Teror Kematian (8) – Maranasati dan Perdamaian

Home » Artikel » Teror Kematian (8) – Maranasati dan Perdamaian

Dilihat

Dilihat : 47 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 119
  • 571
  • 278,646
Pic 2665 ashoka

Oleh: Jo Priastana

 

“Peace cannot be kept by force; It can only be achieved by understanding”

(Albert Einstein, 1879-1955, Filsuf Sains Kelahiran Jerman)

 

Albert Einstein dan lainnya seperti J. Robert Oppenheimer (1904-1967) adalah ilmuwan fisikawan teoritis dibalik hadirnya bom nuklir, senjata pemusnah massal. Namun Einstein pada akhirnya memiliki kesadaran kematian yang otentik yang sering melahirkan kerendahan hati dan pemahaman. Dalam Tradisi Timur, seperti Buddhadharma, meditasi kematian (maranasati) justru diajarkan untuk mengurangi keserakahan dan kebencian yang kerap menyebabkan peperangan, serta melembutkan hati untuk menghindari kekerasan. Ketika melihat semua makhluk sama-sama menuju kematian, musuh tidak lagi sepenuhnya “musuh.” Ia sesama makhluk rapuh, dan perang menjadi sulit terjadi, apalagi ketika merasakan dampaknya dalam kematian massal.

Tapi mengapa kadang kesadaran kematian itu juga memicu perang? Tampaknya ada dua jenis kesadaran kematian, yaitu kesadaran yang masih tahap konseptual, seperti ucapan “ya semua orang akan mati,” dan kesadaran tahapan eksistensial yang mendalam, yakni benar-benar merasakan kematian dan terlibat dalam penderitaan.

Yang pertama hanya memicu nihilisme, “kalau semua mati, ya sudah hancurkan saja.” Yang kedua justru melahirkan welas asih, “karena semua fana, jangan tambah penderitaan.” Albert Camus (1913-1960) menyebut bahwa kesadaran absurd bisa membuat orang putus asa, tetapi juga bisa membuat orang memilih untuk tidak menjadi algojo.

Kesadaran kematian eksistensial yang turut merasakan dampak kematian massal seperti dalam perang hendaknya meliputi diri para pemimpin. Tidak ada yang diuntungkan dalam perang. Hanya bisnis senjata saja yang menangguk untung dari perang, seperti diingatkan dalam film “Lord of War” (2005). Perang merusak nilai-nilai kemanusiaan namun juga bisa mengundang rasa-kemanusiaan karena tumbuhnya kesadaran kematian eksistensial yang menjadi “obat” transformasi batin. Transformasi dari takut mati menuju menerima kefanaan, dari ingin abadi menjadi mampu menghargai momen, dari mempertahankan ego jadi memahami kebersamaan nasib, dan dari kerusakan total menjadi pertumbuhan dan rekonstruksi.

 

Mencegah Kematian Massal

Jika cukup banyak manusia mencapai kesadaran kematian eksistensial itu, maka energi destruktif akan berkurang, karena perang hidup dari energi ketakutan, identitas aku, ilusi permanensi. Kesadaran kematian eksistensial akan memotong semua itu. Kita berharap keprihatinan akan kematian massal bila terjadinya Perang Dunia  akan menjadi pertimbangan semua negara, terutama negara yang memiliki senjata pemusnah massal bisa menahan diri karena tumbuhnya kesadaran kematian eksistensial atau maranasati seperti di dalam Buddhadharma.

Betapa tak terkira dampak dari penggunaan senjata nuklir yang mendatangkan teror kematian massal dalam Perang Dunia . Bila benar terjadi, perang total ini akan sangat rumit dan berisiko tinggi, dan pastinya akan menimbulkan korban besar dan berdampak ekonomi global yang menyengsarakan dunia. Kiranya dampak dan risiko ini tentu juga ada dalam kesadaran pemimpin dunia sehingga perang besar dengan penggunaan senjata nuklir bisa dicegah. Kembali ke meja perundingan untuk bernegosiasi akan jauh lebih baik.

