Bhiksu Thudong dan Pesan Kekinian

Home » Artikel » Bhiksu Thudong dan Pesan Kekinian

Dilihat

Dilihat : 190 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 0
  • 38
  • 33,964
WhatsApp Image 2023-05-28 at 8.01.30 PM

Oleh: Jo Priastana

“We wish you the greatest inner self,

self-love, discipline, happiness on your path”

(Leif Harum, Backpack Buddha)

 

Pagi ini, Selasa 23 Mei 2023, Wakil Walikota Cirebon, para tokoh agama, para tokoh masyarakat, serta masyarakat Cirebon menghantar para bhikkhu Thudong/Dhutanga untuk melanjutkan perjalanan menuju Borobudur. (Facebook, Kohar Lie, 23/3/23). Demikian dilaporkan oleh Kohar Lie tentang Bhikkhu Thudong yang sedang berjalan kaki menuju Borobudur. Sementara itu, di berbagai tempat yang disinggahinya masyarakat dari berbagai latar belakang agama begitu antusias menyambut dan mendukungnya.

Menjelang hari Raya Waisak 2567/2023 yang jatuh pada Minggu (4/6/2023), puluhan bhiksu   melakukan ritual Thudong dengan berjalan kaki ribuan kilometer. Dikutip dari Kompas.com (12/5/2023), sebanyak 32 bhiksu yang berasal dari berbagai negara melakukan thudong dari Nakhon Si Thammarat, Thailand menuju Candi Borobudur yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mereka memulai perjalanan dari Nakhon Si Thammarat pada Kamis (23/3/2023) dan direncanakan tiba di Candi Borobudur pada Rabu (31/5/2023).

Melewati empat negara, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia, mereka berjalan kaki sejauh 2602 km dari Thailand dan mendapat sambutan hangat masyarakat Indonesia. Ritual berjalan kaki menuju Borobudur sebagai ziarah batin memurnikan pikiran, pesan perdamaian, toleransi, kelestarian hutan-alam, dan cara hidup minimalis yang menentramkan dan mendamaikan.

 

Borobudur Sakral dan Berjalan Kaki

Berjalan kaki menuju Borobudur juga pernah dilakukan oleh lima orang mahasiswa Buddhis di tahun 2010. Kompas.com, (27 Mei 2010, 15.42. WIB) melaporkan. Magelang, Kompas.com – lima mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Nalanda, Jakarta Timur, menempuh rute Jakarta menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, dengan berjalan kaki. Perjalanan yang diberi nama Jejak Menuju Borobudur ini dilaksanakan sejak 8 Mei 2010 dan diperkirakan mereka sampai di Candi Borobudur pada Kamis (27/5/2020) ini. Kelima mahasiswa tersebut masing-masing bernama Darsono, Karyono, Susanto, Noviyanto, dan Utomo.”

Mereka juga mengungkapkan misi perjalanan kakinya itu adalah dalam rangka membawa pesan untuk Candi Borobudur Sakral. “Perjalanan ini, menurut Karyono, sengaja dilakukan untuk mengampanyekan Candi Borobudur sebagai tempat ibadah suci dan obyek wisata yang sakral. Nilai-nilai penting kesakralan candi inilah yang disampaikan ke berbagai tempat yang mereka kunjungi, seperti kantor polisi dan wihara-wihara. “Karena merupakan tempat yang sakral, kami pun ingin membagi ide dan pendapat bagaimana untuk tetap bertingkah laku menghormati candi ketika berkunjung ke sana,” ujarnya, Kamis (27/5/2010). Petualangan dengan berjalan kaki ini, menurut dia, juga dimaknai sebagai ritual suci, semacam meditasi untuk menenangkan pikiran sebelum mengunjungi candi. “Dengan cara ini, kami pun ingin mengajarkan orang lain untuk juga menenangkan pikiran, membersihkannya dari hal-hal negatif, sebelum datang ke Candi Borobudur,” ujarnya. (Berjalan Kaki Jakarta-Borobudur, Kompas.com, 27 Mei 2010, 15.42. WIB)

Ada pula ritual Thudong yang dilakukan dalam rangka pelatihan diri. Di tahun 2022, ratusan peserta mengikuti Pabbaja Samanera, mereka melakukan prosesi Thudong atau yang sering dikenal sebagai prosesi Dhutanga pada tanggal (24/12/2022). Prosesi Dhutanga tersebut menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur dengan berjalan kaki. Rangkaian Thudong atau Dhutanga sendiri merupakan prosesi akhir dari seluruh kegiatan Pabbajja Samanera yang dilaksanakan di Candi Borobudur sejak 15 Desember 2022.  (“Melihat Prosesi Dhutanga, Ritual Jalan Kaki Umat Buddha dari Candi Mendut ke Borobudur,” ergan elin, iNewsYogya.id, 17/1/23).

