Puncak Stupa Borobudur, Meditasi Waisak, dan Fenomenologi Intensionalitas Kesadaran

Home » Artikel » Puncak Stupa Borobudur, Meditasi Waisak, dan Fenomenologi Intensionalitas Kesadaran

Dilihat

Dilihat : 58 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 119
  • 571
  • 278,646
Pic 2664 stupa

Oleh: Jo Priastana

 

“Natural Objects, for example, must be experienced

before any theorizing about them can occur.”

(Edmund Husserl, 1859-1938, Filsuf Fenomenologi)

 

Dalam pemahaman sebagai perjalanan spiritual, candi agung Borobudur lebih dimaknai sebagai praktik ruang terbuka, yaitu meditasi dalam ruang terbuka di dalam bangunan arsitektural batu. Bangunan Candi Borobudur sebagai kitab terbuka Buddhadharma bisa lebih dimaknai sebagai perjalanan batin, dan ini sangat dekat dengan hakekat Buddhadharma. Buddhadharma sebagai “jalan transformasi kesadaran,” dan bukan sekadar sistem kepercayaan metafisik atau ajaran yang dogmatik. Borobudur dibangun untuk selalu kontekstual sebagai aktivitas aktual laku meditasi oleh siapa saja, dan bukan sekadar semata sistem teoretis dan pencocokan konsep-konsep tekstual yang bersifat teologis.

Perjalanan transformasi batin menuju puncak stupa itu adalah wujud dari aktualitas laku meditatif, seperti pencapaian puncak kesadaran Siddharta Gautama di malam Waisak. Karenanya, bangunan Borobudur itu lebih dimaknai secara fenomenologi, yaitu dari sudut subyek sadar sebagai pelaku spiritual, dimana Borobudur merupakan ruang terbuka meditasi, dan puncak stupa Borobudur sebagai intensionalitas kesadaran, sejalan dengan hakekat Buddhadharma yang menekankan pengalaman kesadaran bahkan pengalaman puncak kesadaran di dalam malam Waisak.

Karenanya, perjalanan mendaki puncak Borobudur juga bisa dimaksudkan sebagai perjalanan menuju puncak kesadaran. Tafsir seperti ini cukup kuat secara simbolik dan sering dipakai dalam pembacaan filosofis maupun spiritual terhadap Borobudur terlebih kala datang perayaan Waisak, seperti detik-detik Waisak yang dimaknai sebagai intensitas waktu meditatif dalam ruang terbuka Borobudur. Perjalanan ke puncak stupa Borobudur sebagai laku meditatif mencerminkan  fenomenologi intensionalitas kesadaran, sebagaimana pengalaman horizon kesadaran Buddha dalam meditasi di malam Waisak.

 

Meditasi dan Fenomenologi

Meditasi dan filsafat fenomenologi punya titik temu besar. Keduanya sama-sama berusaha memahami pengalaman sadar sebagaimana dialami langsung oleh subyek, sebelum diberi label, teori, atau penjelasan ilmiah. Dalam filsafat, terutama lewat Edmund Husserl (1859-1938), pendiri aliran Fenomenologi. Filsafat fenomenologi adalah metode untuk “kembali kepada pengalaman itu sendiri” (“Zu den Sachen Selbst”). Artinya, bukan bertanya “apa hakikat dunia secara objektif?”, tapi “bagaimana dunia muncul dalam kesadaran kita.” (Thomas Hidya Tjaya, “Fenomenologi Sebagai Sains Pengalaman,” Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2025. P.198.)

Meditasi khususnya meditasi mindfulness atau vipassana, sering melakukan hal yang sangat mirip. Ada beberapa titik kaitan meditasi dan fenomenologi, seperti: “Mengamati pengalaman langsung.” Dalam meditasi, seseorang mengamati, napas, sensasi tubuh, pikiran, emosi, suara, tanpa langsung menilai atau bereaksi. Fenomenologi juga begitu. Bukan “apakah emosi itu benar?” tapi “bagaimana emosi ini hadir dalam kesadaran?” Fokusnya adalah struktur pengalaman subjektif.

Titik temu lainnya adalah “Menangguhkan Penilaian.” Dalam fenomenologi ada konsep penting dari Edmund Husserl (1859-1938) yang disebut “epoche” atau “bracketing,” yakni: menunda asumsi tentang dunia luar agar pengalaman bisa diamati lebih murni. Misalnya, biasanya kita langsung berpikir “aku marah karena dia salah.” Dalam percakapan fenomenologis, kita mengamati dulu: bagaimana rasa marah muncul, bagaimana tubuh bereaksi, dan bagaimana pikiran membentuk narasi.

