Apa Yang Saya Dengar Tentang Kemanjurannya Kelenteng Kwan Im di Banten

Home » Artikel » Apa Yang Saya Dengar Tentang Kemanjurannya Kelenteng Kwan Im di Banten

Dilihat

Dilihat : 93 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 23
  • 70
  • 6,306

OLEH: KWEE TEK HOAY郭德懷

(Artikel/lezing dari Batavia Buddhist Association di Kelenteng Kwan Im Tong pada tangga 18 Februari 1937. Disalin ulang oleh Majaputera Karniawan – Sia Wie Kiong 謝偉强dari majalah bulanan Sam Kauw Gwat Po 三教月报 April 1937 No.31 Tahun ke-4 hal 17-25 dan disederhanakan dari ejaan lama ke ejaan yang disempurnakan dengan menambah beberapa penjelasan dan pembagian subbab tanpa mengubah isi dari artikel).

Saudara-saudara

Apa yang saya tuturkan melalui artikel sebelumnya tentang kemanjurannya Kwan Im Hud Co 观音佛祖 di Banten (Dahulu bernama Ban Tek Ie 万德院 [Arama berlaksa kebajikan] sekarang dikenal sebagai Kwan Im Bio Banten万丹观音廟 atau Wihara Avalokitesvara Banten Lama), ada berdasar atas keterangan yang saya dapat dengar dari kejadian di tempo dulu. Pada beberapa puluh tahun lalu. Sekarang saya mau menceritakan pula apa yang saya dengar tentang kemanjuran di ini tempo (kala itu tahun 1937).

Saya tidak mau ceritakan tentang apa yang di alami oleh beberapa famili dari pengurus itu kelenteng seperti sakitnya nyonya Phoa Tjeng Kee yang disembuhkan secara gaib, dan lain-lain lagi. Sebab hal tersebut boleh dianggap lumrah dan saya tidak merasa perlu buat di catat. Sekarang saya mau cerita menjalarnya satu gerakan yang luar biasa, yang pokoknya ada pada itu kelenteng  Kwan Im di Banten,yaitu pekerjaan menyembuhkan penyakit secara gaib yang dilakukan oleh beberapa orang yang kasih atau sediakan dirinya buat dipakai oleh semacam kekuatan rahasia yang dinamakan Kwan Im 观音ataupun Ma Co Poh 妈祖婆 yaitu dewi Tian Siang Sheng Bo 天上圣母 yang dipuja juga dalam kelenteng itu, dan oleh pengurusnya biasa disebut dengan Mak Co 妈祖.  

Lantaran pada malam itu ada begitu banyak hal yang dibicarakan, dan saya harus mencatat penuturannya tuan Ong Leng Yauw, maka gerakan pengobatan menolong orang sakit tidak saya perhatikan sepenuhnya, juga tidak dicatat. Hingga apa yang saya bicarakan sekarang  lantaran Cuma mendengarkan selewatnya saja, ada kurang lengkap dan bahkan bisa ada yang keliru. Maka saya hendak tuturkan saja pemetaannya yang kasar dari gerakan itu, kira-kira begini:

 

A. Tokoh Pujaan Orang Pelayaran

Itu kelenteng Kwan Im Hud Co di Banten ada terhitung sebagai salah satu kelenteng Tionghoa yang tertua  di pulau  Jawa. Hal ini tidak perlu diherankan, sebab sejak Banten menjadi kota dagang yang paling besar di Jawa Kulon (Jawa Barat) pada era sebelumnya Jan Pieterzoon Coen (Gubernur VOC ke empat tahun 1618-1623 dan ke enam tahun 1627-1629) berdirikan Batavia, ketika kapal-kapal Belanda yang pertama di bawah pimpinan kedua saudara ‘Jan dan Cornelis de Houtman’ sampai di muka pelabuhan Banten di tahun 1595, di situ sudah banyak saudagar-saudagar  Tionghoa, dan ini orang-orang Tionghoa sebagaimana biasanya adalah orang pengembaraan yang datang dari Lamyang (prefektur Nanyang 南阳, provinsi Henan 河南, Tiongkok) dengan naik perahu Jung kecil. Mereka selalu membawa dalam perahunya rupa-rupa patung mereka punya Toapekong (Istilah Toapekong 大伯公 di sini sebagai panggilan keakraban kepada dewata yang dituakan dan dipuja para orang pelayaran, bukan merujuk pada Hok Tek Ceng Sin 福德正神sang dewa bumi semata) yang dipuja sebagai pelindung dalam perjalanan tersebut yang jauh dan berbahaya. Kwan Im dan Ma Co Poh adalah dewi-dewi yang paling disujudkan (diyakini) oleh orang-orang pelayaran karena dianggap sangat murah hati dan suka menolong manusia yang dalam kesengsaraan. Maka di mana orang Tionghoa sampai, itu dewa dewi atau salah satu toapekong pasti turut bersama-sama, dan dalam kampung Tionghoa di Banten pasti ada juga tempat untuk orang memuja (bersembahyang), meski bukan dalam kelenteng besar, hanya dalam satu rumah yang sederhana.

