Borobudur Setelah Dicanangkan Sebagai Tempat Ibadah Umat Buddha (9): Borobudur Warisan Dunia, Diantara Timur dan Barat

Home » Artikel » Borobudur Setelah Dicanangkan Sebagai Tempat Ibadah Umat Buddha (9): Borobudur Warisan Dunia, Diantara Timur dan Barat

Dilihat

Dilihat : 7 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
Borobudur 9

Oleh: Jo Priastana

“Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat, dan tidak pernah keduanya itu bertemu.

Sampai  Bumi dan Langit berdiri saat ini di Takhta Pengadilan Agung Tuhan; 

Tetapi tidak  ada perbatasan timur atau barat”

(Rudyard Kipling, 1865-1936; Penyair Inggris dan penulis)

 

Rabindranath Tagore adalah seorang pujangga besar yang dimiliki dunia. Melalui karyanya “Gitanjali” (Anjali Gita: offerings song) yang berisikan puisi-puisi spiritual, ia memperoleh hadiah Nobel Sastra pada tahun 1913. Di tahun 1913 ini, tahun dimana Ki Hajar Dewantara dibuang ke Belanda karena menulis ‘Als ik een Nederlander was’ (Andai Aku Seorang Belanda). Baik Tagore dan Ki Hajar Dewantara saling mengenal satu sama lain dan sama-sama memberi perhatian pada dunia pendidikan dalam konteks warisan budaya Timur dan kemajuan Budaya Barat bagi kemajuan dunia.

Berkenaan dengan Budaya Timur dan Budaya Barat, Tagore menghirup dan menikmati kedua-duanya. Seperti halnya Pramoedya Ananta Toer yang juga menyelami Barat dan terlihat pada karya monumentalnya, tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. Begitu pula Tagore, seorang pemikir Timur yang sangat memuja sinar terang pengetahuan Barat, namun tetap menjaga jati diri ketimuran. Mereka para pujangga besar yang melihat Timur dan Barat secara realistis dan kritis.

Pramoedya Ananta Toer dan Rabindranath Tagore memberi apresiasi terhadap pengetahuan dan kemajuan Barat sebagaimana juga Ki Hajar Dewantara. Meski begitu mereka tak kehilangan seluruh dirinya karena kebudayaan Barat itu, dan tidak tenggelam atau larut dalam kebudayaan-kebudayaan leluhurnya. Mereka melakukan tawar menawar dengan diri yang penuh harga dan percaya, bahwa baik Timur maupun Barat, adalah sama-sama untuk anak segala bangsa yang berada di Bumi Manusia yang jejak langkahnya patut kita pelajari dengan realistis dan kritis.

 

 Taman Siswa Ki Hajar Dewantara

Begitu pula dengan Ki Hajar Dewantara yang kemudian dikenal menjadi Bapak Pendidikan Nasional Indonesia juga banyak belajar dari Budaya Barat tanpa melupakan Budaya Timur untuk mengembangkan pemikirannya tentang pendidikan bagi kemajuan anak-anak negerinya. Sedangkan Tagore memperoleh berkah dari negara Barat yang menjajahnya, yakni kolonial Inggris, dimana dia memungkinkan untuk memiliki akses yang luas dengan seantero Eropa bahkan dunia dengan kebudayaannya.

Tagore mereguk pengetahuan, ilmu Barat dengan rasa kagum namun juga tidak melepaskan warisan kebudayaannya sendiri yang juga dipandanganya secara kritis ketika dihadapkan dengan Barat. Dengan mata hati dan pikirannya yang terbuka, Tagore menggunakan banyak masa hidupnya untuk keliling dunia, melihat kenyataan langsung eksperimentasi ekspansi pengetahuan Barat. Salah satu perjalanannya yang terpenting, tersimpan dalam  bundel catatan-catatannya, ‘Letters From Java: Rabindranath Tagore’s Tour of South East-Asia 1927’.

Pada 24 September 1927, satu hari setelah menulis puisi “Borobudur” di pelataran candi Borobudur, Tagore melanjutkan perjalanan ke Bandung. Di sana pada 27 September petang, datang menemuinya tiga orang pemuda, salah seorang diantaranya Soekarno. Anak muda progresif yang kemudian hari menjadi Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di Indonesia, Tagore juga mengunjungi Taman Siswa Ki Hajar Dewantara yang terletak di Yogyakarta. Taman siswa adalah sekolah yang didirikan Ki Hajar Dewantara yang juga terinspirasi dari konsep pendidikan Tagore dan tokoh pendidikan Montessory. Tagore dan Dewantara merupakan pemikir pendidikan, sama-sama menimba pengetahuan Barat dan sistem pendidikan barat yang kemudian diadaptasi dengan budaya negerinya bagi kemajuan anak-anak bangsanya.

