WAISAK DI MAL – Buddhadharma Urban Buddhis Muda Modern

Home » Artikel » WAISAK DI MAL – Buddhadharma Urban Buddhis Muda Modern

Dilihat

Dilihat : 44 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 163
  • 571
  • 278,690
Pic 2674

Oleh: Jo Priastana

 

“Kita di sini untuk terbangun dari ilusi keterpisahan kita”

(Thich Nhat Hanh, 1926-2022, Penyair Bhikshu Zen Vietnam)

 

Slogan “interbeing, the science of sunyata” terpampang di layar upacara dan dan menghias halaman lobi mal. Slogan yang seakan mau bicara bahwa Buddhadharma itu selalu terhubung dengan dunia kehidupan, sekalipun kehidupan di zaman teknologis saintifik ini. Perayaan Waiak yang diadakan di mal, di pusat perbelanjaan budaya konsumerisme itu merupakan ajakan mengadaptasi Buddhadharma untuk selalu dapat dekat dunia kehidupan modern sehari-sehari di zaman now and here. Waisak di Mal sepertinya cermin kegairahan kreativitas kaum muda Buddhis generasi milenial hingga Z dalam perayaan dan festival dengan sentuhan teknologi digital.

Waisak di Mal telah diselenggarakan beberapa kali, bahkan dikatakan oleh Bhiksu Dharmaphala (Xian Bing) telah berlangsung satu dekade (Rabu, Mal Taman Anggrek 3/6/21), baik Jakarta, seperti Mal Taman Anggrek, Jakarta maupun di kota Surabaya, seperti di Tunjungan Plaza. Pastinya penyelenggaraan Waisak yang diselenggarakan oleh kaum muda Buddhis, seperti Young Buddhist Asscociation itu begitu menarik dan mengundang masyarakat urban untuk datang menyaksikan dan mengalaminya. Waisak di Mal Taman Anggrek Jakarta (3/6/26) terkesan dinamis, terasa sentuhan filosofi Buddha dalam konteks modern.

Mereka sukses karena pandai memadukan unsur tradisional perayaan dan gejolak kaum muda Buddha. Tradisi puja relik, ritual pembacaan paritta yang dipimpin oleh Bhikkhu Sangha, memandikan rupang kecil dan parade khotbah dharma dan talk show tokoh Buddha, tayangan beragam sutta seperti  anattalakhana sutta, ciamsi elektrik layaknya nasib diatur dengan mesin, berpadu dengan  kreasi baru patung Buddha transparan terbesar, kreasi festival yang menampung penampilan seni dari berbagai kelompok muda Buddhis yang dinamis atraktif menarik, jauh berbeda dengan sambutan formalitas dari bapak kementrian negara yang tampak gagap dan  terbata-bata.

 

Nilai Makna Waisak Masyarakat Urban

Waisak di Mal merupakan fenomena yang menarik karena menunjukkan bagaimana Buddhadharma berjumpa dengan ruang publik modern. Bagi kalangan Buddhis muda, perayaan Waisak di mal dapat dibaca dari beberapa sudut pandang sekaligus.

Pertama, ia bisa mencerminkan adaptasi Buddhadharma terhadap perubahan sosial. Dahulu aktivitas keagamaan sering berpusat di vihara atau tempat suci. Kini banyak anak muda menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, sehingga mal menjadi salah satu ruang perjumpaan masyarakat urban.

Mengadakan Waisak di Mal dapat dipahami sebagai upaya menghadirkan nilai Buddhadharma di tengah kehidupan sehari-hari, bukan hanya di ruang ritual. Waisak yang hadir di Mal adalah penanda Buddhadharma mewujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, mewujudkan keterhubungan umat Buddha dengan lingkungan hidupnya sebagaimana slogan interbeing yang terpampang di layar upacara dan menjadi tema Waisak di Mal.

Kedua, ia mencerminkan semangat engaged Buddhism atau Buddhadharma yang terlibat dengan masyarakat, sebagaimana sering dikembangkan oleh Thich Nhat Hanh (1926-2022) dan aktivis sosial Thailand Sulak Sivaraksa (lahir 27 Maret 1933). Dalam pandangan ini, Dharma tidak harus menunggu orang datang ke vihara. Dharma dapat dihadirkan di sekolah, kampus, jalan raya, taman kota, bahkan pusat perbelanjaan.

