang sedang mengajar entah didengarnya atau tidak. Dia lebih hidup dalam imajinasinya dengan menggambar di halaman buku tulisnya. Di ruang kelas yang sederhana itu, ketika papan tulis masih menyimpan sisa kapur pelajaran hari itu, ia duduk diam. Bukan karena tidak mengerti pelajaran, tetapi karena dunia kehidupan terlalu besar diselami dan materi pelajaran terlalu kecil untuk dihafal.
Dia adalah seorang siswa Buddha, beragama Buddha, namun hatinya sering berjalan lebih jauh dari halaman buku pelajaran pendidikan agama Buddha, komentar dan suara guru-guru Buddhis yang tak berjiwa, dan kebijakan para pengelola Buddhis yang bermimpi tinggi. Batin dan dan wawasan mereka terasa jauh dari dirinya yang masih muda, yang suka berjalan ke gang sempit tempat anak-anak kecil bermain tanpa sepatu.
Dia, siswa yang suka berjalan menyusuri gang-gang kecil dan sempit di balik gedung-gedung tinggi kota besar mengetuk rumah-rumah yang terbuat dari triplek dan kayu seadanya. Gubuk-gubuk yang lampunya redup karena listrik yang tak sanggup dibayar. Sementara dalam benaknya, guru-gurunya sibuk mencari tambahan penghasilan untuk bisa meninggikan rumahnya karena kerap kebanjiran dan beragam cicilan kredit lainnya yang belum lunas.
Guru mengajarkan tentang sejarah kerajaan, tentang angka dan rumus, tentang kata-kata yang tertata rapih dalam bahasa. Namun di dalam batin anak muda itu, ada pelajaran lain yang terus ditanyakannya. Mengapa ada yang tidur di kasur empuk sementara yang lain berbaring di lantai dingin? Mengapa ada meja makan penuh makanan sementara di sudut kota perut-perut kecil belajar bersabar dengan lapar?
Karma, kata guru agama Buddhanya, jawaban yang ditelinganya sering terdengar namun terasa sudah basi, karena dunia telah bergerak cepat dan yang kaya bisa bersembunyi di balik sistem sosial ekonomi dan yang miskin disuruh menerima karmanya. Seakan ketidakadilan sosial dilegitimasi oleh hukum karma dan pembelajaran agama Buddha bukan lagi dimaksudkan sebagai penemuan kebenaran, sebaliknya sebagai pembenaran ketidakadilan. Kedunguan batin (moha) dalam pembelajaran Buddhadharma yang mengiris hati nuraninya.
Dia teringat ajaran Buddha yang pernah didengarnya dalam keheningan vihara. Bahwa hidup tak lepas dari dukkha atau penderitaan. Tapi ajaran itu tidak berhenti pada kesedihan. Ia seperti lampu kecil di dalam dada yang berkata: lihatlah penderitaan itu dengan mata yang jernih, bukan dengan kebencian dan mencuci tangan dengan teks-teks suci.
Dan biarkan welas asih tumbuh seperti pohon di hatimu, di hati para pengelola sekolah Buddhis yang selalu bermimpi tentang sekolahnya nomor satu namun tak pernah menemukan adanya perlombaan turut mencerdaskan anak bangsa dan mengurangi kesenjangan sosial. Sejak itu dia tahu, menjadi manusia bukan hanya tentang sukses dan berhasil sebagaimana mulut berbusa para motivator yang sering terjungkal dalam hidup pribadinya.
Sebagai pelajar, ia menjadi siuman bahwa sekolah bukan hanya tentang nilai ujian atau soal pekerjaan nanti. Bersekolah adalah menjadi manusia yang mampu merasa pedih ketika orang lain terluka. Itulah pesan pedagogis yang dia temukan dalam setiap ujar gurunya, yaitu Sang Buddha sendiri sebagai motivator sejati bagi hidup mudanya.
Kadang dia bertanya pada langit senja sepulang sekolah, apakah mungkin dunia menjadi lebih adil? Sementara guru-gurunya di sekolah mengatakan semuanya sudah diatur oleh hukum karma, ada kamma niyama katanya, cermin kesunyataan, padahal kenyataan tidak sebagus kenyataan ujaran, dan padahal seharusnya kenyataan sesungguhnya adalah cerminan kesunyataan. Lalu apakah itu kesunyataan tentang ketidakadilan, kesenjangan sosial dan kemiskinan?
Angin menjawab ketika ia memandang alam yang bersuara pelan di antara daun-daun. Perubahan tidak selalu lahir dari para raja, kadang ia lahir dari hati seorang anak muda yang menolak membiasakan diri melihat penderitaan lewat pembenaran para guru yang malas berpikir dan berkesadaran, para tokoh yang hanya bersandar pada tradisi yang kaku dan guru yang lidahnya kelu karena terpaku hafalan dogma.
Maka dia terasa malu sebagai anak muda Buddhis dan mencari bahan lain untuk belajar, bukan hanya membaca buku, tetapi membaca wajah-wajah manusia berkeringat yang terpantul dari panasnya aspal jalanan. Belajar bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk menjadi berguna. Pikirnya, jika suatu hari aku berjalan lebih jauh dari sekolah ini, aku ingin membawa sesuatu yang lebih dari ijazah: sebuah tekad sunyi untuk mengurangi setetes air mata dunia.
Karena baginya, seorang pemuda Buddhis harus tahu, belas kasih dan tindakan keterlibatan sosial humanis bukanlah mimpi yang jauh atau jatuh dari langit. Ia adalah langkah kecil yang berani dimulai hari ini. Ia pun semakin giat memulainya dengan membaca buku-buku yang mengisi batin sosial-humanisnya, menghidupkan hati nuraninya dan menggerakkan langkah-langkah kecil bodhisatvanya.
Langkah kecil yang kemudian jadi membesar diikuti rekan-rekannya, entah itu dalam keterlibatan sosial-politik, edukasi dan diskusi, bakti sosial dalam karitas, community development, dan juga advokasi. Bahkan ia pun turut dalam demonstrasi jalanan, aksi-aksi menyuarakan tuntutan rakyat di muka gedung parlemen, memasukinya, hingga menduduki kursi anggota dewan. Bukan untuk diam dalam kenyamanan, tetapi untuk semakin lantang bersuara sebagaimana kemerdekaan jiwanya.
Terus menyuarakan dan menggemakan, mengirim pesan keadilan sosial dan keterlibatan politik ke segenap penjuru. Kepada guru-guru Buddhis di sekolah yang lebih senang bagaimana bisa tertidur pulas tak sadar sambil tenggelam dalam teks-teks suci dan kepada mahasiswa-mahasiswa yang tak mendayakan pikiran kritisnya, malah malas berpikir kontekstual dalam berkesadaran semu! (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: Meta AI