Bola Dharma dalam Ritual Global Modern – FIFA World Cup 2026

Home » Artikel » Bola Dharma dalam Ritual Global Modern – FIFA World Cup 2026

Dilihat

Dilihat : 74 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 120
  • 571
  • 278,647
Pic 2671

Oleh: Jo Priastana

 

“Hanya mereka yang berani mengambil tendangan penalti yang gagal”

(Roberto Baggio, Lahir 1967, Mantan Pemain Sepak bola Italia)

 

Kita ucapkan selamat kepada negara yang telah memenangkan Piala Dunia FIFA 2026. Kejuaraan melahirkan yang menang dan yang kalah. Penyelenggaraan FIFA World Cup 2026, 12 Juni-20 Juli, di Tiga Negara, Amerika Serikat, Kanada dan Mexico bisa dibaca baik dalam ranah horizontal sosial budaya sebagai panggung ritual global modern, maupun dalam ranah vertikal filosofis spiritual sebagai bola dharma dan meditasi bergerak. Ranah horizontal mencakup sosial budaya sebagai sebuah panggung ritual global modern empat tahunan, dimana olahraga, budaya, media, identitas nasional, dan kapitalisme global bertemu.

FIFA World Cup 2026 merupakan fenomena sosial global yang sangat kompleks yang memiliki fungsi Sosial dan Budaya, Media, Ekonomi-Politik Global, maupun Sistem Dunia. Seorang Buddhis dapat menyikapi tontonan kejuaraan dunia sepak bola dengan tetap mengembangkan kesadaran kritis. Bisa menikmati permainan dengan sukacita, menumbuhkan semangat, solidaritas, gairah, dan tanpa terjebak dalam keterikatan, fanatisme, maupun ketidakseimbangan batin berkenaan dengan dualitas menang-kalah yang menyertai setiap pertandingan.

Penyelenggaraan FIFA World Cup 2026 sejatinya juga jauh melampaui sekadar pertandingan olahraga tentang dualitas menang kalah. Dalam ranah vertikal filosofis-spiritual, fenomena sepak bola adalah bola dharma yang dapat mengatasi fenomena segi-segi dualitas sosial-budaya tersebut. Sepak bola dalam lensa filosofis-spiriitual Buddhis mencerminkan putaran bola dharma yang mengatasi dualitas kehidupan, filosofi Buddhis tentang non-dualisme dan sunyata, gerak meditasi dan cermin spiritualitas Buddhadharma.

 

Sosial-Budaya, Media, Ekonomi-Politik Global dan Sistem Dunia

FIFA World Cup 2026 memiliki fungsi Sosial-Budaya, Media, Ekonomi-Politik Global dan Sistem Dunia sebagai panggung ritual dunia modern. Dalam fungsi sosial menciptakan integrasi dan identitas kolektif. Piala dunia menghadirkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial. Masyarakat dan latar belakang kelas, etnis, agama, dan politik yang berbeda dapat bersatu mendukung tim nasionalnya. Muncul identitas kolektif dan nasionalisme, misalnya ketika warga negara bersama-sama menyaksikan pertandingan.

Dalam istilah sosiolog Emile Durkheim (1858-1917), peristiwa semacam ini menghasilkan “collective effervescence”, yaitu ledakan emosi bersama yang memperkuat kohesi sosial. Namun, nasionalisme olahraga juga dapat memunculkan eksklusivisme, rivalitas ekstrem, atau bahkan konflik antar pendukung.

Secara budaya, penyelenggaraan FiFA World Cup 2026 berfungsi sebagai arena produksi makna. Kajian budaya menunjukkan Piala Dunia sebagai panggung besar pertukaran simbol dan budaya. Terdengar musik resmi seperti waka-waka yang dinyanyikan Shakira dan lagu dai dai, serta “DNA” oleh Andrea Bocelli, dan lainnya. 

Piala Dunia 2026 berhisas maskot, asesoris, merchandise, kostum nama pemain dan iklan. Ritual upacara pembukaan yang meriah dengan penampilan selebritas, iklan, musik, dan kumandang lagu nasional setiap negara dan narasi media dalam citra nasional kepada dunia. Negara tuan rumah menampilkan identitas budaya dan citra nasional kepada dunia. Tradisi lokal bertemu dengan budaya global sehingga terjadi proses hibridisasi budaya.