Meditasi juga melakukan semacam “penangguhan otomatis.” Tidak langsung melekat pada pikiran, hanya menyadari bahwa “oh, ada pikiran marah.” Karena itu banyak sarjana melihat meditasi sebagai praktik fenomenologis. Meditasi dekat dengan pandangan fenomenologis tentang kesadaran yang dinamis dan terarah (intentionality).

Titik temu lainnya adalah bahwa “kesadaran sebagai proses, bukan benda.” Fenomenologi melihat kesadaran bukan objek statis, melainkan aliran pengalaman. Martin Heidegger (1889-1976) dan Maurice Marleau-Ponty (1908-1961), tokoh fenomenologi eksistensialis mengembangkan ide bahwa: manusia selalu “berada di dunia”, kesadaran selalu terkait tubuh, ruang, waktu, dan relasi. Meditasi sering membawa orang melihat bahwa: pikiran terus berubah, identitas “aku” tidak solid, pengalaman muncul dan lenyap, sebagaimana fenomenologis tentang kesadaran yang dinamis, terarah atau intensionalitas.

Titik temu selanjutnya bahwa “tubuh sebagai pusat pengalaman.” Fenomenologi modern, terutama Maurice Marleau-Ponty, menekankan bahwa tubuh bukan sekadar objek biologi, tapi cara kita mengalami dunia. Meditasi tubuh (body scan, kesadaran napas, yoga meditatif) juga menempatkan tubuh sebagai pintu masuk kesadaran: bukan tubuh sebagai “benda”, tapi tubuh yang “dirasakan dari dalam.”

Kendati terdapat banyak titik temu, terdapat juga perbedaannya. Walaupun mirip, tujuan keduanya tidak sama, atau bisa juga dimaknai saling melengkapi. Fenomenologi bertujuan mendeskripsikan struktur pengalaman, membangun pemahaman filosofis tentang kesadaran. Lebih analitis dan koseptual meski lepas dari idealitas. Sedangkan meditasi, tujuannya sering untuk transformasi batin, ketenangan, pembebasan dari penderitaan, kejernihan kesadaran, lebih eksistensial dan praktis.

Menariknya, keduanya, fenomenologi dan meditasi sesungguhnya saling mempengaruhi. Beberapa filsuf dan ilmuwan modern mencoba menggabungkan antara fenomenologi dengan meditasi dan juga ilmu kognitif. Contohnya, Fransisco Varela (1946-2001), filsuf, ahli biologi dan syaraf dengan gagasan “neurophenomenology,” dimana pengalaman meditasi bisa menjadi data serius untuk memahami kesadaran.

Jadi pengalaman subjektif tidak dianggap “kurang ilmiah,” tapi justru sumber penting untuk memahami pikiran manusia. Kalau diringkas secara sederhana, fenomenologi adalah filsafat yang mencoba memahami bagaimana pengalaman muncul dalam kesadaran.

Meditasi adalah praktik langsung untuk menyadari proses munculnya pengalaman itu secara real-time. Karena itu, meditasi bisa dilihat sebagai praktik fenomenologis, laboratorium kesadaran, atau bentuk “fenomenologi yang dijalani,” seperti perjalanan menuju puncak kesadaran stupa Borobudur di hari Waisak, dimana Borobudur yang kerap diterjemahkan sebagai simbolika struktur kesadaran merupakan laboratorium aktualitas kesadaran spiritualitas Buddhadharma Nusantara.

 

Intensioalitas Kesadaran Puncak Borobudur di Hari Waisak   

Dalam Buddhadharma, terutama yang terkait tradisi Mahayana dan simbolisme Borobudur yang berada di Nusantara, Jawa Tengah itu, perjalanan spiritual memang sering dipahami sebagai perjalanan kesadaran, transformasi batin, dari keterikatan menuju pencerahan. Karena itu, mendaki Borobudur saat Waisak bisa dibaca bukan sekadar aktivitas ritual fisik, tetapi metafora pengalaman kesadaran dari laku meditasi.

