Apakah Indonesia Menjadi Negara Maju Jika Mayoritas Beragama Buddha?

Home » Artikel » Apakah Indonesia Menjadi Negara Maju Jika Mayoritas Beragama Buddha?

Dilihat

Dilihat : 62 Kali

Pengunjung

  • 16
  • 0
  • 17
  • 30,757
MEI 1

Oleh: Gifari Andika Ferisqo 方诸德

 

Sebelumnya tulisan ini tidak bermaksud untuk mengajak bersikap pesimis terhadap negara Indonesia. Namun lebih bersikap realistis dengan berdasarkan pengamatan secara langsung maupun dari berbagai penelitian yang pernah dibaca sebelumnya oleh penulis.

Namun tidak bisa menafikan fakta juga bahwa negara-negara yang termasuk ke dalam budaya Sinosfer atau negara yang rakyatnya ‘terikat’ dengan budaya dan nilai-nilai Konfusianisme (儒教) cenderung lebih maju atau berkembang lebih pesat dan cepat jika masih dikategorikan sebagai negara berkembang.

Tidak ada yang lebih kuat daripada kebudayaan itu sendiri, bahkan agama pun bisa disesuaikan supaya bisa diterima dengan kebudayaan suatu bangsa. Karena jika mau jujur, menggunakan sistem apapun untuk berbagai aspek sosial seperti politik, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

Jika pola pikir dan moralnya buruk hasilnya akan tetap sama saja atau maksimal jalan di tempat. Hampir semua orang sepakat bahwa pendidikan yang maju akan membawa negara menjadi maju dan rakyat sejahtera. Maka tulisan ini juga akan menekankan hubungan antara budaya, agama, pendidikan dan dampak pada kemajuan suatu negara. 

 

Vietnam dan Singapura, Contoh Negara Asia Tenggara yang Berkembang Pesat Berkat Nilai Budaya Konfusianisme (儒教)

Vietnam memiliki kebudayaan menghargai pendidikan yang berakar dari Konfusianisme (儒教), meskipun Konfusianisme (儒教) tidak sekuat Buddhisme di Vietnam, namun tetap ada pengaruhnya yang cukup kuat di sana. Pengaruh kuatnya budaya pendidikan ini tentu berasal dari ajaran Konfusianisme (儒教), yaitu dari kitab Lúnyǔ (論語), 7-2 dan 7-3, yang jika dipersingkat maknanya berarti “tidak ada alasan untuk berhenti belajar meski sudah berusia tua dan baru selesai belajar di kehidupan sekarang jika sudah mati”.

Penghormatan terhadap Konfusius (孔子) juga terwujud dengan dibangunnya kuil Konfusius (孔子) yang bernama Văn Miếu yang didirikan pada tahun 1070 oleh Kaisar Lý Thánh Tông dan kemudian menjadi universitas di zamannya yaitu Quốc Tử Giám. Bayangkan, di tahun tersebut di Kerajaan Mataram Kuno (ꦩꦄꦠꦄꦫꦄꦩ) saat itu masih sibuk dengan konflik kekuasaan antar saudara kandung dan wanita serta upeti, Vietnam sudah lebih berpikir maju ke depan dengan membentuk sistem pendidikan yang mumpuni pada zamannya untuk kemajuan dan kesejahteraan negerinya.

Sedangkan di Singapura yang mayoritas adalah Tionghoa (76,84%) dan umumnya menganut Buddhis Mahayana atau Tridharma (三教) tentu sudah sangat melekat dengan Konfusianisme (儒教), atau meski jika ada orang Singapura yang sudah tidak beragama Buddha lagi, nilai-nilai Konfusianisme (儒教) sudah mendarah daging.

Sejak 1971 Konfusianisme (儒教) diekstrak menjadi The Shared Values yang berdasarkan pada nilai rén/kemanusiaan () dan xìng/moral () dikembangkan menjadi identitas nasional dan menjadi dasar bagi kehidupan bernegara dan bermasyarakat di Singapura.

Penekanan pada sikap-sikap pembenahan dan pembentukan kualitas diri pada masyarakat penganut budaya Konfusianisme (儒教) di Singapura untuk selalu tekun dan serius guna mencapai hasil kerja yang sempurna, termasuk dalam bidang ekonomi dan politik sebagai pondasi keberhasilan Singapura dalam bidang ekonomi dan diplomasi dunia sehingga negaranya menjadi makmur dan disegani. 

