Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.
“Manusia adalah satu-satunya hewan yang menyiksa demi kesenangan menyiksa itu sendiri” (Arthur Schopenhauer)
Jagat maya dihebohkan dengan Kasus anjing Wangwang (旺旺), kasus ini menjadi insiden penyiksaan dan pembunuhan kejam terhadap seekor induk anjing jalanan telantar bernama Wangwang bersama tiga anak anjingnya yang baru lahir di Jieyang, Provinsi Guangdong, Tiongkok. Yang mirisnya pelakunya adalah empat anak di bawah umur (di bawah 14 tahun). Tak ayal perilaku ini memicu kemarahan luas di media sosial internasional.
Para bocah itu mendatangi tempat Wangwang berlindung bersama ketiga anaknya yang masih buta. Mereka memukuli ketiga anak anjing yang masih buta terlebih dahulu hingga tewas.
Naluri keibuan Wangwang tidak tinggal diam. Saat Wangwang berusaha melindungi anak-anaknya, para pelaku menyiramkan bensin ke tubuh induk anjing tersebut dan membakarnya hidup-hidup. Para pelaku merekam seluruh aksi keji tersebut sambil tertawa. Wangwang yang malang berusaha tetap hidup selama setengah jam meski ia terbakar api demi melindungi anaknya sambil terus dipukuli, hingga di detik-detik terakhirnya, Wangwang menjilati anak-anaknya; iapun beserta ketiga anaknya tewas akibat penyiksaan keji ini.
Gilanya adalah mereka melakukan hal ini demi kesenangan belaka. Banyak yang mengaitkan kejadian ini dengan gejala psikoapati, tetapi ada satu hal yang luput dari perhatian kita: Logika hasrat!
Ya, bisa dikatakan idiom manusia adalah binatang yang berevolusi ada benarnya, namun manusia terus menekan hasrat kebinatangan tersebut dengan benih-benih kebajikan, seperti kata Mencius dengan empat benih: kemanusiaan, keadilan, moral etika, dan kebijaksanaan. Tetapi di sisi lain ada pendapat: “Manusia adalah satu-satunya hewan yang menyiksa demi kesenangan menyiksa itu sendiri” (Arthur Schopenhauer).
Menurutnya, hewan bisa menyerang atau menyakiti mahluk lain hanya untuk tiga hal: makan, mempertahankan diri, atau wilayah. Artinya dibalik tindakan tersebut ada tujuannya. Tetapi manusia bisa menyiksa, merundung (bullying), bersikap kejam tanpa tujuan maupun alasan logis sama sekali. Mereka bisa hanya karena “iseng”, “benci”, atau “hasrat nikmat melihat mahluk lain menderita”.
Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Schopenhauer tadi, bila kita flashback ke kisah masa Buddha dulu. Sang Buddha sendiri pernah saat sedang berjalan menuju Sāvatthī untuk mengumpulkan dana makanan, Bhagavā melihat anak-anak dengan riang gembira demi kesenangan, memukul seekor ular dengan sebatang tongkat kayu. Saat melihat kejadian itu, Sang Buddha berkata:
“Ia yang sewaktu mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri, dengan tongkat kayu mencelakai makhluk-makhluk lain, yang juga menginginkan kebahagiaan, tidak akan menemukan kebahagiaan setelah meninggal dunia.
Demikian sebaliknya, Ia yang sewaktu mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri, tidak dengan tongkat kayu mencelakai makhluk-makhluk lain, yang juga menginginkan kebahagiaan, akan menemukan kebahagiaan setelah meninggal dunia.” (Ud.2.3. Daṇḍasutta).
Misalnya lagi, sewaktu Buddha belum tercerahkan. Ketika pangeran sedang beristirahat di bawah pohon dalam waktu bermainnya bersama sahabat-sahabat-Nya dan juga sepupunya, Pangeran Devadatta, ia tiba-tiba melihat seekor angsa jatuh dari angkasa. Ia tahu bahwa Pangeran Devadatta telah memanah angsa tersebut. Dengan segera Pangeran Siddhattha menolong angsa tersebut. Pangeran Devadatta juga mengejar angsa itu, namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu mengambil angsa itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah yang menusuk angsa tersebut serta memberikan obat pada lukanya.
Pangeran Devadatta yang baru saja tiba menuntut agar unggas itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddhattha menolaknya. Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta bersikukuh bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddhattha mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya, sedangkan si pemanah tidak berhak akan angsa yang masih hidup tersebut. Akhirnya Pangeran Siddhattha mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke mahkamah para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut.
Setelah diajukan ke mahkamah para bijak, akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru, “Semua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya. Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddhattha. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, yaitu Pangeran Siddhattha!” (Bhagavant.com: n.d).
