Bisnis Air Ludah

Home » Artikel » Bisnis Air Ludah

Dilihat

Dilihat : 0 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
BISNIS AIR LUDAH pic

Oleh: Majaputera Karniawan, S.Pd.

‘Kami mengadakan bisnis investasi, profitnya 50% tiap bulan. Join segera!’ (3 Bulan kemudian menghilang)

‘Mau nonton iklan gak? Dibayar loh, bisa jadi jutawan!’ (Lalu disuruh beli coin buat nonton lebih banyak iklan)

‘Semua bisa kuliah! Kuliah murah dibawah 3jt dan online terus, yuk join!’ (Bener bisa kuliah, Habis masuk mutu pembelajaran payah banget).

‘Ikuti kelas bisnis kami, rasakan ilmu menjual produk apapun pasti laku!’ (Habis seminar tidak dapat apa-apa, malah diajak investasi gak jelas).

‘Mari doakan yang terbaik untuk para mendiang, daftarkan nama mendiang anda segera dengan paket seharga Rp 8.888.888,-!!!’  (Sorry to say, apa semahal itu buat doa? Lalu gimana nasib si miskin?)

‘Gak ada uang? Pinjam saja dulu! Bunga ringan! tanpa agunan, syarat mudah!’ (Tahu-tahu belum jatuh tempo sudah ditagih dan dijerat bunga selangit!)

Narasi-narasi ini seringkali saya terima. Saya pun cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala. Bisa saya umpamakan bisnis seperti ini adalah ‘Bisnis Air Ludah’. Maksudnya adalah suatu usaha atau bisnis yang menjanjikan hal-hal kurang atau tidak masuk diakal, dan soal realisasinya bagaimana saja kelak. Saat ini banyak sekali saya temui orang-orang munafik yang seperti ini, jago sekali menebar janji, giliran implementasi pakai jurus ‘Langkah seribu’ ataupun ‘Berdalih tiada tara’ yang pada intinya sama-sama lari dari tanggungjawab.

Bisnis-bisnis seperti ini biasanya terlihat meyakinkan, dan terkadang bahkan menggunakan lembaga nonprofit sekalipun. Ciri-cirinya sangat sederhana: Pelakunya menjual ‘masalah atau problem’ dan seakan-akan solusinya ada dalam bisnisnya, menjanjikan keuntungan diluar kewajaran, dan realisasinya tidak jelas. Pelaku biasanya menggunakan penampilan (framing) yang menarik dan meyakinkan seakan-akan dia sudah sukses, seperti menaiki kendaraan kelas atas ataupun berpakaian glamour.

Sekitar pertengahan tahun 2021 pun saya sempat mengalami hampir tertipu salah satu entitas illegal, bisnis nonton iklan dibayar, hingga sempat berdebat dengan salah satu leadernya walau pada saat itu dia masih berdalih bahwa bisnis itu layak dan legal. Dalam menjalankan aksinya, pada awalnya Sang Leader berusaha mendekati saya dengan pendekatan ajaran agama. Sering terlihat sebagai pribadi yang baik dan share status rohani, baru setelah akrab menjalankan aksinya, mulai menjanjikan berbagai keuntungan ini dan itu. Saya yang over kritis malah mendebat dia sampai akhirnya kami agak bersitegang.

Baru kemudian pada akhir Juli 2021 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa entitas bisnisnya adalah ilegal serta berpotensi pidana penipuan konsumen. Di saat itu iapun masih berdalih macam-macam walau pada akhirnya ia harus menelan perasaaan pahit (mungkin juga menelan ludah sendiri) bahwa bisnis tersebut memang ilegal sampai sekarang.

Dalam moralitas Buddhis, bisnis seperti ini jelas keliru. Kebohongan (dengan melebih-lebihkan atau mengurangi keadaan sebenarnya), pengkhianatan kesepakatan (wanprestasi), penipuan (kecurangan), dan riba (lintah darat) jelas-jelas termasuk mata pencaharian yang salah (MN117. Mahacattarisaka Sutta). Kita tidak perlu membicarakan lebih lanjut secara etika baik-buruk, benar-salah soal bisnis ‘Air ludah’ ini, karena biar bagaimanapun pasti salah.

Dalam hal pemimpin perusahaan, biasanya mereka yang lebih banyak memegang kendali akan perusahaan tersebut, dan setiap kebijakan apapun yang dibuat akan menjadi ‘framing’ perusahaannya di mata masyarakat. Saya menerima satu quote pagi ini yang menyatakan bahwa ‘Sebuah perusahaan tidak bisa melangkah jauh dengan menipu pelanggannya’. Makanya sebagai pemimpin perusahaan hendaknya bijaksana. Kita perlu mengingat kembali nasihat Sang Bodhisattva untuk jangan mengambil apa yang tidak seharusnya dimiliki, dan pertahankanlah sumber daya apa yang telah dimiliki. Agar dapat melihat tujuanmu dengan jelas, maka sebagai pemimpin jadikanlah orang-orang yang bijak, yang tidak melakukan perusakan, tidak menipu, bebas dari bermabuk-mabukan dan perjudian, sebagai asisten-asistenmu. (JA 521, Tesakuṇa Jātaka dalam Karniawan, 2020).

