Oleh: Jo Priastana
“Bukan Teori yang Menciptakan Gerakan, tapi
Gerakanlanlah yang Membentuk Teori”
(Rosa Luxemburg, 1871-1919, Filsuf, Aktivis Sosialis Revolusioner)
Aktualisasi jiwa Bodhisattva perlu disertai upaya kausalya diantaranya dalam gerakan aktivis Buddhis. Kemampuan menghadirkan esensi (core) Buddhadharma untuk kebaikan manusia dengan beragam latar belakangnya, sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya merupakan suatu ketrampilan dalam cara yang dikenal sebagai “upaya-kausalya, skilfull of means (Encyclopedia Britanica), serta cara-cara berguna atau expedients means.” (digital dictionary Buddhism).
Edward Conze dalam “A Short History of Buddhism” (1993), menyatakan “‘Skill in means’ is the ability to bring out the spiritual potentialities of different people by statements or actions which are adjusted to their needs and adapted to their capacity for comprehension.” Tindakan pembebasan altruisme Bodhisattva dan upaya kausalya ini bisa muncul dalam berbagai ragam cara dalam kemampuan adaptasi dengan keadaan.
Tindakan Upaya Kausalya sesuai dengan tuntutan keadaan, kondisi, baik yang bersifat individual-psikologi, sistimik, sistematik-kultural, maupun struktural-sosial-politis. Beragam macam tindakan kepedulian dan keterlibatan sosial dilakukan sesuai konteks, kebutuhan, urgensinya, dan semata memperjuangkan untuk kesejahteraan, perdamaian, nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kesejahteraan.
Core Dharma, Variable Dharma dan Corrupt Dharma
Upaya kausalya merupakan keterampilan secara cerdas dan bijak dalam mengkomunikasikan dan mewujudkan spirit Buddhadharma yang universal humanis sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tertentu dalam keadaan apapun. Prinsip-prinsip dan ajaran Buddhadharma mewujud dan hadir di dalam berbagai situasi yang berbeda sesuai kebutuhan umat manusia yang berada dalam ruang sosial budaya yang tertentu dan beragam.
Dalam konteks ini, Ken Jones mengajak aktivis Buddhis untuk memahami kerangka pemikiran berkenaan dengan aplikasi Dharma dalam rangka mencermati kehadiran Dharma di dalam ruang dan waktu tertentu, yaitu: Core Dharma atau esensi dharma, Variable Dharma atau perwujudannya dalam situasi sosial budaya yang beragam, serta Corrupt Dharma atau penyalahgunaan dharma untuk pembenaran (legitimasi) kepentingan tertentu (Ken Jones, “New Social Face of Buddhism,” 2003: 118-11).
Core Dharma berisikan Essential Buddhist Teaching. Inti ajaran Buddha tentang dukkha sebagai kondisi kehidupan manusia, resep praktis penyelesaian dukkha dan tujuan (goal) pencerahan dan pembebasan. Inti atau pokok-pokok Buddhadharma ini meliputi ajaran: Empat Kesunyataan Mulia. Tiga sumber penderitaan lobha, dosa, dan moha, hukum sebab akibat yang saling bergantungan (pratitya samutpada), hukum sebab akibat, delapan jalan utama.
Variable Dharma. Buddhadharma hadir di dalam situasi sosial dan budaya yang berbeda. Tak ada sistem keyakinan yang hidup yang tumbuh terpisah dari lingkungan sosial dan budaya tertentu. Manifestasi Buddhadharma dalam suatu lingkungan sosial dan budaya tertentu adalah suatu keniscayaan dan dikatakan sebagai variable Dharma, dan memungkinkan tumbuhnya beragam tradisi Buddhisme.
Esensi Buddhadharma bersifat universal-humanis, berjiwa pembebasan melintasi batas-batas budaya dan mewujud di dalam berbagai lingkungan sosial budaya. Karenanya kita bisa melihat berbagai macam ragam corak Buddhadharma yang tumbuh dengan kebudayaan setempat, seperti Tibetan Buddhism ketika masuk ke Tibet, China Buddhism kettika masuk ke China, maupun Nusantara Buddhism ketika masuk ke kepulauan Nusantara, Jawa, dan Sumatra.
