Buddhadharma dan Ekologi (1) – Gubuk Buddhadasa dan Pencerahan Ekologis

Home » Artikel » Buddhadharma dan Ekologi (1) – Gubuk Buddhadasa dan Pencerahan Ekologis

Dilihat

Dilihat : 119 Kali

Pengunjung

  • 1
  • 121
  • 571
  • 278,648
Pic 1 BuddhadasaAsiti60

 Oleh: Jo Priastana

 

“Mereka yang menemukan keindahan di seluruh alam akan menemukan

diri mereka menyatu dengan rahasia kehidupan itu sendiri”

(L. Wolfe Gilbert 1886-1970, Penulis Lagu)

 

Di tengah kerusakan alam tantangan iklim global, penting menumbuhkan pencerahan ekologis dimana alam dipandang sebagai manifestasi Dharma. Dharma menjangkau alam semesta dimana manusia berada di dalamnya. Manusia adalah bagian dari keseluruhan yang disebut semesta, sebuah bagian yang terbatas di dalam ruang dan waktu yang kerap menimbulkan perasaan terpisah dari isi semesta lain-lainnya.

Antroposentrisme yang menempatkan keakuan manusia, terpisah dari isi alam lainnya adalah dasar pandangan yang mendatangkan kerusakan alam dan lingkungan. Perasaan diri yang terpisah dari lainnya yang dikenal sebagai sifat keakuan ini adalah sebuah ilusi. Semacam ilusi optik dari kesadarannya, dari khayalannya tentang diri yang terpisah dan jiwa yang kekal.

Keakuan khayalan inilah yang mendatangkan penderitaan bagi dirinya dan alam semesta. Eksploitasi terhadap alam secara besar-besaran yang menyebabkan degradasi lingkungan menjadi cermin dari beroperasinya khayalan keakuan dalam bentuk keserakahan manusia yang tidak pernah akan terpuaskan.

 

Kosmologi Buddhis

Khayalan tentang diri yang terpusat yang justru memenjarakan dirinya untuk tidak melihat kesatuannya dengan alam semesta. Keakuan yang membatasinya pada keinginan pribadi yang hanya terbatas pada dirinya sendiri dan kelompoknya, dan jauh dari perwujudan kasih sayang universal, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, atau “Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia.”

Kasih sayang tumbuh berkat berlakunya hukum kesalingtergantungan segenap makhluk hidup bersama alam di semesta ini, cermin pandangan eksosentrisme yang berlawanan dengan pandangan antroposentrisme. Ekosentrisme adalah pencerahan yang melihat kesatuan manusia dengan alam dan yang perlu diupayakan tumbuh untuk menjaga agar alam dan lingkungan terhindar dari krisis ekologis.

Kehidupan manusia dengan makhluk hidup lainnya di dalam alam semesta ini merupakan suatu kesatuan yang saling terkait, sebagaimana yang tercermin dalam kosmologi Buddhis. Menurut agama Buddha, alam (loka) yang terbedakan dalam sankharaloka, sattaloka dan okasaloka, kesemuanya mencerminkan satu kesatuan semesta alam.

Sankhara-loka meliputi alam tanpa kehendak seperti batu-batu, biji-biji logam dan alam hayat yang tanpa kehendak seperti buah pikiran, citta, gagasan, peradaban, kebudayaan. Alam ini sangat berkaitan dengan kehidupan manusia dimana manusia membutuhkan berbagai jenis benda-benda mati untuk menopang kehidupannya. 

Begitu pula dengan alam sattaloka yang merupakan alam bagi makhluk hidup yang mempunyai kehendak, mulai dari makhluk yang rendah sampai makhluk yang tinggi, baik yang nampak berwujud maupun tidak berwujud, seperti manusia, setan, dewa dan brahma, sebagaimana yang terkelompok dalam kamaloka, rupaloka, dan arupaloka.

Kamaloka meliputi enam alam dewata yang merupakan alam bahagia dan selebihnya adalah satu jagad manusia, satu dunia hewan, satu dunia makhluk yang tidak bahagia, satu dunia setan dan satu daerah neraka. Alam-alam Kamaloka ini jelas saling terkait satu sama lain. 