Para pakar geopolitik berdasarkan analisa sejarah dan teori hubungan internasional juga masih berharap dan memprediksi perang total belum atau tidak akan terjadi. Perang masih bertahan pada konflik regional, tidak berubah menjadi perang besar. Para pemimpin dunia rupanya juga menyadari akan dampak Perang Dunia  yang dipastikan akan memakan korban ratusan juta nyawa bahkan milyaran manusia tewas. Apalagi mengingat populasi dunia sekarang yang jauh lebih besar dan dengan teknologi persenjataan canggih yang lebih mematikan. Hal ini kiranya patut menjadi renungan mendalam sebelum mengambil keputusan kesertaan dalam Perang Dunia .

Diperkirakan bisa sekitar 150-300 juta nyawa akan melayang dalam perang global konvensional terlebih Perang Dunia , ditambah kelaparan massal yang akan menyebabkan 1-5 miliar kematian. Dampak besar dari PD III, yang sungguh total destruksi ini kiranya patut menjadi perhatian para pemimpin dunia. Untuk itu diperlukan adanya pikiran waras dan kebijakan benar untuk mencegah terjadinya kematian massal. Kesadaran kematian eksistensial yang tumbuh di dalam diri setiap para pemimpin negara kiranya memungkinkan untuk itu. 

Mungkin karena masih adanya kesadaran akan dampak perang yang mematikan inilah, maka sejak 1945 belum ada Perang Dunia  lagi. Dunia sadar akan adanya doktrin “mutually assured destruction” atau saling hancur bila sungguh terjadi Perang Dunia . Para pemimpin dunia juga tahu konsekuensinya perang bisa memusnahkan peradaban, saling hancur, kalah jadi abu menang jadi arang. Dunia berharap perang yang terjadi bisa berhenti dan tidak sampai menjadi perang total. 

Renungan kematian eksistensial seperti tentang kefanaan, tentang makna, justru bisa mengusir kegelapan, dan menjaga kesadaran tetap bersinar yang menjadi potensi kebijaksanaan yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. Wisdom yang mengatasi dan tidak tertangani oleh algoritma artificial intelligence sangat perlu hadir dalam diri manusia itu sendiri.

Wisdom kemanusiaan yang menumbuhkan kesadaran akan kematian eksistensial yang juga menyadari akan kematian yang lain membuat hati menjadi lebih lembut, lebih menghargai hidup, lebih sulit membenci, lebih terang kesadaran sehingga menjadikan konflik dan peperangan di dalam diri sendiri melemah. Dengan begitu, kemungkinan perdamaian dunia pun bisa dimulai dari sana, dari batin yang bertransformasi, dari gelap ke terang, dari agresi ke ahimsa atau tanpa kekerasan, dan dari medan laga ke meja perundingan untuk perdamaian.

Khasiat obat dari transformasi batin dengan tumbuhnya wisdom-humanity dalam kesadaran akan kematian eksistensial yang menyadari kematian massal dalam perang terjadi dalam diri Asoka. Dunia mengenal pemimpin besar yang suka perang namun kemudian sadar. Kisah Asoka (meninggal 232 SM), penguasa kekaisaran Maurya Gupta dari 269 SM bisa menjadi contoh dari transformasi batin yang terjadi dari tumbuhnya wisdom kesadaran akan kematian dan kesadaran kematian yang lain seperti kematian massal dalam perang. Asoka yang menghayati kesadaran kematian (maranasati) di medan perang dan sungguh-sungguh eksistensial baginya.

 

Transformasi Batin Asoka

Sedikit petikan yang tertuang dalam film roman sejarah “Asoka” (2001) yang dibintangi bintang lawas Sharukh Khan bersama bintang cantik jelita Kareena Kapoor yang berperan sebagai Kaurwaki. Dalam film drama sejarah epik India ini, Kaurwaki merupakan perempuan yang sangat dicintai Asoka, namun akhirnya harus berhadapan satu sama lain di medan laga. Pertemuan ini menghadirkan transformasi batin dalam diri Asoka yang gemar berperang.