Budaya Konfusianisme (儒教) yang dipraktikkan di Singapura juga menekankan mengenai bagaimana hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya yaitu bagaimana rakyat dalam bersikap terhadap pemerintah serta bagaimana pemerintah bersikap terhadap rakyatnya. Dari sini tampak minim sekali budaya feodal yang tidak seperti di Indonesia yang mana budaya feodal masih sangat kuat mengakar dan diadaptasikan ke dalam sistem demokrasi.

Sedangkan di Singapura adalah sebaliknya, budaya Konfusianisme (儒教) diadaptasikan ke dalam sistem demokrasi, karena pada dasarnya apapun sistem negaranya nilai budaya Konfusianisme (儒教) bisa beradaptasi seperti air dalam bentuk wadah apapun.

 

Sistem Meritokrasi Warisan Konfusianisme (儒教)

Meritokrasi adalah sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan dari kekayaan, senioritas, atau berdasarkan keturunan/hubungan kekerabatan, dan sejenisnya yang sangat wajar di Indonesia.

Sejarah mengenai sistem meritokrasi sudah berlangsung sejak zaman Dinasti Qin (秦朝; 221 – 206 SM) untuk mengangkat pegawai negeri melalui ujian dan disempurnakan di zaman Dinasti Song (宋朝; 960 – 1279) dimana saat itu dari dinasti ke dinasti nilai budaya Konfusianisme (儒教) dijalankan beriringan dengan pemerintahan berdasarkan dari kitab Shāng Shū (尚書) yang berisi tentang pejabat dan pemimpin negara yang ideal untuk kesejahteraan negeri

Sistem ini tidak mendiskriminasi etnis, agama, atau keturunan, selama orang tersebut kompeten dan ahli di bidang tersebut maka akan mencapai tujuan. Sistem ini juga yang menjadikan negara-negara penganut budaya Konfusianisme (儒教) menjadi sangat kompetitif. Karena bila tidak bekerja keras terutama di bidang yang dikuasai maka akan tertinggal.

Sedangkan Indonesia sangat tidak mengenal sistem meritokrasi karena juga tidak mengenal budaya Konfusianisme (儒教), masih berlakunya spoil system yang merupakan kebalikan dari merit system. Spoil system atau sering disebut sebagai patronage system adalah sistem balas jasa dimana yang terpilih memberikan imbalan kepada pendukungnya.

Dalam spoil system ini artinya pengangkatan dan pemberhentian pejabat tidak didasari pada prinsip merit namun diintervensi dan kepentingan-kepentingan politik yang mana budaya ini berasal dari budaya feodal beberapa kerajaan-kerajaan zaman dahulu, sehingga tujuan untuk berkembang pesat mencapai kesejahteraan yang direncanakan seperti di negara penganut budaya Konfusianisme (儒教) hanya akan menjadi mimpi di tengah hari bolong.

 

Penyakit di Negara Berbudaya Indosfer

Budaya Indosfer adalah lawan dari budaya Sinosfer, budaya Indosfer terkenal anti entrepreneurial dan lebih condong ke oligarki, nepotisme berat, enggan terhadap perbedaan, memiliki sifat crab mentalities, feodal, terbiasa dengan kecurangan, dan sebagainya. Budaya seperti ini bisa ditemukan dikebanyakan negara Indosfer termasuk Indonesia (mayoritas etnis Jawa 40,22%; dipengaruhi kuat budaya India).

Budaya Indosfer bukan untuk orang sukses melainkan untuk orang pensiun. Indonesia sendiri memiliki banyak budaya yang diadopsi dari India, dan beberapa sifat jelek umum masyarakat India banyak yang terbawa ke Indonesia seperti pernikahan dini, menggosip, pemalas, tidak mau antre, korupsi, doyan sogokan, tidak disiplin waktu, tidak terlalu mengutamakan pendidikan dan lain sebagainya.  

Sangat sulit untuk mengubah perilaku masyarakat Indonesia supaya menjadi masyarakat yang maju dan dengan basis masyarakat yang ditopang entrepreneurship, dan cenderung lebih senang menjadi tentara, polisi, pegawai negeri atau pejabat negara untuk kemudian dipamerkan ke khalayak umum dan merasa mendominasi. Karena memang budaya yang diadopsi masyarakat Indonesia adalah budaya hegemoni seperti di India yang feodal, oligarkis dan sulit untuk diajak menjadi negara maju.

Jadi, bisa dikatakan hampir percuma melakukan berbagai daya dan upaya untuk masyarakat Indonesia supaya maju. Kecuali, masyarakat Indonesia itu sendiri membuang budaya lamanya dan menggantinya dengan budaya meritokrasi seperti yang diajarkan Konfusianisme ataupun ajaran lain yang mengajarkan meritokrasi, itupun jika ingin maju.

