๐‘ซ๐’‚๐’“๐’Š ๐‘ด๐’†๐’๐’•๐’‚๐’ ๐‘ฉ๐’๐’๐’„๐’Œ ๐’Œ๐’† ๐‘ฒ๐’†๐’”๐’‚๐’…๐’‚๐’“๐’‚๐’ ๐‘ด๐’†๐’๐’‚๐’๐’‚๐’Ž: ๐‘ฑ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐‘ฒ๐’†๐’๐’–๐’‚๐’“ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐‘พ๐’‚๐’“๐’Š๐’”๐’‚๐’ ๐‘ท๐’–๐’“๐’ƒ๐’‚ (Sebuah Pemikiran Utopis di Tengah Realita Distopia Modern)

Home ยป Artikel ยป ๐‘ซ๐’‚๐’“๐’Š ๐‘ด๐’†๐’๐’•๐’‚๐’ ๐‘ฉ๐’๐’๐’„๐’Œ ๐’Œ๐’† ๐‘ฒ๐’†๐’”๐’‚๐’…๐’‚๐’“๐’‚๐’ ๐‘ด๐’†๐’๐’‚๐’๐’‚๐’Ž: ๐‘ฑ๐’‚๐’๐’‚๐’ ๐‘ฒ๐’†๐’๐’–๐’‚๐’“ ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐‘พ๐’‚๐’“๐’Š๐’”๐’‚๐’ ๐‘ท๐’–๐’“๐’ƒ๐’‚ (Sebuah Pemikiran Utopis di Tengah Realita Distopia Modern)

Dilihat

Dilihat : 154 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 121
  • 571
  • 278,648
Pic 2 Dari Mental Block

Oleh: Prajna Sinhoa

 

Dalam setiap zaman, selalu ada sekelompok orang yang menolak perubahan atas nama kebenaran yang telah mapan. Mereka disebut apologetisโ€”penjaga dogma yang lebih sibuk mempertahankan keyakinan daripada memahami kenyataan. Ketika teori evolusi diperdebatkan, atau ketika Yuval Noah Harari menulis Sapiens dan menyebut bahwa peradaban manusia adalah hasil proses panjang yang tidak selalu mulia, para apologetis tergesa-gesa menyebutnya sesat, seolah-olah manusia telah sempurna sejak awal. Padahal, penolakan semacam itu bukanlah pembelaan terhadap kebenaran, melainkan bentuk mental block: ketakutan menghadapi fakta bahwa kesempurnaan bukanlah titik awal, melainkan proses yang terus berjalan.

Apologetis (Cabang teologi yang berfungsi untuk membela dan menjelaskan iman dari beragam keberatan, red) lupa bahwa setiap klaim tentang sebab yang โ€œtidak disebabkan lagiโ€ hanyalah batas pengetahuan manusiaโ€”bukan kebenaran mutlak. Ketika kita menolak menelusuri sebab-sebab lebih jauh karena takut mengguncang fondasi keyakinan, saat itu pula kesadaran berhenti tumbuh. Maka, alih-alih berdebat tanpa ujung antara โ€œevolusiโ€ dan โ€œciptaanโ€, lebih bijak bila kita belajar dari sejarah peradaban manusia itu sendiri: dari pengalaman, bukan sekadar teori.

Harari dalam Sapiens menggambarkan titik balik besar 12.000 tahun lalu: revolusi pertanian. Saat manusia beralih dari pemburu-pengumpul ke petani menetap, ia menulis dengan getir bahwa โ€œgandum menipu manusiaโ€โ€”karena peradaban justru membawa penderitaan baru: kerja lebih berat, penyakit, ketimpangan sosial. Banyak yang tersinggung oleh pernyataan itu, namun jika kita amati dengan hati jernih, Harari tidak sedang menyalahkan gandum, melainkan menunjukkan bagaimana cara berpikir manusia yang salah. Pertanian bukan bencana; keserakahanlah yang menjadikannya jebakan.

Inilah panggilan untuk introspeksi kolektif: bukan apa yang salah pada pertanian, tetapi apa yang salah pada cara kita bertaniโ€”cara kita memaknai tanah, kerja, dan hasil bumi. Dulu, pertanian muncul dari semangat kebersamaan, namun cepat berubah menjadi sistem kepemilikan dan eksploitasi. Kita menanam bukan lagi untuk hidup bersama, melainkan untuk menjual dan menimbun. Dari sinilah muncul โ€œkapitalisme purbaโ€: pola pikir yang mengubah tanah menjadi komoditas, kerja menjadi alat, dan sesama manusia menjadi pesaing.

