Bersahabat dan Merawat Alam: Buddhadharma Sebagai Ecological Religious

Home » Artikel » Bersahabat dan Merawat Alam: Buddhadharma Sebagai Ecological Religious

Dilihat

Dilihat : 2 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
13 bersahabat alam pic

Oleh: Jo Priastana

 

If you truly love nature, you will find beauty everywhere.”

(Vincent van Gogh, Pelukis)

Seluruh alam ini menurut ajaran Buddha disebut Sankhata Dhamma, yaitu ciptaan yang timbul dari sebab-sebab yang terdahulu dan sifatnya tidak kekal (sankhara). Ia dikatakan Sankhata Dhamma karena adanya tidak mutlak, ia timbul, berubah dan lenyap. Alam semesta ini adalah suatu proses kenyataan yang selalu menjadi (lahir) dan berubah dari suatu keadaan menjadi keadaan yang lain dan bekerja secara berurutan.

Dengan demikian sifat alam semesta itu anicca atau anitya (tidak kekal), mengalami dukkha (berubah), sebagaimana yang tergambar dalam terjadinya, gunung api meletus, gempa bumi, banjir dan longsor maupun pemanasan global dan perubahan iklim. Namun begitu, gempa bumi dan bencana alam lainnya mungkin akan dapat diperlambat datangnya bila manusia juga dapat memperlakukan alam dengan sebaiknya, serta mempelajari faktor-faktor penyebabnya yang mungkin saja disebabkan juga oleh ulah dan tindakan manusia.

Pandangan manusia terhadap alam yang sebaiknya adalah pandangan yang tidak bersifat linier yakni tidak memperlakukan alam hanya sebagai obyek eksploitasi ambisi keserakahannya. Pandangan yang bersifat linier itu harus digantikan dengan pandangan yang bersifat holistik, karena sesungguhnya manusia dan alam itu ada saling berkaitan dan mendukung satu sama lain.

 

Kesatuan Semesta Alam

Segalanya berada di bawah alam semesta yang sama. Segala yang berada memerlukan dan membutuhkan satu sama lain, saling berkait dan saling mendukung. Apa yang terjadi dan terdapat di dalam suatu alam akan mendukung kehidupan di alam lainnya atau di alam berikutnya. Prinsip hukum sebab-akibat yang saling tergantung (pratitya samutpada) menegaskan kesaling-terkaitan tersebut: “that is this, this is that.”

Ketika bumi menggeliatkan dirinya dalam bencana alam, maka saatnya untuk menumbuhkan pandangan yang holistik terhadap kehidupan dan alam semesta. Sebagai sesama penghuni angkasa raya ini, saatnya untuk bertindak dan tumbuh bersama alam, dengan bersahabat dan merawat alam.

Kehidupan manusia dengan makhluk hidup lainnya di dalam alam semesta ini merupakan suatu kesatuan yang saling terkait, sebagaimana yang tercermin dalam kosmologi Buddhis. Menurut agama Buddha, alam (loka) yang terbedakan dalam sankharaloka, sattaloka dan okasaloka mencerminkan satu kesatuan semesta alam.

Sankharaloka meliputi alam tanpa kehendak seperti batu-batu, biji-biji logam dan alam hayat yang tanpa kehendak seperti buah pikiran, citta, gagasan, peradaban, kebudayaan. Alam ini sangat berkaitan dengan kehidupan manusia dimana manusia membutuhkan berbagai jenis benda-benda mati untuk menopang kehidupannya. 

Begitu pula dengan alam sattaloka yang merupakan alam bagi makhluk hidup yang mempunyai kehendak, mulai dari makhluk yang rendah sampai makhluk yang tinggi, baik yang nampak berwujud maupun tidak berwujud, seperti manusia, setan, dewa dan brahma, sebagaimana yang terkelompok dalam kamaloka, rupaloka, dan arupaloka.

Kamaloka meliputi lima alam dewata yang merupakan alam bahagia dan selebihnya adalah satu jagad manusia, satu dunia hewan, satu dunia makhluk yang tidak bahagia, satu dunia setan dan satu daerah neraka. Alam-alam Kamaloka ini jelas saling terkait satu sama lain. 