Di dalam alam ini juga terdapat bahan-bahan kasar dan unsur-unsur alam seperti: tanah, air, api, udara, yang dialami oleh makhluk-makhluk jasmani (berbadan kasar), serta terletak neraka yang dingin dan panas dimana di atasnya terletak kepingan bumi dengan daratan dan lautan yang terkumpul di sekeliling gunung Meru, tempat hidup binatang, manusia, hantu dan roh-roh halus yang jahat. Di sekitar Meru itu beredarlah matahari, bulan dan bintang-bintang. Di atas Meru tinggal beberapa golongan Dewa, sedangkan Dewa yang lain berada di alam yang tinggi, di dalam istana yang melayang-layang.  

Rupaloka merupakan alam bentuk, yang terdiri dari 16 alam Brahma dan bisa dicapai dengan mengheningkan cipta dalam samadi oleh manusia. Sementara arupaloka yang merupakan alam tanpa bentuk yaitu alam Brahma yang tidak bertubuh yang hidup setelah mencapai tingkatan keempat dalam samadi, meliputi alam bukan persepsi dan bukan non-persepsi, alam pengetahuan kekosongan, alam kesadaran yang tak terhingga dan alam ketidakberhinggaan ruang.

Alam arupaloka ini sangat berkaitan dengan manusia, karena menyangkut pencapaian manusia dalam meditasinya. Ini menunjukkan bahwa semua yang berada dalam alam-alam tersebut dengam beragam jenis makhluknya saling terkait dan berpenetrasi satu sama lain, dan tidak terlepas dari Okasaloka.

Kehidupan makhluk seperti: alam bumi tempat kehidupan manusia dan tempat benda-benda mati, seperti: batu, besi dan sebagainya maupun alam dewa, alam neraka sebagai tempat makhluk rendah yang menderita, maupun alam brahma baik rupaloka dan arupaloka saling terkait, saling menyebab dan mengakibatkan satu sama lain.

Alam kehidupan itu berada dalam bentangan okasaloka, cakrawala, angkasa raya yang tak terbatas yang menampung segalanya di dalam kekosongannya. Pandangan kosmologis mencerminkan keseluruhan tentang alam semesta dengan segenap isinya baik yang berdimensi horisontal maupun dimensi vertikal.

Dimensi vertikal dalam kaitannya dengan keberadaan seperti bumi dan planet-planet secara fisik material maupun dimensi vertikal dalam kaitannya dengan keberadaan spiritualitas, alam-alam kehidupan dalam batin manusia. Keduanya segi pandangan kosmologis itu saling melengkapi satu sama lainnya, dimana keselarasan dalam batin manusia akan memunculkan keharmonisan.

Keharmonisan baik dalam hidup sesama dan penghormatan terhadap alam lingkungan, mencegah krisis sosial dan ekologis. Makrokosmos terdapat dalam dunia batin, mikrokosmos sebagaimana keharmonisan batin Bhikkhu Buddhadasa dengan gubuknya yang berada di tengah keserasian alam lingkungan, vihara hutannya yang mencerminkan pencerahan ekologis.

 

Gubuk Buddhadasa di Suan Mokh

Bhikkhu Buddhadhasa, guru spiritual di Thailand selalu menekankan pentingnya untuk selalu dekat dengan alam. Di depan gubuknya yang sederhana dalam naungan pepohonan, beliau melihat pohon beringin, menunjuk tumbuhan dan hewan-hewan yang hidup damai di bawah kerimbunannya. Hidup dibawah pemahaman kearifan Dharma, Bhikkhu Buddhadasa (1906-1993) yang semasa hidupnya tinggal di padepokannya (Suan Mokh) di tengah-tengah keasrian alam ini menyatakan, hukum alam yang pertama, adalah kesalingtergantungan.

Adalah tugas kita untuk memperluas kesadaran kita dimana kasih sayang terhadap sesama adaan (being) yang ada di alam semesta ini tumbuh dan berkembang. Segenap adaan (being) dalam segala derajatnya kehidupannya, baik animate maupun inanimate, yang fisik anorganik, organis maupun yang memiliki daya hidup, vitalitas, mental kesadaran dan bahkan yang terlihat maupun yang tidak terlihat.

Kesadaran yang terus ditumbuhkan untuk hidup harmonis dengan alam dimana kita semua akan terjaga dan merasa bahagia, sungguh berada dalam Dharma. Dharma yang dimaksudkan Buddha sebagai suatu kondisi alami dari setiap hal. Dharma yang menekankan pentingnya kemampuan merasakan – hakikat hidup dari suatu fenomena, termasuk pikiran, dan ketika menyadarinya memperlihatkan betapa pentingnya potensi dan tanggung jawab kita terhadap kelestarian alam. 

