Perang Dunia dan Kematian Massal

Home » Artikel » Perang Dunia dan Kematian Massal

Dilihat

Dilihat : 101 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 119
  • 571
  • 278,646
Pic 2651

 Oleh: Jo Priastana

 

“Tidak pernah ada perang yang baik atau perdamaian yang buruk”

(Benyamin Franklin, 1706-1790, Bapak Pendiri Amerika Serikat)

 

Kondisi dunia mencemaskan dan makin mencekam. Hari ini, 22/4/26 gencatan senjata perang AS-Israel dengan Iran berakhir, dan perpanjangannya pun sampai saat ini, 27/4/26 tak membawa hasil damai. Perang tampaknya akan berkobar kembali karena negosiasi dan jalannya perundingan menemui kebuntuan. Akankah perang AS-Israel melawan Iran ini semakin bereskalasi dan melibatkan negara-negara lainnya sehingga menjadi perang dunia total? Sungguh mencemaskan, karena akan banyak korban jatuh bila perang dunia III terjadi.

Sebagai perbandingan, perang dunia I (1914-1918) menelan korban sekitar 20 juta manusia tewas dan perang dunia ke II (1939-1945) menewaskan 80 juta manusia, dan diperkirakan perang dunia III akan menelan 150—300 juta orang mati ditambah 5 miliar manusia kelaparan. Sungguh mengerikan.

Sungguh mengerikan bila PD III terjadi yang pada akhirnya akan mengakibatkan kematian massal di banyak negara. Kendati begitu, jika kita lihat secara jujur, naluriah manusia yang memang menunjukkan selalu berperang, juga menunjukkan naluri yang selalu mencinta, membangun dan merawat atau ingin damai. Yang ontologis dalam diri manusia mungkin bukan perang, tetapi kemampuan untuk memilih antara destruksi dan konstruksi. Karenanya, perang adalah kemungkinan dalam diri manusia, tetapi bukan esensinya. Esensi manusia lebih tepat disebut sebagai makhluk sadar yang bisa jatuh dalam kebencian atau bangkit dalam welas asih.

Karena dari semua makhluk, hanya manusia yang bisa menciptakan perang, tapi juga bisa menciptakan lembaga untuk hidup hidup saling berdampingan, seperti Liga Bangsa-Bangsa (LBB) seusasi perang dunia I, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun Deklarasi Hak Asasi Manusia seusai perang dunia II. Meski begitu, apakah berakhirnya gencatan ini akan kembali menimbulkan perang AS-Israel dengan Iran dengan eskalasi yang semakin besar mengakibatkan terjadinya dunia III dan mendatangkan kematian massal? Perang yang dimulai oleh serangan AS terhadap Iran pada 28/2/26, dan disebut epic fury operation (operasi marah besar) diawali dengan menyasar sekolah dan membunuh 150 anak-anak dan masyarakat sipil ini akankah diakhiri dengan senjata nuklir yang meluluhlantakkan peradaban kemanusiaan?

 

Perang dan Kematian

Sejarah dunia memperlihatkan begitu banyak terjadinya perang. Apakah perang itu bagian dari hakikat (ontologi) manusia, atau hanya sebagai gejala dari peristiwa sejarah yang berseling perang dan damai. Perang sering muncul dalam sejarah manusia, tetapi kita juga optimis dan yakini juga bahwa itu tidak otomatis berarti perang adalah esensi ontologis manusia.  Perang berakar pada naluri destruksi manusia, tetapi manusia juga memiliki naluri rekonstruksi. Karena itu, biasanya sehabis perang timbul rencana rekonstruksi seperti Marshall Plan setelah PD II.

Filsuf Inggris Thomas Hobbes (1588-1679) menyatakan manusia adalah makhluk konflik, bahwa keadaan alami manusia adalah “bellum omnium contra omnes” – perang semua melawan semua. Manusia digerakkan oleh naluri mempertahankan diri, dan ketakutan serta keinginan akan kekuasaan yang melahirkan konflik.  Negara dibentuk untuk mencegah perang permanen. Meski perang memang dekat dengan ontologi manusia, bukan berarti esensi manusia sepenuhnya jahat. Manusia berperang mungkin karena ingin bertahan hidup dari ancaman kematian meski perang itu sendiri mendatangkan teror kematian.

Perang cerminan naluri dasar manusia seperti naluri destruktif, keinginan menguasai atau hegemoni.  Bapak ilmu hubungan internasional Hans J Morgenthau (1904-1980) dalam “Politics Among Nations” (1948), menganggap hubungan antarnegara adalah serupa dan sebangun dengan hubungan antar-individu yang selalu didorong oleh keinginan natural untuk saling menguasai. Bahwa manusia pada dasarnya bersifat egoistik dan animus dominasi alias haus kekuasaan.