Adiknya, sang penyair Vitasoka, mengatakan kepada Asoka, Raja yang merasa harus berperang dan menang perang: “Kau adalah musuh dirimu sendiri. Karena itulah kau dipanggil “durjana” Asoka. Aku beritahu, kau sudah jadi seorang ayah. Mahendara adalah anak lelaki kamu, dan Sanghamitra adalah anak perempuan kamu, ketahuilah kamu hanya seorang raja lalim, bukan seorang ayah.”

Tapi Asoka tetap bersikeras menganggap dirinya sebagai raja besar, yang besar karena peperangan dan penaklukan. Cinta telah tidak ada lagi dalam kamus hidupnya sejak wanita yang dicintainya Kaurwaki dikabarkan tewas dalam intrik istana Kalinga. Yang tersisa dalam diri Asoka adalah kebalikannya dari cintanya yang besar, yakni ambisi yang besar untuk menjadi raja besar, sebagai kompensasi cinta besarnya yang dirasa telah tak kembali.

“Kebenaran tidak akan berubah jika menukar pendirian. Perang adalah kebenaran. Dalam perang, menang atau mati. Dan aku telah menang,” demikian Asoka berkilah di hadapan adiknya, Vitasoka. “Ya, memang kau telah menang. Memenangi tangisan bayi, anak yatim dan mayat. Kau telah menang semuanya.” ucap Devi, istri yang penyabar sesaat sebelum meninggalkannya.

Ketika Asoka bertemu dengan Kaurwaki, satriani Kalinga, wanita yang dicintainya – yang ternyata masih hidup – namun kini kembali dalam keadaan berhadapan satu sama lain di medan perang yang bau amis mayat, Kaurwaki menyatakan, “Kau telah jatuh di atas kekayaan, kuda yang cantik dan kuat. Kau tidak menang. Aku tidak akan benarkan kau menang.”

Di tengah kepak burung elang mencari bangkai, saat matahari terbenam, dan denting suara mantram para bhiksu yang sedang menyucikan mayat-mayat korban pertempuran yang berserakan di medan laga, dan dalam dekapan cinta dan kerinduan terhadap Kaurwaki, akhirnya Raja besar, gagah berani yang telah menaklukkan ribuan musuh dalam berbagai medan laga itu pun merintih.

“Aku telah menjadi raja yang teragung. Pemerintah yang terkuat. Aku telah memenangi semuanya. Aku juga telah hancurkan semuanya. Apa yang seseorang raja boleh memenangi? Cuma kekayaan, tanah, dan negara. Nasib aku melebihi kemauan seorang raja. Nasib aku adalah seorang pengembara. Yang telah tamatkan destinasinya. Dan hari ini aku mutlakkan peneguhan perjalanan kasih sayang yang aman dan tenteram,”

Asoka mengalami transformasi batin dari raja yang suka berperang yang banyak mematikan manusia menjadi seorang progator Dharma yang sungguh-sungguh cinta damai dan pejuang kehidupan. Asoka, raja yang gemar berperang pada akhirnya melemparkan pedang pusakanya setelah menyaksikan begitu banyak korban kematian manusia dalam banyak peperangan yang dilakukannya. Rintihan Asoka itu layaknya juga seperti suara yang terucap dari seorang korban yang selamat dalam Perang Dunia  II dan patut kita dengarkan.

Suara korban yang selamat adalah kekuatan besar cerminan suara kemanusiaan global yang berperan untuk mencegah eskalasi perang di Timur Tengah tidak menjadi perang total.  Dengarkan suara warga sipil, pejuang HAM dan perdamaian, serta terlebih para penyintas perang, suara korban yang masih hidup yang pernah terlibat langsung namun selamat dalam Perang Dunia  II sebagai bentuk maranasati, menumbuhkan kesadaran kematian eksistensial.