Inilah yang membuat saya tersadar dan sedang berupaya membangun TESIS;

 

๐—ฃ๐—˜๐—ก๐——๐—˜๐—ฅ๐—œ๐—ง๐—”๐—”๐—ก ๐—จ๐— ๐—”๐—ง ๐— ๐—”๐—ก๐—จ๐—ฆ๐—œ๐—”ย 

๐€๐ค๐š๐ซ ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฆ๐š๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก๐š๐ง ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข๐ก ๐š๐๐š ๐ค๐š๐ฅ๐š๐ฎ ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ฆ๐š๐ฌ๐ข๐ก ๐ฆ๐ž๐ง๐š๐ข๐ค๐ข ๐›๐ฎ๐ฌ ๐ญ๐ฎ๐š ๐ฐ๐š๐ซ๐ข๐ฌ๐š๐ง ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐›๐š ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฉ๐ข๐ค๐ข๐ซ๐š๐ง ๐ฆ๐จ๐๐žr๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐ข๐ฌ๐ข๐ค๐š๐ง ๐ค๐ฎ๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š๐ง ๐๐ฎ๐š๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฆ๐ž ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐›๐š, ๐ค๐š๐ฉ๐ข๐ญ๐š๐ฅ๐ข๐ฌ Pu๐ซ๐›๐š ๐๐š๐ง ๐ญ๐ก๐ž๐ข๐ฌ ๐ฉ๐ฎ๐ซ๐›๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ข๐ค๐ž๐ง๐๐š๐ซ๐š๐ข ๐จ๐ญ๐š๐ค ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐๐ข๐ซ๐š๐ง๐œ๐š๐ง๐  ๐œ๐ž๐ง๐๐ž๐ซ๐ฎ๐ง๐  ๐›๐ž๐ซ๐ฌ๐ข๐Ÿ๐š๐ญ ๐ฉ๐ž๐ฆ๐š๐ฅ๐š๐ฌ.

Dalam pandangan Buddhisme, ada tiga racun yang menjerat kesadaran manusia: kebencian, keserakahan, dan ketidaktahuan. Ketiganya membentuk lingkaran penderitaan yang terus berulang dalam sejarah. Kebencian melahirkan peperangan, keserakahan melahirkan eksploitasi, dan ketidaktahuan melahirkan dogma yang membutakan. Ketiga racun itu kini berpadu dalam satu wujud modern: sistem ekonomi dan ideologi yang mengabaikan keseimbangan hidup.

Namun, sebagaimana setiap racun memiliki penawar, warisan purba pun bisa ditransformasikan.

Kita perlu beralih dari paradigma lama menuju kesadaran baru:

  • Dari teisme purba menuju kesadaran sebab-akibat yang rasional.

Kita tidak lagi mengandalkan kekuatan tak terlihat untuk menata dunia, melainkan memahami hukum alam yang bekerja melalui tindakan kita sendiri.

  • Dari kapitalisme purba menuju etika berbasis keadilan dan kebersamaan.

Kekayaan sejati bukan dalam menimbun, melainkan dalam berbagi.

  • Dari dualisme purba menuju kesadaran integratif.

Tidak ada lagi โ€œakuโ€ melawan โ€œmerekaโ€, tetapi hanya satu jaringan kehidupan yang saling menopang.

  • Dari otak pemalas menuju otak yang terlatihโ€”yang mau bekerja keras memahami realitas secara jernih.

Itulah transformasi kesadaran: dari berpikir untuk menguasai menjadi berpikir untuk memahami, dari mengkonsumsi menjadi menanam. Bayangkan sejenak dunia yang kembali mengakar pada bumi. Setiap warga dunia memiliki sebidang tanah kecil, misalnya 50 meter ร— 50 meter, bukan untuk diperjualbelikan, melainkan untuk dikelola bersama. Di dalamnya tumbuh:

  • Lebih dari 25 jenis sayuran dan sumber karbohidrat,
  • Lebih dari 25 jenis buah-buahan,
  • Lebih dari 25 jenis tanaman rempah,
  • Lebih dari 25 jenis herbal dan tanaman obat.

Sebuah lahan yang kecil, namun jika dirawat bersama, dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan gizi delapan hingga sepuluh orang setiap tahun. Tanah menjadi sekolah alami, tempat belajar tentang sebab dan akibat, tentang keseimbangan antara kerja dan hasil, antara manusia dan alam. Di sana, tidak ada ruang untuk keserakahan, karena setiap bibit ditanam bukan untuk dijual, melainkan untuk menopang kehidupan.

