Lampion Waisak Borobudur: 130-200 kg Sampah Material ke Bumi

Home » Artikel » Lampion Waisak Borobudur: 130-200 kg Sampah Material ke Bumi

Dilihat

Dilihat : 51 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 119
  • 571
  • 278,646
Pic 2672

Oleh: Jo Priastana

 

“Lampion yang diterbangkan dapat jatuh ke tanah dan menjadi sampah yang tidak dapat terurai dengan cepat. Hal ini dapat menyebabkan polusi lingkungan dan mengganggu keindahan alam sekitar candi. Pelepasan lampion juga bisa memicu terjadinya kebakaran hutan dan di rumah-rumah warga sekitar Borobudur.” (Hikmahbudhi, Tolak Pelepasan Lampion Waisak di Borobudur)

 

Lampion yang diterbangkan memberikan dampak. Secara fisik, setiap lampion yang diterbangkan akan kembali ke bumi sebagai sampah, kecuali jika berhasil dikumpulkan kembali. Jadi pertanyaannya, bukan apakah mengotori bumi atau tidak, melainkan seberapa besar dampaknya? Sebuah lampion umumnya terdiri dari: rangka kawat atau bambu sekitar 10-30 gram. Selubung kertas atau kain tipis sekitar 20-50 gram, bahan bakar kecil prafin atau lilin beberapa gram.

Jika kita membuat perkiraan dengan mengambil rata-rata berat total 50—80 gram per lampion, maka kalau pada Waisak 2026/2570 menerbangkan 2.570 lampion, hitungannya menjadi: 2570 x 50 gram sama dengan 128, 5 kg, atau 2.570 lampion x 80 gram sama dengan 205,6 kg. Artinya, setelah perayaan, diperkirakan ada sekitar 130-210 kilogram material yang pada akhirnya jatuh kembali ke beragam lokasi secara acak; bisa ke tanah, sawah, hutan, sungai, laut, bangunan, dan sebagainya, tergantung arah angin dan jarak terbangnya.

Pertanyaannya, haruskah kemeriahan Waisak berlampion meninggalkan sampah materialnya yang mencemari bumi? Jarak jatuhnya sisa sampah lampion memang sulit dihitung pasti karena dipengaruhi oleh kecepatan dan arah angin, lama bahan bakar menyala, ketinggian yang dicapai. Lampion dapat jatuh beberapa kilometer hingga puluhan kilometer dari lokasi pelepasan. Dalam kondisi angin cukup kuat, sebagian bahkan bisa terbawa sangat jauh sebelum padam dan turun, sedangkan dalam kondisi angin lemah, jatuhnya bisa dekat-dekat seputaran desa-desa Borobudur.

 

Aktivis Lingkungan dan Waisak Ekologis

Dari sudut pandang ekologis, dampak lampion itu tidak hanya berat sampahnya saja. Ada kawat dapat tertinggal di sawah atau padang rumput. Satwa dapat terjerat atau menelan sisa material. Lampion yang belum padam berpotensi memicu kebakaran. Jika jatuh ke sungai atau laut, maka menjadi bagian dari pencemaran lingkungan.

Karena itu, lampion yang terlihat indah itu terbang membawa masalah yang perlu disikapi dengan penuh perhatian. Banyak penyelenggara perayaan besar sekarang berusaha memakai lampion yang lebih mudah terurai atau melakukan program pengumpulan sisa lampion setelah acara.

Menarik jika direnungkan dalam konteks Waisak. Lampion melambangkan doa, harapan, dan pelepasan kegelapan batin menuju terang kebijaksanaan, namun Buddhadharma juga mengajarkan perhatian terhadap akibat dari setiap tindakan.

Aktivis lingkungan umumnya tidak mempersoalkan makna spiritual atau budaya dari pelepasan lampion, tetapi mereka mengingatkan bahwa walaupun lampion memang simbol yang indah, tetap memiliki konsekuensi ekologis yang nyata. Beberapa kritik yang sering disampaikan misalnya menyangkut soal sampah yang tersebar luas, risiko bagi satwa, potensi kebakaran, maupun kontradiksi simbolik.

Sampah yang tersebar luas, dimana lampion tidak jatuh di satu tempat melainkan tersebar di area yang luas. Akibatnya, pengumpulan kembali hampir mustahil dilakukan secara menyeluruh.

Risiko bagi satwa, dimana kawat, tali, atau sisa bahan lampion dapat melukai burung, ternak, atau satwa liar. Hewan kadang menelan potongan material yang dianggap makanan.

Potensi kebakaran, walaupun banyak lampion padam sebelum jatuh, tetap ada risiko kecil namun nyata jika jatuh di lahan kering, hutan, atau atap bangunan.

Para pemerhati lingkungan dan juga cagar budaya, menilai bahwa penerbangan lampion tidak sejalan dengan prinsip konservasi situs warisan dunia UNESCO karena sisa rangka kawat dan kertas lampion kerap jatuh mengotori bangunan candi dan sekitarnya. Kekhawatiran dari kelompok pemerhati lingkungan mengenai kelestarian dan keselamatan kawasan wisata super prioritas yang patut diperhatikan, meski pihak pengelola beralasan bahwa lampion yang diterbangkan terbuat dari kertas tipis yang mudah terurai dan tidak membahayakan lingkungan secara permanen.

