Berputar di Lingkungan Yang Tidak Mendukung Untuk Berkembang

Home » Artikel » Berputar di Lingkungan Yang Tidak Mendukung Untuk Berkembang

Dilihat

Dilihat : 12 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 50
  • 234
  • 287,424
Pic 1 Berputar di Lingkungan

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd.

 

Beberapa waktu ini (Juli 2026), jagad dunia maya digemparkan lagu ‘Sakedung Kading’ (“Eh sekedung keding, Pak dung ding dung pak dung king. …), lagu ini ramai berseliweran di berbagai media sosial, terutama TikTok, Facebook, maupun Instagram. Lirik dari lagu inipun tidak memiliki makna khusus. Rangkaian bunyi dari lagu tersebut hanyalah onomatope (kata tiruan bunyi yang meniru suara hewan, benda, atau aktivitas manusia) yang sengaja dibuat agar terdengar catchy dan mudah diingat.

Beberapa lagu brainrot dengan tema onomatope sepenuhnya ataupun sebagian lainnya yang sempat viral seperti ‘Kicau mania’ tahun 2026 (Kicau, kicau, kicaumania hm. Kicau, kicau, kicaumania hm. …); ‘Dame Un Grr’ tahun 2025 (Dame un grrr ¿un qué? Un grrr ¿un qué, un qué? Un grrr ¿un qué? Un grrr). Beberapa lagu berlirik viral yang juga bernuansa Brainrot seperti Jingle ‘OBH Combi Sachet’ tahun 2026 (OBH Combi Sachet. uhuk-uhuk, kemasan lebih sat-set hmmm ehemmm. …). Garam dan madu’ tahun 2025 (Sakit dada ku, ku mulai merindu. Kubayangkan jika kamu tidur di sampingku. Di malam yang semu, pejamkan mataku. Kubayangkan tubuhmu jika di pelukanku …); ‘Stecu-stecu’ tahun 2025 (Stecu stecu stelan cuek baru malu Adu ade ini mau juga abang yang rayu …), lagu-lagu populer yang ada, identik gampang terdengar dan terngiang-ngiang di dalam kepala. Kondisi ini dinamai Brainrot.

Istilah Brainrot sendiri merujuk pada fenomena penurunan kemampuan mental, konsentrasi, dan cara berpikir kritis seseorang karena terlalu lama melihat konten internet yang tidak penting atau kurang bermutu. Bukan hanya terlalu sering mendengar lagu-lagu yang ‘catchy’ saja, Brainrot juga bisa terjadi pada aktifitas-aktifitas banal (rendahan) seperti terlalu asyik menggulir (scrolling) video pendek di media sosial seperti TikTok atau Instagram Reels. Fenomena tersebut memicu kesadaran manusia secara kolektif terjebak berputar-putar (berosilasi, dalam wacana metamodern, Vermeulen et al., 2017) pada budaya rendahan yang minim literasi, minim daya kritis, minim daya transendental (bersifat imanen).

Bila kita amati, kesadaran manusia akan sanggup mengeluarkan daya kritisnya dan daya ciptanya, ketika kesadaran pikirannya semakin transendental (Piliang, 2020), dalam keadaan transendental manusia mampu memikirkan peluang dan menciptakan hal-hal yang belum terjadi, bahkan yang sebelumnya terkesan mustahil untuk terjadi. Manusia bisa mencapai kesadaran transendental saat mampu melakukan metakognisi, dengan jalan mengambil jarak dari dunia dan merenung (merefleksikan) secara mendalam segala fenomena yang dialaminya, termasuk di dalamnya mengaktualisasikan dirinya dengan berbagai cara-aktifitas perenungan mendalam seperti membaca, berdialektika dan merenungkannya, mendengar, atau mengkonsumsi konten-konten yang informatif.

Dalam pemikiran filosofisnya, Buddha mengajarkan ada tiga jalan untuk meningkatkan kebijaksanaan: Dengan belajar, dengan merenung, dan dengan bermeditasi (DN33 Sangiti Sutta, Suttacentral, 2016). Artinya, jika manusia mau berkembang, ia harus sering berada di dalam ruang-ruang yang mampu meningkatkan kebijaksanaan, masalahnya apakah media sosial sudah ramah kepada hal tersebut? Media sosial kini diisi konten-konten brainrot yang cenderung banal, tidak kontemplatif, karena media sosial kini cenderung dibangun pada logika hasrat, artinya sebuah konten dianggap bagus apabila mampu bersifat ‘catchy’ sehingga semua konten cenderung dibangun atas paradigma ‘algoritmasentris’; Kini ruang media sosial cenderung bersifat ‘Anything Goes – Segalanya boleh’ (Piliang, 2011), di mana sekat-sekat antara konten transendense dan imanen menjadi semakin nyata dan nampak. Kini hal-hal transendens bisa terdapat di dalam hal-hal yang bersifat imanen, bahkan bisa juga bercampur antara keduanya: Arca Buddha di Bar, rupang ‘The Demonic Buddha‘, acara pemberkatan pernikahan sambil pamer ‘Belahan’, atau konkretnya seperti politisasi agama (transpolitika-agama, Piliang, 2005) dan komodifikasi agama, sebagaimana agama dipakai untuk meninabobokan kelas pekerja dalam perspektif Marxisme, kini agama di era media sosial dipakai sebagai alat ‘politisasi citra’ untuk berpolitik bahkan untuk berkuasa.

