Deflasi Makna Kepuasan

Home » Artikel » Deflasi Makna Kepuasan

Dilihat

Dilihat : 70 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 119
  • 571
  • 278,646
Pic 3 Deflasi

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.

 

“Pemandangan yang berwarna-warni akan menyilaukan mata bahkan membutakan mata. Suara gaduh akan mengurangi daya pendengaran. Makanan enak yang berlebihan akan mengurangi daya pengecap lidah. Mengumbar nafsu dalam berburu akan menegangkan urat saraf dan merugikan jantung. Barang langka yang berharga akan menimbulkan keinginan yang menyimpang. Oleh karena itu, orang suci mementingkan bagaimana menjadikan perut kenyang daripada mencari kenikmatan melalui mata dan telinga serta keserakahan tentang harta benda.”

Laozi, Dao De Jing Bab 12.

 

Kapitalisme membawa dampak nyata bagi dunia, yakni hiper-produksi, kalau tidak produksi dianggap tidak produktif, tidak produktif dianggap tidak berguna. Akhirnya semua rangkaian proses berlabel produksi itu itu akan membawa manusia menuju rutinitas mengkonsumsi. Semakin cepat proses konsumsi itulah yang disebut hiperkonsumsi, ketika hiperkonsumsi terjadi orang-orang mulai kehilangan tujuan dan makna dalam mengkonsumsi. Sebenarnya sudah sekabur apa makna konsumsi?

 

A. Logika Hasrat

Piliang menyebutkan bahwasannya bagi masyarakat konsumer, konsumsi kini bukan dipandang sebagai proses menggunakan barang untuk membantu kehidupan manusia, melainkan sudah menjadi bentuk eksistensial di masa kini, hingga terbitlah diktum eksistensial jaman now ‘Aku mengkonsumsi maka aku ada’ (Piliang, 2017), hiperkonsumsi bisa terjaadi ketika konsumsi tidak lagi berlandaskan akan logika keperluan (logika utilitas), melainkan karena logika hasrat yang pada akhirnya membawa manusia mengkonsumsi sesuatu karena nilai simboliknya(Piliang, 2012). Bahkan kadang simbol tersebut menjadi penanda yang keliru (false signifier) dalam arti tidak lagi memberikan makna yang sesuai dengan kehadirannya.

Sebagai contohnya, sebuah motor hadir untuk membantu manusia berjalan ke suatu tempat, kini motor tersebut justru menjadi komoditas balap liar. Bahkan dalam lini penjualannya, dahulu untuk menandakan sebuah penjualan motor, cukup memasang pelang ‘Motor dijual’  saat ini harus ada ‘SPG berambut pirang dan berkaki merpati’ agar motor tersebut bisa laku. Dalam hal ini wanita telah dipergunakan sebagai instrumen penjualan, sebagai false signifier yang setiap lekuk tubuhnya dikomodifikasikan untuk meningkatkan sales semata.

Pergerakan model logika hasrat dianggap efektif dalam melestarikan lingkaran konsumsi dan produksi dalam kapitalisme, ketika kebutuhan konkret tidak mampu lagi mengakomodir, maka para kapitalis harus mampu memproduksi kebutuhan yang sebenarnya tidak ada dan tidak dibutuhkan, menjadi dibutuhkan, salah satu jalan termudah (bahkan inipun akan memotong biaya iklan) adalah lewat logika hasrat. Bagaimana cara membangkitkan hasrat orang untuk membeli produk kita? sudah menjadi pertanyaan yang wajib dijawab setiap pengusaha saat ini.

 

B. Deflasi Makna Kepuasan

Aktifitas hiperkonsumsi membawa deflasi makna kepuasan. Pernahkah anda memberikan orang yang anda cintai secara ugal-ugalan sebuah barang mahal? Misalkan Iphone 16 pro max? Hari ini, anda berikan dia Iphone hasil anda menabung 3-6 bulan, ia akan sangat senang dan bahagia bisa mengenal anda dalam hidup dia. Melihatnya bahagia, andapun semakin gencar berusaha mengambil hatinya. Hari berikutnya anda belikan kembali barang-barang branded lainnya: Tas, sepatu, dompet, cincin, dan sebagainya, semua anda lakukan secara ugal-ugalan tetapi anehnya kenapa respon dia justru semakin biasa saja? Rasa puas dan bahagia semakin tidak meningkat bahkan semakin lama semakin melegitimasi hal tersebut sebagai ‘wajar’ hingga dianggap sebagai ‘minimum bare’ semata.

Hal ini disebut Hukum penurunan hasil marginal (law of diminishing marginal) yang pada intinya semakin berkurang menyatakan bahwa seiring meningkatnya konsumsi suatu barang atau jasa, kepuasan tambahan (utilitas marginal) yang diperoleh dari setiap unit baru akan menurun. Meskipun kepuasan total mungkin meningkat, peningkatan tersebut terjadi dengan laju yang menurun, karena unit pertama memberikan utilitas tertinggi, sedangkan unit-unit selanjutnya memberikan utilitas yang lebih rendah (Ross, 2026).