Adanya kontradiksi simbolik dari penerbangan lampion. Sebagian aktivis mengajukan pertanyaan etis, seperti: jika sebuah ritual bertujuan mendoakan kedamaian dan kebahagiaan semua makhluk, bagaimana risiko bagi makhluk lain dan lingkungan?

Karena itu, beberapa aktivis selain menuntut evaluasi serius penerbangan lampion, namun juga mendorong sejumlah alternatif, seperti: lampion yang sepenuhnya biodegradable, pelepasan lampion dalam jumlah lebih terbatas. Bisa juga dikompensasi dengan pertunjukan cahaya, laser, atau proyeksi visual sebagai pengganti. Program pembersihan dan pemantauan area jatuhnya lampion. Penanaman pohon atau kegiatan lingkungan sebagai bagian dari perayaan.

Dalam perspektif Buddhis sendiri, kritik semacam ini sebenarnya tidak harus dipandang sebagai serangan terhadap agama. Justru bisa dibaca sebagai pengingat tentang prinsip saling ketergantungan (interdependensi): niat baik tidak berhenti pada simbol, tetapi juga memperhatikan akibat nyata yang ditimbulkan.

Seorang aktivis lingkungan yang memahami makna Waisak mungkin akan berkata: “Cahaya lampion mengajarkan kita untuk menerangi kegelapan. Maka cahaya itu akan lebih sempurna bila setelah terbang ke langit, ia tidak meninggalkan beban bagi bumi.”

Dengan demikian, dialog antara perayaan spiritual dan kepedulian ekologis tidak harus menjadi pertentangan. Keduanya dapat saling memperkaya: spiritualitas memberi makna, sementara kesadaran ekologis membantu memastikan bahwa makna itu diwujudkan dalam tindakan yang mengurangi penderitaan semua makhluk.

 

Penyelenggara Waisak dan Kesadaran Ekologis

Penerbangan lampion nyatanya tetap diadakan setiap tahun pada perayaan Waisak. Timbul pertanyaan, bagaimana sesungguhnya sikap penyelenggara Waisak terhadap dampak ekologis lampion? Tampaknya memang sangat beragam dan sulit menggeneralisasi karena setiap penyelenggara, vihara, atau panitia memiliki tingkat kesadaran dan pertimbangan yang berbeda.

Secara umum, ada beberapa kemungkinan: sudah tahu dan menyadari dampaknya, tahu tetapi menganggap dampaknya kecil, belum sepenuhnya menyadari.

Sudah tahu dan menyadari dampaknya. Sebagian penyelenggara memahami bahwa ribuan lampion yang diterbangkan akan meninggalkan jejak material di lingkungan. Mereka biasanya berargumen bahwa, lampion menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan dibanding masa sebelumnya, dan acara berlangsung singkat dan hanya setahun sekali. Nilai spiritual, budaya, dan pendidikan yang dihasilkan dianggap lebih besar daripada dampak yang ditimbulkannya. Kelompok ini biasanya juga lebih terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan.

Kelompok lainnya, tahu tetapi menganggap dampaknya kecil. Ada yang menyadari adanya sampah dan risiko ekologis, tetapi melihatnya sebagai dampak yang relatif terbatas dibanding sumber pencemaran lain yang jauh lebih besar, seperti plastik sekali pakai, limbah industri, atau emisi kendaraan. Pandangan ini sering muncul dalam diskusi publik, “Mengapa lampion dipersoalkan, sementara pencemaran yang jauh lebih besar terjadi setiap hari?”

Yang terakhir adalah kelompok yang belum sepenuhnya menyadari. Ada pula kemungkinan sebagian panitia lebih berfokus pada aspek ritual, teknis acara, keamanan peserta, dan makna spiritual, sehingga persoalan ekologis belum menjadi perhatian utama. Dalam kasus seperti ini, dampak lingkungan bukan diabaikan secara sengaja, melainkan belum masuk ke dalam kerangka perencanaan mereka.

 

Perpektif Buddhis yang Menarik dan Ironi

Jika ditarik lebih dalam ke ajaran Buddha, persoalannya bukan sekadar “tahu atau tidak tahu”, melainkan tentang berkembangnya kesadaran yang lebih luas.

Pada masa lalu, orang mungkin melihat lampion sebagai simbol harapan yang indah. Kini, dengan pengetahuan ekologis yang lebih berkembang, muncul pertanyaan baru: Apakah penghormatan kepada kehidupan juga mencakup perhatian terhadap jejak material yang ditinggalkan ritual itu?

Dalam pengertian ini, kesadaran ekologis dapat dipandang bukan sebagai penolakan terhadap tradisi Waisak, namun dapat dipahami sebagai perluasan dari makna waisak yang mencerminkan welas asih itu sendiri, kasih terhadap alam dan lingkungan.