Kembali ke dunia media sosial dengan segala citraan imagologinya, kesalehan seseorang beragama kini tidak lagi dianggap sebagai bakti dan sujudnya kepada nilai-nilai luhur ketuhanan atau kepada sosok tuhan sendiri, kesalehan seseorang kini dijual untuk keperluan eksposur (keterpaparan) algoritma, niat awal memakai media sosial untuk membangun dan mempropagasi ajaran agama, kini malah berbalik sekedar ‘menjual kesalehan’; Segala sujud, atribut keagamaan, ibadah yang dipakai dalam keagamaan kini dianggap sebagai komoditas yang bisa ditukar dengan engagement (interaksi keterlibatan) dan eksposuritas media sosial. Agen/Tokoh agama yang mempergunakan citra keagamaan bergerak menjadi KOL (Key Opinion Leader) dan tanpa disadari para KOL ini mampu membentuk sebuah trend di media sosial.

Menariknya setiap bidang ada KOL nya: Agama, binaraga, selebritas, kesehatan, anak muda, pergaulan, otomotif, sepak bola, bahasa, dan sebagainya. Tidak ada yang salah dengan status eksistensial seseorang sebagai KOL, akan tetapi eksistensi seorang KOL juga mungkin saja terjebak pada logika hasrat dan logika algoritma, di mana kecepatan produksi konten menjadi bahan bakarnya. Resiko mutlak dan paradoks dari kecepatan produksi (hiperproduksi) adalah apa yang mereka produksi menjadi ‘Banal’, selera rendahan, bahkan cenderung sebatas Pastiche (Peniruan dan fabrikasi kembali), minim akan makna dan minim akan ilmu (Piliang, 2012).

Kita sering mendengar beragam narasi keluhan di media sosial: Budaya literasi kita rendah, IQ Rendah 78, gagal berpikir, ataupun keluhan-keluhan lainnya, hal itu terjadi karena kita hanya berputar-putar (berosilasi) dalam jebakan samsara algoritma, algoritma kini bagaikan lingkaran kelahiran dan kematian (samsara) yang memunculkan apa yang baru dan memfabrikasi yang lawas, dengan kemasan baru tanpa penambahan isi sama sekali, kita masuk di ruang penuh keterpaparan semata, hampa dari konten-konten ‘bergizi dan berdaging’ pengetahuan, dan untuk siapa kebodohan ini? Apakah untuk melanggengkan kekuasaan elit politik tertentu? Boleh saja kita berandai-andai demikian.

Bagi Tan Malaka, penjajah melanggengkan kekuasaan dengan menanamkan 3 hal (Malaka, 1943): logika mistika, kepasrahan pada nasib, serta membatasi akses ilmu pengetahuan agar masyarakat tetap bodoh dan mudah dikendalikan. Banyak penulis era modern yang mengkritisi hal ini seperti Tere Liye dalam bukunya ‘Teruslah Bodoh, Jangan Pintar’ , karena bagi kita yang belajar Buddhisme kebodohan (Moha) adalah sumber penderitaan yang seharusnya dihancurkan, tetapi bagi pemegang kekuasaan, kebodohan seringkali sebagai komoditas yang terus dipelihara agar orang terus terjebak pada kemiskinan (baik materi, wacana, maupun literasi) sehingga kebodohan dipandang sebagai ‘alat untuk melanggengkan kekuasaan’. Kini semua tergantung kita, apakah kita mau berputar-putar saja mengkonsumsi dan menikmati konten-konten rendahan, ataupun mau bertransformasi mengatasi kebodohan. Minimal, kita perlu berjuang seperti Buddha, menyalakan cahaya kebijaksanaan diri sendiri, bukan?

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN atau DENGAN SCAN QRIS BERIKUT INI:

MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

DAFTAR PUSTAKA

Malaka, T. (1943). MADILOG Materialisme Dialektika dan Logika (Koleksi Ro). Econarch Institute.

Piliang, Y. A. (2005). Transpolitika: dinamika politik di dalam era virtualitas. Jalasutra.

Piliang, Y. A. (2011). Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi. PT Mizan Publika.

Piliang, Y. A. (2012). Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna. MATAHARI.

Piliang, Y. A. (2020). Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan (A. Adlin (ed.); 2020th ed.). Cantrik Pustaka.

Suttacentral. (2016). Dīghanikaya. https://suttacentral.net/pitaka/sutta/long?lang=en

Vermeulen, T., Akker, R. Van Den, Vermeulen, T., & Akker, R. Van Den. (2017). Notes on metamodernism Notes on metamodernism. Journal of Aesthetics & Culture, 2(2010). https://doi.org/10.3402/jac.v2i0.5677

Gambar: Tiago Simoes (2018) https://www.dharmawheel.net/viewtopic.php?t=27560.

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?