Variable dharma merupakan fenomena Buddhadharma dalam ragam budaya yang perlu disikapi melalui kejernihan dan kritisisme lewat pemahaman filsafat Buddha, seperti filsafat Madhyamika Nagarjuna mengenai jalan tengah, dialektika sunyata atau emptiness; dimana esensi tidak terpisahkan dengan bentuk, kosong adalah isi dan isi adalah kosong. Perwujudan dalam sosial lingkungan budaya yang beragam itulah kekuatan dari esensi Buddhadharma yang hadir untuk pencerahan dan pembebasan.
Corrupt Dharma. Kerap kali perwujudan Buddhadharma dalam beragam situasi sosial, lingkungan dan budaya tertentu tidak terjadi sesuai dengan esensi-core dan tujuan-goal Buddhadharma. Dalam “Corrupt Dharma” Buddhadharma sekedar dikooptasi atau dijadikan legitimasi atau pembenaran untuk suatu tindakan, keperluan, kepentingan yang spesifik duniawi bisa berkembang dalam tradisi, ritual maupun organisasi jargon-jargon suci biasanya digunakan dengan berlindung dibalik atas nama tradisi sebagai legitimasi kepentingan tertentu atau mewujudkan naluri keserakahan.
Hal ini tidak sesuai atau bertentangan, sangat kontradiksi dengan esensi, semangat, “core” dan tujuan dari Buddhadharma itu sendiri. Corrupt Dharma dimana Dharma dikorupsi atau dikooptasi untuk kepentingan tertentu dalam rangka memenuhi hasrat keduniawian yang kerap membutakan kesadaran umat, seperti untuk kuasa, harta, kemasyhuran, penghormatan, pemujaan, idolatry, kepatuhan, kesetiaan umat maupun gerakan-gerakan tertentu, bisa pada gerakan misi yang berlebihan atau dalam selubung tradisi.
Corrupt Dharma berlaku pada misi penyebaran Dharma yang bertentangan dengan nilai-nilai Buddhadharma yang dilakukan seperti dengan cara-cara kekerasan, intimidatif, manipulatif, intoleransi, eksklusif. Termasuk pula misalnya dalam gerakan etno-nasionalisme-religius dimana Buddhadharma sekedar dijadikan ideologi pembenaran dan politik kekuasaan, maupun untuk tujuan pemperkayaan diri, status sosial dan membangun gerakan eksklusif yang tidak mencermikan semangat dan nilai-nilai Buddhadharma yang membebaskan.
Anatomi dan Manifestasi Keterlibatan Sosial
Aktivis Buddhis zaman Now perlu menyadari bahwa Buddhadharma, sesuai dengan asal katanya adalah spiritualitas kebangkitan. Makna dari kata Buddha itu sendiri adalah kebangkitan, kebangkitan kesadaran, kebangkitan adalah keterlibatan. Penderitaan terjadi oleh berbagai faktor yang saling jalin menjalin, dukkha yang telah terinstitusionalisasi dan bersifat struktural terkait dengan sistem sosial-budaya, ekonomi, ideologi dan politik.
Beragam masalah penderitaan yang dialami manusia sebagai penderitaan yang bersifat sosial. Problem sosial seperti merebaknya diskriminasi di dalam berbagai bidang kehidupan, baik dalam jenis kelamin, etnisitas, agama. Problem kesenjangan sosial dan kesejahteraan antara Negara berkembang dan Negara maju atau di suatu negara seperti kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi di Indonesia saat ini atau dalam lingkup internal dimana ajaran dimanipulasi untuk naluri keduniawian dalam kemunafikan dan hipokrisi kaum agamawannya.
Dunia pendidikan Buddhis yang berlandaskan pada sifat emansiporis dan kritisisme Buddhadharma harus bisa melihat fenomena ini dan mengabarkan kepada siswa-siswanya untuk mengembangkan berpikir yang kritis dan tersadarkan. Kenapa dunia pendidikan? Karena di sana tersimpan spirit kaum muda Buddhis yang energik dan murni dan akan menjadi agen perubahan dan pelopor kemajuan bangsa, peradaban dunia sesuai dengan nilai-nilai liberatif Buddhadharma.
