Borobudur Setelah Dicanangkan Sebagai Tempat Ibadah Umat Buddha (3): Manifestasi Berbuddha dan Berbudaya

Home » Artikel » Borobudur Setelah Dicanangkan Sebagai Tempat Ibadah Umat Buddha (3): Manifestasi Berbuddha dan Berbudaya

Dilihat

Dilihat : 0 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
WhatsApp Image 2022-04-17 at 10.52.18 PM

Oleh: Jo Priastana

 

“Kebudayaan yang benar dilahirkan di alam, sederhana, rendah hati dan murni”

(Masanobu Fukuoka, Filsuf-Petani)

 

 Kehidupan manusia dalam perjalanannya mencapai terealisasinya benih-benih Kebuddhaan tidak akan mungkin dapat dilepaskan dari Budaya. Karena itu, manusia yang Berbuddha, sebagai umat Buddha, sebagai yang beragama Buddha akan pasti juga berbudaya. Begitulah dengan Candi Borobudur sebagai tempat ibadah agama Buddha yang didirikan oleh para leluhur Buddha masa lalu. Borobudur   yang kini menjadi monumen Budaya, dan ditetapkan sebagai warisan budaya bagi dunia, serta baru saja dicanangkan oleh pemerintah sebagai tempat ibadah.

 Pakar kebudayaan, Zoetmulder (1906-1995) mengungkapkan tentang kebudayaan yang diartikannya sebagai perkembangan segala kemungkinan dan kekuatan kodrat dalam diri manusia di bawah pembinaan akal budi. Arti ini menunjukkan bahwa kebudayaan itu mencakup seluruh dinamika serta realisasi segenap potensi kemanusiaan yang menuju kedewasaan dan kesempurnaan sebagai seorang manusia.

Pengertian kebudayaan ini bila dikaitkan dengan kata Buddha, maka akan terlihat kesamaan dan kedekatannya dan bahkan berhubungan atau malah secara esensial tidak dapat dipisahkan.  Tujuan dari kebudayaan manusia atau manusia yang membudaya itu berkait rapat dengan makna dari Buddha sebagai manusia yang telah sempurna, manusia yang telah sadar, yang telah bangun, yang telah menjadi Buddha.

 

Kebudayaan dan Pertumbuhan Manusia

Kebudayaan mencakup segala aspek kehidupan seperti bidang sastra, seni, ekonomi, teknik dan sosial, serta mencakup nilai-nilai, ide-ide semuanya berkisar dan menuju pada manusia yang sedang bergerak meningkatkan kualitas hidupnya, menuju kesempurnaannya. Kebudayaan merupakan proses dari manusia yang membudaya, yang tak lepas dari mental-kesadaran manusianya.  

Dalam kitab-kitab Pali, istilah yang dapat diartikan sebagai budaya, dalam arti mental, moral dan spiritual adalah “bhavana”, yang berasal dari akar-kata “bhn-“, berarti: “pembinaan, pengembangan, pencapaian”.  Budaya atau pembinaan ini seringkali dibagi dalam tiga cabang: pembinaan jasmani (kaya-bhavana), pembinaan batin (citta-bhavana), dan pembinaan kebijakan (pañña-bhavana).        

Kebudayaan sebagai pembudayaan manusia dalam menyempurnakan dirinya adalah sejalan dengan umat Buddha yang sedang Berbuddha, menjadi Buddha dan mewujudkan kesadaran sempurnanya.  Dalam satu bidang kebudayaan, seni misalnya, yang menyangkut sesuatu yang indah dari perjalanan manusia menuju kesempurnaannya juga dapat diwujudkan oleh umat Buddha sebagai pengembangan potensi kebuddhaannya. Kebudayaan menjadi sarana dari pembinaan atau bhavana manusia, tumbuh dan berkembangnya kesadaran Buddha yang maha sempurna, seperti: kesadaran metta, kesadaran karuna, kesadaran mudita dan kesadaran upekkha.  

 Sebagaimana menjadi Buddha itu sendiri selalu dalam proses, kebudayaan adalah suatu proses, suatu kata kerja, suatu aktivitas dari proses eksternalisasi upaya manusia memahami dan menyempurnakan dirinya. Sebagaimana dikatakan oleh pakar kebudayaan Koentjaraningat (1923-1999), kebudayaan itu dapat berwujud tiga bentuk, yaitu: ide-ide (nilai-nilai, agama), tingkah laku dan tata hidup serta produk (seni, sastra, bangunan arsitektur dan lain-lain) sebagai ekspresi manusia.

