Buddhadharma dan Kesehatan – Healing Energi Dalam Kesehatan Menyeluruh

Home » Artikel » Buddhadharma dan Kesehatan – Healing Energi Dalam Kesehatan Menyeluruh

Dilihat

Dilihat : 57 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 18
  • 41
  • 29,355

Oleh: Jo Priastana

 

“The pain that you create now is always some form of nonacceptance, 

some form of unconscious resistence to what is”

(Eckhart Tolle)

 

Betapa penderitaan begitu membebani manusia zaman ini. Zaman yang bergegas, bergerak cepat membuat manusia takut ketinggalan dalam pemburuan terhadap kesuksesan, kekayaan dan popularitas. Semua orang ingin cepat sukses, cepat kaya dan terkenal. Berbagai cara dilakukan, entah dengan kelicikan, menggunakan tenaga orang lain, maupun yang berlawanan dengan etika norma moral. Semuanya dilakukan demi menjadi kaya, viral dan terkenal.

Akibatnya, manusia kini tengah dibingungkan oleh gemerlap gaya hidup bersama dengan konsumerisme yang eksesif. Siapa saja terkena, tidak saja kalangan yang berekonomi kuat tetapi juga para pejabat, anak muda, kalangan terdidik. Masyarakat pada umumnya galau dengan pemburuan sukses material-duniawi yang pada akhirnya hanya mendatangkan kebingungan dan kesakitan, derita dalam kecemasan dan kekhawatiran.

Orang juga tampaknya tidak bahagia dengan kehidupannya. Kehidupan saat ini penuh dengan orang-orang sakit. Meski sukses, kaya, giat bekerja namun sepertinya terbebani penderitaan dimana hari-hari hidupnya serasa sebagai beban. Karenanya, di sana-sini orang bilang perlu healing, dan berlibur pun kini artinya bukan lagi holidays, tetapi healing alias penyembuhan, mungkin karena  hari-hari sebelumnya yang dijalani dipenuhi dengan kesakitan.

Orang-Orang Pada Sakit

Dunia memperingari hari kesehatan setiap tanggal 7 April. Peringatan itu memang pantas untuk selalu mengingat betapa pentingnya kesehatan, apalagi kini hari-hari tampaknya dipenuhi dengan orang sakit. Orang-orang yang berwisata pun ternyata orang-orang sakit, pasien rawat jalan, tertekan oleh kenyataan real kehidupan yang tak semulus realitas virtual.

Kewarasan telah jadi barang mewah di tengah pemburuan kesuksesan duniawi, gaya hidup hedonis materialistis. Orang gampang eror, mungkin karena spirit dan daya hidup sebagian telah digantikan oleh aplikasi dan berbagai kemudahan teknologis. Tampaknya bagi mereka bekerja menjadi semacam siksaan, soul torture, penyiksaan jiwa sehingga ketika hari libur datang dianggap sebagai hari untuk healing alias penyembuhan.

Mereka sungguh-sungguh sakit. Manusia dengan kerja dan kehidupannya persis dikatakan Buddha adalah penderitaan, karena hidup yang tidak utuh dan tidak seimbang. Kesehatan yang menyeluruh menjadi kebutuhan hidup dan perlu mendapat perhatian. Sepertinya kita semua membutuhkan energi penyembuhan, healing energy, membangun kesehatan yang tidak soal badan fisik namun juga jiwa dan spiritual serta menemukan makna hidup.

Kesehatan tidak semata akan menunjang kehidupan kita namun juga memberi energi bagi pencapaian makna kehidupan yang sesungguhnya, bebas dari penyakit dan penderitaan. Penyakit menyeluruh, fisik jiwa, spiritual memerlukan padanannya yakni kesehatan yang menyeluruh, kesehatan holistis, karena kesehatan sesungguhnya menyangkut keseimbangan dalam menjalani hidup lahir dan batin, fisik dan jiwa, material dan spiritual, keharmonisan hidup dengan lingkungan dan alam natural. 

Paracelsus (1493-1541), alkimiawan, dokter, astrolog, pakar kesehatan abad ke 16, menyatakan bahwa di dunia tidak ada racun, yang ada adalah dosis yang salah. Paracelsus adalah pionir penggunaan zat kimia dan mineral dalam kedokteran, dan ia sering pula disebut sebagai bapak toksilogi. Dalam pandangannya, yang diperlukan adalah keseimbangan dan mekanisme keseimbangan dalam menjaga status sehat tubuh manusia yang disebut homeostasis.