 

Kesimpulan 

Bagaimanapun, meski seandainya agama Buddha menjadi mayoritas di Indonesia namun diperkirakan akan tetap sangat sulit untuk menjadi negara maju karena tidak dikenalnya ajaran Konfusianisme (儒教) yang bersinkretis dengan Buddhisme sejak lama sebelum terbentuknya negara Indonesia (era Hindu-Buddha), dan faktor budaya Indosfer yang telah melekat sangat kuat telah berlawanan dengan budaya Sinosfer yang hampir semuanya adalah anti-tesis dari budaya Indosfer.

Serta kerumitan lainnya adalah secara tidak tertulis ajaran Konfusianisme (儒教) adalah ajaran yang lumayan etnosentris dalam artian ada unsur budaya dan etnis dalam ajaran tersebut yang ‘hanya cocok’ untuk keturunan Asia Timur dan tidak bersifat ekspansif sehingga hanya diajarkan secara turun-temurun, sehingga tidak terpikirkan oleh orang Tionghoa zaman dulu untuk menyebarkannya ke luar keturunan orang Asia Timur.

Selain itu, Konfusianisme (儒教) sebagai sebuah agama () dan juga sebagai filsafat () dan sekaligus sebaliknya lebih memfokuskan filsafatnya kepada apa yang ada di bumi, seperti moral, etika, dan alam. Inilah yang semakin mempengaruhi pemikiran orang Tionghoa atau Asia Timur lainnya bahwa sebenarnya yang terpenting adalah apa yang dilakukan manusia di bumi, bukan berdasarkan apa tanda-tanda yang ada di langit dalam melakukan sesuatu, dan ini juga yang mempengaruhi bagaimana untuk bernegara yang baik. 

Lagi pula, Buddhisme sejauh ini terbagi kepada dua pandangan besar: (1) Ajaran Theravada yang lebih bertujuan untuk mengenal diri sendiri, asketisme, dan mencapai Nirvana (निर्वाण); sedangkan (2) Ajaran Mahayana yang lebih menitikberatkan pada sosialisme dunia yang bersifat demi kebahagiaan bersama semua mahluk (engage, keterlibatan sosial).

Meski sudah ada sebagian besar kaum Buddhis yang sudah mulai mengkampanyekan Engage Buddhism, hanya saja terkadang aksi Engage tidak keluar, lebih pada upaya individual/kelompok, atau bahkan ada yang hanya berkutat pada ritual saja. Pada ujungnya pertama kali yang paling mudah dibenahi adalah pendidikan, dalam hànzì () kata (jiào) yang berarti ‘mengajar’, ada hànzì () yang menyimbolkan kayu di sebelah kanan dan hànzì () anak di sebelah kiri bawah. Sehingga, (jiào) atau mengajar secara tersirat memiliki arti bahwa pendidikan harus dengan menggunakan upaya keras.

Dengan kata lain, bukan pengaruh dari agamanya, tetapi pengaruh dari nilai Budaya apa yang dipakai untuk membuat masyarakat menjadi produktif dan berinovasi.

Memang harus butuh pengorbanan untuk menjadi negara maju dan kalau bisa harus mementingkan kerja keras sampai kelelahan, bahkan melupakan sejenak kebahagiaan serta juga melupakan mental health issue seperti anak Jaksel (Jakarta Selatan) yang sangat tidak cocok dengan budaya keturunan Asia Timur (Tionghoa) di Indonesia. So, be pragmatic!

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)
  • BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA)

 

Daftar Pustaka

  • Kaplan, R. D. (2015, February 6). Asia’s Rise Is Rooted in Confucian Values. Wall Street Journal. 
  • Mahbubani, K. (2015, August 4). Why Singapore Is The World’s Most Successful Society. Huffington Post. 
  • https://borgenproject.org/7-facts-about-education-in-vietnam/
  • Cheng Hanbang. 1991. “Confucian Ethics and Moral Education of Contemporary Students”, dalam Krieger, Silke, and Trautzettel, Rolf, (ed.), Confucianism and the Modernization of China, Mainz: Hase & Koehler Verlag.
  • Lin Yutang. 2004. Penguasa Bijak: Berguru pada Demokrasi Cina Kuno, Jakarta: Curiosita.
  • Gambar: https://kissanak.wordpress.com/2012/01/13/kejayaan-nusantara-kuno/
Butuh bantuan?