Ketiga, bagi Buddhis muda, Waisak di Mal dapat menjadi simbol bahwa identitas Buddhis tidak harus terpisah dari dunia modern. Mereka hidup di tengah-tengah teknologi, media sosial, ekonomi pasar, dan budaya urban. Tantangannya bukan melarikan diri dari dunia modern, melainkan membawa kesadaran, welas asih, dan kebijaksanaan ke dalam dunia tersebut.

Namun ada juga sisi kritis yang perlu direnungan. Mal dibangun di atas logika ekonomi konsumsi, seperti membeli, memiliki, dan mengejar kepuasan. Sementara Waisak mengingatkan tentang ketidakkekalan, pelepasan dari nafsu keinginan. Karena itu Waisak di mal bisa menjadi paradoks yang kreatif. Perayaan kelahiran, pencerahan, dan parinibbana Buddha justru berlangsung di tempat yang setiap hari mengajak manusia untuk terus menginginkan lebih banyak. Adakah ini ujian kembali untuk Siddharta seperti di malam Waisak 2570 lalu?

Jadi tidak perlu lagi dipertanyakan, “Bolehkah Waisak di Mal?”, melainkan adakah dikemukakan dan dikembangan pertanyaan yang jauh lebih penting, yaitu: “Adakah nilai Waisak atau nilai Buddhadharma apa yang di bawa ke dalam mal itu? Jika hanya menjadi hiburan atau festival komersial, meski menjadi ajang penampilan kaum muda, namun makna Waisak dapat menipis.

Tetapi jika mampu menghadirkan nilai-nilai Buddhadharma seperti refleksi, meditasi, aksi sosial, kepedulian ekologis, dan dialog kemanusiaan, maka mal dapat berubah dari sekedar ruang konsumsi menjadi ruang kontemplasi publik. Parade khotbah dan talk-show selama perayaan itu berlangsung seharusnya bisa menyentuh tema-tema yang mencerminkan nilai Buddhis yang dibutuhkan masyarakat urban kota dari kegalauan akan suburnya materialisme, komersialisasi, konsumerisme dan hedonisme.   

Secara sosiologis, Waisak di Mal dapat dilihat sebagai lahirnya apa yang bisa disebut “Buddhadharma Urban.” Buddhadharma yang berbicara kepada kegelisahan manusia kota, mereka yang kesepian di tengah keramaian, stres di tengah kemajuan, dan pencarian makna di tengah budaya konsumsi dan kecepatan dunia informasi digital. Termasuk bagaimana menyikapi budaya konsumerisme dan tantangan nilai yang semakin permisif dalam kehidupan orang muda di kota, dan semiotika kesederhanaan jubah para bhikkhu di tengah kreativitas fashion modern.

Berapakah nilai harga jubah seorang bhikkhu di tengah paket-paket komersialisasi gaya pikir materialisme? Adakah lebih tinggi dari UMR hidup sebulan masyarakat kota atau honor guru agama Buddha? Mungkin bagi seorang Buddhis muda, makna terdalamnya bukan sekedar bahwa Buddha itu adalah seorang berjubah sederhana yang hadir di mal, melainkan bahwa di tengah ruang penampilan dengan gemerlap etalase dan keramaian manusia, masih ada ruang untuk berhenti sejenak, untuk menyadari napas, merenung tentang tiga peristiwa besar dalam Siddhartha yang penuh makna tentang pelepasan, prajna dalam kekosongan sunyata dan welas asih kepedulian, yang bisa dikreasikan dalam penampilan seni dan beragam mata acara festival.

Bahkan seorang tua yang menyaksikan dari jauh dari ketinggian tangga pintu Mal dari Waisak yang diadakan di pusat perbelanjaan itu, menyadari pertanyaan yang diam-diam muncul dalam hatinya.

“Di antara begitu banyak yang bisa dibeli, adakah perayaan Waisak ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya dapat dimiliki pelepas kehausan spiritual dan kesepian hati masyarakat Urban, ataukah hanya sebatas kaum muda Buddhis modern yang sedang meniti dan mengukir identitasnya di antara kehidupan masyarakat urban yang plural dan penampilan kesederhanaan anggota Sangha yang tetap mengesankan fashionable di tengah cahaya konsumerisme lampu-lampu mal?”

