Altar Ho Ping: Bentuk Cinta Kasih Tradisi Tionghoa Kepada Arwah Terlantar

Home » Artikel » Altar Ho Ping: Bentuk Cinta Kasih Tradisi Tionghoa Kepada Arwah Terlantar

Dilihat

Dilihat : 281 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
Altar Ho Ping Picture1

Oleh: Majaputera Karniawan (Tjia Wie Kiong 谢偉强)

 

Altar Ho Ping…Ho Ping teh naon ieu?? (Ho Ping apaan ini maksudnya??)” – 谢偉强, Di Kelenteng Hok Tek Bio Gombong 6 Juli 2019

 

Ya, pertanyaan ini saya tanyakan dalam hati ketika sembahyang di altar Ho Ping yang berada di Kelenteng Hok Tek Bio 福德廟 Gombong, Kebumen – Jawa Tengah tanggal 6 Juli 2019 silam. Sampai kemudian saya kepikiran lagi. Ini Ho Ping maksudnya altar untuk siapa? Pada altar hanya terdapat sebuah sinci (papan nama dewa) bertuliskan aksara Tradisional衆隂公香位 (Simplified: 众阴公香位Zhòng yīn gong xiāng wèi) yang kalau diartikan secara sederhana berarti: Disini tempat hio untuk datuk yang dituakan untuk mengurus banyak arwah Yin.

Pencarian literasi saya lakukan 3 tahun belakangan ini, meski hanya sedikit yang bisa saya kumpulkan, tapi setidaknya cukup untuk mencari tau siapa yang dimaksud dengan Ho Ping ini. Persembahyangan kepada Ho Ping atau terkadang dituliskan Hoo Ping juga dilakukan di Kelenteng Sam Po Kong 三保洞 Gedong Batu, Semarang tepatnya di bangunan Bio Kyai Jangkar. Melansir pendapat dalam website Kopi dan Kamu (2017) Arwah Hoo Ping adalah arwah orang meninggal yang tidak dirawat oleh keluarganya, kata Hoo Ping sendiri artinya teman, mereka ditampung disini untuk didoakan. Berarti yang di maksudkan Hoo Ping/Ho Ping lebih tepatnya diterjemahkan sebagai Ho Peng (好朋Hǎo péng) dalam bahasa Hokkian, dan memang sepanjang yang saya ketahui istilah ini adalah panggilan persahabatan yang bisa dipergunakan bagi arwah-arwah terlantar.

 

Pendapat berikutnya dari Ny. Titi Soerya (1982: 35) menyatakan bahwa altar Hoo Ping yang berada di kelenteng Sam Po Kong adalah altar untuk menghormati dan mendoakan para arwah leluhur kita, termasuk arwah para pelaut anak buah Cheng Hoo (Sam Poo Kong) dan setiap tahun akan diadakan satu sembahyang kepada mereka yang dikenal sebagai King Hoo Ping. Pendapat lainnya tentang altar Hoo Ping ini adalah dari website kelenteng Sam Poo Kong semarang sendiri (2017) yang menyatakan bahwa  Arwah Hoo Ping adalah arwah orang meninggal yang tidak dirawat oleh keluarganya dan kemudian mereka ditampung di altar Hoo Ping kelenteng Sam Poo Kong untuk didoakan, upacara peringatan untuk arwah Hoo Ping diperingati tiga kali dalam setahun: Sehari sebelum Imlek, saat Ceng Beng, dan saat upacara Ulambama (Jit Gwee/Bulan 7 imlek).

Kata King Hoo Ping/Keng Hoo Peng berasal dari kata  敬好朋Jìng hǎo péng yang secara harfiah berarti menghormati teman baik. Lazimnya upacara King Hoo Ping sendiri dirayakan setiap bulan 7 tanggal 15 penanggalan imlek (Cit Gwee Cap Go 七月十五日 农历). Jadi dari sini sudah mendapat gambaran bahwa Hoo Ping bukanlah satu sosok dewa, melainkan adalah para arwah terlantar yang tidak memiliki kerabat ataupun sanak saudara lagi sehingga tidak disembahyangi. Sembahyang kepada Hoo Ping ditujukan mendoakan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka, agar mereka dapat terlahir ke alam bahagia.

