Borobudur Setelah Dicanangkan Sebagai Tempat Ibadah Umat Buddha (8): Borobudur Sebuah Catatan Pusat Kedamaian Dunia

Home » Artikel » Borobudur Setelah Dicanangkan Sebagai Tempat Ibadah Umat Buddha (8): Borobudur Sebuah Catatan Pusat Kedamaian Dunia

Dilihat

Dilihat : 2 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
WhatsApp Image 2022-05-17 at 5.25.14 PM (9)

dari Rabindranath Tagore, Richard Gere, Dalai Lama

hingga Mark Zuckerberg, Barrack Obama, Gus Dur

 

 

Oleh: Jo Priastana

“Tidak ada jalan menuju perdamaian yang ada hanya kedamaian”

(Mahatma Gandhi, 1869-1948; pemimpin spiritual dan Tokoh Kemerdekaan India)

 

Keberadaan Borobudur di tanah Jawa, mungkin karena itulah membuat Tagore memiliki pertalian batin yang erat dengan Jawa. Mungkin karena di Jawa, dia dapat menyaksikan dan merasakan getar-getar kebudayaan India. India dan Jawa tampaknya memiliki rumpun budaya yang serupa, dan bukankah berkat Buddhadharma dan Sang Buddha yang berasal dari India itu pula yang membuat Borobudur berdiri. Begitu pula dengan kisah Ramayana, Mahabharata, Bharatayudha yang dapat diasalkan dari India.  

Tentang tanah Jawa ini Ia menuliskannya, “Kepada Tanah Jawa” (Rabindranath Tagore/1927). “dalam zaman yang kalem, yang jauh, yang tidak tertulis kita bersua, engkau dan aku dan dalam perkataanku terjalin dalam perkataanmu dan jiwaku dalam jiwamu”. Terasa Tagore menancapkan keyakinan dalam-dalam, bergumul dalam persetubuhan batin antara dirinya dengan bencah dwipa. (sastra-indonesia.com, 2008/09).

Catatan perjalanan Tagore ke Tanah Jawa terekam dan menjadi tulisan “Letter From Java atau “Surat-Surat dari Jawa’ hasil terjemahan Martin Suryajaya. Tulisan-tulisan ini dibukukan dan kemudian diterbitkan Direktorat Sejarah Kemendikbud. Buku catatan perjalanan Tagore di Indonesia ini dibagikan gratis pada acara peringatan 90 tahun Tagore yang diadakan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta pada 15-16 September 2017. Peringatan ini mengambil tema “Ideas of Tagore and Dewantara on Education, Culture and Nationalism”.

 

Catatan Terhadap Borobudur

Sebagai pujangga kelas dunia, Tagore memiliki pandangan yang kritis tentang budaya, baik budaya Barat maupun Budaya Timur. Hal ini tampaknya berlaku untuk Borobudur. Catatan pengetahuan dan penilaiannya sehubungan dengan candi Borobudur ini tertuang pada Surat 15 (26 September 1927).

 “Pahatan pada patung Borobudur sangat luar biasa. Kekuatan kebaikan terlihat memperoleh kemenangan-kemenangan kecil, termasuk bagi makhluk paling rendah hingga akhirnya mencapai kemenangan tertinggi dalam pengorbanan dirinya untuk Cinta Kasih. Kekuatan Cinta Kasih yang Tak Terbatas pelan-pelan melepaskan simpul-simpul yang mengikatnya sehingga kehidupan dapat melangkah maju menuju kebebasan. Hewan tidak memiliki kebebasan karena ia mementingkan diri sendiri, roh berevolusi mengurangi tekanan mementingkan diri sendiri.”  Tapi dalam bentuk Borobudur keseluruhan, saya tidak merasa terkesan. Debu yang ditimbun oleh waktu memadamkan semangat dan daya ungkapnya. Visi, dimana karya seni manusia ini bergantung untuk mengekspresikan dirinya, telah hilang ditelan waktu”.

Tagore terkesan pada pahatan-pahatan yang menghias Candi Borobudur. Pahatan yang dibuat oleh para leluhur yang memperlihatkan kemampuan ketrampilannya dalam seni pahat yang sangat tinggi, yang memperlihatkan keindahan didalam melukiskan ajaran Sang Buddha tentang pencapaian spiritual tertinggi yang bisa diperoleh oleh segenap makhluk. Tagore mencatat puncak pencapaian spiritual seorang Buddha adalah Cinta Kasih. Dalam Cinta Kasih itulah makhluk mencapai pembebasan, menjadi Buddha dan itu artinya bebas dari kepentingan diri sendiri, bebas dari keakuan.

Tetapi terhadap keseluruhan keberadaan Candi Borobudur di tanah Jawa itu tersendiri, Tagore tampaknya kurang berkesan. Ini tentunya berkaitan dengan keberadaan Candi di Tahun 1927 yang sulit kita bayangkan bagaimana keadaannya, bagaimana tingkat keruntuhannya dan sampai sejauh mana keadaan batu-batu yang menjelmakan Borobudur, apalagi Borobudur telah lama ditelan waktu, rusak karena alam, tidak ada manusia yang merawatnya, sehingga Tagore sempat berpendapat juga bahwa visi dimana perwujudan candi tersebut tergantung tampaknya juga sudah hilang ditelan waktu.

