Ada Apa Dengan Aku

Home » Artikel » Ada Apa Dengan Aku

Dilihat

Dilihat : 24 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 0
  • 38
  • 33,964
pic ada apa dengan aku

Oleh: Jo Priastana

 

“There are no subjects in the world.

A subject is a limitation of the world”

(Ludwig Wittgenstein, Filsuf)

 

Lalu lalang jutaan manusia dalam lalu lintas kehidupan yang ramai dan hiruk pikuk, adakah yang mereka buru? Apakah yang mereka kejar? Adakah di dalam lalu lintas kehidupan yang fana, mereka menderapkan langkah-langkahnya didalam rangka mencari dirinya, mewujudkan dirinya, mengenali dirinya, dan mengabarkan siapakah dirinya, siapa aku ini, tanpa peduli saling berburu dan berebut satu sama lain, tanpa peduli harus saling memangsa atau menyisihkan satu sama lain.

Bila kita memandang awal dari konsepsi terjadinya makhluk manusia, maka akan tergambarlah dihadapan kita bagaimana bibit-kehidupan dan jutaan sperma itu sejak sedari awal telah berjuang untuk menyisihkan rekan-rekannya dalam menggapai sebutir sel telur untuk kemudian menjalani proses pembentukannya menjadi apa yang disebut manusia. 

Adakah proses ini menjadi cermin dalam kehidupan manusia selanjutnya bahwa mereka memang harus hidup dengan saling menyisihkan satu sama lain didalam mewujudkan siapakah dirinya? Didalam menegakkan aku-nya? Sungguhkah didalam medan kehidupan dimana manusia saling berburu mempertahankan, memperjuangkan atau mewujudkan dirinya itu menandakan bahwa Aku itu memang ada? Ada apa dengan Aku?

 

Konsepsi Awal

Manusia terbentuk melalui konsepsi yang penuh dengan perjuangan. Gumpalan sel-sel yang mengandung jasad-jasad energi hidup dan kekuatan karma yang memperoleh kesempatan bertemu dengan sel ovum oleh satu dari jutaan sel sperma, yang bertemu sebagai akibat dari hubungan kesebadanan lelaki dan perempuan. Adakah itu merupakan awal dari konsepsi manusia, awal dari pembentukan unsur rohani dan jasmani, dalam suatu janin yang prosesnya begitu mempesona, mengagumkan dan mentakjubkan.

Begitu mengagumkan proses konsepsi manusia yang terjadi dalam tubuh seorang wanita. Proses perkembangan terjadinya manusia dalam tubuh sang Ibu itu juga terjelaskan dalam Buddhadharma dimana Pancasakha yang bermula dari ghana-rupa, pesi-rupa, abbbuda-rupa, dan bermula dari kalala.

Dalam perspektif Buddhadharma proses itu dapat dipastikan terjadi pada minggu ke lima kehamilan, dimana terbentuk apa yang dinamakan panca-sakha. Panca-sakha berupa lima gumpalan dari proses terbentuknya kepala, dua tangan dan dua kaki, yang berkembang dari minggu sebelumnya sebagai Ghana-rupa.

Ghana-rupa yang merupakan gumpalan daging sebesar butir telur ayam terjadi pada minggu keempat proses kehamilan itu. Ghana-rupa merupakan perkembangan dari pesi rupa di minggu ketiga yang berupa janin berwarna merah, dan yang sebelumnya hanya sebagai abbuda rupa yang berbentuk seperti busa berwarna laksana air daging di minggu ke dua.

Dan awal dari konsepsi ini sendiri dimulai dari bagian terkecil jasmani yang disebut Kalala, yang merupakan warisan langsung dari kedua orang tuanya yang berbentuk setetes minyak wijen yang bening, yang dikenal juga sebagai zygote.

 

Nama dan Rupa

Dilihat dari proses konsepsi itu, adakah yang berproses dalam pertumbuhan janin di dalam kandungan itu hanya berupa fisik semata? Semata tidak melibatkan hal-hal lain yang non-fisik? Sesungguhnya sudah sejak sedari awal konsepsi itu juga telah melibatkan aspek non-fisik, karena dalam kacamata Buddhadharma konsepsi itu juga dikatakan melibatkan aspek nama, yakni kesadaran penerusan atau patisandhi viññana, sebagai faktor non-fisik. 

Diyakini bahwa, ada patisandhi viññana (kesadaran penerusan dari makhluk sebelumnya) yang terlibat ketika terjadi pergumulan bertemunya sel telur dan sel sperma di awal konsepsi, sehingga pada akhirnya dalam Buddhadharma dikatakan bahwa manusia itu merupakan perpaduan dari nama dan rupa. Dan, pada saat bayi itu lahir, bekerja bhavanga citta atau kesadaran awal yang langsung bekerja dan berhubungan dengan dunia luar sepanjang hayat sampai ada sesuatu yang menghentikannya.