 

Peluang dan Risiko Agama Konsumerism

Adakah signifikansi Waisak di Mal bahwa spiritualitas itu bersifat konsumtif layaknya masyarakat kota yang konsumerisme? Tidak ada jawaban tunggal dari para ilmuwan sosiologi dan filsuf berkenaan Waisak di pusat perbelanjaan, mal yang kerap dianggap sebagai wujud budaya konsumerisme. Mereka kemungkinan melihat Waisak di mal sebagai fenomena yang mengandung peluang dan risiko.

Sosiolog Emile Durkheim (1858-1917) mungkin akan melihat Waisak di mal sebagai bentuk baru dari fungsi sosial agama. Yang penting baginya bukan lokasi sakral atau tidak, melainkan apakah perayaan itu mampu membangkitkan solidaritas, identitas bersama, dan pengalaman kolektif yang memperkuat komunitas. Dalam pandangan ini, Waisak di mal bisa saja tetap religius jika menciptakan rasa kebersamaan dan makna bersama umat.

Sosiolog dari Jerman Max Weber (1864-1920) mungkin bertanya apakah agama masih menjadi kekuatan transformatif batin atau sudah terserap ke dalam rasionalitas ekonomi modern. Jika jiwa Waisak di mal lebih menonjolkan promosi, citra, dan kemasan acara daripada refleksi spiritual, Weber mungkin melihatnya sebagai bagian dari proses “rasionalisasi” dan “disenchantment” atau hilangnya daya pesona sakral.

Dalam waisak di mal itu, tradisi sakral yang ditampilkan kiranya dimaksudkan akan menutup lubang sakralitas itu, meski sebatas simbolisme kata, visual acara. Bahkan kehadiran patung Buddha yang dibesar-besarkan, memperoleh rekor MURI pun seperti terasa sebagai cermin dari lolong kesepian hati komunitas akan prestasi dan identitas di tengah masyarakat kota yang plural.

Sosiolog agama dan sosiolog pengetahuan Peter Beger (1929-2027) berbicara tentang pluralisme modern. Dalam masyarakat modern, agama harus tampil di ruang publik dan “bersaing” dengan berbagai puluhan gaya hidup lain. Dari sudut ini, Waisak di mal bisa dipahami sebagai upaya Buddhisme tetap hadir dan terlihat dalam pasar-pasar ide-ide modern.

Bagaimana dengan kritik konsumerisme? Filsuf kontemporer Prancis, pakar teori kebudayaan Jean Baudrillard (1929-2007) mungkin mengajukan kritik yang tajam. Menurutnya, masyarakat konsumsi tidak hanya menjual barang, tetapi juga simbol dan identitas. Bahkan spiritualitas dapat berubah menjadi komoditas.

Dari sudut pandang ini, ada risiko bahwa Waisak menjadi “objek konsumsi budaya”: orang datang untuk foto, pengalaman unik, atau citra diri spiritual, bukan untuk transformasi batin. Agama kemudian berubah menjadi sesuatu yang “dikonsumsi” sebagaimana orang mengonsumsi hiburan.

Seorang psikoanalis humanis, Erich Fromm (1900-1980), membedakan dua orientasi hidup, mode having (memiliki) dan mode being (mengada). Ia mungkin bertanya: apakah Waisak di mal mendorong orang untuk “memiliki pengalaman religius” sebagai koleksi identitas, atau membantu mereka menjadi pribadi yang lebih sadar, penuh cinta kasih, dan bebas dari ego?

Menariknya, kritik terhadap konsumerisme sebenarnya dekat dengan ajaran Buddha sendiri. Buddha mengajarkan bahwa penderitaan muncul dari tanha (nafsu keinginan, craving). Budaya konsumerisme modern hidup dari produksi keinginan yang terus-menerus. Adakah waisak di mal itu cermin dari kehausan spiritual masyarakat Buddhis di tengah hidup konsumtif budaya modern?

