Borobudur Setelah Dicanangkan Sebagai Tempat Ibadah Umat Buddha (10): Merasakan Semangat Persatuan di Bawah Candi Agung Borobudur

Home » Artikel » Borobudur Setelah Dicanangkan Sebagai Tempat Ibadah Umat Buddha (10): Merasakan Semangat Persatuan di Bawah Candi Agung Borobudur

Dilihat

Dilihat : 18 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
WhatsApp Image 2022-06-02 at 5.26.37 PM

Oleh: Jo Priastana

“Entah bagaimana tercapainya persatuan itu, entah bagaimana rupanya persatuan itu, akan tetapi kapal yang membawa kita ke Indonesia Merdeka itulah kapal Persatuan adanya” (Soekarno, 1901-1970, Proklamator Kemerdekaan Indonesia)

 

Alam dan kehidupan tampaknya hadir dengan keanekaragaman dan karakteristiknya masing-masing. Flora, fauna, manusia memiliki ciri dan karakteristiknya di tengah-tengah perbedaaan dan keanekaragaman. Kehidupan manusia juga tampaknya demikian, beragam suku, ras, budaya, keyakinan dengan ciri dan kekhasannya, semuanya memperkaya dan memperindah kehidupan hidup itu sendiri. Alam dan manusia, ras, suku bangsa dan budaya serta keyakinannya mencerminkan keanekaragaman.

Keanekaragaman merupakan anugerah, dan pluralisme tampaknya tak terelakkan. Kendati begitu, di dalam visi spiritualitas kosmologis dan humanisme, keanekaragaman itu pun tak harus dipandang secara diskriminatif atau dalam pandangan kutub-kutub ekstrim yang saling membedakan satu sama lain atau eksklusif. Sebaliknya, segala adaan itu tampaknya terhubung satu sama lain, dan dalam konteks ajaran Buddha dikatakan bersifat independensi (pratitya samutpada), bahwa satu sama lain saling tergantung.

Fakta pluralitas memiliki hubungannya satu sama lain, seperti adanya prinsip universal, kesatuan, kesamaan di balik segala perbedaan dan keanekaragaman yang ada. Sebagaimana dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan bahwa dibalik keanekaragaman, ras, suku, agama, dan budaya terdapat prinsip yang sama yang menjadi pengikat persatuan bangsa. Prinsip kesatuan yang terdapat di dalam imajinasi kita yang mendiami wilayah yang sama sebagai satu bangsa dan satu negara dengan dasar negara Pancasila.

 

Beragam Aliran

Dalam kehidupan beragama, fakta pluralisme ini juga niscaya terjadi. Begitu pula dengan Agama Buddha. Dalam sejarahnya, agama Buddha berkembang ke banyak daerah, ke berbagai daerah yang memiliki kekhasannya baik itu geografis, penduduk, dan kultur, sehingga  melahirkan  berbagai aliran-aliran agama Buddha. Setidaknya, ada dua mashab besar, yaitu Theravada dan Mahayana, dimana dari mashab Mahayana lahir Tantrayana, sehingga Buddhadharma dipandang memiliki tiga aliran besar: Theravada, Mahayana, Tantrayana.

 Perbedaan yang ada dan berkembang dalam berbagai mashab ini kerap kali mendatangkan permasalahan atau kecenderungan yang bersifat dogmatis-ekstrim sehingga melahirkan sikap-sikap yang fanatis-eksklusif dan sekterian. Sekterian melupakan bahwa dari semuanya berasal dari satu sumber yang sama yakni ajaran Buddha atau Buddhadharma. Keragaman aliran ini kerap kali menjauhkannya dari sikap keberagamaan yang ideal, seperti toleransi, saling menghormati dan inklusif, terpaku pada identitas lahiriah, minimnya refleksi individual secara filosofis maupun penghayatan ajaran secara eksistensial.

Kecenderungan yang bersifat sekteisme, karena terlalu memutlakkan pandangannya sendiri, padahal sesungguhnya mereka juga berasal dari satu sumber yang sama. Untuk itu, tidakkah semua bisa belajar dari Candi Agung Borobudur yang mencerminkan ajaran Buddha yang utuh, baik Theravada, Mahayana maupun Tantrayana. Borobudur mengatasi kesenjangan dari banyaknya aliran dalam agama Buddha dari munculnya kecenderungan yang fanatis-eksklusif dan mewujudkan kebersamaan bahwa semuanya berada dalam satu Buddha.