Mungkin bisa direnungkan. Lampion Waisak melambangkan pelepasan kegelapan batin menuju cahaya kebijaksanaan, namun kebijaksanaan dalam Buddhadharma bukan hanya melihat ke atas, ke langit tempat lampion terbang, melainkan juga melihat ke bawah, ke tanah tempat sisa-sisanya akan jatuh.

Maka pertanyaan atau kritik ekologis yang diajukan aktivis lingkungan sebenarnya bisa menjadi bahan refleksi Buddhis yang mendalam: Ketika lampion terbang ke langit, apakah perhatian kita ikut terbang bersamanya, atau tetap hadir hingga ke tempat ia kembali menyentuh bumi?

Pertanyaan itu mungkin saja bisa otomatis membatalkan tradisi lampion, tetapi juga ajakan atau mengundang penyelenggara dan umat untuk dapat menyelaraskan simbol spiritual dengan tanggung jawab ekologis.

Simbol cahaya yang diterbangkan ke langit akan lebih selaras dengan semangat welas asih bila jejaknya yang kembali ke bumi juga diperhatikan, sehingga penghormatan kepada Buddha tidak hanya menyentuh langit harapan, tetapi juga tanah tempat semua makhluk hidup berbagi kehidupan. 

 

Melepas Lampion Keakuan

Malam Waisak turun perlahan di pelataran Borobudur. Ribuan peziarah berdiri dalam lautan cahaya. Di tangan mereka, lampion-lampion menunggu angin; di mata mereka, doa-doa menunggu langit. Di antara kerumunan itu berdirilah seorang peziarah tua.

Tangannya keriput menggenggam lampion yang telah disiapkan dengan mengeluarkan dana cukup besar yang dikumpulkan dari hasil kepandaiannya membuat pohon Bodhi kecil sejak tahun-tahun lalu. Ia berdiri dan menanti lampion untuk dilepaskan. Ia datang dari perjalanan yang jauh, membawa harapan, kenangan, dan nama-nama orang yang telah mendahuluinya. Seperti peziarah lain, ia hendak melepaskan lampion itu ke angkasa malam.

Namun, ketika ia mengangkat wajah, ia melihat Purnama Siddhi. Bulan bulat sempurna menggantung di atas stupa Borobudur, indah alami. Sangat indah begitu terasa terkesan alami dalam. Terang, bening, diam, tidak terbang kemana-mana, tidak meninggalkan jejak apa pun, namun cahayanya menjangkau sawah, hutan, sungai, gunung, dan seluruh makhluk yang sedang terlelap.

Peziarah tua itu tertegun diam. Tiba-tiba ia teringat bumi yang semakin letih. Hutan menipis, sungai yang membawa sampah hingga ke laut. Burung-burung yang kehilangan ruang terbangnya. Angin yang kini membawa lebih banyak debu daripada doa.

Ia membayangkan ribuan lampion dari tahun-tahun yang telah berlalu. Setelah menjadi cahaya sesaat di langit, mereka kembali jatuh ke bumi sebagai sisa-sisa benda. Kecil mungkin, tetapi bumi menerima semuanya tanpa pernah mengeluh, meski ribuan rangka kawat kecil lampion itu menancapkan luka-luka pada tanah yang subur.

Di bawah siraman cahaya purnama siddhi yang terang sempurna itu, sesuatu bergetar lembut dalam batinnya. Ia menyadari bahwa kebijaksanaan bukan hanya melepaskan, tetapi juga membuka hati atas berkah yang selalu sedia dan kepekaan memperhatikan ke mana segala sesuatu kembali.

Bahwa welas asih bukan hanya doa yang naik ke langit, melainkan juga perhatian kepada tanah tempat kaki berpijak. Tangannya perlahan menurunkan lampion itu. Ia tidak menaikkan lampion, ia tidak merasakan kehilangan apa pun. Sebab pada saat itu ia mengerti bahwa tidak semua cahaya harus diterbangkan.

Ada cahaya yang cukup dinyalakan di dalam hati. Ia memandang purnama siddhi sekali lagi. “Terima kasih,” bisiknya pelan, kepada cahaya Buddha, kepada bumi, kepada bulan, kepada kehidupan yang saling terhubung tanpa batas. Bulan purnama siddhi membagi pencerahan Buddha kepadanya.

Kemudian ia memejamkan mata. Tidak ada lampion yang terbang dari tangannya. Hanya keheningan yang mengembang seperti langit malam. Dan di tengah keheningan yang menyelimuti diamnya itu, senyum tipis hadir di wajah tuanya.

Seolah ia baru saja melepaskan lampion yang paling ringan dari semuanya. Bukan lampion dari kertas dan kawat, melainkan lampion dari keakuan yang selama ini ingin selalu meninggalkan jejak.

Malam terus berjalan. Bulan tetap bersinar. Borobudur tetap diam dalam misteri dan wibawanya. Dan di bawah cahaya Purnama Siddhi, seorang peziarah tua yang tersenyum dalam hening itu mengetukkan kakinya ke bumi tiga kali seakan mengabarkan telah melepas lampion keakuannya, dan bumi lapang menerima satu beban yang lebih sedikit dari kisah, doa harapan seorang peziarah dharma tua. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: komentar IG

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?