 

 Tiga Lingkaran Konsentris

Dengan melihat tiga macam wujud budaya yang tercermin dalam tiga lingkaran konsentris, luar dalam dan inti, maka kita akan menemukan bahwa walaupun dalam berbudaya agamanya atau berbuddhanya itu berbeda namun sesungguhnya nilai-nilai Buddhisnya adalah tetap sama dan satu, yakni keyakinan terhadap Buddha dan pokok-pokok ajarannya. Bentuk-bentuk budaya dapat digambarkan dalam tiga lingkaran konsentris, dari lingkaran yang paling dalam yakni yang abstrak hingga lingkaran yang paling luar yakni yang paling konkrit. 

Bentuk pertama atau lingkaran yang terdalam merupakan wujud kebudayaan sebagai suatu sistem kompleks gagasan, konsep dan pikiran manusia yang bersifat abstrak. Bentuk kedua atau lingkaran yang kedua, merupakan wujud kebudayaan manusia sebagai suatu sistem kompleks aktivitas manusia yang berpola dalam masyarakat, yang diatur dan ditata oleh system gagasan dari lingkaran yang terdalam. Bentuk ketiga atau lingkaran yang terluar, merupakan wujud kebudayaan sebagai benda-benda konkrit ciptaan manusia, sebagai hasil atau sarana aktivitas manusia yang berpola berdasarkan kedua lingkaran tersebut diatas.

Wujud pertama kebudayaan dalam agama Buddha itu tiada lain adalah sistem ajaran Buddha Gautama itu sendiri, suatu konsep abstrak yang menyangkut pandangan hidup seorang Buddhis, yang antara lain terdiri dari: Empat Kesunyataan Mulia, Hukum Karma, Hukum Tumimbal Lahir, Hukum Tilakkhana, Hukum Paticca Samuppada dan lain-lain. Wujud kedua terdiri dari serangkaian aktivitas umat Buddha dalam kehidupannya yang dituntun oleh ajaran Dharma Buddha Gautama untuk menghayati makna hidupnya, serta untuk mencapai pembebasan dari penderitaannya itu.

Wujud ketiga terdiri dari benda-benda konkret yang diciptakan oleh umat Buddha sebagai alat dan sarana untuk melaksanakan penghayatan makna hidupnya, untuk melakukan persembahyangan dan sebagai wujud konkret dimensi religius yang hidup di dalam batinnya. Terdapat aneka macam benda-benda hasil ciptaan umat Buddha sepanjang sejarah perkembangannya, seperti: pagoda, vihara, candi, Buddharupang, Avalokitesvararupang dan lain sebagainya, altar, jubah para bhikkhu/bhiksu, dan lain-lainnya.

Melalui ajaran-ajaran Buddha, siswa Buddha menghayati kehidupannya di dunia ini dan senantiasa berperilaku dan mewujudkan nilai-nilai Buddhis yang terkandung dalam ajaran tersebut, baik dalam dimensi yang sangat religius spiritual melalui pelatihan diri, pelaksanaan ritual maupun melalui aktivitas sosial kemasyarakatan, mewujudkan institusi Buddhis dan karya budaya.  Semua karya Budaya tidak lain adalah perwujudan dari nilai-nilai Buddhis yang dilakukan oleh siswa Buddha dalam rangka proses kesempurnaannya, mewujudkan kesadaran (citta), segala bentuk-bentuk mental (cetasika), kesempurnaannya dalam mencapai kesadaran metta, karuna, mudita dan upekkha atau Brahma Vihara

Pada akhirnya karya budaya itu akan memberikan manfaat, kebaikan, inspirasi bagi yang lainnya dan berupa peninggalan bagi generasi selanjutnya. Semua wujud kebudayaan Buddhis tersebut selalu akan menghantar kita untuk melenyapkan kilesa (kekotoran batin) seperti lobha, dosa dan moha, serta mengarahkan kepada kesadaran yang tertinggi. Karenanya, berbuddha, beragama Buddha atau berproses menjadi Buddha tidak lepas dari kebudayaan.

