Buddhadharma Dalam Imajinasi Sosiologis (2) – Untuk Solidaritas dan Perubahan Sosial

Home » Artikel » Buddhadharma Dalam Imajinasi Sosiologis (2) – Untuk Solidaritas dan Perubahan Sosial

Dilihat

Dilihat : 88 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 0
  • 38
  • 33,964

Oleh: Jo Priastana

“Ketika transformasi pribadi dicapai, kita akan memperoleh rasa tanggung jawab moral yang lebih besar. Perubahan sosial dan pertimbangan spiritual tidak dapat dipisahkan. Agama terletak pada jantung perubahan sosial, dan perubahan sosial adalah intisari agama” (Sulak Sivaraksa)

 

Penting untuk melihat penderitaan dalam konteks sosial. Hal ini akan lebih mudah untuk menumbuhkan kesadaran moral yang bersifat sosial, kesadaran sosial dan solidaritas maupun kepedulian sosial atas segenap fenomena penderitaan yang berkembang dalam masyarakat.

Selain itu adalah untuk banyak belajar dari fenomena pembangunan yang sedang dilakukan oleh setiap pemerintahan yang tentunya bersifat sosial atau pembangunan sosietal. Paulus Wirotomo, dalam bukunya “Imajinasi Sosiologi: Pembangunan Sosietal”. Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2022, melihat pembangunan sosial dengan kacamata imajinasi sosiologi.

Menurutnya, dengan melihat secara sosiologis, “akan mampu menangkap hubungan antara kondisi individu dengan kondisi masyarakat, antara kisah hidup seseorang (biografi) dengan sejarah masyarakatnya. Dengan kemampuan itu dia akan menemukan atau membongkar banyak hal yang tidak tampak bagi orang biasa (Paulus 2022:12).

Imajinasi Sosiologis

Kita semua tahu, banyak individu yang mengalami berbagai masalah pribadi, seperti kemiskinan, sulit mencari kerja, sulit mencari pacar, sakit, dan tidak bisa mendapat fasilitas pengobatan, tidak bisa mengakses pendidikan, dsb. Banyak yang menganggap semua ini sekadar nasib buruk, bahkan takdir yang harus diterima orang per orang dengan kepasrahan (false consciousness, menurut Karl Marx).

Semua jenis penderitaan yang semula dianggap berdimensi pribadi dan seolah sudah ditakdirkan atau karma seseorang, sesungguhnya bisa berakar pada sesuatu yang diluar dirinya yang berkenaan dengan struktur sosial. Oleh karena itu, “kemampuan melihat secara sosiologis, yaitu mengaitkan masalah pribadi dengan kondisi masyarakatnya diperlukan untuk membantu terjadinya perubahan sosial” (Paulus 2022: 12-13).

Pandangan Paulus Wirotomo ini sejalan dengan sosiolog C. Wright Mills yang menawarkan “sosiological imagination”, yaitu cara pandang yang mengaitkan antara masalah-masalah yang dirasakan individu dengan kondisi makro-struktural. Dengan modal inilah sosiologi berorientasi pada pengembangan kualitas kehidupan sosial. (Paulus 2022: 30)

Filsuf dan sosiolog C. Wright Mills (1916-1962) mengajarkan bahwa masalah sosial yang dihadapi individu sehari-hari harus dimengerti dan dicari penjelasannya dengan melihat pada kondisi sosial yang ada. Misalnya, bila terjadi pengangguran jangan serta merta menyalahkan individu yang bersangkutan, tetapi harus dicari sebabnya di dalam tatanan makro masyarakat. (Paulus 2022: 33).

Kondisi inilah yang disebut Mills sebagai imajinasi sosiologi. Kita akan bisa memahami kehidupan individu bila kita memahami sejarah masyarakatnya. C. Wright Mills, 1916-1962, sosiolog Amerika dan kritikus sosial, ini menegaskan: “Neither the life of an individual nor the history of a society can be understood without understanding both” (Paulus 2022: 33).

