Bolehkah Orang Dengan Gangguan Kesehatan Mental Meditasi?

Home » Artikel » Bolehkah Orang Dengan Gangguan Kesehatan Mental Meditasi?

Dilihat

Dilihat : 38 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 6
  • 63
  • 9,446
Foto By @thecountryclairvoyant

Oleh: Majaputera Karniawan, M.Pd. (Sia Wie Kiong 謝偉强)

A. Apa itu kesehatan mental?

Gangguan mental/gangguan kejiwaan (mental illness/mental disorder) adalah sebuah sindrom atau sekelompok gejala yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang sehingga menyebabkan disfungsi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Ada beberapa jenis gangguan jiwa mulai dari yang ringan, menengah dan berat, pada umumnya yang biasa ditemukan adalah depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, gangguan makan, dan perilaku adiktif (Makarim, 2022).

Lalu apa sajakah ciri mental yang sehat? Mental yang sehat memang bersifat psikis sehingga tidak bisa diketahui langsung lewat penalaran panca indera, tetapi bisa diketahui lewat indikator berupa Kriteria kesehatan mental (Capuzzi & Gross, 1997 dalam Walgito, 2010: 195-197), yakni adalah:

1. Menerima diri sendiri apa adanya (Self aceptance)

2. Mengetahui kondisi keadaan diri sendiri (Self knowlegde)

3. Percaya diri dan memiliki pengendalian diri (Self condifence and self control).

4. Memiliki pemahaman yang benar terhadap realita (A clear perception of reality)

5. Memiliki keseimbangan hidup dan mampu bersikap moderat/tidak ekstrim (Balance and moderation)

6. Memiliki cinta kasih dan kasih sayang pada orang lain (Love of others)

7. Mencintai kehidupan yang dijalani (Love of life)

8. Menyadari sepenuhnya tujuan hidupnya (Purpose in life).

B. Latihan Meditasi dalam Buddhisme

Meditasi atau Samadhi dalam Buddhisme pada umumnya membagi dirinya dalam 2 metoda latihan, Samatha dan Vipassana. Samatha adalah latihan untuk menekan kilesa (kotoran batin) yang muncul agar pikiran menjadi lebih tenang dan mudah diarahkan, sedangkan Vipassana adalah proses latihan menyadari sebagaimana adanya setiap nama-rupa (batin, mencakup semua fenomena batin dan jasmani/bentukan fisik) bahwasannya bersiklus asali timbul-berlangsung-lenyap. Tidak ada yang kekal maupun milik diri sehingga bila dilekati menjadi penderitaan.

10 Jenis kilesa (Kotoran batin, Mon, 2015: 2) adalah:

1. Lobha atau Tanha: Keserakahan, nafsu keinginan.

2. Dosa : Kebencian.

3. Moha atau Avijja: Ketidak-tahuan, delusi.

4. Mana: Pembandingan diri, kesombongan.

5. Ditthi: Pandangan salah.

6. Vicikiccha: Keragu-raguan,skeptisisme.

7. Thina: Kemalasan, kelambanan.

8. Uddhacca: Kegelisahan batin.

9. Ahirika: Tidak punya rasa malu berbuat salah.

10. Anottapa: Tidak punya rasa takut berbuat salah.

Dalam proses latihan seringkali ada bagian di mana diri sendiri perlu menyingkirkan rintangan ataupun gangguan dalam bersamadhi. Gangguan ini bisa bersifat internal (Berasal dari dalam diri) maupun eksternal (Berasal dari luar diri). Gangguan internal biasanya adalah wujud daripada 10 kotoran batin yang senantiasa mengotori batin kita, gangguan itu mewujud dalam 5 bentuk rintangan internal (Panca Nivarana), yakni:

1. Kamachanda (nafsu-nafsu keinginan)
2. Byapada (kemauan jahat)

3. Thina-middha (kemalasan dan kelambanan)
4. Uddhacca-kukkucca (kegelisahan dan kekhawatiran)
5. Vicikiccha (keragu-raguan)

Sedangkan kesepuluh Gangguan eksternal (Dasa Palibodha) adalah:

1. Avasa (tempat tinggal)
2. Kula (pembantu dan orang yang bertanggung jawab)
3. Labha (keuntungan)
4. Gana (murid dan teman)
5. Kamma (pekerjaan)
6. Addhana (perjalanan)
7. Sati (orangtua, keluarga, dan saudara)
8. Abadha (penyakit)
9. Gantha (pelajaran)
10.Iddhi (kekuatan gaib)

C. Menghadapi Rintangan Batin Bagi Mereka Yang Mentalnya Kurang Sehat/Terganggu

Dalam kondisi psikis yang tidak stabil, biasanya orang yang mentalnya terganggu mengalami lonjakan emosi maupun ketidak-stabilan kondisi batin (misal: terlalu sedih, marah) bahkan kecenderungan ingin bunuh diri (sebagai akibat tidak dapat menerima dirinya sendiri). Pada saat meditasi, secara langsung kita akan berhadapan dengan kotoran batin diri sendiri.

Misalnya kotoran batin kebencian (byapada). Apabila kita menghadapi rintangan ini ketika kita baru saja depresi karena kalah bisnis dengan rival kita, hal ini akan membuat kebencian malah semakin berlarut-larut, yang pada akhirnya akan berubah menjadi balas dendam ataupun keinginan merasa putus asa sehingga ingin mengakhiri hidup.

Itulah alasannya mengapa banyak praktisi meditasi yang menyarankan kepada kita untuk berhenti bermeditasi dan memohon bimbingan (sejenis konseling) dari guru pembimbing meditasi apabila kita merasa tidak mampu menghadapi kotoran batin yang mewujud menjadi rintangan meditasi tersebut. Sebagai guru meditasi yang baik, biasanya praktisi akan diminta menenangkan diri terlebih dahulu sebelum dapat memulai kembali latihan meditasinya.

Dalam kasus-kasus yang berat, selain daripada bimbingan dan konseling dengan guru meditasi, praktisi akan diminta berkonsultasi dengan psikolog/psikater apabila ada gejala gangguan mental yang berat atau fatal. Misalnya kecenderungan ingin melukai/membunuh diri sendiri, ataupun ingin merugikan orang lain. Dalam kondisi demikian, apabila memaksakan diri untuk bermeditasi, hal ini akan memberikan dampak lebih buruk bagi kondisi mental praktisi tersebut.

Perlu kita garis bawahi, ketika kita bermeditasi, kita sedang berhadapan dengan diri sendiri. Tepatnya adalah kotoran batin dalam diri sendiri. Apabila kita tidak siap atau tidak sanggup, tentu kita akan kehilangan kontrol atas diri sendiri. Seperti kota/benteng yang direbut pasukan lawan karena pasukan pengamanan internal tidak baik-baik saja dan tidak mampu mempertahankan benteng tersebut. Misalnya ketika kita tidak mampu mengendalikan gejolak emosi dalam batin ketika bermeditasi, efeknya adalah orang tersebut malah dikuasai emosi dan melakukan banyak hal buruk di luar pengendaian dirinya sendiri.

Jadi, sebaiknya kalau mengalami gangguan mental dalam bermeditasi dan tidak bisa menghadapinya sendiri, sebaiknya berhenti meditasi dulu dan mengkonsultasikannya dengan guru meditasi, atau bila kasusnya berat segera konsul pada psikolog.

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)

Daftar Pustaka

Makarim, Fadhli Rizal. 2022. Gangguan Jiwa. https://www.halodoc.com/kesehatan/gangguan-jiwa. Diakses 26 Desember 2022.

Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karier). Yogyakarta. Penerbit Andi.

Mon, Mehm Tin. 2015. The Essence of Visuddhi Magga (Jalan Menuju Kesucian) Volume II. Yangon, Myanmar. Mehm Tay Zar Mon Publisher.

Foto: https://www.instagram.com/p/CMccGZNHHvb/?utm_source=ig_embed&ig_rid=a85df9fe-1c38-4b06-b3e8-9f9f7d9d9ed0

Butuh bantuan?