Review Buku: Seksualitas dan Agama

Home » E-jurnal » Review Buku: Seksualitas dan Agama

Dilihat

Dilihat : 22 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 119
  • 571
  • 278,646
Agama dan Seksualitas_RevTeksArab (1) (2).pdf

Oleh: Majaputera Karniawan

A. Identitas Buku:
Judul Buku: Seksualitas dan Agama: Dialog tentang Tubuh yang Terus Tumbuh
Tim Penulis: Abdul Muiz Ghazali, Roni, Khoirul Anam, Dina Listiorini, Jo Priastana, Suranto, Sally Neparasi, Timotius Verdino, Stephen Suleeman, Ruth Ketsia Wangkai, Darwita Purba, Agetta Putri Awijaya, Suarbudaya Rahadian, Arif Nuh Safri, Amar Alfikar, Imam Nakha’i, Jihan Fairuz, Sardjono Sigit.
Editor: Khoirul Anam & Missael Hotman Napitupulu
Penerbit: YIFoS Indonesia berkolaborasi dengan Cantrik Pustaka
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, November 2019
ISBN: 978-602-0708-48-5
Tebal Buku: viii + 232 halaman

B. Review:
Buku berjudul “Seksualitas dan Agama: Dialog tentang Tubuh yang Terus Tumbuh” mendudukkan seksualitas sebagai cara manusia memandang, mempersepsikan, dan mengaktualisasikan diri terhadap dunia melalui sekumpulan pewacanaan serta pengalaman kehidupan. Di tengah hegemoni penyeragaman yang dilakukan oleh negara, budaya, dan doktrin agama konservatif yang cenderung bias heteronormatif, buku karya kolektif dari banyak penulis ini hadir menyediakan cara pandang alternatif bahwa manusia adalah produk keragaman semesta. Karya ini berupaya memotret, mendokumentasikan, dan mendialogkan dua ranah yang selama ini kerap dianggap berseberangan, yakni agama dan seksualitas.

Pada bagian pilar awal, buku ini membedah istilah seksualitas, seksualitas (dalam buku ini) dapat dimaknai sebagai cara manusia memandang, mempersepsikan dan mengaktualiasasikan diri terhadap dunia. Tatanan semesta yang begitu rumit dan kompleks itu berusaha ‘diraba’ dalam usahanya menemukan eksistensi diri, melalui sekumpulan pewacanaan dan pengalaman dari aspek seksualitas anak manusia. Buku ini juga membedah bagaimana konstruksi negara dan doktrin agama konservatif saling melengkapi dalam mengasingkan, meminggirkan, mengeksklusi, serta mengkriminalisasi kelompok LGBT. Fenomena tersebut tercermin dari upaya judicial review oleh Aliansi Cinta Keluarga Indonesia (AILA) di Mahkamah Konstitusi serta kepanikan moral yang diproduksi dan dieksploitasi secara masif oleh media massa. Sebagai tandingan, ulasan mengenai “Agama Bumi” dan tradisi lokal (seperti sistem lima gender dalam masyarakat Bugis) memperlihatkan kearifan budaya yang menghargai keragaman seksualitas sebagai fakta yang menyejarah.

Secara komprehensif, buku ini menghimpun perspektif multidisiplin dan pemikiran umat-umat lintas agama:
1. Pandangan Umat Buddha: Ajaran Buddhadharma menekankan etika berdasarkan kebijaksanaan, empati, dan kasih sayang (metta). Seksualitas dipandang secara wajar tanpa diskriminasi, karena setiap manusia dinilai dari perbuatannya, berhak atas kebahagiaan, serta memiliki benih kebudhaan (Bodhicitta/bijabuddha) untuk mencapai kesucian.
2. Pandangan Umat Kristen: Mengacu pada keberpihakan radikal Yesus kepada kaum marginal, para penulis mengelaborasi spiritualitas yang menubuh (interkarnasi), eklesiologi inklusif (open space) yang melampaui hierarki patriarki, serta hermeneutika Alkitab (seperti Surat Roma 1:26-27) yang membedakan orientasi seksual dengan ketimpangan relasi kuasa.
3. Pandangan Umat Islam: Mengurai historisitas keragaman seksual dalam peradaban Islam yang dinamis, menjadikan sufisme sebagai “agama cinta”, menghargai ekspresi kebertuhanan dan peribadahan waria, serta mendorong pembaharuan fikih berbasis SOGIESC. Ditegaskan pula bahwa Al-Qur’an mengutamakan solidaritas kepada kelompok tertindas dan melarang tindakan diskriminasi (lita’arafu).

Buku ini ditutup dengan epilog reflektif mengenai pengalaman spiritual seorang hamba yang menemukan kembali kedamaian melalui ‘Doa di Tengah Malam’ serta menyadari bahwa Allah merangkul dan mencintai seluruh ciptaan-Nya apa adanya. Secara keseluruhan, buku ini sukses menjadi ruang katarsis dan reflektif yang sangat strategis bagi masyarakat luas di tengah kehidupan beragama masa kini, sekaligus membuktikan bahwa ajaran agama hadir bukan untuk menindas atau memvonis, melainkan untuk saling mengasihi, merangkul, dan merayakan keragaman semesta.

Tautan unduh ebook: Klik di sini

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?