Karena itu muncul paradoks, mal mendorong “anda kurang lebih belilah sesuatu.” Buddhadharma mengingatkan, “lihatlah keinginan itu, pahami, dan bebaskan diri darinya.”

Maka Waisak di mal dapat dibaca dengan dua cara: pertama sebagai agama yang dikonsumsi, dimana ritual menjadi tontonan, spiritualitas menjadi gaya hidup, Waisak menjadi acara yang “dibeli” dan “dikonsumsi,” dan Buddhadharma sekedar identitas yang fashionable.

Berikutnya adalah, agama yang mentransformasi ruang konsumsi. Maksudnya adalah kehadiran Dharma menjadi kritik halus terhadap budaya konsumtif, dan orang yang sedang berbelanja tiba-tiba menjumpai meditasi, welas asih, atau refleksi tentang ketidakkekalan, seperti paritta panjang yang dibacakan dan dipimpin bhikkhu yang mencerminkan anicca, dukkha, anatta.

Selain itu, mal berubah sesaat menjadi ruang kontemplasi. Karena itu pertanyaan sosiologis yang paling menarik bukan apakah Waisak di mal itu benar atau salah, melainkan: siapa yang mengubah siapa? Apakah budaya konsumerisme mengubah Waisak menjadi komoditas? Ataukah semangat Waisak justru menyusup ke ruang konsumerisme dan mengingatkan manusia modern bahwa kebahagiaan tidak dapat dibeli? Termasuk membeli atas nama berdana paket-paket jubah bhikkhu dan keperluan ritual yang harganya seturut kenaikan inflasi rupiah namun tidak sebanding pendapatan masyarakat miskin kota.

Di situlah letak paradoks dan ketegangan kreatif Buddhadharma urban masa kini berada. Sebagaimana diajarkan oleh Nagarjuna (abd 1)), pendiri filsafat Madhayamika, mungkin jawabannya tidak sepenuhnya berada pada salah satu kutub. Sebuah mal bukan semata ruang kemelekatan, dan Waisak bukan otomatis terbebas dari kemelekatan.  Slogan “the sunyata of science,” sepertinya sedang menyaksikan hal itu dan mungkin secara tidak sadar hadir justru sedang mengujinya.

Yang menentukan adalah kesadaran yang hadir di dalamnya. Jika batin terjaga, bahkan di tengah etalase dan iklan, Dharma masih dapat ditemukan. Jika batin lengah, bahkan di vihara sekalipun, konsumerisme dapat menyelinap dalam bentuk yang lebih halus: konsumsi identitas, konsumsi kesalehan, atau konsumsi pengalaman spiritual berbalut buddhadharma fashionable.

Bisa jadi motivasi banyak Buddhis muda yang terlibat dalam Waisak di mal tidak berangkat dari teori-teori besar sosiologi agama, kritik konsumerisme, atau filsafat modern, bahkan slogan “the sunyata of science,” sering kali motivasinya lebih dekat dengan pengalaman psikologis dan sosial sehari-hari. “Aku hadir karena itu aku ada,”atau “presence ergo sum.”

 

Galau Young Buddhist di Mal Waisak

Sebagai kelompok minoritas di Indonesia, sebagian anak muda Buddhis tumbuh dengan pengalaman bahwa agamanya tidak selalu terlihat di ruang publik. Mereka mungkin jarang melihat simbol Buddhis di pusat kota, media massa, atau acara publik besar. Karena itu, ketika Waisak hadir di mal, ada perasaan: “kami juga ada,” dan mereka pun mendapat katup pelepasan untuk kreasinya, layaknya kutipan kitab suci ditampilkan di toko-toko buku di Mal.

Psikologi sosial menyebut hal ini sebagai kebutuhan akan pengakuan identitas atau “identity recognition.” Manusia tidak hanya membutuhkan keyakinan pribadi, tetapi juga pengakuan bahwa identitasnya memiliki tempat yang sah dalam masyarakat urban kota yang pluralistik, dan orang lain juga harus tahu aku punya kitab suci.

Di sisi lain, generasi muda hidup dalam budaya visual dan media sosial. Mereka terbiasa mengekspresikan diri melalui desain, fotografi, seni, musik, dan peristiwa publik yang menarik. Maka Buddhadharma yang tampil rapi, kreatif, terbuka, dan fashionable sering kali bukan semata-mata soal gaya, melainkan usaha menerjemahkan nilai-nilai lama ke dalam bahasa generasi mereka.