 

Berjalan Kaki Bhikkhu Hutan Dhutanga

Dosen STAB Nalanda, dan Pustakawan Eddy Priono, S.Ag., M.Pd. menyatakan bahwa Thudong itu bahasa Thai untuk istilah Dhutanga. Thudong adalah jalan dengan jarak jauh atau ribuan km, kalau dulu para bhikkhu jalan dari hutan dan ke hutan karena pindapatta dan di kesunyian. (percakapan whatsapp, 23/5/23).  Secara harafiah,kata ‘thudong’ diartikan sebagai ‘sarana untuk melepaskan diri.’ Kegiatan thudong merujuk pada praktik pertapaan Buddha (Tribun Muria.com 15/5/23).

Dhutanga, yang berarti “pelepasan” (meninggalkan (dhuta); keadaan batin (anga), merupakan satu paket latihan yang dirancang untuk benar-benar mengurangi kemelekatan kita, dengan tujuan untuk mencapai Nibbana dengan segera, seperti burung yang melintasi langit tak berawan pada garis lurus. Terdapat tiga belas latihan petapa dhutanga: dua latihan untuk jubah, lima latihan untuk makanan, lima latihan untuk tempat tinggal, dan satu latihan untuk postur (yang dikenal dengan usaha dhutanga). (Forum DhammaCitta.org, 23/5/23).

Tiga belas Dhutanga itu terdiri dari: Pamsukula (jubah yang ditinggalkan), Tecivarika (tiga jubah), Pindapatta (pengumpulan dengan mangkuk/patta), Sapadanacarika (pengumpulan makanan tanpa  melewati satu rumah pun), Ekasanika (makan sekali saja), Pattapinika (semua makanan dalam 1 mangkuk/patta), khalupaccahabhattika (tidak menerima makanan tambahan apa pun lagi setelah mulai makan), Aranyika (tinggal di hutan), rukkhamula (tinggal di bawah pohon), Abbhokasika (tinggal di alam terbuka tanpa pelindung), Susanika (tinggal di pekuburan), Yathasantatika (tidur di tempat yang telah diperuntukkan baginya), Nesajjika (menghindari sikap berbaring). (Forum DhammaCitta.org, 23/5/23).

 

Pesan Kekinian Toleransi, Kemanusiaan dan Perdamaian

Adakah ritual jalan kaki Bhiksu Thudong di jalan-jalan raya itu memiliki makna kekinian? Para bhiksu Thudong dengan jenis latihannya itu yang mungkin saat ini sudah tidak memperoleh habitatnya di hutan. Hutan-hutan di dunia sudah semakin berkurang akibat pembangunan, modernisasi dan eksploitasi alam. Ataukah karena zaman yang sudah semakin modern, maka bila masih terdapat bhiksu Thudong yang menjalani kebhiksuannya di hutan yang masih tersisa serasa seperti sebagai sesuatu yang aneh?

Diberitakan oleh Cenas-Id, bahwa Generasi bhikkhu hutan terakhir di Thailand, Ajahn Chah yang meninggal tahun 1994 merasakan dirinya dipandang hanya sebagai monyet yang dipasangi tali. Masyarakat bahkan menungguinya untuk berjumpalitan dan meneriakinya dan menunjuk-nunjukkan jari tangan padanya. Ketika lelah, dan beristirahat, masyarakat melemparinya dengan pisang. Ritual thudong yang sekarang menuju candi Borobudur ini mungkin saja mampu menegakkan kembali posisi tawar para bhikkhu pertapa dan pengembara di hutan dengan disesuaikan kondisi kekinian. Apalagi dijadwalkan mereka akan juga singgah di pesantren. Unsur kekiniannya makin kuat selagi terlihat dalam perjalanan mendapatkan pengawalan dari kelompok-kelompok masyarakat selain penganut Agama Buddha. (Facebook, Cenas-Id, 20/5/23)