Di dalam alam ini juga terdapat bahan-bahan kasar dan unsur-unsur alam seperti: tanah, air, api, udara, yang dialami oleh makhluk-makhluk jasmani (berbadan kasar), serta terletak neraka yang dingin dan panas dimana di atasnya terletak kepingan bumi dengan daratan dan lautan yang terkumpul di sekeliling gunung Meru, tempat hidup binatang, manusia, hantu dan roh-roh halus yang jahat.

Di sekitar Meru itu beredarlah matahari, bulan dan bintang-bintang. Di atas Meru tinggal beberapa golongan Dewa, sedangkan Dewa yang lain berada di alam yang tinggi, di dalam istana yang melayang-layang.  

Rupaloka yang merupakan alam bentuk, yang terdiri dari 16 alam Brahma juga bisa dicapai dengan mengheningkan cipta dalam samadi oleh manusia.  Sementara arupaloka yang merupakan alam tanpa bentuk yaitu alam Brahma yang tidak bertubuh yang hidup setelah mencapai tingkatan keempat dalam samadi, meliputi alam bukan persepsi dan bukan non-persepsi, alam pengetahuan kekosongan, alam kesadaran yang tak terhingga dan alam ketidakberhinggaan ruang.

Alam arupaloka ini sangat berkaitan dengan manusia, karena menyangkut pencapaian manusia dalam meditasinya. Ini menunjukkan bahwa semua yang berada dalam alam-alam tersebut dengan beragam jenis makhluknya saling terkait dan berpenetrasi satu sama lain, dan tidak terlepas dari Okasaloka.

Kehidupan makhluk seperti: alam bumi tempat kehidupan manusia dan tempat benda-benda mati, seperti: batu, besi dan sebagainya maupun alam dewa, alam neraka sebagai tempat makhluk rendah yang menderita, maupun alam brahma baik rupaloka dan arupaloka saling terkait, saling menyebab dan mengakibatkan satu sama lain dan berada dalam bentangan okasaloka, cakrawala, angkasa-raya yang tak terbatas yang menampung segalanya di dalam kekosongannya.

Dunia dan Kehidupan

            Angkasa raya menampung dunia dan kehidupan. Dalam perspektif filsafat Buddhis, dunia dan kehidupan, atau segala apa saja (everything) yang berada di dalam angkasa raya (okassa loka) itu dapat dikelompokkan dalam empat level, yaitu: eksistensial, moralitas, kosmologis, dan ontologis.

Secara eksistensial Buddhisme menyatakan bahwa segenap kehidupan makhluk hidup terpaut oleh kondisinya yang berubah dan tidak kekal, seperti lahir mengalami usia tua, penderitaan dan kematian. Terbebas dari ciri-ciri yang eksistensial ini menjadi tujuan akhir umat Buddha: mengenal hakekat penderitaan dan mengerti tentang sebab dan lenyapnya.

Dengan mengenali bahwa segenap makhluk hidup tidak lepas dari ciri-ciri eksistensial tersebut, maka sesungguhnya segenap makhluk di angkasa raya ini adalah sama-sama sependeritaan dan sepenanggungan. Untuk itu, sikap yang patut ditumbuhkan bagi sesama makhluk yang terlibat dalam penderitaan eksistensial ini tiada lain adalah sikap kasih sayang universal dan sikap empati sebagaimana yang dicontohkan oleh para Bodhisattva.

Bodhisattva dengan doa universalnya, semoga semua makhluk hidup berbahagia, bebas dari penderitaan, menaruh perhatian yang mendalam terhadap dunia kehidupan atau lingkungan hidup secara total dan menyeluruh. Tidak hanya terbatas pada makhluk manusia, tapi juga terhadap eksistensi lainnya seperti hewan, tumbuhan dan benda-benda inorganik. Karena sikap empati yang dalam terhadap lingkungan hidup secara total inilah, maka Buddhisme juga dikenal sebagai ecological religius, agama yang akrab, ramah dan bersahabat dengan lingkungan.