Borobudur bisa dipergunakan sebagai “peta Kesadaran.” Struktur Borobudur sendiri sering ditafsirkan bertingkat, sebagai cerminan perjalanan kesadaran manusia menjadi Buddha. Alam kesadaran kamma (kammavacara), alam kesadaran wujud (rupavacara), dan alam kesadaran tanpa wujud (arupavacara) sebagaimana menjadi kajian mendalam tentang hakekat atau filosofi manusia dalam filsafat Abhidhamma.   

Kamadhatu, bagian bawah, terdiri dari dunia nafsu, keterikatan, dorongan indrawi, ego dan hasrat, ini melambangkan kesadaran yang masih terikat dunia material. Rupadhatu, yaitu bagian tengah, mulai ada keteraturan, disiplin, kontemplasi, pelepasan bertahap. Kesadaran mulai reflektif dan sadar.  

Lalu, Arupadhatu, bagian atas dimana bentuk mulai hilang, stupa berlubang, ruang lebih terbuka dan sunyi. Ini sering dimaknai sebagai kesadaran non-ego, kekosongan (sunyata), kejernihan batin, kondisi mendekati pencerahan. Puncaknya berupa stupa utama yang tertutup dan hening dimana justru “tanpa figur.” Secara fenomenologi, ini menarik karena semakin tinggi, semakin sedikit bentuk dan narasi.

Tingkatan kesadaran itu serasa mencerminkan adanya hubungan dengan pengalaman Buddha. Buddhadharma sangat menekankan pengalaman, termasuk pengalaman sadar. Dalam kisah Siddharta Gautama, malam pencerahan juga merupakan proses transformasi kesadaran, yaitu: melihat hakikat penderitaan, melihat sebab-musabab keterikatan, mencapai kebebasan batin.  

Waisak bukan cuma memperingati “peristiwa sejarah,” tetapi pengalaman batin universal, sebagaimana Borobudur sebagai “peta kesadaran” dan mendakinya dalam sikap meditatif ke puncak stupa sebagai intensionalitas kesadaran, perjalanan spiritual, perjalanan dari ketidaksadaran menuju kesadaran sepenuhnya.

Maka ritual berjalan dan mendaki menuju puncak Borobudur bisa dipahami sebagai “enactment” simbolik dari proses itu. Dikaitkan dengan fenomenologi, menunjukkan dan menariknya bahwa pengalaman itu bukan cuma “dipikirkan,” tapi dialami, seperti, saat berjalan pelan, menikmati perubahan cahaya, suara mantra, tubuh lelah, ruang yang makin terbuka, suasana hening di atas.  Semua itu membentuk pengalaman sadar yang bertingkat dan berlapis, seperti dekorasi relief-relief yang menghias bangunan candi dan memberikan pelajaran tentang keragaman kehidupan fisikal konkret maupun jalan transendetal mengatasinya dalam pengalaman pengorbanan, kisah Bodhisattva.

Dalam bahasa fenomenologi, makna tidak cuma ada di kepala, tetapi muncul lewat pengalaman tubuh, ruang, gerak, dan kesadaran langsung. Karena itu, Borobudur bisa dibaca bukan hanya sebagai monumen, tetapi sebagai arsitektur kesadaran, fenomenologi batu yang mengandung noumena kesadaran murni atau mandala pengalaman spiritual.

Ada pendapat Borobudur bukan simbolik kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu. Adakah ini meniadakan mendaki Borobudur bukan lagi sebagai perjalanan spiritual, proses kesadaran dari mulai yang masih terikat dan melekat, berdisiplin hingga melepas dan puncak kesadaran kekosongan sunyata? Tidakkah esensi Buddhadharma justru terletak di situ, seperti malam Waisak di Borobudur untuk menemukan pencerahan kesadaran sempurna mengatasi keterikatan hawa nafsu? Kalau bukan untuk pendakian kesadaran yang sungguh bersifat kualitatif spiritual ini, lalu untuk apa Borobudur dibangun?

Bukankah juga perjalanan spiritual itu mencerminkan transformasi batin dari yang masih menggenggam aku dalam hawa nafsu, kama tanha, ke disiplin kesadaran dalam meditatif rupadhatu dan arupadhatu yang menghantar terbebas dari konsep. Meski begitu, bagi pejalan spiritual, mendaki Borobudur juga tidak harus menggenggam peta kesadaran secara kaku, agar perjalanan kesadaran tetap dinamis, karena konsep biasanya memaku dan membekukan, dan karenanya semuanya harus dilepaskan, termasuk konsep-konsep peta kesadaran tersebut.