Berkaca dari kedua kisah di atas, kita bisa membayangkan bagaimana manusia bisa mengekspresikan dirinya dengan menyiksa mahluk lain: Devadatta mungkin berpikir ‘Aku menjadi diriku dengan memanah angsa’ atau para pemuda itu berpikir ‘gebukin ular adalah hal keren’ namun di era keterbukaan media sosial yang serba ‘Anything goes – Apapun boleh’ saat ini, hasrat manusia menjadi komoditas yang bisa dikomodifikasi algoritma.
Hasrat itupun tidak lahir begitu saja, kita bisa lihat bagaimana tontonan kita di media sosial membentuk ‘logika tontonan’ kita. Iklan game saat ini dengan konsep sadisme, penyiksaan/cruelty (contoh iklan game serigala yang digesek anu-nya ke pohon oleh sekelompok beruang), atau bahkan konsep fatality (pembantaian sadis) dalam iklan game combat battle turut membentuk pola pikir cruelty/kekejaman di kalangan anak anak di ruang-ruang media sosial dan seringkali orang tua dengan riang gembira melemparkan mereka (yang sebenarnya belum siap bermedsos) masuk kedalam ruang media sosial yang terlalu cepat berubah/fluktuatif dan ‘anything goes – apapun boleh’.
Kita melemparkan mereka ke media sosial yang bahkan bisa membuat citra diri mereka menjadi apa saja, sama seperti seorang ibu yang melempar anaknya ke tengah pelacuran, berharap apa si ibu? Anaknya tidak nakal? Tidak mungkin! Justru di media sosial inilah ruang yang sangat ideal bagi anak bisa terkena eksposur (keterpaparan) dari segala macam logika hasrat dan logika tontonan yang lambat laun membentuk citra diri mereka.
Setelah mereka berhasrat demikian, mereka akan berhasrat membuat konten penyiksaan (cruelty) demi mengekspresikan citra dirinya yang baru, semata demi kesenangan di dunia yang ‘anything goes – semua boleh’. Ekspresi eksistensial ini kemudian memicu sensasi, yang mana bagi algoritma media sosial sensasi ini adalah komoditas traffic view dalam siklus simulakra tanpa henti seperti mesin yang akan terus memproduksi hasrat dan sensasi lewat algoritma.
Media sosial tidak perduli siapa yang berbicara dan mereka sorot: Apakah mereka layak, berbobot, kompeten atau tidak. Mereka hanya peduli pada eksposur dalam jangkauan viralitas algoritma. Karena mereka bisa hidup terus dengan itu, persetan moral masyarakat rusak!
Mungkin, bila kita bayangkan Devadatta hidup di saat ini, saat kasusnya viral sedang memanah angsa, ia akan terlempar di ruang penghakiman netizen, meski begitu perilaku toksiknya juga akan mudah sekali viral di media sosial dan berpotensi ditiru oleh orang lain; Bahkan menjadi inspirasi konten di tengah dunia serba cair yang ‘Anything goes – Semua boleh’.
Kasus Wangwang pada akhirnya mengingatkan kita pada bahayanya anak terlempar ke media sosial sejak dini, mereka mengenal kekerasan, bangga mengekspresikan kekerasan bahkan menjadi pelaku kekerasan karena paparan media sosial yang begitu masif! Bukankah kita begitu berdosa membiarkan atau bahkan memasukan anak ke ruang virtual cair yang bahkan kita sendiri tahu di dalamnya terdapat banyak bajingan tanpa bisa kita awasi? Yuk mulai bijak bermedia sosial dan pantau anak-anak kita di media sosial, jangan sampai anak kita menjadi penjahat di kemudian hari dan ada Wangwang lainnya yang dibunuh demi konten semata!
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
DAFTAR PUSTAKA
- Adegunawan, Suyena (陳書源 Tan Su Njan). 2018. Kompilasi 《四书》– Si Shu – Empat Kitab Klasik. Bandung. TSA.
- Arthur Schopenhauer. 2023. Absurditas Agama. Versi terjemahan: BASABASI.
- n.d. Kelahiran dan Kehidupan Istana Pangeran Siddharta. https://bhagavant.com/kelahiran-dan-kehidupan-istana-pangeran-siddhattha. Diakses 19 Juli 2026.
- 2026. Wang Wang Case Pt.1 and 2. Instagram Post. https://www.instagram.com/p/Da0xGQgiCfO/?img_index=5&igsh=MXB4MzdpMjQ0cWVjMw== . Diakses 19 Juli 2026.
- Piliang, Y. A., Darwin, S., Ade, E. G. (2004). Dunia yang berlari: mencari “tuhan-tuhan digital”. Indonesia: Grasindo.
- Piliang, Y. A. (2011). Bayang-bayang Tuhan: agama dan imajinasi. Indonesia: Mizan Publika.
- net. 2018. Udana. suttacentral.net/ud . Diakses 19 Juli 2026.
- Foto: IG Post Global Abuser Database