Oleh: Arya Karniawan dan Mr. J
“Di tengah derasnya arus informasi modern,
literasi Buddhis adalah jangkar spiritual yang menjaga pikiran
tetap eling, waspada, dan berwelas asih”
(Tim Setangkaidupa)
STABN Sriwijaya sukses menggelar acara pameran buku perdana bertajuk “1st Buddhist Book Fair” pada tanggal 30 hingga 31 Juli 2026. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Perkuliahan STABN Sriwijaya Tangerang Banten yang dihadiri segenap civitas akademika kampus, pejabat depertemen agama RI dan masyarakat Buddhis. Kegiatan tersebut diadakan dalam rangka menyambut satu hari perubahan STABN Sriwijaya Tangerang Banten menjadi Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang dengan rektor pertama Dr. Li. Edi Ramawijaya Putra, M.Pd.
Acara dalam 1st Buddhist Book Fair itu juga disempurnakan oleh diskusi dan bedah buku “Diskursus Buddhisme di Era Posmodernisme” dengan menghadikan speaker pertama, Bapak Jo Priastana, M.Hum. akademisi dan penulis buku. Dalam “1st Buddhist Book Fair” yang bertemakan “Mencerdaskan kehidupan Bangsa Melalui Budaya Literasi dan Kecintaaan Ilmu sebagai Wujud Nyata Kurikulum Berbasis Cinta.” dengan ada layanan pemerikaan kesehatan gratis oleh Keluarga Besar Medis Buddhis Indonesia (KBMBI).
Pameran buku menyambut kelahiran Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang ini diselenggarakan secara koloboratif dan mendapat dukungan penuh berbagai yayasan dan penerbit Buddhis terkemuka di Indonesia. Beberapa penerbit yang turut memeriahkan dalam “1st Buddhist Book Fair” itu antara lain: Ehipassiko Foundation, Lamrinesia, Pustaka Dhammavihari Buddhist Studies (DBS), Lokuttara Dhamma, Yasodhara Puteri, Kadam Choeling, SW Press atau penerbit internal STABN Sriwijaya.
“Diskursus Buddhisme di Era Posmodernisme” dan Revitalisasi Buddhadharma
Salah satu agenda literasi utama yang menjadi sorotan dan dibedah langsung bersama penulis adalah judul buku: “Diskursus Buddhisme di Era Posmodernisme” dengan penulis dan narasumber Jo Priastana. Narasumber dikenal aktif dan produktif menerbitkan karya tulis dan buku bertema filsafat Buddhis konstekstual.
Keahlian beliau memang berfokus pada kontekstualisasi ajaran Buddha agar tetap relevan dalam menjawab tantangan sosial, budaya, dan moderntas di Indonesia. Buku “Diskursus Buddhisme di Era Posmodernisme” adalah salah satunya yang diterbitkan oleh Yasodhara Puteri bersama dengan tulisan-tulisan para mahasiswa. Para kontributur seperti: Majaputera Karniawan, Arya Karniawan, Soti Sanjaya, Derioniel Philo Chandra, Tri Laksono, Rosi Widyarti, Putu Ary Sastrawan, Tri Surya Damarika, dengan redaksi Ariyanto, dan Sugeng.
Dalam acara bedah buku itu, isi buku tersebut menjadi pusat diskusi akademik bagi mahasiswa dan pengunjung. Bersama pembicara, mereka mengeksplorasi nilai spiritualitas Buddhis di tengah perkembangan zaman modern.
Buku “Diskursus Buddhisme di Era Posmodernisme” membahas fenomena dunia posmodern yang bergerak sangat cepat namun cenderung mengalami pendangkalan makna hidup. Buku tersebut dibagi ke dalam 4 tema besar yang mencukap 20 Bab, diantaranya:
“Spiritualitas Beragama di Tengah Gempuran Komodifikasi Kapitalisme,” mengungkapkan bagaimana menjaga kesucian keyakinan atau sraddha saat agama mulai dijadikan komoditas ekonomi.
“Materialisme Cinta,” menyoroti pergeseran nilai ketulusan dan hubungan sosial akibat pengaruh materi.