 

B. Awal Berdiri dan Sistem Percabangan Abu Kelenteng Kwan Im Banten

Itu kelenteng yang lama di Banten dulunya adalah rumah dari Kapitein Tionghoa, siapa punya Sinci 神主(Papan arwah) yang pakai penanggalan dari zaman kaisar Qian Long 乾隆 dinasti Qing 清 masih bisa dijumpai dan disembahyangi di bagian samping dari kelenteng yang sekarang ini. Sayang sekali lantaran karena tidak paham huruf Tionghoa saja tidak bisa catat itu sinci. Tapi kapan kejadian (lagi) kita orang bikin perjalanan ke Banten, ini satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan, kita nanti catat dan salinkan bunyinya itu sinci supaya bisa tahu dengan jelas hikayatnya itu kelenteng.

Menurut tuan Phoa Tjeng Kee, itu kapitein sudah serahkan (dermakan) rumah miliknya buat dijadikan kelenteng, berikut juga pekarangan di seputarnya di atas mana sampai sekarang masih ada berdiri beberapa rumah model kuno pakai loteng yang kondisinya sudah bobrok dan boleh ditempati oleh siapa saja yang suka. Tetapi jaman dulu ketika Banten masih menjadi kota dagang yang besar, pastilah harga sewa (kamar loteng) nya mahal dan boleh dipakai untuk menunjang ongkos operasional itu kelenteng. Jadinya Kwan Im Hud Co di Banten tidak bisa disangsikan (diragukan) lagi, terhitung sebagai yang paling tua di Jawa Kulon (Jawa Barat). Kelenteng Kwan Im Tong 观音堂 dan kelenteng Kwan Im lainnya yang di dirikan di Batavia dan daerah lain di Jawa Barat, waktu mulai dibuka katanya ada ambil abu (Fen Xiang Hui 分香灰, sistem bagi abu/turun abu dari kelenteng induk) dari kelenteng Kwan Im di Banten, jadi tegasnya  mengaku sebagai cabang dari itu kelenteng kuno.

Masih menurut tuan Phoa Tjeng Kee, dalam tempo belakangan ini, di mana banyak desa-desa tinggal penduduk Tionghoa, orang-orang senang berdirikan cabang-cabang dari Kelenteng Kwan Im di Banten, yang mana mereka biasa minta abunya kemudian di bawa ke desa-desa dan diberdirikan sebuah altar buat sarana puja. Bersama dengan terbangunnya altar pemujaan di tempat tersebut lantas muncul pengaruh atau kekuatan buat menyembuhkan orang sakit yang datang minta pertolongan. Untuk tujuan tersebut, tenaga gaib yang disebut Hudco 佛祖 atau Makco 妈祖 biasanya menyurup ke dalam badan dari salah satu orang.

Di Kota Serang (1937) sekarang ada beberapa orang Tionghoa yang menyediakan dirinya guna dipakai itu kekuasaan gaib (pinjam raga), bersedia buat jadi Tang Sin 童神 (Medium dewa) dan bersiap untuk pergi ke mana-mana memberikan pertolongan atas nama Hudco kepada siapa saja yang sakit. Kira-kira semua ada 7 orang kata tuan Phoa Tjeng Kee, semua sudah dipilih dari orang-orang yang meskipun miskin namun berkelakuan baik, tidak bernoda, hidup bersih, bersedia buat berhadapan dengan kemelaratan, tidak serakah akan uang, sederhana, dan tidak banyak tingkah. Tuan Phoa Tjeng Kee sudah perkenalkan kepada saya beberapa ‘cabang’ (maksudnya Tangsin, di bagian artikel berikutnya disebut sebagai ’Cabang Hidup’), dan pada satu diantaranya adalah seorang Tuan setengah tua yang manis budinya. Saya sudah  bicara lama dari rupa-rupa hal yang berhubungan dengan pekerjaannya buat menolong orang sakit.

Saya dapat tahu (dapat informasi) bahwa itu para ‘Cabang-cabang’ punya mata pencaharian sendiri seperti pedagang kecil, dan kalau meminta pertolongan pada yang sakit, ia tidak boleh meminta uang. Hanya boleh menerima apa yang dikasih buat ongkos jalan ataupun ganti kerugian kapan ia harus pergi jauh sehingga tidak bisa berdagang. Di antaranya ada juga yang memiliki anak istri maupun sanak famili yang harus dirawat.