Kesehatan menyeluruh perlu diusahakan sebelum penyakit dan penderitaan datang. Perlu memahami dan melakukan upaya preventif tindakan pencegahan sejak dini dengan selalu mengusahakan hidup sehat. Banyak cara hidup sehat bisa dilakukan, seperti: memperhatikan pola makanan, menjalani gaya hidup dan olahraga teratur, mengenali filosofi kehidupan, dunia kosmos dan terlebih menemukan makna hidup sehingga dapat menyikapi kehidupan dewasa ini dengan sungguh baik dan bermakna.

Keseimbangan dan Kesehatan Menyeluruh

Kesehatan tidak hanya menyangkut fisik. Pepatah dalam dunia olahraga mengatakan: men sana in corpora sano, atau dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ini menunjukkan kesehatan fisik itu adalah langkah untuk mewujudkan kesehatan yang lebih tinggi, jiwa yang kuat yang berkenaan dengan kesehatan holistis, baik fisik dan mental-spiritual.

Dalam keseharian, kesehatan kerap diartikan ketika segala sesuatunya berjalan normal tak ada gangguan pada tubuh. Kesehatan hanya diterjemahkan atau mengacu pada badan yang sehat, yakni ketika badan merasa segar dan nyaman, atau ketika dokter menyatakan bahwa tubuh berfungsi secara normal.

Merujuk pada UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2, kesehatan itu meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.  Pengertian sehat ini sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 yang mengungkapkan tiga dimensi kesehatan, yaitu sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial.

Pengertian sehat ini kemudian diperbaharui dengan menambahkan aspek ekonomi. Maka dalam Undang-Undang N0. 23 Tahun 1992, dikatakan bahwa kesehatan itu mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Rupanya ekonomi, keberadaan seseorang dalam kerja dan kekayaan juga memberikan energi bagi terselenggaranya kesehatan.

Kesehatan fisik terwujud apabila seseorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan yang tampak secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan. Sedangkan kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.

Sangat penting menumbuhkan pikiran sehat. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran. Begitulah pula dengan emosional. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, khawatir, sedih dan sebagainya. Komponen spiritual dimana agama berperan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari holistic health, kesehatan menyeluruh dan kebahagiaan hidup.

Kesehatan spiritual tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, seperti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atau kepada sesuatu yang Mutlak dan Tak Terbatas. Sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang seperti dalam menjalankan ibadah serta menghayati kehidupan ini sesuai filsafat Buddhadharma.

Patut diperhatikan pula adalah sehat secara sosial. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik. Seseorang dapat berelasi dengan sesamanya tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayaan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.

Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu, serta dapat menyokong hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Siswa atau mahasiswa dapat produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupann dan lingkungannya seperti berprestasi dalam sekolah, sedangkan usia lanjut dapat melakukan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya.

Kesehatan dan Jiwa Kesadaran

Kesehatan akan terasa penting ketika terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu jangan dilupakan hal-hal yang selalu dihadapi dalam keseharian kita, seperti misalnya makanan.  Ada pepatah mengatakan, kesehatan tubuh kita tergantung dari apa yang kita makan. Begitu pula dalam Buddhadharma, makanan itu sangat penting, karena makanan mempengaruhi hidup dan mewujudkan siapa diri kita.

Namun begitu, makanan atau ahara dalam Buddhadharma itu tidak semata berkenaan dengan makanan material untuk fisik, namun juga berkenaan faktor-faktor yang mempengaruhi hidup. Manusia terdiri dari rupa dan nama, dan yang termasuk makanan atau ahara, terdiri dari: makanan fisik (kabalinkarahara), kontak (phassa), kehendak (manosancetana), dan kesadaran. (Sammaditthi Sutta, MN 9).

Makanan yang menentukan kehidupan kita itu termasuk juga yang bersifat mental, seperti emosi, perasaan, maupun pikiran. Karenanya, kesehatan yang berkenaan dengan keseimbangan hidup ini adalah juga berhubungan dengan kesehatan yang bersifat holistis, yakni menyangkut dimensi mental, religius, spiritual dan apa yang berkembang dalam jiwa dan kesadaran.

Bagaimana kesadaran berkembang itulah yang membawa hidup manusia pada kebahagiaan dan penderitaan. Kesadaran adalah kehidupan dan karenanya perlu dijaga dan dikembangkan. Begitulah Matthieu Ricard (lahir 1946), seorang penulis, Bhiksu Prancis yang tinggal di Biara Shechen Tennyi Dargyeling Nepal mengatakan mengenai Buddhadharma: “That’s what Buddhism has been trying to unravel the mechanism of happiness and suffering. It is a science of the mind”. (JP)

***

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)
  • BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Butuh bantuan?