Pandangan penulis politik internasional, Hans Joachim Morgenthau itu tampaknya sejalan dengan filsafat sosial Thomas Hobbes yang mengibaratkan manusia sebagai homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia lain, dan untuk mencegah konflik itu diperlukan kehadiran Leviathan yang kekuatannya mengatasi seluruh kekuatan individu dalam bentuk negara. Negara adalah Leviathan yang punya kekuatan besar untuk mengatasi konflik namun juga menciptakan perang yang menimbulkan kematian massal.

Sebaliknya Filsuf asal Jenewa, Swiss, Jean Jacques Rousseau (1712-1778)  menyatakan perang bukan kodrat manusia, tapi produk peradaban. Rousseau justru berkata, manusia pada dasarnya baik. Perang muncul karena kepemilikan, struktur sosial, dan ketimpangan. Yang berperang adalah negara, bukan “manusia alami.” Dalam pandangan ini, perang bukan ontologi manusia, melainkan konstruksi sosial-politik. 

Tentara Prusia dan intelektual perang Carl von Clausewitz (1780-1831) bilang, perang sebagai kelanjutan politik. Clausewitz menyebut “perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain.” Artinya, perang bukan dorongan biologis murni, melainkan instrumen rasional kekuasaan. Jadi perang bukan hakikat eksistensial tetapi alat. Clausewitz terkenal dengan pernyataannya “to secure peace is to prepare for war, atau si vis pacem, para bellum,” artinya, untuk berdamai, siaplah berperang.

Dari sisi psikologi, tokoh pendiri psikoanalisa Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan adanya dorongan agresi atau thanatos dalam diri manusia. Sigmund Freud memperkenalkan konsep dorongan kematian (death drive). Dalam diri manusia ada dorongan destruktif dimana agresi adalah bagian dari psikis. Namun Freud tidak mengatakan perang yang mencerminkan teror kematian adalah takdir mutlak, tapi soal menyalurkan agresi dan ini bisa juga ke bentuk lain selain perang. 

Kematian memang adalah wilayah paling gelap namun jujur dari eksistensi manusia. Jika perang tak terpisah dari kematian, mengapa manusia tetap memilihnya, padahal ia tahu bahwa hal itu menuju kematian.  Filsuf Jerman, Martin Heidegger (1889-1976) menyatakan manusia sebagai “being-toward-death” yang berarti manusia adalah makhluk yang sadar akan kematiannya (sein-zum-tode).  

Kematian dimaksud bukan sekedar peristiwa biologis, melainkan horizon yang memberi makna pada seluruh hidup. Dalam perang, kematian menjadi nyata, dekat, tak terhindarkan. Ironisnya, justru dalam kedekatan dengan kematian itu, sebagian orang merasa hidupnya menjadi “paling otentik.” Untuk itulah perang dimungkinkan dimana manusia juga ingin menemukan otentisitasnya seperti menjadi martir atau hero.

Perang memperjelas eksistensi siapa aku? Apa yang kupertahankan? Apa yang yang layak dikorbankan? Dalam kondisi normal, manusia hidup dalam “kelalaian keseharian” atau kelalaian untuk hidup otentik karena ilusi keduniawian, dan dalam perang ilusi duniawi itu terobek. Perang justru menyadarkan manusia dengan kematiannya dan mendatangkan hidup yang intensif dan otentik. Meski otentisitas bukan berarti harus berperang, namun pertanyaannya tetap bisa diajukan, apakah tidak memungkinkan pilihan?

 

Perang dan Damai

Filsuf Prancis Jean Paul Sartre (1905-1980) menyatakan tentang kebebasan dan tanggung jawab manusia. Sartre berkata, manusia dikutuk untuk bebas. Artinya manusia selalu memilih, bahkan tidak memilih pun adalah pilihan. Perang terjadi karena manusia memilihnya, baik secara individu maupun kolektif. Jadi perang yang mendatangkan kematian sesungguhnya tidak harus pasti terjadi, karena manusia juga cenderung pada kehidupan.

Tetapi, mengapa memilih perang meski tahu akan mati? Karena kebebasan sering disertai ketakutan. Ketakutan bisa berubah menjadi agresi. Manusia berperang atas nama ideologi yang bisa mengaburkan rasa tanggung jawabnya, ia bersembunyi dalam ideologi. Sartre juga melihat bahwa manusia sering bersembunyi di balik sistem atau negara untuk menghindari rasa bersalah pribadi. Dalam perang mereka merasa bersama dan memandang dirinya hero.

