Budaya Bakti Tionghoa dalam Balutan Kebijaksanaan Timur

Home » Artikel » Budaya Bakti Tionghoa dalam Balutan Kebijaksanaan Timur

Dilihat

Dilihat : 6 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
bakti 1

Oleh: Majaputera Karniawan, S.Pd. 

 

Li Ka-shing (李嘉誠; Lǐ Jiāchéng) seorang milyader terkaya di Hongkong menggemparkan dunia dengan statement “3 uang misterius”, salah satunya adalah uang untuk berbakti pada orang tua! Semakin banyak yang dihabiskan untuk ini, semakin banyak yang kau dapat imbuhnya (Dalam Herman, 2017).  Maka tidak heran orang Tionghoa menganggap laku bakti (Filial Piety) sebagai cara mendulang berkah. Orang tua di sini tidak terbatas orang tua sendiri, bahkan guru kita yang dianggap berjasa juga menjadi target mencurahkan uang untuk berbakti ini, seperti yang dilakukan Ehipassiko Foundation pada 6 November 2021 dengan menganugerahkan penghargaan Yavajivika Dhammasevaka (Abdi Dhamma Sepanjang Masa) sebagai wujud bakti kepada 3 tokoh sepuh (Wirawan Giriputra dari PD MBI SUMUT; Sudharma SL, pendiri sekolah Buddhis Manjushri padang; Jo Priastana, akademisi Buddhis Jakarta)  yang berdedikasi sepanjang hayat dan membahas tentang bakti kepada orang tua.  Belum lagi pada akhir 2019 lalu, alumni STAB Nalanda memberikan dua tiket Dharmayatra ke India untuk dua dosen sesepuh (Alm. Muljadi Wahyono, M.Hum dan Bpk. Jo Priastana, M.Hum) yang sudah dianggap orang tua sendiri. Perjalanan tersebut diabadikan dalam buku “Jalan Sunya Dharmayatra, Ziarah Tanah Suci Buddha di India” (Priastana, 2019). Dalam konteks kekinian, anak mengajak Have Fun orang tuanya dengan pergi ke bioskop atau makan ke restoran menjadi hal yang lumrah. Dalam konteks ritual dan ajaran keagamaan, hal seperti melakukan sembah sujud (Pai Kui/Bai Gui 拜跪) kepada orang tua di waktu-waktu tertentu ataupun mengangkat hio di depan Papan Sinci (Papan sembahyang) bertuliskan “Tian Di Jun Cin Shi Zhi Wei 天地君親師之位” yang secara harfiah berarti “Disini tempat menghormati & berbakti kepada langit, bumi, pemerintah, keluarga, dan guru” menunjukkan bagaimana budaya bakti dijunjung dalam bentuk aksi konkrit. Bahkan dikalangan orang Tionghoa ada pemeo yang menyatakan: Jika tidak berbakti kepada ayah bunda, percuma sembahyang kepada dewa (Fu Mu Bu Xiao, Bai Shen Wu Yi 父母不孝, 拜神無益). Sebenarnya untuk apa kita berlaku bakti? Mengapa kita harus berlaku bakti?

(Sinci Tian Di Jun Cin Shi Zhi Wei 天地君親師之位 yang ada di altar sembahyang Pek Kong Ci伯公祠 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan)

A. Antara Bakti, Ajaran Konfusius, dan Laozi

Budaya bakti dalam masyarakat Tionghoa tidak lepas dari besarnya ajaran bakti Konfusius. Ia meletakkan bakti (Xiao 孝) sebagai salah satu dari 8 kebajikan yang harus dijunjung setiap orang yang mau mengembangkan kebajikan yang bercahaya (Bing Tek/Ming De 明德). Bagi Konfusius, yang dimaksud berbakti adalah: Dapat melanjutkan cita-cita mulia dengan baik dan meneruskan pekerjaan mulia manusia/orang tuanya (Tiong Yong XVIII:2). Esensinya, bakti dilakukan dengan memelihara sekaligus dengan penuh penghormatan (Lun Gi II:7). Dengan berlaku bakti, juga mengasihi saudara dengan berpericinta-kasih sudah dikatakan membantu pemerintah (Suking V:21.1), karena ajaran Konfusius menekankan bahwa tidak mungkin tanpa mendidik keluarga sendiri dapat mendidik orang lain sehingga setiap insan perlu menjadi agen perubahan dengan menjadi contoh panutan dalam berbakti dan bercinta kasih, dengan cara inilah ia turut mengatur masyarakat sekitarnya menjadi baik dan membantu pemerintah (Thai Hak IX:1). Bila kasih dan penghormatan dijalankan sepenuhnya dalam layanan bagi orang tuanya, pelajaran itu akan mempengaruhi kebaikan semua orang dan menjadi sebuah pola untuk tata-krama di empat penjuru lautan dengan bakti kepada orang tua (Xiao Jing 2).