Keduanya sama-sama mengembangkan ide dan pemikiran tentang pendidikan. Mereka bertemu pada 21 September 1927 di Yogya saat Tagore berkunjung ke Taman Siswa. Taman Siswa merupakan sekolah yang sehaluan dengan sekolah yang didirikan Tagore, Santiniketan di India. Kedua tokoh besar dari Indonesia dan India merupakan pemikir-pemikir Pendidikan yang menyerap ilmu di Barat. Ki Hajar banyak belajar budaya Barat sewaktu di Belanda, terutama pendidikan yang dikembangkan oleh Maria Montessory.

 Rabindranath Tagore yang banyak berkeliling dan belajar ke negeri-negeri di Barat. Sebenarnya, pada periode mendekati Perang Dunia 2 di Eropa, tokoh pendidikan Italia, Maria Montessory pun hendak berkunjung ke Taman Siswa, namun lantaran adanya perang antara Italia-Jerman vs Inggris dan Perancis, membuatnya mesti pulang kembali meski perjalanannya sudah sampai India.

 

Pesona Timur dan Barat

Meski tumbuh dalam kebudayaan Timur dan menghirup budaya Barat, Tagore tetap kritis dalam menyikapinya. Catatan kritisinya tentang Barat dan Timur, tertuang dalam Surat 17 (1 Oktober 1927), yang berbunyi:

“Saya terkesima ketika melihat semua ini dan menyadari betapa menyeluruhnya orang-orang dari Barat ini mengeksploitasi bumi. Belum lama sejak mereka dalam kelompoknya masing-masing, mulai berlayar dengan kapal-kapal layar mereka menuju samudera yang tidak dikenal. Sejarah upaya mereka ini dipenuhi banyak kesulitan dan bahaya. Dan hari ini betapa mendalamnya semua itu telah dipelajari dan dimiliki. Kita dari Timur harus mengakui kekalahan dari mereka. Mengapa? Terutama karena kita statis dan mereka dinamis. Dalam berbagai hal, kita masih terikat kepada tatanan sosial, sedangkan mereka terus bergerak dengan kebebasan individunya. Demikianlah bagaimana hidup berkelana menjadi mudah bagi mereka. Mereka juga telah mengumpulkan pengetahuan dan barang dari hasil pengembaraannya. Alasan yang sama yang membuat keinginan mereka untuk mengetahui dan memiliki menjadi lebih tajam. Kekuatan yang memampukan orang Belanda menjadikan pulau-pulau ini miliknya dengan berbagai cara, juga mendorong mereka untuk menguasai peninggalan sejarah pulau-pulau ini dengan upaya yang sama, disiplin dan telitinya, meskipun semua itu sama sekali asing bagi mereka. Keinginan-tahuan mereka tak terbatas. Begitulah mereka memenangkan dunia, baik dari luar maupun dalam, bukan hanya melalui kekuatan senjata tapi juga melalui kekuatan keinginan intelektualnya. Kita tersandera oleh beban hidup rumah tangga dan beban kegiatan sosial. Kita tidak memiliki tenaga lagi untuk melangkah maju sedikitpun. Dan para pemimpin kita meminta kita menengok ke belakang, ke masa lalu kebudayaan kita yang merupakan keabadian. Lupa bahwa keabadian itu awalnya bertumpu pada kinerja dalam menjalankan segala kewajiban dalam rumah tangga dan bukan pada penolakan atas kewajiban. Kita dapat menghancurkan sistem sosial kita dan mungkin mempelajari ilmu pengetahuan alam dari Barat, tapi apakah kita dapat mengadopsi sistem sosialnya?” (Catatan Perjalanan Rabindranath Tagore ke Borobudur. Pandangan Jogja Com, 14 Februari 2020, kumparan.com)

Baik Timur dan Barat, meminjam judul buku Pramoedya Ananta Toer adalah warisan bagi Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa. Karenanya Jejak Langkah yang ditinggalkan para leluhur baik di Timur dan di Barat adalah kekayaan budaya, ilmu pengetahuan bagi manusia zaman kini yang sedang bergulat menempuh kehidupannya di tengah kemajuan alat transportasi dan komunikasi yang telah membuat dunia menjadi satu, globalisasi.

 

Belajar dari Timur dan Barat

Semuanya dapat belajar baik dari kemajuan Barat maupun pesona budaya Timur, kebudayaan modern dan tradisional untuk kemajuan hidup manusia, keselamatan Bumi Manusia, kesejahteraan anak segala bangsa, dan kebahagiaan serta kedamaian semua makhluk saat ini. Timur dan Barat memang berbeda, namun mereka kini tak terpisahkan lagi, jarak telah terjembatani oleh iptek layaknya hidup dalam desa dunia (global village).