Banyak masalah yang menjadi panggilan suci para aktivis muda Buddhis untuk bertindak, berupaya-kausalya. Ada masalah ketidakadilan gender, hak-hak asasi manusia, kekerasan terhadap anak, perang, pasar bebas yang menciptakan ketidakadilan, kemiskinan, masalah kesempatan kerja, women trafficking, kerusakan lingkungan, perubahan iklim.
Beragam masalah lainnya, seperti yang berkenaan dengan politik otoritarianisme, tindakan represif aparat, sikap tidak empati pejabat, arogansi, flexing gaya hidup hedonisme-materialisme yang melukai hati rakyat, dan berbagai problem politik-sosial-kemanusiaan lainnya. Dunia pendidikan Buddhis dengan para guru dan dharmaduta harus membuka selubung yang menutupi fenomena kehidupan dunia dan alam terjadi sesungguhnya.
Satu hal penting dan pokok yang harus dipegang dan menjadi landasan aktivis muda Buddhis dalam bertindak adalah kata kunci “NVDA: Non Violent Direct Action.” Aktivis Buddhis melakukan keterlibatan sosial dan melakukan perubahan, transformasi sosial dengan selalu menjaga untuk tidak mempergunakan cara kekerasan. “Ahimsa” atau non-kekerasan adalah prinsip dasar aktivis Buddhis zaman Now yang sejalan dengan jiwa Bodhisattva yang penuh welas asih.
Aktivis Buddhis juga perlu memiliki informasi yang benar, sadar dan penuh tanggung jawab, serta memiliki keterampilan yang senantiasa terus dijaga dan dilatih. Aktivis Buddhis juga perlu menyadari bahwa dirinya adalah sebagai agen perubahan masyarakat. Sebagai agen perubahan yang memberikan support kepada kelompok-kelompok marjinal yang sering dipinggirkan.
Aktivis Buddhis dapat melakukan keterlibatan sosial dalam berbagai cara dan menemukan berbagai problem sosial kemanusiaan serta berusaha mengatasinya. Upaya itu dapat dilakukan aktivis Buddhis, entah dengan berperan sebagai social entrepreneurship dengan aktivitas dan proyek sosial-kemanusiaan maupun sebagai agen perubahan sosial mendirikan gerakan sosial-kemanusiaan di dalam berbagai bidang kehidupan, sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan dan lain-lain.
Secara anatomi dapat dibedakan aktivisme sosial yang bersifat “internal” atau “inner aspect” dan “eksternal” atau “outer aspect.” Aspek “internal” merupakan penyampaian berpikir kritis seperti dialektika jalan tengah yang mencerminkan prajna, kebijaksanaan, esensi ajaran yang bisa dilakukan dalam berbagai cara, seperti dalam kegiatan retreat, pengajaran Buddhadharma, sosialisasi dan pendidikan Buddhadharma yang humanis membebaskan. Sedangkan dimensi “eksternal” yang merupakan penyampaian atau perwujudan dinamika welas asih yang berkaitan dengan permasalahan dan derita masyarakat, problem dunia dalam lingkungan alam.
“Distinguishes The Different Kind of Social Activism with The Context Buddhist Practice. Buddhism Inner Aspect and Outer Aspect. Buddhism. Inner Aspect: Wisdom Generation (Retreat, Spiritual Teaching) and “Buddhism Outer Aspect”: Compassion Generation (Relation with Other Beings) (Ken Jones, 2003:174).
Aktivis Buddhis bisa melakukan kegiatan yang bersifat “inner aspect” atau “outer aspect,” maupun keduanya. Dalam ragam kegiatan yang mencakup aspek “inner” maupun “aspek outer”, seperti aktivitas yang bersifat relasional personal dan komunikasi Buddhadharma secara formal maupun dinamika welas asih dalam solidaritas sosial-politik-kemanusiaan dan tindakan advocacy, pembelaan terhadap kaum miskin, kaum marjinal, lingkungan alam yang tercemar.