Pendapat mengenai Borobudur tidak semata-mata dibangun sebagai simbol tiga alam Kamadhatu, Rupadhatu, Arupadhatu, bisa saja cukup serius dan penting dalam kajian akademik. Banyak peneliti modern menganggap pembacaan “tiga dunia” sebagai peta kesadaran itu terlalu menyederhanakan Borobudur yang sebenarnya sangat kompleks. Meski mungkin perjalanan kesadaran yang bersifat pengalaman fenomenologis itu justru hanya perlu sekadar peta yang sederhana yang pada akhirnya juga akan dilepas. Tokoh seperti John Miksic (1946-2025) arkeolog kelahiran Amerika juga menekankan bahwa Borobudur adalah perpaduan kompleks antara kosmologi Buddhis, ritual, politik, dan pengalaman spiritual Jawa kuno.

Karenanya maknanya memang berlapis, tidak tunggal. Biarkan kajian akademis memperkaya pengetahuan dan makna borobudur. Dan terutama bagi peziarah sebagai laku meditasi mencapai puncak kesadaran, peta kesadaran yang merupakan penafsiran paling umum dalam kajian Buddhis dan arsitektur simbolik Borobudur telah memberi makna yang sangat dalam dan esensial terutama ketika berada di Borobudur di malam sunyi Waisak dalam pengalaman kesadaran Siddharta mencapi Buddha.

Ada pembacaan kosmologis dan ada pembacaan prosesual spiritual. Pembacaan kosmologis melihat Bodrobudur sebagai representasi alam semesta Buddha dan menjelaskan Borobudur secara objektif sesuai dengan pembacaan pada teks-teks Buddha. Sedangkan pembacaan spiritual melihat Borobudur sebagai perjalanan transformasi kesadaran, bersifat subjektif sebagai jalan kesadaran Buddha, pendekatan yang juga sering dianggap lebih dekat dengan pengalaman praktik Buddhadharma itu sendiri.

 

Jalan Transformasi Kesadaran

Banyak peneliti melihat Borobudur bukan sekadar bangunan religius, melainkan “mesin kontemplasi,” struktur kesadaran yang dirancang agar orang mengalami transformasi batin melalui perjalanan fisik dan simbolik. Pendekatan fenomenologi kesadaran yang subjektif sebagai langkah  perjalanan spiritual tidaklah terpaku pada penjelasan yang berusaha secara objektif akademik sebagai sistem teoretis. Namun lebih sebagai perjalanan spiritual manusia yang bersifat eksistensial, dari keterikatan, pencarian makna hingga pelepasan.  

Langkah spiritual eksistensial yang mencerminkan kesadaran itu sendiri. Langkah kecil dan sunyi merasakan detak batu-batu, perasaan, emosi, angin semilir dan mungkin cahaya bulan yang bersinar menerangi dari atas langit luas sana. Malam penuh cahaya bulan dan bintang-bintang mencerminkan terang kesadaran di dalam kegelapan.

Borobudur sebagai perjalanan spiritual, bukan sekadar simbol statis. Kalau diperhatikan, Borobudur bukan candi yang “ditonton dari depan” seperti banyak bangunan lain. Ia dirancang untuk dinaiki, didaki, berputar, dijalani tahap demi tahap sebagai laku meditatif sebagai fenomenologi kesadaran intensionalitas. Artinya, makna muncul lewat gerak dan pengalaman. Relief-reliefnya bukan dekorasi acak: ada kisah karma, kehidupan manusia, pencarian, disiplin batin, kisah Bodhisattva, hingga pelepasan.

Yang penting bukan hanya “dimana posisi seseorang” sehingga tak harus melekat pada konsep termasuk tribuana itu, tetapi bagaimana seseorang berubah selama perjalanan itu. Ini sangat sesuai dengan inti Buddhadharma, bahwa Dharma sebagai jalan (marga) menemukan kebenaran kesunyataan, bukan dogma statis atau sistem teoretis pembenaran tentang kenyataan Borobudur.

Termasuk Borobudur untuk didaki sebagai jalan transformasi yang bersifat transendental dan bukan sekadar dijadikan validitas pembuktian teks, yang kerap kaku dan membeku, bahkan sekalipun itu diperlakukan sebagai “peta kesadaran.” Aktualitas sebagai peta kesadaran yang berawal dari kesadaran yang masih impulsif, identitas ego, keterikatan pada “aku” dan “milikku” mirip manusia modern yang tenggelam dalam konsumsi, ambisi, kecemasan sosial, pencarian validasi, pelepasan dunia hasrat atau kamatanha.