“Eling lan Waspada (Sati-Sampajanna) di Tengah Laju Dunia,” yang mengulas penerapan kesadaran penuh khas ajaran Buddha agar manusia tidka kehilangan arah dalam keceapan zaman.
“Bangkit dari Kematian Pakar & Pengetahuan,” tulisan yang mengajak unuk menghidupkan kembali literasi mendalam di tengah banjir informasi dan matinya otoritas keilmuan yang valid.
Bedah buku dilaksanakan pada 30 Juli 2026, berjalan secata interaktif dan dinamis. Jo Priastana, penyumbang empat tulisan dalam buku itu, memaparkan materinya dengan pendekatan yang membumi. Pembicara mengaitkan filsafat Buddha tingkat tinggi dengan masalah sehari-hari mahasiswa, seperti kecanduan media sosal dan budaya instan.
Diskusi bedah buku dihadiri para dosen dan mahasiswa yang menunjukkan antusiasme yang tinggi melaui sesi tenya jawab yang kritis. Ruang diskusi menjadi wadah bertemunya pemikiran akademik untuk mempertanyakan bagaimana spiritualitas bisa bertahan di era digital.
Buku “Diskursus Buddhisme di Era Posmodernisme” yang dibedah memberi manfaat dan makna tersendiri bagi kalangan civitas akademik. Bagi Mahasiswa, meningkatkan berpikir kritis, mendorong mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi instan, melainkan pengkritik realitas sosial di sekitar mereka.
Bagi para Dharmaduta yang melayani umatnya secara mental atau berperan sebagai pelindung mental, dengan menyimak dan membaca buku tersebut akan menemukan panduan praktis (seperti prinsip eling lan waspada) untuk menghadapi umat yang dilanda kecemasan, tekanan sosial, dan krisis identitas akibat arus posmodernisme.
Khsusus bagi dunia pendidikan, buku tersebut memberi inspirasi untuk pengembangan kurikulum agama Buddha modern di tengah masyatakat kontemporer masa kini, dan sekaligus mendukung implementasi “Kurikulum Berbasis Cinta,” yaitu pendidikan yang memadukan kecerdasan intelektual dengan empati.
Buku itu juga bermanfaat bagi ekosistem riset. Dalam dunia pendidikan buku tersebut bisa menjadi pemantik bagi dosen dan mahasiswa untuk melakukan penelitian kontekstual lebih lanjut mengenai sains, sosial, dan agama Buddha.
Buku tersebut juga memberi manfaat besar bagi komunitas Buddhis, misalnya sebagai benteng moral, berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan moral terakhir bagi umat Buddha di tengah kuatnya arus hidup materialistis.
Selain sebagai benteng moral buku tersebut juga membuka cakrawala pandangan, wawasan tentang Buddhadharma untuk melakukan revitalisasi Dhamma. Membuka mata komunitas bahwa ajaran Buddha bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan instrumen hidup yang sangat aplikatif untuk memecahkan masalah abad ke-21.
Literasi dan Book Fair Buddhis
Budaya membaca dan pameran buku adalah pilar penting dalam membentuk masyarakat yang cerdas secara emosional dan spiritual. Segenap civitas akademika, kalangan terdidik Buddhis perlu memberi perhatian terhadap literasi termasuk perkembangan literasi Buddhis di Indonesia, serta mengetahui pentingnya dari penyelenggaraan Buddhist Book Fair.
Secara umum, literasi dan pameran buku (Book Fair) memberi manfaat yang besar, seperti: bisa mencegah salah tafsir ilmu atau Buddhisme. Dengan membaca literatur sahih menjauhkan masyarakat dari pemahaman yang dangkal. Melatih berpikir kritis, literasi melatih otak untuk menganalisis informasi, bukan sekadar menerima berita mentah-mentah.
Selain itu, terjadi ruang dialog terbuka. Book Fair mempertemukan langsung penulis dan pembaca untuk bertukar ide secara sehat. Mengurangi buta aksara dan pemahaman maupun salah pengertian. Pameran buku juga bisa menjadi penggerak ekomomi kreatif sekaligus pemicu minat baca masyarakat luas.
Hal ini sangat menarik untuk diteliti secara ekonomis, bagaimana peran penerbitan Buddhis yang telah berjuang sekian lama dan melibatkan ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah dalam menjaga minat baca umat dalam menumbuhkan kebijaksanaan.