Budaya bakti yang diajarkan konfusius sendiri tidak sebatas satu arah hanya anak kepada orang tua saja, tetapi juga mencakup orang tua kepada anak. Maka dikatakan seorang susilawan khawatir apa yang diharapkan (sebagai orang tua) pada anaknya belum sanggup dilakukan terhadap orang tua, maka dalam rangka menjalankan kebajikan yang sempurna akan sekuat tenaga mengusahakannya, bila berkelebihan (kekayaan) sekalipun tidak berani menghamburkan serta saling sinkron antara ucapan dan perbuatan (Tiong Yong XII:4). Pemikiran bakti Konfusius juga diimbangi pemikiran baktinya Laozi. Menurut Laozi, dalam keluarga yang selalu bertengkar maka diperlukan kehadiran sifat welas asih dan berbakti (Dao De Jing Bab 18). Adanya toleransi dan saling introspeksi diri yang membuat sifat welas asih dan bakti tumbuh. Sebagai orang tua, jika hanya mementingkan ego sendiri akhirnya akan membuat anak takut terbuka menceritakan masalah pribadi yang dihadapi atau bahkan melawan orang tuanya. Hal ini karena orang yang ingin menang dan benar sendiri tidak akan jernih dalam menghadapi masalah, apalagi membedakan mana benar dan salah (Dao De Jing bab 24).

 

B. Pengaruh Buddhisme Terhadap Budaya Bakti

Masuknya ajaran Buddhisme ke dalam masyarakat Tionghoa turut membawa warna baru bagi budaya bakti. Tokoh modern seperti Master Cheng Yen dengan ajarannya untuk tidak menunda berbakti pada orang tua dan berbuat baik merupakan cerminan bagaimana Buddhisme turut menebar budaya bakti (Dalam Hendry dkk: 2016). Ibu dan ayah dikatakan sebagai Brahma dan guru pertama bagi seseorang sehingga pantas dilayani dan memperoleh pemberian (Aṅguttara Nikāya 4.63). Buddhisme melukiskan bahwa sebagai anak membantu ayah dan ibu, serta sebagai orang tua menunjang anak dan istri adalah berkah utama (Khuddaka Patha 6). Salah satu teks populer Buddhist, Sutra bakti seorang anak (Filial Piety Sutra) melukiskan bagaimana pengorbanan seorang ibu menghidupi anaknya. Dikatakan dalam sutra ini, setiap anak meminum kurang lebih 1200 galon air susu ibu (ASI) dari ibunya. Buddhis juga meyakini bahwa ASI adalah darah sang ibu yang telah berubah. Karena banyaknya ASI yang disedot membuat mereka mudah letih dan dalam jangka panjang tulang para ibu menjadi lebih kehitaman dan ringan. Sutra ini mengajarkan ada 10 kebajikan ibu kepada anaknya: (1) Memberikan perlindungan selama dalam kandungan; (2) Menanggung penderitaan kehamilan; (3) Melupakan semua kesakitan begitu anak dilahirkan; (4) Memakan bagian tidak enak baginya dan memberi bagian lezat pada anaknya; (5) Memberi tempat kering pada anaknya sedangkan tempat basah rela ditempatinya; (6) Memberi ASI dan membesarkan anak; (7) Membersihkan yang kotor; (8) Memikirkan anak bila berpergian jauh; (9) Kasih sayang dan pengabdian; dan (10) Welas asih dan simpatinya. Demi orang tua, sutra ini mengajarkan untuk senantiasa mencari keberkahan dan berdana (termasuk kepada Sang Tiratana yang ditujukan pada orang tua).

Dalam tindakan konkret, ajaran Buddha mengajarkan cara membalas budi orang tua bukan dengan melayani mereka sampai menyiksa diri sendiri, namun dengan mendorong mereka agar memiliki keyakinan pada praktik Dhamma, memiliki moralitas, memiliki kedermawanan, dan memiliki kebijaksanaan (Anguttara Nikaya 2.33). Dalam merawat hubungan orang tua dan anak tidak lepas dari hak dan kewajiban, sebagai seorang anak harus menghormati orang tuanya dengan jalan menyokongnya, meringankan pekerjaan orang tuanya, menjaga kebiasaan baik keluarga, menjadi layak atas warisan, dan mewakili orang tua melakukan kebajikan dikala mereka telah tiada; Sebaliknya orang tua yang dilayani demikian harus membalas dengan menjauhkan dari kejahatan, mendukung dalam kebajikan, mengajari keterampilan, membantu mencarikan pasangan yang pantas, serta pada waktunya memberi warisan (Digha Nikaya 31).

 

C. Tokoh-Tokoh Panutan Laku Bakti dalam 3 Ajaran:

1.Ghaṭīkāra si pengrajin tembikar, adalah seorang Anagami (Orang suci tingkat tiga dalam tataran Buddhisme) yang hidup era Buddha Kassapa. Ia memilih menyokong orang tuanya yang telah buta dan jompo ketimbang memasuki Sangha. Karena tergugah akan kebajikannya, Sang Buddha Kassapa memilih menerimanya sebagai penyokong utama daripada Raja Kiki yang berkuasa saat itu, sekalipun beliau harus hidup sederhana dengan menerima dana makan yang sederhana (Majjhima Nikaya 81). 