 

Panji Buddhis

Dalam sejarah perkembangan agama Buddha yang tumbuh dalam berbagai aliran itu, tampaknya juga terdapat upaya-upaya untuk mengatasi kesenjangan atas hadirnya pandangan-pandangan dogmatis ekstrim dan sikap fanatis eksklusif dengan menemukan jembatan kesatuan bahwa keanekaragaman aliran itu memiliki sumber ajaran yang sama. Upaya-upaya dalam memandang ketiga mashab sebagai berasal dari sumber yang satu dan sama itu misalnya dengan mencetuskan simbol atau tanda, konsep semangat persatuan yang bisa dikenali dan diterima oleh semua aliran.

 Diantaranya upaya seperti yang dilakukan oleh H.S. Olcott yang menciptakan atribut atau simbol berupa Bendera Buddhis (1885) dan Dasar-Dasar Keyakinan Agama Buddha (1981). Melalui bendera Buddhis itu, H.S. Olcott berusaha mempersatukan berbagai aliran agama Buddha. Selain itu, ia turut pula membangun landasan kepercayaan agama Buddha.  Atribut bendera Buddhis ini kemudian diterima oleh World Fellowship of Buddhist sebagai lambang pemersatu agama Buddha.

Upaya yang dilakukan oleh Olcott yang meletakkan landasan untuk persatuan itu mendapat sambutan, terbukti dengan adanya disepakatinya oleh pimpinan berbagai aliran, baik Mahayana maupun Hinayana atau Theravada. Selanjutnya, langkah Olcott ini semakin banyak diikuti oleh tokoh-tokoh lainnya, dan ini merupakan langkah yang sangat baik didalam menemukan rasa persatuan di-antara berbagai aliran agama Buddha.

 

Buddhayana

Selain simbol bendera Buddhis itu berkembang juga konsep “Buddhayana” pada awal semaraknya kebangkitan kembali agama Buddha di abad 20. Konsep “Buddhayana” yang mencerminkan semangat persatuan berbagai aliran. Upaya mencari persamaan, alih-alih perbedaan, di antara Theravada dan Mahayana ini mendapat sambutan dari para tokoh pergerakan kebangkitan kembali agama Buddha di Dunia,

Terdapat beberapa tokoh dan para, sarjana, akademisi Buddha yang mengumandangkan “Buddhayana” sebagai konsep persatuan. Gema persatuan melalui konsep Buddhayana itu disuarakan oleh tokoh-tokoh agama Buddha International, seperti: Christmas Humphreys, Lane Beatrice Suzuki, Bhikkhu Walpola Rahula, serta Ananda W.P. Guruge lewat berbagai media. (Hudaya Kandahjaya, “Ensiklopedia Nasional Indonesia,” Jakarta: 1991).

Semangat persatuan juga muncul dalam berbagai organisasi Buddhis dunia. Pada tingkat institusional dunia atau internasional, terdapat wadah persatuan Sanggha atau World Buddhis Sangha Council (WBSC) yang didirikan pada tahun 1966. Pada Kongres Dunia I WBSC di Kolombo (1967) dilakukan perumusan prinsip-prinsip dasar agama Buddha. Sebelum WBSC, telah terbentuk pula wadah persatuan umat Buddha skala dunia yaitu World Fellowship of Buddhist (WFB) pada tahun 1950. (Biksu Dharmavimala: “Buddhayana dan Kontekstualisasi Agama Buddha di Indonesia, 2012:8).

Kemudian pada tanggal 9 Maret 1974 di New York, Bhikkhu Dr. Buddhadasa Kirtisinghe selaku Direktur “The Third Annual International Buddhist Seminar” mengusulkan sebutan Ekayana (Kereta Tunggal) atau Buddhayana (Kereta Buddha) untuk agama Buddha. Dengan konsep itu, harapan semangat bersatu padu di Jalan Buddha akan semakin meningkat. Anjuran ini mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak, di negeri Belanda, Singapura, dan juga di Indonesia.

Bisa dikatakan bahwa konsep Buddhayana yang merupakan Jalan atau Kereta Buddha mencakup Triyana (Tiga Kereta); yaitu Hinayana (Kereta Kecil) atau Sravakayana, Madhayamayana (Kereta Madya) atau Pratyekabuddhayana, dan Mahayana (Kereta Besar) atau Bodhisattvayana. Pengelompokkan dalam aliran-aliran ini ada hubungannya dengan cara mencapai kebuddhaan dari para siswa Buddha. Hinayana sebagai jalan Sravaka disebut menggunakan kereta kecil yang ditarik oleh kambing, sedangkan Mahayana yang menempuh jalan Bodhisattva disebut menggunakan kereta besar yang ditarik oleh sapi, begitu pula dengan Tantrayana. Meski tampaknya ada banyak kereta, jalan atau yana, sesungguhnya bahwa berkat keterampilan dalam cara (upaya kausalya) tidak banyak kereta. Hanya dengan satu kereta saja, Tathagata (sebutan untuk Buddha), mengajarkan untuk mencapai Nirvana. (Hudaya Kandahjaya, dan Suktadharmi, Ensiklopedi Nasional, 1991).