Namun di sinilah muncul pertanyaan reflektif yang menarik. “Apakah aku menampilkan Buddhadharma agar orang melihat Dharma, atau agar orang melihat diriku sebagai pemuda Buddhis, young Buddhist, bahwa kami juga ada?” Pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab bahkan oleh para ilmuwan dan praktisi Buddhadharma yang tulus.

Generasi muda milenial hingga gen Z memang punya kegaulannnya sendiri yang sukar diterjemahkan dan dipahami. Karenanya biarkan saja mereka berekspresi dengan caranya, meski sampai membuat Buddha rupang raksasa berkawat transparan untuk memecah rekor Muri sebagai kompensasi psikologi prestasi minoritas. Generasi muda Buddhis itu mungkin anak kita, cucu kita sendiri yang berjalan memeluk dunianya yang dapat kita imajinasikan apa saja.

Seorang muda Buddhis berdiri di antara meja acara Wiasak Mal. Di antara cahaya etalase dan suara musik yang mengalun lembut kadang keras, tampaknya dia adalah seorang yang bertugas dalam perayaan waisak itu ditemani oleh rekan seniornya yang kerap lalu lalang belaka.

Ia mengenakan kaus merah coklat bertuliskan yang seakan mencerminkan “Buddha’s Wisdom for Modern Life.” Di tangannya terdapat brosur tentang daftar acara festival termasuk keterangan singkat tentang Buddhadharma, meditasi, welas asih dan slogan interbeing, sunyata menghiasi brosur yang bisa kita bayangkan saja.

Anak-anak berlalu-lalang. Pasangan muda berhenti mengambil foto, dan seorang fotografer tua membidik pengunjung tua yang duduk terkantuk kepalanya menunduk ke kiri. Beberapa pengunjung mal bertanya tentang Buddha untuk pertama kalinya. Mula-mula anak muda penjaga stan itu merasa bangga. Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan.

Untuk sekali ini agamanya tidak tersembunyi di balik gang sempit atau pagar vihara yang ada dekat rumahnya. “Kami juga bagian dari negeri ini,” pikirnya. Namun ketika kerumunan mulai menipis, ia duduk sejenak memandang patung Buddha besar yang tampak berada menyolok di tengah ruang pameran. Di hadapannya, orang-orang keluar masuk toko membawa kantong-kantong belanja.

Ia tiba-tiba teringat ajaran tentang tanha, tentang keinginan yang tak pernah selesai yang belum lama ini dilantunkan oleh seorang Bhikkhuni dalam acara talkshow dharma. Lalu ia tersenyum. Bukankah dirinya sendiri juga sedang membawa sesuatu?

Bukan kantong belanja, bukan barang baru, melainkan keinginan agar Buddhadharma dikenal, diterima, dihargai, dan dibawa pulang, dibungkus banyak orang seperti barang langka di kantong belanja yang berhuruf sunyata. Ia bertanya dalam hati: “apakah ini juga bentuk keinginan?” Pertanyaan itu tidak segera terjawab.

Tetapi di tengah-tengah hiruk pikuk mal, ia merasakan sesuatu yang tenang. Mungkin menjadi Buddhis muda bukan berarti menolak dunia modern. Bukan pula larut sepenuhnya ke dalamnya. Melainkan belajar berjalan di tengah keramaian tanpa kehilangan kejernihan batin. Seperti bunga teratai yang tumbuh di tengah lumpur, tanpa membenci lumpur dan tanpa menjadi lumpur.   

Dan malam di Waisak mal itu, di bawah lampu-lampu mal yang berkilauan, ia memahami sedikit demi sedikit bahwa Waisak bukan sekadar tentang memperlihatkan Buddhadharma kepada dunia. Waisak juga tentang memperlihatkan kepada dirinya sendiri: sejauh mana ia mampu membawa kesadaran ke tengah dunia yang terus mengajak manusia untuk melupakan dirinya, karena segalanya adalah keterhubungan, interbeing.  (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau MELALUI QRIS DI BAWAH INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: akun IG vesakfestival

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?