Oleh: Jo Priastana
“Ketika pohon terakhir ditebang, ikan terakhir ditangkap, dan sungai terakhir tercemar; ketika menghirup udara memuakkan, Anda akan menyadari, terlambat, bahwa kekayaan tidak akan ada di rekening bank dan Anda tidak dapat makan uang.”
(Alan Haselhurst, Lahir 1937, Anggota Dewan Bangsawan Britania Raya)
Bencana alam atau bencana ekologis yang marak terjadi akhir-akhir ini menjadi peringatan untuk menyadarkan kita menumbuhkan pencerahan ekologis. Kerusakan sumber kehidupan manusia itu pantas dijawab dengan mengimplementasikan ekosentrisme sebagai wujud pandangan dari pencerahan ekologis, serta konsep “deep ecology” yang sangat menghargai alam.
Disamping memberi pemahaman bahwa manusia dan kepentingannya bukanlah ukuran bagi segala sesuatu yang lain, konsep “deep ecology” menekankan etika hidup dalam aksi nyata yang konkret sebagai bentuk praktik dharma. Konsep “deep ecology” didasarkan pada perubahan paradigma secara revolusioner, yaitu revolusi cara pandang, nilai dan perilaku atau gaya hidup, dari antroposentrisme menuju ekologisme.
“Deep ecology” pun menjadi sebuah “ecosophy,” sebuah filosofi kehidupan bersama alam dan lingkungan. “Ecosophy” adalah kombinasi antara “eco” yang berarti “rumah tangga” dan “sophy” yang berarti kearifan. “Ecosophy” mengatur kehidupan selaras dengan alam sebagai sebuah rumah tangga kehidupan dalam arti luas. Praktik nyata untuk mewujudkan kepentingan lingkungan dan alam ini dilakukan Ajahn Pongsak sebagai praktik dharma.
Kearifan dalam “Ecosophy”
Manusia ada dan hidup secara koeksistensi bersama bentuk-bentuk kehidupan lainnya. Manusia tumbuh berkembang di dalam alam. Kearifan bersama alam yang menjauhkan dari kepentingan keakuan yang tercermin dalam “ecosophy” inilah yang selalu perlu dijaga dan ditumbuhkan. Sebagai praktik dharma dimana semua kehidupan di alam saling berdampingan dan tergantung satu sama lainnya.
“Ecosophy” merupakan sebuah pergeseran dari sekadar sebuah ilmu (science) menjadi sebuah kearifan (wisdom). Cara pandang ini mendekatkan kita kepada Buddhadharma yang juga dikenal sebagai agama yang memberi tempat kepada kesatuan manusia dengan alam atau sebagai “ecological religion.” Perhatian dalam menjaga kelestarian alam adalah wujud kearifan “ecological religion,” sebagai praktik dharma.
Buddhadharma sebagai “ecological religion” merupakan cerminan dari makna kata Dharma itu sendiri. Secara etimologi, kata Dharma yang bermakna agama atau religion berisikan tentang hukum kesunyataan atau hukum alam yang meliputi apa saja, menyangkut apa pun yang ada di alam ini (Martin Batchelor and Kerry Brown, 1992: 37).
Thich Nhat Hanh menyebutkan adanya dua pintu dharma (Two Main Dharma doors) untuk membantu mencapai pemahaman tentang kebersamaan manusia dengan alam (Batchelor and Kerry Brown, 1997: 101). Pertama, melalui abhidhamma dari sisi subyektif-kesadaran dan kedua melalui dharma dari sisi obyektif realitas-alam.
Pertama melalui Abhidhamma yang membahas dimensi internal diri manusia yang disertai meditasi guna tumbuhnya kesadaran pencerahan. Kesadaran pencerahan yang bersifat praktis dalam arti kesadaran atau pencerahan terhadap sesuatu mengandung pengertian yang benar (samma–ditthi).
“The first is the Abhidharma door, the Buddhist psychological approach to the problem of internal peace. People need to know the way to transform their internal formations, to relieve their suffering inside. Meditation should base on the understanding of mind; enlightenment should be considered as something very practical; for enlightenment is always enlightenment about something. And such insight is not just knowledge but true understanding” (Batchelor and Kerry Brown, 1997:101).
Kedua, Dharma itu mengacu kepada pencaharian akan kehidupan yang harmoni dan damai. Tidak hanya memiliki rasa hormat kepada manusia namun juga mencakup semua bentuk kehidupan di alam semesta.
“The second important Dharma door refers to the Buddhist approach to harmony and peace. This refers to the Buddhist spirit reference for life. Not only do we have to respect the lives of human beings, but we have to respect the lives of animals, the vegetable and mineral realms, and the earth” (Batchelor and Kerry Brown, 1997:101).
Praktik Dharma Ajahn Pongsak
Pencerahan yang bersifat praktis itu adalah selalu pencerahan yang mengacu kepada sesuatu sebagai pencerahan terhadap alam atau pencerahan ekologis. Pencerahan ekologis yang merupakan penghargaan terhadap bumi ini pernah diungkapkan oleh Bhiksu Thich Nhat Hanh (1926-2022) dengan kata-kata yang menyentuh.
“Walking on the earth is a miracle. Each mindful step reveals the wondrous Dharmakaya. Opening the window, I look out onto the Dharmakaya. How wondrous is life. Attentive to each moment, my mind is clear like a calm river.” (Batchelor and Kerry Brown, 1997: 101).