Perlu diperhatikan juga bahwa perkembangan Literasi Buddhis di Indonesia, di mana secara historis, agama Buddha di Nusantara sangat lekat dengan tradisi literasi (seperti pusat studi teks suci di Kerajaan Sriwijaya). Koinsidensi warisan karmanya, 1st Buddhist Book Fair di selenggarakan di isntitut Agama Buddha Sriwijaya Tangerang pada masa kini.
Pada era modern ini, perkembangan literasi Buddhis menghadapi dinamika baru, seperti terjadinya digitalisasi konten, di mana para pemuka agama, Pandita dan Dhammaduta kini mulai masuk ke dunia IT untuk memproduksi modul digital dan konten media sosial. langkah ini diambil agar generasi milenial tidak kekurangan bahan bacaan Buddhis. Namun perlu juga diwaspadai bagi isi konten digital itu bila tidak berlandaskan pada literatur Buddhis.
Selain itu berkembang pula fokus pada kontekstualisasi. Buku-buku karya cendekiawan Buddhis Indonesia kini tidak hanya menerjemahkan Sutta lawas, tetapi mulai membahas isu sosial nyata, seperti literasi filsafat Buddha kointekstual, seperti dilakukan Penerbit Yasodhara Puteri.
Namun begitu, ada tantangan yang dihadapi, di mana penguatan literasi lintas budaya dan pendalaman filosofis pada buku pendidikan keagamaan masih perlu ditingkatkan agar tidak terjebak pada simbol ritual semata.
Pentingnya penyelengaraan Buddhist Book Fair karena sangat memberikan manfaat. Secara khhusus 1st Buddhist Book Fair dapat membawa dampak spesifik bagi umat dan dunia akademik, seperti: pelestarian dan revitalisasi ajaran (Dhamma), akses referensi ilmiah, sinergi lintas sekte (mazhab), implementasi kurikukum berbasis cinta.
Pelestarian dan revitalisasi ajaran Dhamma menjadi sarana vital untuk mendokumentasikan dan melestarikan serta mengembangkan ajaran Buddha melalui tulisan (yang juga bersifat kontekstual) agar tidak hilang di telan zaman. Buddhist Book Fair memudahkan mahasiswa, dosen, dan umat awam untuk mendapatkan buku-buku spiritual berkualitas yang biasanya sulit ditemukan di toko buku umum.
“1st Buddhist Book Fair” mempertemukan berbagai yayasan penerbitan seperti Theravada, Mahayana, dan Vajrayana dalam satu wadah guna memperat toleransi internal. Selain itu Buddhist Book Fair adalah wujud nyata implementasi kurikukum berbasis cinta, mengubah teori kasih sayang umat Buddha menjadi aksi nyata, di mana pameran buku dipadukan dengan pelayanan sosial seperti pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Banyak buku menarik dan bermanfaat bagi civitas akademika dan Dharmaduta untuk dijadikan rerefensi yang ditemukan dalam “1st Buddhist Book Fair” Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang. Kiranya buku-buku itu dapat di promosikan dan direkomendasikan agar jangan sampai tidak dimiliki. Mengapa? Ya memang layak dan pantas.


Promosi dan Rekomendasi
Buku yang berfokus pada analisis filosofis, sejarah perkembangan mazhab, dan metodologi teksual, seperti buku “Diskursus Buddhisme di Era Podsmodernisme,” (Penerbit Yayasan Yasodhara Puteri). Buku yang dibedah dalam ajang pameran buku ini menghubungkan filsafat Buddha dengan tantangan modern, seperti krisis identitas, kapitalisme dan derasnya arus digital. Sangat baik untuk bahan penelitian skripsi, jurnal, dan diskusi kritis di kampus.
Buku “Buddhisme Lengkap dan Sistematis” (Penerbit Lamrimnesia). Menyediakan catatan alur kajian sejarah dan teks Buddhis secara runtut dan terstruktur. Dilengkapi catatan kaki dan referensi silang yang kuat, menjadikannya standar buku akademik yang valid bagi periset kurikulum keagamaan.
