Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.
Di saat perayaan Pehcun 扒船 / Twan Ngo 端午 (Festival mendayung perahu naga) yang terjadi setiap tahunnya pada penanggalan lunar Go Gwee Ce Go Jit 五月初五日, atau tahun ini pada Jumat, 19 Juni 2026, selain diperingati sebagai perayaan makan Bakcang 肉粽, Kwee Cang/Kicang 鹹粽, mendayung perahu pehcun, juga diperingati sebagai “musim penyakit”.
Pasalnya di waktu ini, energi Yang (Panas matahari) sedang memuncak, maka seringkali disebut 端陽 Twan Yang, dampaknya terjadi gelombang panas yang signifikan serta keluarlah beragam jenis serangga maupun hewan beracun yang dapat membawa masalah bagi hidup manusia. Masyarakat Tionghoa mengenalnya sebagai Lima jenis hewan beracun (Wu Du/Ngo To 五毒) yakni kalajengking, ular (khususnya viper), kelabang/lipan kaki seribu, kadal, dan kodok, yang mana efek berantainya adalah banyak bencana dan malapetaka baik dari yang terlihat maupun tidak terlihat (mahluk halus).
Guna mengatasi hal ini, secara tradisional, orang-orang tua jaman dahulu akan menggantung daun Hia (Asian Mugwort Artemesia) dan daun Dringo/Jeringau di pintu utama rumah. Kedua jenis daun ini memiliki aroma khas yang bisa menolak serangga maupun hewan-hewan beracun, serta diyakini bisa mempurifikasi hawa negatif.
Sebagaimana ungkapan berikut: Hia Co Ji Ki Ciong Kiat Khing, siang po su kiam cam ian cing 艾草如旗鍾吉慶, 菖蒲似劍斬妖精
Daun hia (ai chao/Hia Co 艾草, asian mugwort artemesia) seperti bendera akan mendatangkan segala keselamatan dan daun dringo/jeringau (Changpu/Siong Po 菖蒲 Acorus Calamus) seperti senjata pedang akan membunuh sekalian siluman (Tjoa, 1878: 47-48).
Sementara di budaya peranakan Cina Benteng, daun ini juga ditambah 2 jenis daun lainnya:
(1) Daun beringin yang dianggap sebagai pohon pemberi naungan sekaligus sifat “sangar-angker” nya diharapkan bisa memberikan efek agar mereka yang berniat jahat menjadi segan dan takut.
(2) Padi lengkap dengan daun dan batangnya yang mana ini merupakan akulturasi dari spiritualitas Tionghoa dengan masyarakat sunda tempo doeloe, yang mana simbol padi ini adalah harapan akan kemakmuran pangan karena padi di tanah sunda merujuk pada Nyi Pohaci Sanghyang Asri, atau yang biasa oleh masyarakat Jawa dikenal sebagai Dewi Sri (Dewi Padi), demikian di Buddhis juga mengenal Sri Mahadevi (Mohe sili 摩诃斯里) sebagai dewi pembawa kemakmuran.
(3) Menggantung Kwecang/Kicang 鹹粽(sejenis bakcang tapi dari ketan) sebagai bentuk persembahan kepada Mui Sin Kong 门神公/Dewa pintu.
Semua ini dilakukan sebagai ilmu kebijaksanaan tradisional (Indigeneous Science) untuk menjauhkan Lima jenis hewan beracun dari rumah seseorang, yang mana kelimanya keluar bersama dengan gelombang panas akibat puncak energi matahari (Twan Yang 端陽) saat perayaan pehcun. Menggantung daun hia juga identik dengan upaya “Kias Tolak bala” bagi keselamatan rumah. Bagi yang berkeyakinan Taoisme rakyat dan juga Tridharma biasanya juga meminta Hu 符 kepada dewa macan putih/ Pek Ho Ya Kong 白虎爺公 di mana dewa ini diyakini memiliki kemampuan untuk menjauhkan dan menekan kelima jenis hewan beracun tersebut.
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Daftar Pustaka
Tjoa, Tjoe Koan. Hari Raja Orang Tjina. Batavia: Albrecht & Co., 1887.
The Benteng (2025). Hari pehcun masih galau gantung dedaunan. Video Reel Instagram. https://www.instagram.com/reel/DKTWFY0hnVL/?igsh=MTBxcjV0OXpuamxwMA==. Diakses Juni 2026.
Gambar: Dokumentasi Pribadi (Juni 2026).