Tampaknya ada pesan kekinian dari ritual bhiksu Thudong berjalan kaki menuju Borobudur itu. Pesan kehidupan toleransi beragama yang sangat terasa di mana mereka mendapat sambutan antusias di sepanjang perjalanannya di Indonesia. Ananta Kandaka dalam Facebooknya mengungkapkan, “Ke manapun para bhante yang melaksanakan thudong (jalan kaki jarak jauh) menapakkan kaki mereka, di sepanjang jalan itu pulalah kebahagiaan dirasakan oleh umat berbagai agama, termasuk umat Islam, umat Katholik, dan pastinya umat Buddha yang mengiringi. Di manapun para bhante yang melaksanakan thudong disorot media massa, di seantero negeri ini jugalah kebahagiaan dirasakan oleh berbagai kalangan, termasuk umat Kristen, umat Hindu, umat Konghucu, para pejabat negara, para aktivis sosial, dan sebagainya. (Facebook, Ananta Kandaka, 23/5/23)

Ananta Kandaka juga mengungkapkan bahwa Bangsa ini telah menyimpan benih-benih toleransi sejak dahulu kala. “Mereka lega bahwa di tengah ancaman disintegrasi bangsa menjelang Pilpres 2024 yang rentan akan terjadinya politisasi agama, ternyata bangsa ini bisa menunjukkan wajah agama dan budaya yang damai tanpa politisasi apapun ketika menyambut para bhante. Sejak abad ke-8 Candi Borobudur yang merupakan candi terbesar di dunia dibangun oleh arsitek Hindu India atas instruksi raja Buddhis Nusantara dengan tenaga umat penghayat kepercayaan, bangsa ini telah menunjukkan aslinya yang toleran. (Ananta Kandaka, Facebook, 22/5/23).

Sementara itu, harian Kompas (28/5/23) mengungkapkan kesan Bhiksu Wawan sebagai pemimpin rombongan ritual Thudong yang mengaku sangat terharu dengan sambutan warga setiap kali mereka melintasi sejumlah daerah. “Sungguh sambutan yang luar biasa bagi kami. Ini akan memberikan pesan bagi dunia luar tentang wajah asli Indonesia yang penuh cinta kasih,” kata Bhiksu Wawan. Perjalanan para bhiksu itu telah membawa pesan penting tentang kemanusiaan dan perdamaian. Mereka diterima di tengah keberagaman bangsa Indonesia (Kompas, 28/5/23).

 

Keheningan Hutan dan Gaya Hidup Minimalis

Selain pesan toleransi, tidakkah ada pula pesan lainnya? Kita tahu bahwa bhiksu Dhutanga adalah bhiksu hutan, mereka jalan kaki dari hutan ke hutan. Dan bila kini mereka jalan kaki keluar dari hutan berjalan kaki di jalan raya menuju Borobudur, adakah mereka juga hendak menyampaikan pesan untuk menyelamatkan hutan-hutan yang masih tersisa dari terjangan kerakusan kapitalisme? Tampaknya, hutan memiliki kaitan erat dengan kehidupan para bhiksu. Para bhikkhu Thudong berjalan kaki menuju Borobudur dalam rangka menyambut Waisak, pencerahan Buddha yang terjadi 2567 lalu di hutan Uruvela, India.

Dhutanga Bhikkhu yang menjalani pelatihan pertapaannya dari hutan ke hutan dengan berjalan kaki, dan hidup seminimalis dengan melakukan pindapatta seperlunya dengan jubah minimalis. Pesan spiritual tentang hidup sederhana dan secukupnya, gaya hidup minimalis yang mungkin bisa dipetik bagi manusia modern dewasa ini yang telah dikepung oleh gaya hidup hedonis materialistis, ambisi dan keserakahan.

Pesan untuk hidup kembali dekat kepada alam sebagaimana kaki-kaki yang berjalan kaki menjejak tanah, menyentuh bumi, kembali ke jati diri dan kehidupan sesungguhnya. Pesan untuk hidup sederhana dalam gaya hidup minimalis di tengah glamornya gaya hidup modern yang memabukkan. Bergerak di jalan-jalan raya dengan kendaraan bermotor yang mendatangkan kenyamanan, ketergesaan, kemudahan dan juga keterlenaan.

Jalan kaki Bhiksu Thudong di jalan-jalan raya, baik di Thailand, Malaysia dan di Indonesia itu mungkin saja mau mengabarkan pesan kekinian tentang sesuatu yang sudah tidak ada lagi, yaitu hutan-hutan yang mumpuni untuk pelaksanaan pertapaan ala zaman Sang Buddha. Sebagai Bhikkhu Dhutanga yang selayaknya menjalani ritual thudong berjalan kaki di hutan, dimana Bhiksu Thudong hidup sederhana minimalis, sebuah pesan bagi semua manusia untuk menjalani hidup berkesadaran Buddha.