Pada tempat-tempat di mana orang ada puja abunya Hudco, itu ‘cabang-cabang’ bergantian datang berkunjung seperti dokter yang berkeliling ke desa-desa akan menolong orang sakit. Dengan begitu keliatannya ada diatur satu sistem model baru yang akan menggampangkan orang-orang di tempat yang jauh buat mendapatkan pertolongan Kwan Im Pho Sat di Banten. Tidak perlu buang ongkos dan waktu akan datang ke Serang. Hanya sudah cukup memuja pada itu filial (meja abu) ataupun altar kecil yang tersedia di kampungnya sendiri. Kapan waktu para ‘Cabang hidup’ datang mengunjungi  tempatnya, orang yang ada keperluan boleh langsung meminta pertolongan pada dewi yang langsung menyurup pada badan itu ‘cabang’. Dengan begitu meskipun kelenteng Banten letaknya di tempat sunyi, pekerjaannya menolong orang-orang sakit menjadi luas.

Sudah pernah kejadian kata tuan Phoa Tjeng Kee di salah satu desa di mana ada diberdirikan altar, orang sudah coba main gila akan minta uang bayaran mahal pada yang datang mohon pertolongan, dan seorang yang belum diakui sebagai ‘Cabang hidup’ sudah berlaku pura-pura kerasukan Hudco guna mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Perbuatan ini sudah ketahuan lantaran ada salah satu cabang tulen sudah kemasukan Hudco yang sejati, dan akhirnya beberapa orang dari Serang sudah datang ketempat itu dan akan membasmi habis penipuan itu.

Sampai seberapa jauh cara menolong ini akan dapat memberi kefaedahan dan keringanan kepada orang yang percaya pada kemanjurannya Kwan Im di Banten, inilah saya tidak bisa bilang dan belum sempat selidiki sampai terang. Saya hanya menyampaikan saja apa yang saya dengar secara benar sebagaimana adanya. Saya harap di lain waktu, kapan ada cukup tempo, saya nanti bisa datang lagi ke serang guna melakukan pengusutan yang sempurna. Karena jikalau betul dengan memuja (Hok Say 服侍  kadang disebut Kong Fong 供奉, arti harfiah mengaltarkan dan merawat) abunya Hudco di Banten orang banyak bisa dapat pertolongan di waktu sakit dengan hasil yang lumayan, inilah satu keringanan besar buat penduduk di pedesaan yang jauh dari dokter dan rumah sakit.

 

C. Menolong Lewat Pemberdayaan Masyarakat Tani

Selainnya mengatur pekerjaan mengobati orang dengan kekuatannya Hudco, tuan Phoa Tjeng Kee sudah ambil tindakan buat menolong atas nama Kelenteng Banten, pada orang-orang petani Tionghoa yang sangat melarat di pedesaan supaya ada penghidupan guna menghidupi familinya. Kemelaratan orang-orang tani tersebut banyak rupa-rupa, hingga bisa menahankan lapar, banyak yang terpaksa berkuli kepada orang-orang pribumi yang punya kebun dan sawah, yang juga penghidupannya jauh dari kata bagus. Itu pertolongan dilaksanakan dengan cara seperti ini:

Satu saudagar batik dari Bilangan Karet, Weltevreden (Sekarang sekitar Jakarta Pusat) lantaran sangat berterima kasih atas pertolongan yang sudah ia dapat dari Hudco, telah menyerahkan uang sebesar  f 500 buat beli kembali sepotong tanah dari salah seorang Haji, tanah tersebut dulunya milik kelenteng Banten, tapi secara diam-diam sudah dijual salah satu Bio Kong 廟公(Penjaga kelenteng) beberapa puluh tahun yang lalu. Tetapi tuan Phoa Tjeng Kee menganggap tidak perlu membeli itu sepotong tanah yang tidak ada hasilnya apa-apa dan tidak perlu dipakai, maka itu uang dijadikan kas dana akan menolong atas namanya Hudco kepada orang-orang tani Tionghoa di beberapa desa yang keadaannya sangat menyedihkan.