2. Maha Maudgalyāyana (Maha Moggalana) yang meskipun telah memasuki Sangha tetap memikirkan ibunya yang menderita di alam neraka. Secara inisiatif sendiri, beliau melakukan puja dan dana kepada Sangha untuk menolong ibunya. Tindakan inilah yang menjadi cikal bakal ritual Ullambana pada ajaran Mahayana Buddhisme (Ullambana Sutra/Yu Lan Pen Jing 盂蘭盆經).

3. Kong Tek Cun Ong (Guang Ze Zun Wang 廣澤尊王) menjadi figur sejarah yang didewakan masyarakat Tionghoa karena laku bakti merawat ibu dan ayahnya, jasa jasanya merawat kedua orang tua sampai harus mati-matian bekerjasama dengan seorang ahli fengshui agar bisa menguburkan ayahnya dengan layak, sekalipun harus hidup dalam kemiskinan sebagai gembala kambing. Ia tidak pernah mengeluh maupun marah kepada orang tuanya, bahkan jika ibunya belum makan, ia belum mau makan dahulu. Ia menjadi dewa di usia 16 tahun (Karniawan, 2021: 116).

4. Sam Ya Pek (San Ye Bo 三爺伯) semasa hidup bernama Weng Ding Lan 翁丁蘭, sangat durhaka kepada ibunya, sampai satu ketika ia melihat seekor anak kambing harus berlutut agar bisa menyusu dari induknya, ia pun merenung bahwa hewan saja tahu berbakti mengapa saya tidak? Sayang ibunya telah tenggelam di sungai, di pemakaman ia memakai pakaian blacu (Baju berkabung/Xiao Fu 孝服, di Indonesia dikenal sebagai baju Tuaha) dan menangis sampai mati karena muntah darah dan pendarahan mata. Setelah selesai masa hukuman, raja neraka Giam Lo Ong mengangkatnya sebagai kakek laku bakti (Xiao Zi Ye 孝子爺) untuk memperingati manusia agar senantiasa berlaku bakti pada orang tuanya (Facebook: Ye Xin Ye). 

Daftar Pustaka:

Adegunawan. Suyena (Kompilator). 2018. Xiao Jing Kitab Bakti The Classic of Filial Piety. Bandung. TSA.

Hendry, dkk. 2016. Ceramah Master Cheng Yen: Berbakti kepada Orang Tua dengan Hati yang Murni. http://www.tzuchi.or.id/ruang-master/ceramah-master/ceramah-master-cheng-yen-berbakti-kepada-orang-tua-dengan-hati-yang-murni/1426. Diakses 3 November 2021

Herman Tan. 2017. Miliarder Hong Kong Li Ka-Shing; Di Dunia Ini Ada 3 Jenis “Uang Misterius”, Semakin Kamu Habiskan, Semakin Banyak Kamu Dapat! Apa Saja Itu?. https://www.tionghoa.info/miliarder-hong-kong-li-ka-shing-di-dunia-ini-ada-3-jenis-uang-misterius-semakin-kamu-habiskan-semakin-banyak-kamu-dapat-apa-saja-itu/. Diakses 3 November 2021

https://www.facebook.com/groups/409505552823353/permalink/969918423448727/?app=fbl Diakses 3 November 2021.

Karniawan, Majaputera. 2021. KUMPULAN ARTI LIAM KENG 念經 POPULER TRADISI KELENTENG. Jakarta. Yayasan Yasodhara Puteri.

Lika. ID. Dao De Jing Kitab Suci Utama Agama Tao. Jakarta. Elex Media Komputindo.

MATAKIN. 2010. Su Si (Kitab Yang Empat). Jakarta. Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

MATAKIN. 2015. Kitab Suci Su King. Jakarta. Pusat Kerukunan Umat Beragama, KEMENAG RI.

Nibbana.id. Ullambana Sutra. https://nibbana.id/ullambana-sutra/. Diakses 3 November 2021.

Priastana, Jo. 2019. Jalan Sunya Dharmayatra, Ziarah Tanah Suci Buddha di India. Jakarta. Yayasan Yasodhara Puteri

Suttacentral.net (Online legacy version). Anguttara Nikaya. http://www.legacy.suttacentral.net/an Diakses  3 November 2021.

Suttacentral.net (Online legacy version). Digha Nikaya. http://www.legacy.suttacentral.net/dn Diakses 3 November 2021.

Suttacentral.net (Online legacy version). Majjhima Nikaya. http://www.legacy.suttacentral.net/mn Diakses 3 November 2021.

Suttacentral.net (Online legacy version). Samyutta Nikaya. http://www.legacy.suttacentral.net/sn Diakses 3 November 2021.

Butuh bantuan?