Melihat cara hidup Bhikkhu Dhutanga itu ada tersirat pesan kuat yang hendak disampaikan, yakni tentang kerakusan dan kelobaan yang menggejala dalam kehidupan dewasa ini. Kerakusan yang mengakibatkan lenyapnya hutan-hutan yang menjadi habitatnya serta kerusakan moral dan krisis spiritual umat manusia. Kerusakan ekologis dimana-mana, terjadi perubahan iklim dan pemanasan global, dimana hujan tiada lagi datang tepat pada waktunya, penggundulan hutan dan eksploitasi sumber daya alam yang menyebabkan longsong, banjir dan tenggelamnya kota-kota.

Dalam berjalan kaki menyambut Waisak yang merupakan hari pencerahan pertapa Siddharta menjadi Buddha, mengingatkan apa yang sesungguhnya sedang terjadi di dunia sekarang ini. Mereka berjalan kaki diatas tanah beraspal, di tengah terik matahari, di bumi pertiwi menyusuri aneka ragam kehidupan dan peristiwa dunia. Mereka kabarkan di sepanjang jalan ribuan kilomenter jauhnya sambil bertanya, haruskah monyet pikiran (monkey-mind) terus berkeliaran, bergoyang dengan kebingungannya di tengah kehidupan modernisasi materialistis-mekanis dan hedonis yang juga dihantar oleh kendaraan gemerlap di jalan-jalan raya dunia?

 

Ecological Religion

Borobudur Sakral sebagai tempat ibadah yang tak dirusakkan oleh tangan-tangan kapitalisme digemakan oleh pejalan kaki lima mahasiswa STAB Nalanda dari Jakarta-Borobudur pada tahun 2010. Pesan toleransi kehidupan beragama menggema dari ritual Bhiksu Thudong menuju Borobudur di tahun 2023. Tampaknya penting pula menyimak pesan spititual lainnya yang tersirat sebagaimana makna yang terkandung sebagai Bhikkhu Dhutanga. Masihkah ada hutan untuk kehidupan dan pelatihan bhikkhu Dhutanga? Masihkah ada bhikkhu yang sudi menjalani kebhikkhuan sejatinya sebagai bhiksu Thudong/Dhutanga? Hidup asri bersama alam, hidup membumi berjalan kaki, hidup minimalis dalam menjalani kebhikuannnya dengan sungguh berpindapatta dan berjubah minimalis.

Menggemakan pesan untuk hadirnya kembali habitat kehidupan yang baik, kehidupan kebhikkhuan sesungguhnya. Kehidupan yang bersatu dengan alam, ramah terhadap lingkungan. Kehidupan manusia dan alam yang tidak terpisahkan, sebagaimana kehidupan bhiksu Dhutanga dengan habitatnya di hutan, di jalan kesunyian, di jalan raya kesunyaan, di jalan kesempurnaan dalam pelatihan batin yang penuh ketentraman dan kedamaian pikiran atau peace-mind.

Alam dan pelatihan batin tak terpisahkan, sebagaimana bulan di malam hari dan kesenyapan hutan Uruvela dalam pencerahan Buddha. Jalan kaki menyambut Waisak 2567/2023 itu membawa terang Buddhadharma ke bumi. Menunjukkan bahwa Buddhadharma itu adalah sebuah ecological religion, agama yang selaras dengan alam. Kita ingat Ajahn Pongsak yang tinggal di Wat Palad, sebuah vihara dekat Chiang Mai, Thailand Utara. Ajahn Pongsak melakukan karya dharmanya bekerja bersama penduduk desa lembah Mae Soi dalam melakukan penghijauan kembali hutan dan membangun saluran irigasi.

Ajahn Pongsak mengingatkan tentang kata Dharma: “Dharma, the Buddhist word for truth and the teachings, is also the word for nature. That is because they are the same. Nature is the manifestation of truth and of the teachings. When we destroy nature, we destroy the truth and the teachings, when we protect nature, we protect the truth and the teachings.” (Martin Batchelor and Kerry Brown, Buddhism and Ecology,1992: 99). (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

sumber gambar: https://www.facebook.com/100064541716201/posts/pfbid0k24eiUU7T9SKShhLvSueVwGpR2FfQDiUYhiU3F7Dsc4cTVQG7jj8RY7UEQe24av4l/?app=fbl

Butuh bantuan?