Pemikir kajian budaya seperti Stuart Hall (1932-2014) melihat media olahraga sebagai arena perebutan makna. Siapa yang mempresentasikan “bangsa”, “maskulinitas”, “ras”, atau “modernitas”.

FIFA World Cup juga dapat didekati dalam studi media yaitu sebagai “spektakel global.” Piala Dunia merupakan salah satu tontonan media terbesar di dunia. Media tidak hanya melaporkan pertandingan, tetapi juga membangun narasi heroisme, tragedi, rivalitas, dan mitos.

Pemain seperti Christiano Ronaldo atau Lionel Messi menjadi ikon budaya global. Media digital, media sosial, meme, dan streaming membuat penonton tidak lagi pasif, tetapi turut memproduksi konten. Dalam perspektif Guy Debord (1931-1994), filsuf dan pembuat film Prancis, Piala Dunia dapat dipahami sebagai “society of the spectacle”, yaitu masyarakat yang hidup melalui citra tontonan.

FIFA World Cup juga mengandung putaran Ekonomi Politik Global bagian sistem Kapitalisme. Dari perspektif ekonomi politik, Piala Dunia merupakan industri global bernilai miliaran dolar. Hak siar televisi, sponsor multinasional, pariwisata, periklanan, harga tiket yang tinggi, hotel, travelling, dan penjualan merchandise menghasilkan keuntungan besar. Perusahaan global seperti Adidas, Coca-Cola, Nike, dan berbagai platform media memperoleh manfaat ekonomi sangat besar, kali ini ada saat jeda hidrasi (hydration break) yang disuguhi tayangan iklan Kylian Mbappé meneguk minuman isotonik dan musik.

Kota dan negara tuan rumah penyelenggara sering membangun infrastruktur besar yang melibatkan investasi publik dan swasta. Pemikir, dosen Antropologi seperti David Harvey (lahir 1935) akan melihatnya sebagai bagian dari sirkulasi kapital global, di mana olahraga menjadi komoditas dalam sistem kapitalisme global.

Penyelenggaraan sepak bola yang menjadi panggung dunia ritual dunia global juga tak luput dari perspektif Sistem Dunia. Menurut filsuf sekaligus ahli ekonomi politik Immanuel Wallerstein (lahir 1935), Piala Dunia juga mencerminkan struktur sistem dunia. Negara-negara pusat (core) umumnya memiliki sumber daya, liga profesional, dan industri olahraga yang lebih maju. Negara-negara periferi memandang sepak bola sebagai sarana mobilitas sosial dan pengakuan global. Migrasi pemain dari negara berkembang ke klub-klub Eropa memperlihatkan ketimpangan ekonomi.

 

Meditasi Bergerak Bola Dharma

Ada banyak pemikir, pelatih, dan filsuf yang melihat sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan metafora kehidupan. Bahkan dalam pengalaman spiritual, sepak bola dapat dibaca sebagai semacam “meditasi bergerak” tentang ketidakpastian, keterhubungan, dan ketidakkekalan.

Dalam filosofi sepak bola, beberapa gagasan sering muncul, seperti: bola itu bundar, permainan adalah proses bukan hanya hasil, maupun kepentingan tim lebih lebih penting dari ego individu,

Bola itu bundar, merupakan ungkapan terkenal dalam sepak bola yang menunjukkan bahwa hasil pertandingan tidak pernah sepenuhnya pasti. Tim kuat dapat kalah, tim lemah dapat menang. Ini mengingatkan pada ajaran Buddha tentang ketidakkekalan (anicca) bahwa segala sesuatu selalu berubah dan tidak ada keadaan yang tetap.

Permainan adalah proses, bukan hanya hasil. Banyak pelatih besar menekankan keindahan proses bermain, kerja sama, kreativitas, dan bukan semata-mata kemenangan. Dalam Buddhadharma, ini serupa dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang lebih menekankan cara menjalani hidup benar daripada hanya mengejar tujuan akhir.

Tim lebih penting daripada ego individu. Sehebat apa pun seorang pemain, ia bergantung pada rekan setimnya. Kerja sama tim ini dekat dengan prinsip saling ketergantungan (pratityasamutpada), bahwa tidak ada sesuatu pun yang berdiri sendiri.