 

Bersatu di Bawah Candi Agung Borobudur

Kebangkitan dan persatuan umat Buddha tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Candi Borobudur. Di Indonesia, kebangkitan agama Buddha yang dikenal secara internasional  dalam semboyan “Buddha Jayanti” ini diawali dengan diadakannya perayaan Waisak di Candi Borobudur di tahun 1956 untuk pertama kalinya, setelah era kerajaan Majapahit atau di era negara Republik Indonesia. Perayaan Waisak di Candi Borobudur ini dipandang menjadi momentum kebangkitan agama Buddha secara inklusif yang non-sekterian.

Tak lama setelah diadakannya perayaan “Buddha Jayanti” ini hadir putra Indonesia yang menjadi Bhikkhu, yaitu Ashin Jinnarakkhita di tahun 1958, yang sebelumnya juga terlibat dalam perayaaan Waisak di Candi Borobudur itu.  Selanjutnya, kebangkitan kembali agama Buddha ini juga disemarakkan dengan hadirnya berbagai aliran, sebagaimana yang berpuncak pada kongres Walubi (Perwalian Umat Buddha Indonesia) pertama di tahun 1979.

Kongres Walubi pertama ini menghasilkan keanggotaan beberapa organisasi, majelis agama Buddha dengan latar belakang alirannya, yang secara keseluruhan mencerminkan tiga mashab agama Buddha: Hinayana/Theravada, Mahayana dan Tantrayana. Sampai dewasa ini, Agama Buddha berkembang dalam berbagai macam aliran, yang setidaknya terangkum dalam tiga aliran besar, yaitu: Hinayana yang dikatakan juga sebagai Theravada, Mahayana dan Tantrayana.

Konsep Buddhayana yang tumbuh di awal kebangkitan kembali agama Buddha di abad 20 turut menyertai berkembangnya berbagai aliran-aliran tersebut dalam rangka memberikan landasan semangat persatuan. Semangat persatuan yang setiap tahunnya diingatkan kembali dalam perayaan Waisak bersama di Candi Agung Borobudur. Makna dan semangat persatuan ini sangat penting di tengah keniscayaan pluralisme aliran, sehingga patut untuk dikumandangkan terus menerus, dapat memberi daya bagi tumbuhnya kesadaran Buddha, serta bersama-sama turut mengatasi problem-problem bangsa, negara serta dunia.

Semangat persatuan dalam pemahaman dan keyakinan bahwa berbagai aliran agama Buddha itu sesungguhnya cerminan keutuhan dari esensi ajaran Buddha, hasil dari penghayatan, pengalaman eksistensial umat Buddha sebagaimana yang mungkin terjadi dalam diri para leluhur para pendiri Candi Borobudur, sebagai bangunan perjalanan spiritual yang satu dan sama adanya dan yang selalu dicari dan dirindukan oleh semua manusia sepanjang abad. Candi Borobudur sebagai pendakian bukit kesadaran Buddha yang dapat dilakukan oleh siapa saja mengatasi identitas aliran-aliran bahkan identitas agama apa pun.

Leluhur pendiri Borobudur yang pandai menerapkan ajaran Jalan Tengah Buddha, sikap moderasi dalam beragama sehingga makna persatuan yang mencerminkan esensi dan keutuhan ajaran Buddha dapat diwujudkan dalam bangunan budaya spiritual agung dan mampu menjembatani dan mengatasi pandangan dari berbagai aliran-aliran yang ada.

Borobudur, karya luhur leluhur bangsa mengandung nilai universal, melintasi zaman dan sejarah yang menyimpan kebaikan dasar dalam kedamaian kesatuan umat manusia dan memancar ke segenap bangsa-bangsa di dunia. Borobudur berdiri dalam semangat persatuan para leluhur dahulu dimana umat Buddha sepantasnya bercermin. Dan sebagai warisan bangsa Borobudur juga dapat menjadi sumber energi dalam merawat keutuhan Bangsa Indonesia (JP)

***

Foto: Antara foto/Anis Efizudin
https://foto.kompas.com/photo/read/2022/06/01/16540913296ad/Bendera-Merah-Putih-Sepanjang-1000-Meter-Dibentangkan-di-Candi-Borobudur

Butuh bantuan?