Bayi yang terlahir melalui perjuangan sang ibu dari dalam kandungan itu tumbuh dan berkembang. Tubuhnya yang tampak hadir disertai tangisan yang menyuarakan tanda tanya akan kehadirannya di dunia disapu oleh perubahan dan ketidakkekalan dalam rentang keberlangsungan. Bayi itu tumbuh menjadi anak, berkembang menjadi remaja, mengalami kedewasaan, usia tua, kesakitan dan akhirnya menemui batasnya, mati.

Mereka tumbuh dengan indera-indera dan unsur-unsur namanya yang bersentuhan dengan dunia, bersentuhan dengan dedaunan, bersentuhan dengan awan, bersentuhan dengan langit, bersentuhan dengan sungai, bersentuhan dengan satwa-satwa, fauna dan flora, bersentuhan dengan kesedihan, tawa, tangis, dan kecemasan dirinya maupun makhluk-makhluk lain-lainnya.

Kesemuanya itu menumbuhkan tubuhnya dan kesadarannya, menumbuhkan pengalamannya, menumbuhkan eksistensinya di dalam proses perubahan yang terus berlangsung, dari saat ke saat, dalam pusaran alam semesta yang begitu maha luas, dalam pusaran materi terkecil yang mungkin hanya dalam konsep saja, dalam percepatan ketidakkekalan yang tak terkira dan dalam waktu yang mungkin tak tertentukan.

Bagaikan mati hidupnya lampu-lampu iklan yang berjalan terus, bagaikan roda bumi yang berputar terus walau tak terasa seperti itu, bagaikan tubuh dan nama yang berkembang berubah terus sampai mengalami kesakitan, ketuaan dan mati walaupun mereka tetap dikenali sesuai dengan sebutan dan namanya itu, merasakan identitasnya.

 

Kesunyaan Aku

Melihat fenomena seperti ini, adakah sesuatu yang sungguh bersifat substansial, menetap, sesuatu yang dinamakan aku itu? Adakah suatu prinsip yang berdiri sendiri sebagai suatu keterpisahan mutlak dibalik segenap proses itu? Suatu aku yang layaknya seperti seorang penonton dibalik berbagai drama kehidupannya dan kehidupan jutaan, milyaran manusia? Suatu aku yang pantas mengemukakan pernyataan ini tubuhku, ini kesadaranku, ini perasaaanku, ini persepsiku, ini bentuk-bentuk mentalku?

Adakah yang harus dipercayai sebagai adanya suatu ketetapan, suatu inti kekal dibalik proses rupa yang berubah dengan cepat itu? Suatu substansi yang disebut Aku? Manusia sukar mengelak dari sebutan Aku entah sebagai identitas atau sesuatu yang dianggap mutlak ada. Sesungguhnya ada apa dengan Aku? Apakah sesungguhnya Aku itu, bila ternyata tak ada sesuatu pun yang bisa dipegang, ditetapkan kekal abadi? Aku siapakah kamu? Aku dimanakah Engkau? Adakah Aku itu adalah Engkau? Atau aku ada karena adanya kamu?

Aku bersentuhan dengan dunia karena itu aku Ada. Tidakkah segala sesuatu ada karena saling bertalian. Aku muncul ada karena ada yang lain, aku ada karena ada pepohonan, aku ada karena ada laut, ada sungai, ada langit, ada udara, ada warna, ada bebauan, ada galaksi dalam kehampaan semesta, ada peristiwa-peristiwa suka duka dalam sejarah manusia, ada timbul, terbentuk dan tenggelamnya benda-benda. Aku ada karena ada yang lainnya.

 

Terjalin dan Tergantung

Segalanya saling tergantung. Ada lelaki karena ada perempuan, ada yang cantik karena ada yang disebut jelek, ada yang tinggi karena ada yang pendek, ada yang kaya karena ada yang miskin, ada yang terkena busung lapar karena ada ada yang makan berlimpah, ada yang terkena virus folio karena ada yang mencemarkan udara, ada pemimpin ada rakyat, ada aku karena ada kamu, ada yang bahagia karena ada yang menderita.

Semuanya saling terjalin satu sama lain sebagaimana ditampakkan di dalam sehelai kertas, di dalam sehelai sari yang melekat ditubuh, di dalam sepiring lauk yang terhampar di restoran mewah, di dalam letusan mesiu, atau di dalam sebutir nasi; dimana didalam semua itu terdapat awan, terdapat pepohonan, terdapat udara, terdapat matahari, terdapat keringat petani, tangis, canda dan senda gurau, ada perasaan para buruh, ada kecerdasan ilmuwan, ada ketekunan dan ada keserakahan, ada kebodohan, atau juga ada kebencian dan kecerdasan.

Ada apa dengan Aku? Adakah sesuatu itu layak dinyatakan sebagai punyaku, milikku, karyaku bila nyatanya semua entitas kehidupan yang selalu berubah itu nyatanya juga terjalin satu sama lain dengan berbagai entitas lainnya di salam kehampaan semesta di dalam kekosongan cakrawala, di dalam kehampaan diri, atau di dalam kesunyaan Aku!  (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

sumber gambar: https://www.kompasiana.com/wulandari_1106/6405e6624addee5c541610a2/ada-apa-dengan-aku-hari-ini

Butuh bantuan?