Kita sering dengar juga ungkapan “bola nasib” yang mungkin bisa disepadankan dengan “kekosongan bundar” dalam filosofi Buddhis yang merupakan simbolik filosofis dan mengundang refleks spiritualitas yang sangat menarik dan dalam mengenai kehidupan sesungguhnya.

Bola yang bulat dapat dimaknai sebagai lambang “sunyata” (kekosongan). Bukan kekosongan dalam arti nihil, melainkan keterbukaan tanpa inti tetap. Bola terus bergerak, berubah arah, berpindah dari kaki satu pemain ke pemain lain.

Tidak ada kepemilikan mutlak, tidak ada posisi yang permanen. Demikan pula hidup. Kemenangan berubah menjadi kekalahan. 24 tahun lalu Brazil juara, kemudian dalam lima kali kejuaraan berikutnya tak sekalipun terpetik juara, ketenaran berubah menjadi pelupaan, sukacita berubah menjadi kesedihan, kesedihan pun akhirnya berlalu.

Seperti bola yang memantul tak terduga, demikian kehidupan juga tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Namun, Buddhadharma tidak melihatnya sebagai “nasib” yang telah ditentukan, melainkan sebagai jaringan sebab dan kondisi yang terus berubah. Kita tidak menguasai seluruh permainan, tetapi kita bertanggung jawab atas cara kita memainkan bagian kita di lapangan kehidupan.

Bola itu bundar, demikian pula hidup. Ia menggelinding tanpa janji menuju gawang mana. Kadang kita bersorak sebagai pemenang, kadang tertunduk sebagai yang kalah. Namun Sang Bijaksana tidak melekat pada papan skor. Ia bermain sepenuh hati, berlari dengan kesadaran, mengoper membagi bola kehidupan dengan welas asih, dan menerima pluit akhir tanpa penyesalan.

Sebab pada akhirnya, lapangan akan sunyi, penonton akan pulang, dan yang tersisa hanyalah jejak langkah kebajikan di rumput kehidupan, peluh dari semangat perjuangan kemenangan dan kekalahan, dan sunyi rerumputan yang tetap membisu dalam gerak langkah-langkah pelakon permainan kehidupan. 

Seperti tatapan nanar Roberto Baggio yang duduk di rerumputan hijau memandang keluasan lapangan yang bertahun-tahun di jejaki langkah-langkah jeniusnya. Jejak kaki kemenangan dan kekalahan, kegagalan dan dalam tendangan penalti yang gagal justru di saat kemenangan telah di depan mata.

Penganut Buddhis pesepak bola Roberto Baggio itu seperti menatap lapangan keluasan kehidupan yang telah memberinya ketenaran dan kekuatan hidup dan kebijaksanaan. Ia menemukan Dharma dari keindahan sepak bola. Sepak bola adalah bola Dharma yang berputar menuntun karma kehidupan dalam putaran dukkha samsara, yang terus berputar sebelum pluit akhir Nibbana berbunyi menghentikannya.

Lakon seorang Buddhis pesepak bola dapat menjadi cermin spiritual dari “meditasi bergerak” dalam sepak bola. Bola dharma yang mengajarkan ketidakkekalan, non-ego, saling ketergantungan, dan seni menjalani permainan hidup dengan kesadaran penuh tanpa melekat pada kemenangan maupun kekalahan

Menyaksikan meliuk-liuknya keseimbangan batin dan tubuh Roberto Baggio menggiring bola melewati segala hadangan beberapa pemain dan membuahkan gol indah ke gawang Ceko yang dijaga kiper Jan Stejskal. Gol yang indah luar biasa pada World Cup di tahun 1990 yang membuat Roberto Baggio terkenal sebagai pemain berbakat sepanjang masa, dan yang membuat “Ratu Pop” dunia, Madonna sampai ikut terpana. Madonna mengenakan jersey tim nasional Italia bernomor punggung 15 milik Roberto Baggio dalam konsernya di Kota Roma (Kompas, 27-28/6/26). 