Jalan Mulia Berunsur Delapan (karya Bhikkhu Bodhi, tersedia di Pustaka DBS). Kajian mendalam dari salah satu cendekiawan Buddhis Barat terkemuka. Mengupas struktur etika (sila), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna) dari sudut pandang analisis akademis sosilolgis.
Bagi para Dharmaduta dan penceramah Buddhadharma. Ada buku yang berfokus pada retorika yang aplikatif, kisah inspiratif, serta metode komunikasi Dhamma yang membumi. Buku “Tutur Bijak Buddha,” berisikan kutipan sabda Buddha yang bersumber dari Kitab Suci Tripitaka. Buku ini sangat membantu Dharmaduta mencari rujukan cepat kutipan otentik Sutta untuk materi khotah harian.
“Buddhism in a Nutshell (Ajaran Buddha secara ringkas). Karya Narada Mahathera, penerbit Ehipassiko Foundation. Maha karya ringkas mengenai hukum kamma, kelahiran kembali, dan Empat Kebenaran Mulia. Buku saku wajib bagi penceramah untuk menjelaskan esensi dasar agama Buddha kepada umat awam dengan analogi yang sangat mudah dipahami.
“Jataka Mala: Untaian Kisah-Kisah Kelairan” (penerbit Lamrinesia). Kumpulan kisah Bodhisatta menimbun kebajikan dalam berbagai kehidupan sebelum menjadi Buddha. Sangat dirokemendsikan bagi Dharmaduta yang membawakan sekolah minggu atau pemuda Buddhis karena gaya penyampaiannya yang kaya narasi dan metafora moral.
Ada juga buku karya Bhadra Ruci, “Bertuhan, Beragama, dan Hal-Hal Lain yang Belum Selesai,” Penerbit YPPLN, 2020. Buku yang berisikan tulisan hasil dari sesi pengajaran penulis, yang mengandung ajaran Je Tsiongkhapa tentang Lamrin atau “jalan bertahap.” Risalah atau paduan terstruktur berisi tahapan jalan menuju pencerahan sebagai Bodhisattava dalam mencapai kesempurnaan yang mudah dipelajari dan dipraktikkan.
Penerbit Karaniya merupakan salah satu pelopor penerbitan Buddhis paling produktif dan legendaris di Indonesia yang memabwa semangat lintas mazhab sejak tahun 1989. Ratusan buku-buktu yang tekah diterbitkannya telah menghantar penjiwaan umat Buddha Indonesia dalam Dharma.
Ada buku yang bisa dijadikan pilihan utama bagi civitas akademik dan Dharmaduta, “Tutur Bijak Buddha,” karya Ven. Shravasi Dhammika. Buku ini bersikan kumpulan sabda otentik Buddha Gautama yang bersumber langsung dari Kitab Suci Tripitaka, disusun secara tematis agar bisa dibaca dan direnungkan setiap hari.
Buku “Tuturan Bijak Buddha,” memberi manfaat akademik, berfungsi sebagai pilar rujuk kutipan (citation) ilmiah yang valid dan kredibel untuk riset sosiologi agama atau penulisan jurnal keagamaan di kampus. Bagi Dharmaduta buku itu bermanfaat mempermudah penceramah mencari referensi kutipan sutta yang cepat dan akurat sebagai dasar landasan khotbah Dhamma.
Banyak buku masa kini lainnya yang menarik dan bermanfaat dari penerbit Karaniya, antara lain: “Urban Zen: Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern,” Karya Reza A.A., “The Miracle of Suffering” (Keajaiban Penderitaan), karya Bhante V. Vajramedhi. Pastinya masih banyak buku lainnya yang telah diterbitkan atau yang akan diterbitkan. Untuk itu, jangan lewatkan kedatangan “Buddhist Book Fair” berikutnya. Pasti! Kenapa?
Karena buku Dhamma adalah guru yang tak pernah lelah bersuara. Membacanya mendekatkan kita pada kebenaran, mempraktikkannya membebaskan kita dari penderitaan. Membaca Dhamma adalah menyalakan pelita batin. Ia menghalau kegelapan ketidaktahuan (avijja) dan menuntun langkah kita menuju jalan kebijaksanaan. (AK dan Dkk) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).