Thich Nhat Hanh menyebutkan bahwa pencerahan itu bersifat praktis ekologis. Pencerahan selalu mengacu kepada sesuatu seperti pencerahan terhadap alam atau pencerahan ekoogis. Selain kepada implementasi pernyataan Bhiksu Thich Nhat Hanh, tentang pencerahan bersifat praktis dan ekologis yang mencerminkan pemahaman etika Buddhadharma terdapat pada Ajahn Pongsak di Thailand (Batchelor and Kerry Brown, 1997:87-99).
Ajahn Pongsak, anggota Sangha yang menjadi aktivis lingkungan, Buddhist Engaged, dengan gerakan swadaya masyarakatnya meyakini bahwa suatu kehidupan spiritual itu adalah juga melakukan keterlibatan dan partisipasi aktif dalam masyarakat untuk melenyapkan adanya penderitaan termasuk diantaranya dengan menjaga kelestarian alam dan merawat bumi.
Ajahn Pongsak yang tinggal di Wat Palad, sebuah vihara dekat Chiang Mai, Thailand Utara melakukan karya dharmanya bekerja bersama penduduk desa lembah Mae Soi dalam melakukan penghijauan kembali hutan dan membangun saluran irigasi.
Dalam pandangan Ajahn Pongsak, “Dharma, the Buddhist word for truth and the teachings, is also the word for nature. That is because they are the same. Nature is the manifestation of truth and of the teachings. When we destroy nature, we destroy the truth and the teachings, when we protect nature, we protect the truth and the teachings.” Martin (Batchelor and Kerry Brown, 1997: 99).
Dengan jelas, dalam praktik kehidupannya, Ajahn Pongsak telah mewujudkan kata Dharma itu sendiri. Dharma yang menyangkut kebenaran yang berkaitan dengan alam, dan karenanya menghargai alam berarti juga menghargai Buddhadharma. Alam adalah manifestasi dari kebenaran dan ajaran Buddhadharma, dan bila kita melestarikan alam berarti kita pun melestarikan Buddhadharma melalui praktik dharma ekologis, dan hal itu dimungkinkan berkat tumbuhkan kesadaran ekologis yang berawal dari pemahaman terhadap Abhidhamma sepenuhnya.
Tangan Berlumur Tanah Sang Bhiksu
Mari dengarkan suara dari kesadaran penuh batin bhiksu yang tercerahkan yang terukir dalam praktik dharma ekologis. Di lereng bukit yang pernah gundul, seorang bhiksu berjalan perlahan dengan jubah lusuh dan tangan berlumur tanah. Tak ada mantra keras di bibirnya, namun setiap benih yang ia tanam adalah paritta panjang bagi bumi yang terluka.
Kesunyiannya bukan lari dari dunia, melainkan ruang hening tempat tangis sungai masih terdengar. Ia duduk di antara tanggul-tanggul mati, mendengarkan penderitaan tanah sebagaimana ia dulu mendengarkan gelombang dukkha di dalam batinnya.
Cangkul di tangannya adalah vajra kesabaran. Peluh yang jatuh ke bumi menjadi dana tanpa nama, ia menggali parit kecil, mengarahkan air yang dulu tercerai berai agar kembali menemukan jalan pulang ke sawah, ke kebun, ke kehidupan.
Anak-anak desa datang perlahan, mula-mula hanya ingin tahu, lalu ikut menanam, lalu ikut mencintai. Tanpa khotbah panjang ia mengajarkan bahwa menanam pohon adalah menanam masa depan, dan merawat mata air adalah merawat kelahiran kembali harapan.
Burung kembali membangun sarang di dahan muda yang ia rawat. Serangga kembali menari di atas bunga liar. Sungai yang dulu keruh mulai belajar lagi bagaimana caranya jernih.
Di malam hari, ia kembali ke gubuk kecilnya. Tak ada kebanggaan, tak ada “aku telah menyelamatkan”. Hanya keheningan yang luas dan pengertian yang matang: bahwa bumi dan dirinya bukan dua. Bahwa menyembuhkan dunia adalah kelanjutan alami dari batin yang tercerahkan.
Dan di antara akar-akar yang mulai menguat, angin berbisik lirih: “Inilah dharma yang berjalan dengan kaki, yang bekerja dengan tangan, yang mencintai dengan diam.” Ajahn Pongsak yang diliputi pencerahan ekologis telah mencerminkan dirinya sebagai praktik dharma, melalui praktik keterlibatannya bagi pemulihan alam.
Untuk menumbuhkan pencerahan ekologis dalam perspektif Buddhis tersebut, lebih jauh dapat ditelusuri dalam kepustakaan di bawah ini. (1) Batchelor, Martin and Brown, Kerry., Ed., (1992). Buddhism And Ecology, London: Cassell Publishers Limited. (2) Keown, Damien. (2000). Contemporary Buddhist Ethics. Great Britain: Curzon. (3) Keraf, Sonny. (2002). Etika Lingkungan. Jakarta: Gramedia.
Lainnya, (4) Melvin McLeod, Melvin., Ed. (2007). The Best Buddhist Writing 2007. Boston, London: Shambhala. (5). Stcherbatsky, TH., (1923), The Central Conception of Buddhism and The Meaning of The Word “Dhamma,” London: Royal Asiatic Society. (6) Thomas, Edward J., (1953). The History of Buddhist Thought, London: Routledge & Kegan Paul LTD. (7). Narada Mahathera, (1986)., The Buddha and His Teaching, Singapore: The Buddhist Research Society. (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: https://dharma-documentaries.net/forest-dharma