 

Dharmaduta Mantan Pesepak bola

Di serambi vihara yang teduh, ketika senja turun perlahan di antara desir Dedaunan pohon Bodhi dan gema lonceng petang, seorang dharmaduta tua duduk bersila di hadapan sekumpulan umat. Kepalanya telah dipenuhi uban, jubahnya sederhana, namun sorot matanya masih menyimpan nyala lapangan hijau masa silam. Dahulu ia seorang pesepak bola; kini ia pengembara Dharma.

Ia tersenyum ketika memulai ceramahnya. “Sering orang bertanya,” katanya pelan, “Mengapa saya masih berbicara tentang sepak bola di vihara? Bukankah Dharma seharusnya berbicara tentang kemenangan atau kesuksesan dalam hidup?”

Ia berhenti sejenak. “Lalu saya bertanya kembali: kemenangan yang mana?” Para pendengar terdiam. “Dahulu saya mengejar goal, piala, tepuk tangan, dan sorak stadion. Saya mengira hidup hanyalah tentang menang, sukses. Tetapi lapangan mengajarkan sesuatu yang tidak diajarkan papan skor.”

Ia mengisahkan seorang bhiksu-bhiksu cilik dalam film “The Cup” yang diam-diam begitu ingin menyaksikan Fifa World Cup 1994 di sebuah biara sunyi di Tibet. Di tengah disiplin monastik dan keheningan pegunungan, hasrat sederhana untuk menonton sepak bola justru memperlihatkan kemanusiaan para bhiksu. Bahwa jalan spiritual bukanlah memeluk atau menolak kehidupan sepenuhnya, melainkan memahami gerak batin di dalam kehidupan itu sendiri.

“Bhiksu kecil itu,” katanya, “mungkin sedang belajar Dharma melalui sepak bola, sebagaimana kita belajar Dharma melakui suka dan duka, kalah dan menang, sukses dan jatuh.”

Kemudian ia menyebut nama Roberto Baggio. “Siapa yang dapat melupakan punggung seorang manusia yang tertunduk dalam tangis setelah gagal mengeksekusi penalti pada final Piala Dunia 1994?’

Suasana menjadi hening. “Pada saat itu,” lanjutnya, “jutaan orang melihat kegagalan. Tetapi saya melihat seorang manusia sedang bertemu dengan dukkha secara langsung.”

Ia mengangkat pandangannya. “Ketika bola melambung ke langit, kemenangan dan kekalahan lenyap pada saat yang sama. Yang tersisa hanyalah kesempatan untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya.”

Sang Dharmaduta tua, pengembara Dharma itu pun tersenyum, senyum yang bermakna dalam dari filosofi non-dualitas yang telah tertanam di hatinya. “Sepak bola mengajarkan bahwa hidup tidak hanya terdiri dari menang dan kalah. Kedua-duanya hanyalah dua sisi dari permainan kehidupan yang sama.  Seperti siang dan malam, untung dan rugi, pujian dan celaan. Ketika kita melekat pada satu sisi dan menolak sisi lainnya, penderitaan lahir.”

“Lapangan hijau sesungguhnya adalah cermin kesunyataan.” Di lapangan, seorang penyerang tak dapat mencetak goal tanpa umpan rekannya. Seorang penjaga gawang tak dapat berdiri sendiri tanpa para pemain bertahan, tidak menjadi kiper hebat tanpa seseorang menembakkan bola ke gawang yang dijaganya. Bola terus berpindah kaki, arah, dan makna. Tidak ada kepemilikan yang kekal. Tidak ada pemenang yang selamanya menang, tidak ada pecundang yang selamanya kalah.

“Demikianlah non-dualitas,” katanya lembut. “sunyata,” sambungnya.  “Menang dan kalah saling melahirkan. Sukacita dan kesedihan saling menerangi. Kita tidak perlu menolak salah satunya.” Pluit panjang akhirnya selalu berbunyi. Stadion akan kosong. Sorak akan reda. Piala akan berdebu.

Namun jika melalui setiap pertandingan kehidupan kita belajar kerendahan hati ketika menang, ketabahan ketika kalah, welas asih kepada sesama, dan kejernihan untuk menerima segala sesuatu sebagaimana adanya, maka sesungguhnya kita telah memurnikan batin. Dan mungkin, di hadapan dharma, dan kesunyataan, itulah kemenangan yang paling agung. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: official account IG fifaworldcup https://www.instagram.com/p/DWk638ejVQW/

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?