 

Lebih lanjut ketika seseorang melakukan perbuatan buruk seperti ‘Bisnis air ludah’ maka hidupnya pasti tidak bisa tenang dan selalu merasa dikejar-kejar. “Ia gelisah di dunia ini. Ia gelisah setelah ajal tiba. Pelaku keburukan gelisah di kedua alam. ‘Keburukan telah aku lakukan,’ demikian ia gelisah. Ia kian menjadi gelisah setelah tiba di alam sengsara.” (Dhp.17)

 

Mengzi (Bingcu  孟子, 372-289 SM) berpendapat bahwa pada saat keadaan makmur, kebanyakan manusia berkelakukan baik, sebaliknya di saat tahun-tahun paceklik (krisis) banyak yang berkelakuan buruk, hal ini dikarenakan hati mereka telah terdesak dan tenggelam dalam keadaan buruk sehingga sampai hati melangkahi nuraninya semata-mata demi mempertahankan diri ataupun memenuhi nafsunya (Bingcu VI A: 7). Ia sendiri menambahkan bahwa kebanyakan orang yang tidak memiliki penghasilan tetap akan membuat mereka tidak punya ketetapan hati, sehingga karena tidak adanya ketetapan hati, sampai tak segan melakukan berbagai perbuatan menyeleweng, liar, dan sewenang-wenang (Bingcu I A : 7).

Maka tak heran, di masa ekonomi sulit banyak orang yang menipu dan merugikan orang lain. Tidak heran maka bisnis air ludah begitu tumbuh subur dimana-mana, tetapi bisnis seperti itu justru mematikan figur pelakunya. Orang-orang yang tahu rekam jejaknya tidak akan lagi percaya kepadanya dan lambat laun pengaruhnya berkurang. Meskipun pada awalnya perputaran terlihat cepat, namun pada akhirnya akan terhenti juga. Di masa-masa sulit kita harus lebih meningkatkan kewaspadaan akan terjadinya bisnis-bisnis seperti ini pada diri kita. Hati-hatilah kepada teman yang telah lama hilang kontak namun tiba-tiba menghubungi anda kembali lalu menawarkan bisnis, investasi, atau seminar yang terkesan menggiurkan, ataupun penggalangan dana yang sekalipun terlihat kredibel tetapi sangat minim sisi manfaatnya!

Berhenti membuat penipu menjadi terkenal! Seringkali kita sendiri malah mentolerir tindakannya dan malah membuatnya terkenal. ‘Ahhh gapapa lah, toh cuma segitu aja yang ditilep dia.’ sebaiknya dihentikan. Walaupun terlihat sepele, berbohong ‘Jualan ludah’ dapat menjadi sebuah kebiasaan. Sekalipun ia berdalih bahwa ini dilakukan untuk kebaikan, tetap saja hentikan! Apabila seseorang mendapat reaksi positif dari kebohongannya, batinnya akan terlena dan muncul pretensi (kecenderungan) untuk kembali mengulanginya (Ratanadhiro, 2017: 37).

Lantas bagaimana bila ada teman kita yang termakan bisnis seperti ini tetapi menolak kenyataan? Ataupun malah sebaliknya mulai menjadi agen bisnis-bisnis seperti ini? Kita dapat melakukan komunikasi asertif (menyampaikan maksud secara terbuka tanpa menyerang lawan bicara), dengan cara ini kita dapat memilih kata-kata yang efisien dan dengan pendekatan yang baik agar lebih mudah diterima. Jangan berusaha mendiskreditkan figurnya, sebab tidak semua orang siap menerima kejujuran. Maka berbicaralah jujur tanpa menyakiti hati orang lain (Ratanadhiro, 2017: 37).

***

Daftar Pustaka

Dhammadhīro Mahāthera, Bhikkhu. 2014. Pustaka Dhammapada Pāli –

Indonesia. Tangerang Selatan. Penerbit Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia Pusdiklat Buddhis Sikkhadama Santibhumi.

Karniawan, Majaputera. 2020. Kumpulan Petikan Dhamma Seri Jataka Atthakatha. Jakarta. Yayasan Yasodhara Puteri,

MATAKIN. 2010. Su Si (Kitab Yang Empat). Jakarta. Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Ratanadhiro, Bhikkhu. 2017. Atthasila. Yogyakarta. In Sight Vidyasena Production.

Suttacentral.net (Online legacy version). Majjhima Nikaya. http://www.legacy.suttacentral.net/ Diakses  Januari 2022.

Butuh bantuan?