Kiat Melihat Secara Sosiologis

Ilmu sosiologi sangat tertarik pada persoalan kesenjangan antar warga masyarakat dan krisis yang ditimbulkannya. Ilmu ini selalu mencita-citakan terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang lebih baik (good society). (Paulus 2022: 30). Bantuan ilmu sosiologi sangat penting untuk melihat penderitaan secara sosiologis. Diperlukan keterampilan untuk melihat penderitaan itu secara sosiologis yakni dengan mengembangkan imajinasi sosiologis. 

Ada tiga kiat untuk “melihat secara sosiologis. (Macionis, “Sociology,” 2007), yakni: ”Seeing the general in the particular”, “Seeing the strange in the familiar”, dan “Seeing personal choice in social context” (Paulus 2022:12)

Pertama, “Seeing the general in the particular”. Artinya setiap kali kita melihat suatu kasus tertentu (particular), kita harus selalu melihat sejauh mana hal ini juga terjadi di masyarakat luas (general). Sering kali kita menemukan bahwa suatu masalah pribadi ternyata juga dialami oleh banyak orang lain, sehingga sebetulnya merupakan suatu masalah sosial, bukan masalah hanya pribadi tertentu. Jadi, cara mengatasinya bukan memperbaiki sang individu, melainkan masyarakatnya.

Kedua, “Seeing the strange in the familiar”. Artinya, seorang sosiolog selalu mencoba mencari suatu “rahasia” di balik hal-hal yang tampaknya biasa-biasa saja (familiar). Dengan cara ini sosiolog bisa membongkar rahasia di balik hal yang tampak biasa. Newton, tokoh ilmu fisika, membongkar hukum gravitasi yang sangat penting itu hanya dari suatu pertanyaan sederhana: “Mengapa apel jatuh dari atas ke bawah?”

Ketiga, “Seeing personal choice in social context”, yaitu menjelaskan bagaimana “pilihan pribadi” dipengaruhi oleh “kekuatan sosial”. Contoh bunuh diri ternyata bukan sekedar keputusan pribadi (gejala perorangan), melainkan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosialnya dan masalah psiko-sosial.

Solidaritas dan Perubahan Sosial

Mengembangkan imajinasi sosiologis untuk melihat fenomena penderitaan atau dukkha merupakan sebuah bentuk atau jalan untuk melenyapkan penderitaan, demi makhluk bahagia, semua bukan perorangan. Kita menyadari bahwa sekalipun mungkin di dalam kesendirian seperti ketika bermeditasi, tidak mungkin juga tanpa sekali bersentuhan dengan adanya orang lain.

Dalam mengembangkan pikiran yang baik di dalam meditasi senantiasa juga akan melibatkan adanya orang lain, seperti misalnya ungkapan Sabbe-Satta-Bhavantu-Sukhitata: Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Begitu banyaknya orang lain itu.

Meditasi sekalipun bersifat sosial, dan karena itulah universal. Begitu pula dengan jalan melenyapkan penderitaan lainnya dalam moralitas-sila (moralitas yang bersifat sosial) maupun panna atau prajna, pandangan terang dalam melihat fenomena dukkha yang tidak lain juga bersifat sosial dalam arti struktural yaitu bahwa fenomena selalu berkaitan dan saling tergantung dengan yang lainnya.

Keberadaan manusia di dunia mengandung dimensi sosial yang sifatnya terstruktur seperti, keluarga, masyarakat, maupun negara. Dukkha tidak semata disebabkan kultural dalam arti mental individu semata atau ideologis yang bersifat pembenaran (seperti karma), namun juga bersifat struktural sosial. Buddhadharma pun terkandung ajaran yang bersifat sosial mengenai hubungan manusia dan lingkungannya yang saling tergantung satu sama lain.

Disinilah pentingnya menumbuhkan imajinasi sosial dalam pemahaman Budhadharma yang mewujud dalam moralitas sosial, kesadaran sosial, kepedulian dan solidaritas sosial. Lebih jauh imajinasi dan kesadaran yang mewujud dalam tindakan-tindakan sosial dan gerakan-gerakan sosial yang melahirkan perubahan sosial dan terbebasnya individu-individu dari penderitaannya! (JP).

***

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)

sumber gambar: https://www.wallpaperflare.com/monk-surrounded-by-children-adults-asia-boys-buddhism-buddhist-wallpaper-arqnr

Butuh bantuan?