Filsuf dan novelis Prancis asal Aljazair Albert Camus (1913-1960) dikenal dengan filsafatnya tentang Absurditas dan Pemberontakan. Ia menyebut kehidupan itu absurd, yaitu bahwa kita sadar akan kematian, tapi tetap mencari makna. Perang sering lahir dari “pemberontakan yang salah arah.”

Menurut Camus, manusia ingin makna dan ingin identitas, ingin merasa penting dalam sejarah. Perang menawarkan ilusi makna besar lewat mati sebagai pahlawan, mati demi bangsa, mati demi ideologi. Padahal, kata Camus, pemberontakan sejati justru menolak membunuh. 

Dalam perspektif filasafat Timur, perang bukan ontologi manusia, tapi karena adanya ketidaktahuan atau avidya, kebodohan batin. Dalam Buddhadharma, meski dikenal adanya naluri kematian (vibhava-tanha) namun perang dipandang sebagai buah dari lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (ketidaktahuan). Artinya perang bukan hakikat manusia, melainkan akibat kegelapan batin.

Jika perang adalah ontologi, maka pencerahan tidak mungkin ada. Dalam diri manusia juga mengandung bhava-tanha (keinginan hidup) yang bersifat konstruktif, dimana sejarah juga mencatat tumbuhnya welas asih, solidaritas, dan perdamaian.

Filsuf Yunani Thucydides (431-404 SM) dalam catatannya “The Peloponesian War,” mengungkapkan, “The strong do what they can, the weak suffer what they must,” bahwa yang kuat akan berkuasa, yang lemah harus menderita. Kendati demikian, Thucydides juga mengingatkan bahwa selain prinsip akumulasi kekuatan dan keamanan (security), ada prinsip lain yang sama pentingnya, yaitu kerjasama dan koeksistensi damai, hindari kekerasan.

Sama halnya dengan Buddha. Dikisahkan, Ketika Raja Ajatasattu, putra Bimbisara dari Magadha hendak menyerang Vajjis, negara tetangganya, ia meminta saran terlebih dahulu kepada Sang Buddha lewat pendeta Vassakara. Kemudian Sang Buddha mengingatkannya untuk tidak mengobarkan peperangan, tidak mempergunakan kekerasan, melainkan sebaliknya, menjalankan politik tanpa kekerasan yakni dengan menekankan untuk bermusyawarah dan mematuhi semua ketentuan perdamaian yang telah diberlakukan (Maha Parinibbana Sutta).

Jadi kenapa manusia tetap berperang? Secara eksistensial karena manusia takut mati, dan ketakutannya ini memungkinkannya untuk menyerang lebih dulu (preemptive). Seperti alasan Donald Trump menyerang Iran terlebih dahulu karena merasa Iran akan menyerangnya. Takut kehilangan makna lalu mendasari diri dengan heroisme. Takut kehilangan identitas kemudian menyerukan pembelaan “kami” melawan “mereka.” Takut menjadi kecil, kemudian ingin menjadi bagian dari sejarah besar. Perang sering bukan cinta pada kematian, tetapi justru ketakutan akan anihilisasi, ketakbermaknaan kepunahan yang tak dihadapi secara sadar dan akal sehat.

Jika dikaitkan dengan renungan tentang sadar akan kematian, maka kesadaran kematian bisa membawa kepada dua jalan. Jalan pertama adalah teror lalu agresi dan perang. Jalan kedua adalah kebijaksanaan lanjut welas asih dan akhirnya perdamaian. Hal ini mengingatkan kita pada “Perang dan Damai,” (1869), karya sastrawan besar Leo Tolstoy (1828-1910), kisah tentang perang, keluarga dan nasib manusia.

 

Ingat Yang Mati

Perang dan damai silih berganti. Sejarah menunjukkan setelah Perang Dunia I (1914-1918), di tahun 1920 terbentuk lembaga perdamaian, Liga Bangsa-Bangsa. Liga Bangsa-Bangsa tak berdaya dan menimbulkan Perang Dunia II (1939-1945) yang juga kemudian memunculkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Apakah kini PBB yang memiliki dewan keamanan itu juga sudah tak berdaya dan mengharuskan terjadinya perang AS-Israel dengan Iran berujung pada Perang Dunia III?