 Catatan Tagore terhadap Candi Borobudur ini memberi makna yang dalam bagi kita semua dan patut kita simak dengan sebaik-baiknya, apalagi mengingat keberadaan Candi Borobudur itu kini telah dicanangkan sebagai tempat ibadah. Pusat religi umat Buddha Dunia yang tentunya memiliki visi jauh ke depan bagi keberadaan candi tersebut, komunitas Buddhis di Indonesia dan nama besar bangsa Indonesia di dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia.

Borobudur sebagai satu warisan budaya bangsa yang dikagumi banyak manusia di dunia dan bahkan menjadi warisan dunia yang kabarnya juga telah keluar dari salah satu tujuh keajaiban dunia. Sebuah catatan tentang budaya, tentang candi Borobudur yang sangat bermakna dan masih relevan hingga kini yang ditulis oleh pujangga dunia 95 tahun lalu.

Catatan Rabindranath Tagore tentang Borobudur, serta puisinya tentang Borobudur dapat menjadikan kita banyak belajar tentang makna dan eksistensi budaya dimana di dalamnya kita tumbuh. Tentunya kita kagum dan merasa memiliki, bangga terhadap Borobudur yang termasuk kekayaan budaya Timur, warisan kita semua. Tetapi dengan menyimak catatan-catatan Rabindranath Tagore, kita juga perlu sadar dan kritis dalam menyikapinya, terutama untuk merawatnya agar tetap lestari.

Setidaknya kita tidak tenggelam dalam keterpesonaan dan kepemilikan, sementara Borobudur itu sendiri telah memberi pelajaran banyak dalam segala aspek dan dimensinya sebagai warisan Budaya kepada lingkungan sekitar dan juga dunia, dan terlebih lagi keberadaannya di tengah kemajuan zaman teknologi dan pergaulan global saat ini. Sebuah catatan inspirasional dalam menyikapi Borobudur secara proporsional dengan sebaik-baiknya di tengah tantangan realitas perkembangan dunia kehidupan saat ini.

 

Mark Zuckerberg, Barrack Obama dan Gus Dur

Borobudur menjadi pusat kunjungan bagi rohani manusia di dunia, baik dari Timur maupun dari belahan Barat. Mereka yang datang mendambakan dan menemukan kedamaian dalam bangkitnya kesadaran sempurna Buddha, bebas dari segala penderitaan. Di Borobudur mereka menikmati kedamaian, menemukan keceriaan dari kehidupan penduduk disekitarnya yang masih menyimpan dan memelihara warisan keterampilan dari para leluhurnya yang membangun Borobudur.

Mereka datang tanpa ambisi hanya duduk hening menikmati udara sejuk yang ada, rasa damai yang terpancar dari kedamaian puncak stupa dimana aku melebur, dan mungkin sekedar menikmati keindahan Borobudur yang disiram sinar matahari pagi, sebelum mereka bergegas kembali kepada tugasnya masing-masing sebagaimana dialami Mark Zuckerberg.

 Mark Elliot Zuckerberg, seorang pemrogram dan pengusaha internet pencipta jejaring sosial Facebook datang ke Borobudur pada 12 Oktober 2014.  Pendiri dan CEO Facebook ini sewaktu berada di Borobudur mengungkapkan, “I just arrive in Indonesia and hiked up Borobudur to watch the sunrise. Tomorrow for internet.org I’m looking forward to meeting with developers, operator partners and government leaders in Jakarta.” Tokoh berpengaruh masa kini yang beristrikan penganut Buddha, Priscilla Chan ini, menikmati sinar mentari pagi di balik keagungan Candi Borobudur tempat Buddha bersemayam sebelum pada akhirnya kembali menyongsong tugas-tugas profesinya.

Mark Zuckerberg tampaknya memiliki hubungan dengan Buddha, karena ia beristrikan Priscilla Chan yang merupakan penganut Buddha. Istrinya ini yang juga pernah menawarkan doa untuk dirinya.. Dalam pandangan Marx, “Buddhisme adalah agama dan filsafat menakjubkan tentang hal itu dari waktu ke waktu. Saya harap untuk terus memahami iman lebih dalam.” (Tribun Manado.co.id, 4/1/2017).

Di tengah kehidupan dunia dewasa ini yang masih sarat dengan ancaman peperangan, konflik dan kekerasan bersenjata, Borobodur bisa menjadi simbol semangat perdamaian. Barrack Obama, mantan Presiden Amerika Serikat (2009-2017), saat berlibur ke Indonesia pada Juni 2017 menyempatkan berkunjung ke Borobudur. Obama mengagumi candi Buddha terbesar di dunia itu sebagai simbol harmoni dan toleransi umat beragama. Obama kagum dengan candi peninggalan agama Buddha tersebut yang saat ini berada di tengah masyarakat Muslim dan masih terawat dengan baik. (Tirto.id, 6/9/2017).