Melangkah ke bagian tengah yang terbuka, rupadhatu, alam rupa, kesadaran bentuk yang melambangkan tahap ketika manusia mulai disiplin batin, memahami dharma, mengolah pikiran, melepaskan keterikatan kasar. Masih ada bentuk, simbol, konsep, identitas spiritual, latihan, bahkan “aku yang sedang mencari pencerahan,” dimana kesadaran ego mulai melunak, pikiran lebih reflektif, muncul welas asih dan kejernihan meski dualitas masih ada.

Lanjut ke puncak Borobudur, terdiri dari stupa-stupa melingkar yang nyaris tanpa relief naratif. Simbol mulai menghilang, tidak banyak bentuk, hanya ruang, langit, dan keheningan. Bagian arupadhatu ini sering dipahami sebagai alam tanpa bentuk, kesadaran non-dual, melampaui ego dan konsep, kekosongan (sunyata) dan kebebasan batin. Alam tanpa bentuk, arupadhatu dimana kesadaran tidak lagi melekat.

Borobudur menunjukkan semakin naik ke atas, semakin sedikit ornamen, semakin sunyi, dimana ia seolah berkata, pada akhirnya kebenaran terdalam tidak dapat sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata, konsep atau gambar. Peta itu dilepaskan ketika intensionalitas kesadaran mengalir dinamis mencapai puncaknya, pencerahan di puncak stupa induk dalam bentangan cakrawala horizon kesadaran tak bertepi terbuka luas.

Pendekatan subjektif fenomenologis kesadaran ini memiliki hubungan dengan langkah Buddha, dalam tradisi Siddharta Gautama. Sebagai langkah kesadaran, pencerahan tidak turun tiba-tiba sebagai wahyu metafisik, tetapi melalui proses seperti melihat penderitaan, meninggalkan kenyamanan, disiplin, meditasi, konfrontasi dengan diri, sampai kebangkitan kesadaran. Borobudur bisa dibaca sebagai dramatisasi ruang dari proses meditatif itu.

Beberapa sarjana melihat struktur naratif relief Borobudur juga penting memperdalam tiga alam tadi. Karena relief itu memperlihatkan tentang manusia biasa, nafsu, kebajikan, kebijaksanaan, welas asih, pelepasan. Artinya fokusnya adalah transformasi eksistensial, karena hakekat keBuddhaan berada di situ.

Kalau dilihat dari inti ajaran Buddhadharma yang utama bukan kosmologi, tetapi tentang penderitaan (dukkha), sebab penderitaan, kemungkinan pembebasan, jalan menuju pembebasan. Jadi perjalanan Borobudur bisa dipahami sebagai perjalanan memahami kondisi batin sendiri, bukan sekadar “naik ke tempat suci,” karena kesucian ada dalam kesadaran.

Banyak orang merasa pengalaman menuju puncak stupa Borobudur sebagai berjalan melingkar, naik perlahan, melihat relief, menuju ruang yang makin sunyi, memberi kesan kontemplatif meskipun mungkin tanpa memahami teori Buddhadharma secara penuh. Arsitekturnya sendiri “mengajar” lewat pengalaman. Borobudur bukan sekadar realitas validasi pembenaran teks atau sistem teori tetapi kebenaran kesunyataan yang untuk ditempuh, dialami dan ditemukan.

Menariknya, puncaknya justru kosong. Di atas Borobudur yang ada adalah, keterbukaan, kesunyian. Ini sering dibaca bukan sebagai “tujuan tempat,” tetapi keadaan kesadaran yang tidak melekat, tidak penuh simbol, tidak penuh narasi ego.

Perjalanan spiritual bukan untuk menemukan sesuatu di luar, seperti wujud fisik bermahkota, tetapi mengalami perubahan kesadaran, transformasi menuju puncak kesadaran, puncak stupa Borobudur, menemukan kesunyataan, dimana kesadaran itu sendiri adalah mahkotanya, kesadaran Buddha, dan dimana di puncak stupa Borobudur itu justru tak kutemukan apa-apa, dan secara fenomenologis hanya horizon kesadaran tak bertepi! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://www.kompas.id/artikel/perayaan-waisak-di-borobudur-ditiadakan-umat-buddha-ikuti-acara-virtual

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?