 

Suara Korban Perang Dunia

Bagaimana mengerikannya dampak perang total terhadap kehidupan, peradaban dan masa depan generasi. Para pemimpin dunia harus mendengar suara korban yang selamat dari Perang Dunia sebelumnya seperti korban akibat bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang yang mengakhiri Perang Dunia II pada 6 dan 9 Agustus 1945. Mendengar suara batin mereka tentang dahsyatnya perang. Mendengar suara batin korban Perang Dunia II yang sudah menjadi orang tua sepuh adalah suatu bentuk maranasati, dan satu cara menemukan alasan untuk tidak terjadi Perang Dunia lagi, tidak terjadi lagi penghancuran peradaban kemanusiaan.

“Jika dunia lupa, aku tidak bisa. Jika para pemimpin menghitung kekuatan, aku menghitung nama-nama yang hilang sebelum sempat menjadi tua. Tolong, jangan biarkan api panas dari bom nuklir itu turun lagi dengan cara yang salah. Karena aku tahu rasanya menjadi manusia yang hidup di ujung kematian massal dan membawa teror kematiannya sepanjang sisa usia.

Aku masih hidup. Entah bagaimana caranya. Pagi itu langit seperti mata yang terlalu terang. Tak ada awan, tak ada firasat, lalu cahaya itu jatuh, lebih putih dari doa, lebih panas dari neraka yang pernah kubayangkan. Aku tindak mendengar ledakan terlebih dahulu. Aku melihatnya. Cahaya yang menelan bayangan, yang membuat tubuh manusia menjadi siluet terakhir di dinding yang tak lagi punya rumah.

Aku masih kanak-kanak waktu itu. Kupikir matahari jatuh ke bumi. Kupikir dunia berakhir. Dan mungkin memang berakhir, bagi mereka yang tak sempat berlari, bagi ibu yang tangannya masih menggenggam nasi, bagi ayah yang hanya sempat berkata “tiarap.” sebelum suaranya hilang. Api berjalan seperti makhluk lapar, kulit menjadi abu, air menjadi racun, dan nama-nama berubah jadi angka.

Aku selamat, kata orang itu sebuah anugerah. Tapi setiap malam aku bertanya: mengapa aku tinggal, sementara suara sahabatku hanya tinggal gema di puing-puing? Sekarang aku tua, keriputku bukan hanya usia, ia adalah peta luka. Setiap kerutan mengingatkan cahaya itu, setiap detak jantungku masih terdengar jerit orang-orang sekarat yang tak selesai. Dan ketika dunia hari ini berbicara tentang perang lagi, tentang nuklir lagi, tentang “opsi militer” lagi, dadaku bergetar seperti tanah yang retak.

Kalian yang muda tak pernah mencium itu: bau manusia terbakar bercampur hujan hitam. Kalian tak pernah melihat bayangan manusia yang tak lagi punya tubuh. Jangan biarkan matahari panas dari bom nuklir itu jatuh kembali. Jangan biarkan cahaya itu kembali atas nama kebanggaan, atas nama kuasa, atas nama takut. Aku tidak takut mati. Aku sudah terlalu lama hidup bersama kematian.

Yang kutakutkan adalah anak-anak yang belum lahir harus menghafal teror kematian yang sama. Jika suatu hari kalian berdiri di ambang keputusasaan, dan keputusan perang atau damai (war or peace), ingatlah seorang tua yang pernah melihat dunia meleleh. Cahaya dan suara sirene itu bukan kemenangan. Ia hanya kesunyian panjang yang menjerit tanpa suara, wajah-wajah yang lain, wajah-wajah mereka yang kehitaman berpupur asap kematian!” (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR7X5VcdMt3x79-TtqjtwnjOxPkrzbH9afU8P888Al50g&s=10

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?