Hidup bersama alam dalam pencerahan ekologis akan mengusir kekhayalan tentang aku, egoisme diri yang terpisah dari alam kehidupan dan sesamanya. Segala yang berada di bawah alam semesta memerlukan dan membutuhkan satu sama lain. Segalanya saling berkait dan saling mendukung. Tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri, segalanya saling terhubung dalam kesatuan semesta alam.

Apa yang terjadi dan terdapat di dalam suatu alam akan mendukung kehidupan di alam lainnya atau di alam berikutnya. Prinsip hukum sebab-akibat yang saling tergantung (pratitya samutpada) menegaskan kesaling-terkaitan tersebut: “that is this, this is that,” baik dalam antar segenap fenomena alam, dalam makna dimensi vertikal maupun keterkaitannya dengan dimensi horisontal-spiritual.

Ketika bumi menggeliatkan dirinya dalam bencana alam, maka saatnya untuk menumbuhkan pandangan yang holistik terhadap kehidupan dan alam semesta. Sebagai sesama penghuni angkasa raya ini, saatnya untuk bertindak dan tumbuh bersama alam, dengan bersahabat dan merawat alam serta menumbuhkan kualitas batin yang sempurna.

Dalam pupusnya keakuan, dan pemahaman akan kesalingtergantungan niscaya akan berkembanglah praktik dharma yang ekologis. Mari kita tumbuhkan kesadaran Buddha yang mencerminkan pencerahan ekologis dan memupus keakuan sebagai cermin batin yang sempurna.

Pupusnya keakuan akan memperluas perluasan kasih sayang untuk dunia. Hal ini juga sangat didambakan oleh Albert Einstein (1879-1955) melalui ungkapannya: “Tugas kita harus membebaskan diri kita sendiri dengan memperluas lingkaran kasih sayang kita untuk merangkul semua makhluk hidup dan seluruh alam semesta serta keindahannya.”

 

Bhiksu Tua di Biara Hutan

Bhikkhu Buddhadasa (1906-1993) semasa hidupnya tinggal di padepokannya, di Suan Mokh, Thailand, dikenal sebagai biara hutan. Di tengah keasrian alam ini, dari gubuk sunyi biara hutannya, ia tinggal menyatu dengan alam. Cara hidupnya seperti hendak menyatakan bahwa hukum alam yang pertama, adalah kesalingtergantungan, manusia terhubung dengan alam semesta.

Di gubuk bambu yang renta, bhiksu tua itu duduk seperti juniper atau semak-semak pohon kecil yang tumbuh pelan, berakar kuat pada pada bumi yang mencerminkan keteguhan hati. Dalam hutan sunyi, tak ada khotbah, hanya napas yang pulang pergi seperti pasang surut daun di hutan.

Pagi datang bukan sebagai waktu, melainkan sebagai kesadaran yang jernih. Kabut menggantung di antara batang-batang jati, dan setiap butir embun adalah sutra kecil yang mengajarkan: segala yang hidup saling menopang.

Ia memandang lumut di dinding gubuknya bukan sebagai kelembapan, melainkan sebagai guru yang sabar mengajarkan kelembutan pada batu. Semut-semut kecil yang melintas di ambang pintu, tak pernah disebut gangguan dalam samsara yang sama rapuhnya.

Di hadapannya, sungai kecil mengalir perlahan. Ia tahu: jika hatinya keruh, air pun akan terasa keruh. Jika hatinya jernih, arus itu menjadi cermin tak berbingkai yang memantulkan wajah sejati: bukan “aku”, bukan “milikku”, hanya tarian sebab-akibat yang saling tergantung.

Burung-burung datang tanpa janji, pergi tanpa pamit. Dari mereka ia belajar bahwa kebebasan bukan menguasai langit, melainkan tak meninggalkan jejak luka di ranting yang disinggahi.

Maka pencerahan itu tak turun sebagai cahaya besar, melainkan sebagai kesadaran sederhana, seakan menyatakan bahwa menebang satu pohon adalah menebang nafasnya sendiri, mencemari satu mata air adalah mengotori batinnya sendiri,

Di gubuk sunyi itu, ia tersenyum – bukan karena dunia telah selamat, melainkan karena ia akhirnya mengerti, bahwa dengan menjaga hutan adalah cara semesta menjaga dirinya melalui tubuh seorang bhiksu tua. Dan angin pun berbisik di antara daun menyuara lembut, “saat engkau terjaga, bumi pun ikut bernapas lega.” (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ec/BuddhadasaAsiti60.jpg/250px-BuddhadasaAsiti60. jpg

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?