Takhta Suci, negara Vatikan telah menyatakan keprihatinan yang mendalam dan mendesak kedua belah pihak untuk “menghentikan spiral kekerasan sebelum menjadi jurang yang tidak dapat dijembatani.” Paus Leo XIV menyerukan dimulainya kembali diplomasi. Senjata, katanya, hanya menabur kehancuran, penderitaan dan kematian (Kompas 12/3/26).

Martin Heidegger (1889-1976) mengatakan manusia sering hidup dalam “ketidaksadaran keseharian,” kita tahu kita akan mati, tapi kita menyingkirkan fakta itu dari kesadaran nyata. Saat kematian ditekan, ego menjadi agresif. Ia ingin mengukir namanya agar terasa abadi.

Di sinilah perang menemukan bahan bakarnya. Kesadaran kematian membuat ego retak. Jika seseorang benar-benar meyadari aku akan mati, lawanku juga akan mati, dan banyak lainnya yang akan mati, timbul kesadaran bahwa hidup semua ini sementara, maka akan muncul pertanyaan sunyi:  apakah benar aku perlu membunuh untuk sesuatu yang juga fana?

Kesadaran akan kematian sesungguhnya justru bisa menjadi obat bagi kecenderungan perang dalam diri manusia. Maksudnya bukan sesuatu yang mistis, tapi soal perubahan cara manusia mengalami dirinya sendiri. Perang berasal dari ilusi keabadian ego. Banyak konflik lahir dari anggapan tentang aku, bahwa aku harus menang, kelompokku harus unggul. Identitasku harus bertahan selamanya. Padahal secara ontologis, kita semua fana, dan tiada-aku, anatta.

Perang adalah peristiwa politik, tetapi mengapa masalah politik selalu diperantarai oleh kekerasan yang menghancurkan peradaban? Apakah politik beradab yang sejalan spiritualitas, ahimsa atau tanpa kekerasan itu tidak realistis dan sekedar utopis? Politik yang maju dan beradab adalah politik yang “tanpa membunuh, tanpa melukai, tanpa menjajah, tanpa membuat sedih, dan mengikuti Dhamma atau ajaran kebenaran,” demikian kata Buddha (Samyutta Nikaya).

Perang menghancurkan peradaban kemanusiaan. Kini kita kembali dihadapkan pada ancanam Donald Trump yang memberi ultimatum kepada Iran untuk melenyapkan peradabannya. Dalam sejarah Imperium Americanum kehancuran besar yang meluluhlantakkan kota sekaligus menghentikan Perang Dunia II ditandai dengan hasil dari Manhattan Project berupa bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945 dan sekaligus menghentikan gerak ekspansi Jepang dengan menyerahnya Tenno Heika (Dominggus Elcid Li, Kompas 23/4/26).

Kini, akankah bom nuklir yang pastinya akan lebih dahsyat itu juga akan dijatuhkan kembali untuk meluluhlantakkan peradaban Iran yang telah berlangsung ribuan tahun? Ancaman Donald Trump ini mengingatkan filsuf Michael Foucault (1926-1984) dengan bukunya “Madness and Civilizations” (Kegilaan dan Peradaban, 1961). Sebuah buku kajian tentang evolusi makna kegilaan dalam budaya dan hukum, politik, filsafat, sejarah kegilaan dalam penghancuran peradaban. Kesalahan moral yang terjadi karena kegilaan sesuai dengan pilihan radikal untuk menolak kemanusiaan dan komunitas manusia demi kebinatangan.

Perang tak lepas dari kematian, dan manusia yang pasti mati juga memiliki kesadaran akan kematian. Namun, kesadaran kematian pun tidak otomatis membuat manusia lembut. Ia hanya membuka kemungkinan. Jika batin masih dikuasai ego dan naluri kebinatangan, kematian membuatnya terbentang. Pertanyaan terdalamnya, apakah manusia sungguh benar-benar menyadari kematiannya atau hanya tahu secara konsep, tanpa menghayatinya secara eksistensial seperti juga ingat yang mati, ingat wajah kematian mereka dalam perang.

Budaya “maranasati” atau “sadar akan kematian” menjadi penting bagi para pemimpin negara untuk mengingatkan bahwa perang berdampak pada kematian massal, apalagi jika Perang Dunia III terjadi. Kalau kematian benar-benar dihayati dan disadari sepenuh hati secara eksistensial termasuk ingat yang mati karena perang, maka mungkin perang menjadi jauh lebih sulit untuk dipilih, karena pemimpinnya sungguh sadar akan dampak perang yang menimbulkan kematian massal, penghancuran peradaban kemanusiaan. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/2597015/lukisan-ini-gambarkan-tragisnya-perang-dunia-ii

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?