Dunia modern sering melupakan prinsip dasar itu. Kita menilai segala sesuatu dengan harga, bukan nilai. Kita menyembah pasar seolah-olah ia dewa penentu hidup, dan lupa bahwa pasar hanyalah alat, bukan tujuan. Dalam logika kapitalisme purba, bahkan makananโ€”sumber kehidupan itu sendiriโ€”menjadi barang dagangan. Dari sinilah ketidakadilan muncul: mereka yang memiliki tanah luas menimbun keuntungan, sementara mereka yang tidak punya tanah harus membeli kehidupan dengan harga yang terus naik. Ironisnya, manusia menjadi tamu di bumi yang seharusnya menjadi rumahnya.

Jika kita berani mengubah arah, menanam kembali kesadaran lama yang murni, penderitaan bisa berkurang secara drastis. Ketika hasil bumi, ternak, dan tambak tidak lagi diperjualbelikan, rantai ketergantungan palsu mulai runtuh. Tidak ada lagi petani yang dipaksa menjual hasil panennya dengan harga rendah, tidak ada lagi nelayan yang harus bergantung pada tengkulak, tidak ada lagi peternak kecil yang kalah oleh industri raksasa. Semua kembali pada logika sederhana kehidupan: menanam untuk hidup, bukan hidup untuk menanam uang.

Pertanian, peternakan, dan perikanan seharusnya menjadi tindakan spiritual paling murni: wujud syukur atas keterlibatan manusia dalam siklus kosmis yang saling memberi. Namun ketika hasilnya dijadikan komoditas, spiritualitas itu lenyap, digantikan oleh motif laba. Maka, pembebasan sejati bukanlah kembali ke masa lalu, melainkan melampaui warisan purba itu: menciptakan sistem baru di mana produksi pangan tidak lagi tunduk pada logika jual beli, melainkan logika keberlanjutan dan kebersamaan.

Bayangkan lagi: setiap keluarga memiliki lahan hidup yang tak bisa diperjualbelikan; setiap komunitas saling menukar hasil bumi tanpa uang, hanya dengan rasa saling percaya dan kasih. Anak-anak tumbuh memahami bahwa nasi di piring bukan hasil pasar, melainkan hasil kerja bersama. Tanah menjadi guru yang mengajarkan etika sebab-akibat lebih jujur daripada dogma apa pun. Di sinilah kesadaran kolektif tumbuh: kehidupan bukan sesuatu yang diperjualbelikan, tetapi ditanam, dirawat, dan diwariskan.

Maka jelas, kritik terhadap apologetis bukan semata tentang agama atau ideologi, melainkan tentang cara kita memandang kenyataan. Apologetis mengunci diri pada narasi final, sementara dunia bergerak melalui proses yang terus berubah. Evolusi bukan sekadar teori biologis, melainkan cermin kesadaran: bahwa kita tumbuh melalui perubahan, bukan kepastian. Kesempurnaan bukan warisan, melainkan hasil dari kerja batin dan kerja sosial yang tak henti-henti.

Kini saatnya membuka blok mental itu dari otak yang dirancang cenderung pemalas menjadi tersadar untuk belajar, meninggalkan bus tua yang penuh dualisme, kapitalisme, dan teisme purba, lalu berjalan dengan kaki sendiri menuju kesadaran baru: kesadaran menanam. Karena pada akhirnya, yang kita tanam bukan hanya biji di tanah, melainkan biji kesadaran di dalam diri.

Dan buahnya?

Bukan keuntungan, melainkan keadilan.

Bukan surplus, melainkan keberlanjutan.

Bukan transaksi, melainkan transformasi.

Hasil pertanian, ternak, dan tambak bukan untuk diperjualbelikan, melainkan untuk ditanam kembaliโ€”ke dalam bumi dan ke dalam hati manusia. Coba Anda bayangkan mari kita berjuang bersama sama menuju perdamaian dunia yang ujungnya melahirkan kebahagiaan, keadilan dan emansipasi.

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

ย 

Daftar pustaka:

Harari,ย Y.ย N.ย  (2021).ย Sapiens Grafis: Kelahiran Umat Manusia:ย Kepustakaan Populer Gramedia.

Harari,ย Y.ย N.ย (2016).ย Homo Deus: A Brief History of Tomorrow.ย Britania Raya:ย Random House. Darwin,ย C.ย (2008).ย The Origin of Species.ย Britania Raya:ย Random House Publishing Group.

Ragam Akal Budi (Daniel C. Dennett)

Saddharma Pundarika Sutra (Ver: Burton Watson)

Mulamadhyamakarika (Nagajurna)

Memahami Pikiran Kita (Thich Nhat Hanh)

Gambar: idn.freepik.com

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?