Di itu desa-desa banyak terdapat tanah kosong yang bisa dijadikan sawah, tetapi orang-orang tani tersebut tidak sanggup kelola karena tidak memiliki perkakas. Oleh karena itu, kas dana lalu di belikan beberapa ekor kerbau, bajak, dan berbagai perabotan tani untuk orang-orang bekerja dengan dipungut sedikit cukai buat menjaga apabila itu kerbau ada yang mati ataupun perlu menukar perkakas yang rusak. Dengan cara seperti ini, sudah ada antara 10-12 keluarga yang pada mulanya kelaparan menjadi dapat hidup sejahtera secara sederhana. Belum lama sewaktu saudagar batik dari Karet datang ke serang, tuan Phoa Tjeng Kee sudah antarkan menemui orang-orang tani yang sudah bisa hidup sejahtera karena uang sumbangannya. Mereka semua bersama anak istri datang menghadap dan berlutut kepada Sang Saudagar menghaturkan terima kasihnya. Saudagar begitu terharu sampai secara inisiatif merogoh sakunya dan  memberi persen kepada itu orang-orang tani seorangnya lima rupiah! Demikian atas namanya dewi Kwan Im sang Goddes of Mercy atau dewi belas kasihan, itu uang sejumlah f 500 dari si saudagar sudah bisa luputkan beberapa belas keluarga yang terdiri dari puluhan jiwa dari kesengsaraan dan kelaparan.

Sayang sekali tidak memiliki cukup tempo untuk tinggal lebih lama di Serang. Hingga tidak bisa terima undangannya Tuan Phoa Tjeng Kee buat pergi bertemu orang-orang tani yang sekarang bisa hidup berkat tunjangan kas dana kelenteng Kwan Im Banten. Inilah pekerjaan amal yang sesungguhnya cocok sekali dengan sifat Kwan Im yang dilakukan diam-diam tanpa banyak ribut dan yang ditolong adalah segolongan orang-orang yang menerima kesengsaraan tanpa mengeluh dan tidak bisa mendapat bantuan dari Kas Dana Pengangguran maupun gerakan amal lain yang tidak sempat perhatikan keadaan di desa-desa.

 

D. Pandangan Kwee Tek Hoay Tentang Mukzizat

Soal menolong orang sakit, saya percaya di alam ini ada satu tenaga kehidupan yang memberi kesuburan dan kekuatan, hingga siapa saja yang sujud dan percaya betul bisa gunakan itu tenaga buat menolong orang-orang sakit yang belum tiba waktunya meninggal. Itu tenaga kehidupan ada bertempat di mana-mana, bahkan di dalam badannya manusia juga. Hingga siapa rawat dan bersihkan diri dengan melakukan pantangan guna mendapat kesucian, ia pun bisa menggunakan kekuatan dalam tubuhnya buat menyembuhkan seperti yang dilakukan golongan magnetiseur atau dukun yang menyembuhkan dengan hanya air yang di doakan. Dalam kelenteng, seperti juga pada keramat-keramat yang banyak orang bersembahyang dan sujudkan, itu tenaga kehidupan bisa berkumpul dan unjuk kemanjuran hingga memiliki kekuatan untuk menolong. Itu wujud yang orang punya seperti Dewaki, Kwan Im, Mak Co, Maria, Nyi Loro Kidul, atau siapa saja namanya, cuma semacam keran di belakang mana ada berkumpul itu air dari sumber tenaga kehidupan, yang lantas akan mengucur kapan ketika keran itu diputar (dengan orang sungguh percaya dan sujud meminta pertolongan).

Tetapi sudah tentu kekuatan itu memiliki pengaruh yang terbatas. Tidak ada kekuasaan yang bisa mengubah manusia punya karma. dan itu Hukum besar dari alam semesta yang menetapkan bahwa apa yang terlahir harus mati, tidak bisa ditentang.           Juga jangan lupa manusia punya keinginan dan permintaan yang tidak ada habisnya dan tidak mengenal batas. Hingga tentu saja itu kekuatan suci yang dinamakan Tuhan, Allah, Maria, Yesus Kristus, Kwan Im, Ma Co Poh, atau apa saja yang dianggap berkuasa besar, tidak bisa nanti diluluskan se anteronya, biar bagaimanapun  orang memuja, memohon, dan mengeluh sambil meratap. Maka pertolongan yang didapat dengan jalan meminta-minta Cuma bersifat sementara waktu, tidak bisa kekal, dan sesudahnya kita orang mau atau tidak harus mengakui cuma dengan mengikuti Buddha punya pelajaran buat lepaskan keinginan dan tindas hawa nafsu supaya terbebas dari ikatan dunia. Barulah manusia bisa mendapatkan ketentraman atau keberuntungan kekal.

Lantaran sudah telat, ini artikel saya berhentikan sampai di sini saja. Saya harap di tanggal 4 maret saya bisa sambung artikel ini dengan bicara lebih lanjut soal mengobati secara gaib dan lain-lain hal yang berhubungan dengan kelenteng Kwan Im di Banten. Selamat Malam.

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH).
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor).
Butuh bantuan?