Setiap eksistensi kehidupan khususnya makhluk-makhluk hidup berkaitan dengan dimensi moralitas dan kosmologis. Keberadaan makhluk hidup dalam alam kehidupannya bersumber pada level moralitasnya yang merupakan kontinuitas karma kehidupannya. Tetapi, meski terdapat suatu dalam hirarki moralitas, perbedaan diantara berbagai bentuk kehidupan itu bukanlah dalam arti absolut tetapi relatif.

Setiap bentuk kehidupan dapat berkembang dan beralih menjadi bentuk kehidupan lainnya dan menempati alam-alam kehidupannya lainnya, sampai tercapainya pembebasan spiritual nirvana. Setiap bentuk kehidupan, baik pepohonan, binatang dan jenis-jenis makhluk-makhluk lainnya memiliki potensi yang sama untuk mencapai pencerahan. Setiap makhluk memiliki kesempatan yang sama mencapai kesempurnaan Buddha-nya, dan setiap eksistensi apa pun juga memiliki benih-benih kebuddhaan (Buddhanature).

Secara ontologis setiap makhluk apa pun juga memiliki Buddha-nature, benih-benih kebuddhaan, atau dharma-nature (unsur-dharma), seperti misalnya buddhakaya, tathagatagarbha, dharmakaya, dharmadhatu. Buddhis merupakan agama yang meliputi alam semesta, memandang segenap bentuk kehidupan di dalam semesta ini memiliki benih-benih kehidupan sempurna, atau benih-benih kebudhaan. Karenanya secara spiritual setiap makhluk sama-sama dapat merealisasikan kesempurnaan spiritualnya, mencapai pencapaian spiritual tertinggi menjadi Buddha.

 

Saling Bergantung, Saling Berkaitan

Sebagai makhluk yang sama-sama memiliki potensi spiritual, maka makhluk-makhluk di berbagai alam kehidupan itu hidup memerlukan satu sama lain dan saling tergantung. Semua makhluk sama-sama saling bertanggung jawab terhadap alam kehidupannya.

Hukum sebab-musabab yang saling tergantung (pratityasamutpada) memperlihatkan bahwa tiada bentuk kehidupan di alam semesta ini yang berdiri sendiri, segalanya ada dan tumbuh saling tergantung. Sebagaimana adanya ini, maka itu ada, sebagaimana adanya itu maka ini ada, “this is that,  that is this is”.

Dalam menyikapi segenap bentuk kehidupan yang keberadaannya saling tergantung ini, maka sikap saling memberikan pertolongan satu sama lain sudah menjadi kepantasan yang harus diwujudkan segenap makhluk. Untuk itulah, Buddhadharma menekankan agar setiap makhluk Bodhisattva wajib mewujudkan Buddha-nature-nya dalam sikap welas asih, kasih sayang karuna terhadap sesamanya terutama kepada mereka yang menderita.

Buddhadharma mencerminkan suatu pandangan hidup tentang kehidupan makhluk yang saling berkaitan satu sama lain dan menghormati alam. Sekaligus Buddhadharma memiliki dasar etika berupa sikap empati dan kasih sayang, hormat terhadap segala beragam bentuk-bentuk kehidupan dan lingkungan alamnya. 

Seluruh kehidupan di alam semesta, yang tertampung di dalam angkasa raya ini tumbuh dengan saling kooperatif, saling bekerjasama. Matahari, bulan, dan bintang-bintang dan bumi dengan makhluk-makhluk hidupnya berada bersama dan saling membagi, saling membutuhkan, saling memerlukan satu sama lain.

Begitulah Buddhadharma dikenal sebagai “ecology religious”.  Di tengah bencana gempa bumi yang terjadi ini, saatnya kini kita perlu bersahabat dengan alam dan hidup akrab dengan segala bentuk-bentuk kehidupan lainnya dengan saling menghormati dan membantu satu sama lain. Di bawah angkasa raya ini segalanya hidup dalam suatu kesatuan jejaring yang saling terkait, bahwa alam semesta ini adalah rumah kita bersama.

***

Butuh bantuan?