“Inner aspect” yang bersifat “personal relationship,” seperti dalam aktivitas yang bersifat “spiritual, intimate, family, work social”. Sedangkan yang mencakup “formal communication” Buddhadharma, seperti: Teaching, Writing, Organizing a Group, Interfaith Work, ect. Sedangkan, kegiatan atau aktivitas yang sepenuhnya bersifat eksternal atau aspek outer ini adalah cermin dari “Socially Engaged Buddhism”.
“Socially Engaged Buddhism” yang mencakup berbagai tindakan dan gerakan seperti memberikan bantuan dan pelayanan sosial, bantuan bisa bersifat karitatif, atau mengembangkan model-model komunitas sosial alternatif, seperti pemberdayaan masyarakat, community development. Selain itu bisa juga melakukan aktivitas pembelaaan atau “advocacy,” aktivitas keterlibatan secara radikal (activist radical) untuk perubahan sosial dan perubahan institusi secara mendasar, transformasi dan revolusi sosial.
“Alternative Societal Models: For Example: Monastic and Quasi Monastic Community and Particularly” Right Live hood. Social helping service and welfare: Both in Employment and Voluntarily. Radical activism: Directed to Fundamental Institutional and Social Changes, Culminating in Social Metamorphosis. Socially Engaged Buddhism: Whether in Buddhist of Non-Buddhist Groups, Whether in Paid Employment of Not (Ken Jones: 2002: 174).
Berbagai alternatif model-model tindakan sosial itu bisa dilakukan oleh para aktivis muda Buddhis dan dapat memperjuangkannya baik melalui jalur kampus, organisasi massa, aksi jalanan, maupun pendampingan masyarakat. Tidak tabu bila gerakan aktivis muda Buddhis kemudian menjelma menjadi gerakan sosial politik, gerakan revolusioner maupun pembentukan partai politik untuk memajukan bangsa.
Dalam pandangan filsuf Italia dan teoritikus politik Antonio Gramsci (1891-1937), gerakan aktivis muda itu juga sejalan dengan peran cendekiawan sesungguhnya atau intelektual organik. Peran cendekiawan yang memperjuangkan nilai-nilai kehidupan dalam mengatasi hegemoni budaya-politis-kekuasaan serta mampu memberikan kekuatan kolektif bagi gerakan perubahan sosial.
Cendekiawan Buddhis sejati menjadi pemandu bagi aktivis Buddhis yang penuh jiwa altruis Bodhisattva sebagai upaya kausalya mengatasi berbagai fenomena derita sosial cerminan “corrupt dharma” penyalahgunaan dharma. Institusi Buddhis seperti perguruan tinggi agama Buddha dengan segenap civitas akademikanya juga berperan penting dalam mendampingi dan menginspirasi para aktivis melakukan keterlibatan sosial politis dan kini perjuangan mempertahahkan kelestarian alam, keselamatan bumi
Cendekiawan Buddhis sejati yang bukan artifisial akan selalu belandasakan pada nilai-nilai Buddhadharma, dan karenanya akan selalu menyuarakan kepada aktivis Buddhis untuk jangan takut berpolitik atau turun ke jalan manakala ibu pertiwi dan semesta sudah meneteskan air matanya dan rintik hujannya. Kita ingat pesan Soe Hok Gie, aktivis dari Universitas Indonesia (1942-1969),
“Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lumpur, lumpur yang kotor, tapi suatu saat, dimana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah. Politik itu kotor bagai lumpur.”, kata Soe Hok Gie, Sang Demonstran, pejuang yang melawan ketidakadilan di tahun 1960-an.
Tapi justru dari disitulah, dari dalam kolam berlumpur itu pula tumbuh teratai aktivis Buddhis Indonesia yang akan melebihi semacam Soe Hok Gie. Kiranya dari kolam kesengsaraan sosial saat ini akan tumbuh sekuntum teratai harum aktivis Buddhis zaman now, dan kita yakin kelak akan mengenal sebuah nama yang terpatri untuk Indonesia agar jangan cemas menyongsong 2045! (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: Meta AI