Perbedaan budaya Barat dan Timur tampak jelas dari beragam aspek, dan keduanya terkadang terlihat berseberangan satu sama lain. Budaya barat sering dipandang negatif oleh penganut budaya Timur namun unggul di sektor teknologi. Budaya Timur sering dipandang kaku, statis oleh penganut budaya kebaratan, namun unggul dalam hal moral, sopan santun dan adat istiadat.

Sastrawan utama Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) mencatat dalam karyanya “Bumi Manusia”, tentang kelebihan Budaya Timur sebelum majunya Barat. “Jauh sebelum Eropa beradab, bangsa Yahudi dan Cina telah menggunakan nama marga. Adanya hubungan bangsa-bangsa lain yang menyebabkan Eropa tahu pentingnya nama keluarga … Kalau pribumi tak punya nama keluarga, memang karena mereka tidak atau belum membutuhkan, dan itu tidak berarti hina. Kalau Nederland tak punya Prambanan dan Borobudur, jelas pada jamannya Jawa maju daripada Nederland, Jangan kau mudah terpesona oleh nama nama: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatan-kehebatannya dalam kekosongan, Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pegetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap si pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.”

Polemik kebudayaan soal budaya Timur dan Barat ini juga pernah terjadi yang melibatkan pujangga hebat Indonesia pada tahun 1930-an. Dipicu oleh oleh Sutan Takdir Alisjahbana dengan tulisannya “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia–Pra Indonesia (Pujangga Baru, 2 Agustus 1935). Takdir menegaskan tentang lahirnya zaman Indonesia yang bukan sekali-kali sambungan Mataram, Minangkabau atau Melayu, Banjarmasin atau Sunda, karenanya tiba waktunya mengarahkan mata kita ke Barat.

Pendapat Takdir kemudian mendapat tanggapan dari Sanusi Pane dan Poerbatjaraka dalam tulisannya yang berjudul “Persatuan Indonesia” (Suara Umum, 4 September 1935). Kedua tokoh budayawan yang menghormati warisan budaya bangsanya ini menyatakan, “Zaman sekarang ialah terusan zaman dahulu…Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust (Barat) dan Arjuna (Timur), memesrakan materialisme, intelektualisme, perasaan dan collectivism. (Ensiklopedia Jakarta, Polemik Kebudayaan, 02 Juli 2018).

 

Dalam Gengaman Timur dan Barat

Perbedaan yang terletak pada budaya Barat dan Timur memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.  Sebaiknya, ambil sisi positif dari setiap budaya yang ada untuk bisa menjadi individu yang lebih berkembang dengan tetap menghargai dan bersikap kritis, karena masing-masing dengan keunggulan dan kelebihannya tersendiri juga memberikan sumbangsih bagi warisan dunia.

Borobudur, sebagai warisan budaya Timur tetap berada sampai masa kini, zaman globalisasi dimana sudah tidak ada lagi batas-batas geografis yang ketat yang menghalangi, dimana kini semua orang dapat menikmati warisan budaya maupun yang tengah berkembang. Borobudur kini tampaknya berada di antara Timur dan Barat, warisan Timur yang keberadaannya di iklim budaya Barat.

Borobudur tetap berada karena dikenali kembali dan dirawat oleh tangan-tangan dan kepintaran orang Barat dan orang Timur sendiri. Orang Barat seperti Thomas Stamford Raffles dan Theodoor van Erp dengan kemajuan iptek dan berkembangnya ilmu arkeologi, tokoh negeri dan bangsa sendiri, seperti Prof. dr. Sardjito, Soekmono, Daoed Joesoef dan lainnya.

Sebagai warisan dunia, Borobudur dapat dinikmati oleh masyarakat dunia masa kini dari manapun mereka datang. Segenap manusia dari mana saja dapat belajar dari Borobudur, baik dari belahan Timur maupun belahan Barat, karena kini dunia sudah menyatu. Mari kita jaga Borobudur sebagai warisan Timur dengan memanfaatkan pula ilmu pengetahuan dari Barat seperti studi dalam bidang arkeologi.. 

Tidak ada lagi perbatasan Timur dan Barat, sebagaimana 100 tahun lalu sudah diungkapkan sastrawan Rudyard Kipling (1865-1936), penyair, sastrawan Inggris yang lahir di India. Rudyard Kipling yang terkenal dengan karyanya “The Jungle Book”, (“Buku Rimba”) 1894, kumpulan cerita yang menarik dan disukai banyak anak-anak di seluruh dunia, baik di Barat maupun Timur. (JP).

***

Butuh bantuan?