Hal yang sama juga terjadi bahkan di kalangan umat wihara dan kelenteng, di beberapa wihara dan kelenteng, ada fenomena ‘umat sembako’ yakni mereka yang datang ke wihara bukan mengharap berkah dari mendengarkan Dharma, sebaliknya mereka menghamba kepada ‘sembako’, sesekali saya singgung kepada mereka ‘tuhan kita sudah ganti jadi sembako’. Pertama kali sembako mereka terima, mereka sangat senang dan merasa terbantu, terlebih mereka memang berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah bahkan ada yang tidak mampu. Namun semakin lama, justru kepuasan itu semakin menurun, mereka menganggap bahwasannya sembako itu ‘prasyarat utama’ untuk hadir ikut kebaktian. Sehingga mereka menganut satu diktum eksistensial Aku dapat sembako, maka aku datang ke wihara.

 

C. Makna Kepuasan

Darimana datangnya rasa puas? Dalam kitab Tao De Jing, Laozi mempergunakan istilah  知足 (Zhī Zú), yang bermakna ”Tahu Batas atau Tahu Kecukupan” sebagai ajaran untuk mengenal rasa puas. Konsep Zhi Zu bukan berarti seseorang semata-mata mudah berpuas diri dan tidak berupaya atau bercita-cita, melainkan mengetahui sampai di mana batas wajar berusaha seseorang dalam segala hal (mirip seperti konsep dikotomi kontrol pada filsafat Stoikisme).

Misalnya dalam Dao De Jing Bab 44 dikatakan 知足不辱,知止不殆,可以长久Zhī zú bù rǔ, zhī zhǐ bù dài, kěyǐ chángjiǔ.  (“Ia yang tahu rasa cukup tidak akan dipermalukan. Ia yang tahu kapan harus berhenti tidak akan menemui bahaya. Dengan demikian, ia dapat bertahan lama.”) atau pada kitab yang sama bab 33 dikatakan 知足者富 Zhī zú zhě fù (“Orang yang tahu rasa cukup, dialah orang yang benar-benar kaya.”). Karena baginya, aktivitas hiperkonsumsi malah membuat orang tidak bisa melihat realita dan nilai kegunaan dari suatu benda yang dikonsumsinya, Laozi secara sederhana berkata lebih baik mementingkan perut kenyang daripada memanjakan nafsu mata lewat kenikmatan pada harta benda (Dao De Jing Bab 12 , Dr. I. D. Lika, 2015).

Kepuasan juga menjadi tema dalam Buddhisme, misalnya dalam Mahamanggala Sutta (Khuddakapatha 6) dikatakan Santuṭṭhī ca kataññutā merasa puas atas yang dimiliki dan mengingat budi baik orang sebagai berkah utama. Rasa puas (Santuṭṭhī) pada akhirnya membawa kepada kesederhanaan hidup dan pengendalian indera (Khuddakapatha, 9 Metta Sutta). Karena dalam pandangan Buddhisme semakin banyak nafsu keinginan (tanha, hasrat), semakin banyak penderitaan.

Baik Buddhisme maupun Taoisme sepakat bahwa penderitaan muncul dari 3 jenis racun (San Du 三毒) yang selalu mengobok-obok kehidupan manusia. Ketiganya adalah (Suwarto, 1995):

  1. 贪Tān(Rāga/Lobha): Keserkahan, seperti keterikatan pada keadaan yang menguntungkan, berpegang teguh pada dan menginginkan untuk memperoleh atau memiliki objek yang diinginkan (contoh: kekayaan, seks, ketenaran, makanan, dan tidur).
  2. 嗔 Chen(Dveṣa/Dosa): Kebencian, seperti Rasa kesal terhadap kesulitan, merasa marah dan bertindak impulsif karena orang lain tidak mengikuti keinginan atau memenuhi harapan seseorang.
  3. 痴 Chi(Moha): Ketidaktahuan, kegelapan batin seperti delusi/khayalan, kurangnya pemahaman, sebab dan akibat yang menyimpang, pandangan yang salah, dan ketidakmampuan untuk membedakan antara baik dan buruk, kebenaran dan kebohongan.

Pada akhirnya, kita belajar dari filsafat Buddhisme maupun Taoisme, manusia diperbudak oleh logika hasratnya sendiri, ketika seseorang bisa mengendalikan logika hasrat tersebut, ia telah bebas dari perbudakan yang akan bisa membuatnya hidup lebih realistis, khususnya dalam memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Ia akan lebih bisa menghargai dan berempati terhadap setiap kebajikan yang datang padanya, karena sejatinya kebajikan tersebut tidak sebatas diukur hanya secara nilai material, namun juga diukur dengan ‘makna apa yang dibawanya?’

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Dr. I. D. Lika, Ms. (2015). Dao De Jing – Kitab Suci Utama Agama Tao. Elex Media Komputindo.

Piliang, Y. A. (2012). Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna. MATAHARI.

Piliang, Y. A. (2017). Dunia Yang Berlari Dromologi, Implosi, Fantasmagoria. Cantrik Pustaka.

Ross, S. (2026). Understanding the Law of Diminishing Marginal Utility. https://www.investopedia.com/ask/answers/013015/what-does-law-diminishing-marginal-utility-explain.asp

Suwarto. (1995). Buddha Dharma Mahayana. Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia.

Gambar: https://opini.kemenkeu.go.id/pages/read/inflasi-dan-deflasi-memahami-dinamika-harga-dan-kebijakan-ekonomi-indonesia-2025. Diakses 14 April 2026

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?