Sementara tokoh pluralisme dan toleransi, mantan Presiden RI, Abdurahman Wahid dalam dialognya dengan Daisaku Ikeda, tokoh intelektual Buddhis dunia terkemuka dari Jepang, mengungkapkan tentang Borobudur (buku “The Wisdom of Tolerance: A Philosophy of Generosity and Peace”). Gus Dur begitu biasa disapa, mengungkapkan, “Sebagai warisan budaya kebanggaan Indonesia, Borobudur dikunjungi baik oleh Muslim maupun Buddha. Setiap batu pada koridor monumen tersebut dipahatkan gambar-gambar. Saya melihatnya sebagai sebuah simbol semangat perdamaian dan kegigihan orang-orang pada waktu itu.”

Pernyataan Gus Dur yang pantas disimak dan diwujudkan untuk kebangkitan bangsa yang penuh semangat, berkembang maju di tengah-tengah bangsa-bangsa lainnya di dunia di jaman perubahan iptek yang pesat ini. Tidakkah, pencanangan kembali Borobudur sebagai tempat ibadah ini juga dimaksudkan untuk itu? Semangat Kebangkitan bangsa secara inklusif untuk kemajuan NKRI dan juga sebagai pusat kedamaian bagi dunia, kebahagiaan semua makhluk.

 

Richard Gere, Dalai Lama dan Pusat Kedamaian Dunia

Kemanakah orang berpaling ketika dunia terbakar terjadi konflik dan peperangan? “Tengoklah ke Borobudur karena di sana terpancar rasa damai”, demikian  diungkapkan Richard Gere, aktor Hollywood, penganut Buddhis murid Dalai Lama dalam suatu kesempatan ketika berkunjung ke Candi Agung Borobudur. Bagi Richard Gere kunjungan ke Indonesia dan ke Borobudur di tahun 2011 merupakan bagian dari perjalanan spiritualnya dan terinspirasi perayaan 1.000 tahun kedatangan Atisha.

“Atisha adalah pendeta yang membawa gelombang Buddha ke Tibet. Pada tahun 1011 ia belajar Buddha di Sriwijaya. Tahun 1012, Atisha mengunjungi Candi Borobudur. Ajaran yang ada di Candi Borobudur ia bawa ke Tibet. Jadi akar ajaran Buddha di Tibet sampai sekarang ini asalnya dari Candi Borobudur. Ini kenapa menginspirasi Richard Gere untuk datang ke Candi Borobudur,” ujar Hardi Chung dalam suatu kesempatan di tahun 2011. (Kompas.com, 18 Juni 2011, “Ini Alasan Richard Gere ke Indonesia”)

Di Borobudur, di pagi hari Richard Gere melakukan ritual meditasi dan malam hari di kaki Candi Borobudur, ia menikmati sendratari mahakarya Borobudur yang mengisahkan pembangunan candi pada abad ke-8 era Dinasti Syailendra. Ia mengatakan, ia sudah menunggu 25 tahun sejak ia ke Bali untuk bisa mengunjungi Borobudur. “Saya telah belajar banyak sejarah Borobudur yang terkait dengan guru saya dari Tibet, Atisha yang pernah datang kesini untuk belajar. Atisha guru yang luar biasa dan dekat dengan Dalai Lama. Kedatangan saya kesini sangat penting bagi pembelajaran saya tentang Buddhisme,” katanya, sebagaimana dikutip Munarsih Sahana, voaindonesia.com 27/06/2011.

Di mata bintang film AS Richard Gere, Borobudur sangat mengesankannya. Richard Gere mengaku jatuh hati pada kemolekan candi yang dibangun pada masa Syailendera itu. Richard Gere juga menitipkan pesannya, agar Borobudur sebagai kekayaan budaya dunia yang mengagumkan hendaknya dapat dijaga dengan baik agar tetap lestari. (Tempo.co, 28/6/2011)

Kedatangan Richard Gere pada 26 dan 27/6/2011 itu juga bertepatan dengan perayaan 100 tahun perayaan restorasi modern terhadap candi Borobudur, dan 200 tahun Raffles menemukan Candi Borobudur. Sebagai penganut Buddha, Richard Gere juga banyak mengunjungi situs-situs Buddha lainnya yang terdapat di berbagai negara.

Candi Borobudur merupakan representasi ajaran Buddha, karenanya Borobudur dan Buddha tak terpisahkan. Mengengok Borobudur adalah menengok Buddha yang damai dalam samadinya. Dalai Lama mengungkapkan tentang Buddha: “semacam getaran kedamaian dan non-kekerasan yang utuh yang keras ada di dalamnya.” Bagi Dalai Lama, Buddha adalah Kedamaian dan Non-Kekerasan. Bobobudur telah dibangun oleh para leluhur bangsa Indonesia ini, selalu diselamatkan dari ancaman keruntuhannya demi menghadirkan pesan keabadian untuk kedamaian dunia. (JP) ***

Sumber foto:

https://m.bisnis.com/amp/read/20171225/224/721226/libur-natal-400-replika-kupu-kupu-hiasa-kawasan-candi-borobudur

Butuh bantuan?