Mengingat sebagian besar kelenteng di pulau jawa yang memiliki altar Hoo Ping adalah kelenteng masyarakat Hokkian/Fujian 福建, maka besar kemungkinan pemujaan Hoo Ping sendiri terkait dengan pemujaan Ao Be Kong. Ao Be Kong (后尾公Hòu yǐ gōng) secara harfiah berarti Datuk halaman belakang, terkadang disebut juga sebagai  Hoo Hia Ti (好兄弟Hǎo xiōngdì) yang secara harfiah berarti ‘Sahabat baik’. Menurut Ye Xin Yi  葉信毅 (2020) Ao Be Kong atau Hoo Hia Ti bukanlah dewa, tetapi para arwah penunggu tempat yang manusia tempati sebagai hunian, orang-orang menghormatinya guna keserasian dua pihak: kita menghormati dan mendoakan agar mereka dapat terlahir ke alam yang lebih baik, dan agar mereka juga tidak mengganggu serta menjaga kenyamanan dan keamanan hunian yang kita huni.

Ritual sembahyang pada Ao Be Kong biasanya dilakukan 1 hari menjelang hari raya imlek. Walau ada yang melakukannya diluar tanggal tersebut. Tradisi ini sendiri mulai punah bersama semakin padatnya hunian di kota-kota besar, karena  biasanya ritual dilakuan di halaman belakang rumah, namun karena dalih tidak memiliki halaman belakang jadi ritual ini tidak dilakukan dan mulai ditinggalkan saat ini. Padahal ini adalah tradisi yang baik guna menghormati arwah sekaligus mendoakan mereka. Pertanyaannya adalah: Mengapa sih orang tionghoa begitu menghormati leluhur?

Perlu diketahui agama Tradisi Rakyat Tionghoa biasanya memiliki nilai-nilai perpaduan ajaran Buddhisme, Taoisme, Konfusianisme, pemujaan leluhur dan animisme kuno. Ambil contoh upacara Cau Tu/Ulambana ala Buddhis, sembahyang Tiong Goan Jie atau Cit Gwee Poa yang dilakukan umat Taoisme dan Konfusianisme juga Co Kong Tek yang dilakukan umat Tao dan para umat tradisi kelenteng semua adalah demi kesejahteraan para leluhur baik yang masih disembahyangi maupun yang terlantar. Ada satu prinsip  Keng Thian Cun Co/ Jīngtiān zūn zǔ 敬天尊祖 (Mengagungkan langit Menghormati leluhur) yang selalu dipegang teguh masyarakat tradisi Tionghoa. Diyakini leluhur dapat memberi perlindungan & bimbingan pada keturunannya. Lagi pula, siapa tahu ada Kongco-Makco kita yang sudah lama sekali tidak teringat kembali garis keturunannya dan mungkin di alam sana masih menderita. Siapa tau mereka ada yang pernah menjadi leluhur kita, bukan? 

 

Daftar Pustaka

Kopi dan Kamu. 2017. Sam Poo Kong Semarang. http://www.kopidankamu.com/2017/10/sam-poo-kong-semarang.html. Diakses April 2022.

Soerya, Titi. 1982. Gedung Batu Di Semarang. Proyek Media Kebudayaan Jakarta. Jakarta. Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Sam Poo Kong. 2017. Daftar Bangunan. http://sampookong.co.id/buildings/. Diakses April 2022.

葉信毅. 2020. Post Facebook: Tradisi Sembahyang Ao Be Kong. https://www.facebook.com/groups/301314727699645/permalink/320963369068114/. Diakses April 2022.

Butuh bantuan?