Dengan memahami kebudayaan dan berbuddha ini, dapatlah dimengerti bahwa kebudayaan Buddhis berasal dari sumber yang satu dan sama, yakni Buddhadharma. Buddhadharma yang berkembang ke berbagai bangsa dan negara akan pula menghasilkan corak agama Buddha dan kebudayaannya yang beragam yang tampak melalui warisan budayanya namun keragaman itu mencerminkan kesadaran dan inti ajaran Buddha yang satu dan sama.

Dalam sejarah Agama Buddha yang masuk dan berkembang ke Nusantara telah menghasilkan Candi Borobudur. Candi Borobudur sebuah karya budaya yang mencerminkan ajaran Buddha dan didirikan sebagai tempat ibadah. Borobudur mendapat perhatian dari dunia, dan setelah renovasi, tepatnya pada tahun 1991, UNESCO memasukkan Candi Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia dan masuk dalam kriteria budaya.

Pada kesempatan pencanangan empat candi sebagai tempat ibadah, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Adung Abdul Rochman mengatakan, empat candi itu merupakan cagar budaya yang harus dilindungi dan dijaga bersama. Selama ini, empat candi tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian, kebudayaan, dan pariwisata. Nota kesepakatan membuat akan lebih banyak agenda keagamaan untuk umat Buddha dan Hindu dari domestik ataupun mancanegara.  “Kita harapkan candi-candi itu bisa menjadi pusat ibadah bagi umat Hindu dan Buddha di Indonesia dan dunia,” ujar Adung.  Kita mencermati pernyataan Staf Khusus Menteri Agama ini karena sangat relevan dan penting sekali bagi umat Buddha sehubungan dengan warisan tempat ibadah monumental Candi Borobudur ini.

Mencanangkan Borobudur sebagai tempat ibadah memberi tanggungjawab kepada komunitas Buddha untuk tidak menyia-nyiakannya. Untuk itulah, beribadah ke Candi Borobudur bisa memiliki kandungan nilai yang bersifat normatif-spiritual bagi umat Buddha yang ada di Indonesia untuk datang beribadah ke Candi Borobudur dan merasakan kebersamaan sesama umat Buddha, seperti yang diungkapkan sosiolog Emile Durkheim dan antropologi Radcliffe-Brown bahwa upacara dapat mempertebal perasaan kolektif dan integrasi sosial. (Roger M.Keesing, “Cultural Anthropology”, 2008: 106-109). Mari kita Berbuddha sekaligus Berbudaya dengan menjaga dan memelihara Candi Borobudur dengan laku ibadah dalam ritual keagamaan yang mengekspresikan dan menguatkan solidaritas dan rasa persatuan! (JP)

****

 

Bacaan:

Sejarah Hari Waisak dan Ragam Perayaannya di Dunia, CNN Indonesia, 26 May 2021.

Waisak di Borobudur, Serafica Gischa, Kompas.com, 7 Mei 2020.

CNN Indonesia, 18 Mei 2019, “Ribuan Umat Buddha Kirab Waisak Mendut-Borobudur

Asumsi.com, Irfan Muhammad 26 Mei 2021.

Ismijomo, Perpustakaan BPNB Jawa Barat, Perpustakaan Khusus Sejarah dan Kebudayaan, e.g. Library and Information, aanbpnbjabar.kemdikbud.go.id, 7322.

TOKOH DI BALIK KEMAHSYURAN CANDI BOROBUDUR, Kompas.com, 25 April 2020, 16.00 WIB.

Roger. M. Keesing. 2008. “Antropologi Budaya. Suatu Perpektif Kontemporer.” Alih Bahasa Samuel Gunawan dari “Cultural Anthropology. A Contemporary Perspective. 1981. Jakarta: Erlangga.

Jo Priastana, 2005. “Be Buddhist Be Happy”. Jakarta: Yasodhara Puteri.

Pustaka Pengetahuan.com. “Sejarah Candi Borobudur, Penemuan, Pemugaran Dan Rehabilitasi Candi Borobudur.” 19 Agustus 2020.

JPN.com Historiana, “Begini Cara Inggris, Belanda dan Jepang Menjaga Borobudur Ketika Menduduki Jawa,” 01 Februari 2016.

Edij Juangari. 2016. ”Menabur Benih Dharma di Nusantara: Riwayat Singkat Y.A. MNS Ashin Jinarakkhita”. Jakarta: Karaniya.

Batik Kinnara Kinari, motif Stupa Borobudur

Butuh bantuan?