Buddhadharma dan Pendidikan STAB, Institut dan Universitas (1) – Kejayaan Pendidikan Tinggi Agama

Home » Artikel » Buddhadharma dan Pendidikan STAB, Institut dan Universitas (1) – Kejayaan Pendidikan Tinggi Agama

Dilihat

Dilihat : 72 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035

Oleh:  Jo Priastana

 

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh

untuk mengubah Dunia”

(Nelson Mandela)

 

Obsesi terhadap kejayaan pendidikan tinggi agama Buddha begitu melekat dalam diri setiap insan akademik. Buddhadharma pernah hadir melalu institusi pendidikan tinggi yang masyhur karena sungguh bersifat saintifik. Kejayaan pendidikan tinggi agama Buddha dahulu yang disertai berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan dan yang dapat disepadankan dengan bentuk perguruan tinggi universitas saat ini.

Perguruan tinggi agama Buddha dulu, misalnya: Universitas Nalanda di Bihar India, Universitas Vikramasila Mahavihara, Universitas Valabhi Mahavihara, Universitas Odantapuri Mahavihara, Universitas Jaggadala Mahavihara yang terletak di India. Selain itu ada juga kompleks pendidikan monastik Suvarnadipa di Sriwijaya, percandian Muaro Jambi, Sumatera. (Majaputera Karniawan, “Sejarah Perkembangan Lembaga Pendidikan Bercorak Keagamaan Buddha,” Jakarta, 2023: 35-36)

Kejayaan perguruan tinggi agama Buddha itu juga berperan besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan, budaya dan peradaban. Berbagai peninggalan budaya yang berkembang dalam sejarah seperti dalam bentuk candi, manuskrip, pengetahuan filsafat, berbagai disiplin dan rumpun ilmu pengetahuan tidak lepas dari pengaruh keberadaan perguruan tinggi tersebut.

 

Mimbar Akademik dan Kejayaan PTAB

Kini semua kejayaan itu tinggal saksi sejarah yang senantiasa menjadi rujukan, inspirasi, energi serta obsesi bagi setiap insan akademik, penyelenggara pendidikan Buddhis dewasa ini. Kejayaan dimana universitas masa lalu itu menjadi tempat belajar banyak cendekiawan dari berbagai mancanegara dimana pembelajaran ilmu pengetahuan agama juga dilengkapi dengan rumpun ilmu pengetahuan lainnya sebagaimana universitas di masa sekarang.

Selain pembelajaran Buddhadharma yang menjadi fokus, sentral dan inti juga dikembangkan ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu pasti, bahasa, fisika, kedokteran, botani, dan lainnya. Tumbuhnya berbagai ilmu-ilmu tersebut dimungkinkan mengingat Buddhadharma yang pada dasarnya bersifat filosofis memberikan kebebasan berpikir yang sejalan dengan semangat akademis  dimana kreativitas dan inovasi berkembang.

Di Universitas Nalanda berkembang tradisi kebebasan berpikir melalui debat, dan bahkan aktivitas dinamika akademik ini menjadi syarat dari awal diterimanya sang mahasiswa maupun bagi calon pimpinannya. Kebebasan akademis seperti itulah yang juga menjadi ciri kemajuan ilmu pengetahuan yang mendasari berdirinya universitas yang tumbuh di Eropa di masa renaissance dan menghasilkan sains modern dewasa ini.

Kebebasan berpikir, meneliti dan berpendapat merupakan ciri khas dari metodologi yang memungkinkan ilmu pengetahuan maju dan berkembang. Peziarah dan sarjana Hsuan Tsang melaporkan kegiatan akademis di Nalanda yang sehari-harinya selalu ada debat akademik, serta tumbuhnya iklim akademis dengan para pimpinan yang mumpuni dalam kualitas rohani dan ilmu pengetahuan, giat meneliti, semangat berilmu pengetahuan dan kreasi dalam karya akademik.

Mimbar akademik, kebebasan akademik dalam kebebasan berpikir, meneliti dan berpendapat merupakan ciri khas dari metodologi yang memungkinkan ilmu pengetahuan maju dan berkembang. Kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan akademis dan suasana civitas akademika suatu kampus bila tidak terdapat mimbar akademik.

 

Ada Apa Dengan Nalanda?

Kemunculan pendidikan kerap bermula dari kalangan beragama. Kemajuan budaya dan peradaban manusia yang dibangun oleh ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari perguruan tinggi keagamaan yang sungguh-sungguh menyelenggarakan iklim akademik yang dilandasi oleh kebebasan  berpikir, kebebasan berpendapat, keterbukaan dalam menerima kreasi dan inovasi.

Di Universitas Nalanda masa lalu misalnya, kebebasan berpikir itu dilengkapi dengan kurikulum yang meliputi berbagai disiplin ilmu. Ada ilmu logika (hetuvidya), tata-bahasa (sabdavidya), ilmu pengobatan (cikitsavidya), ilmu hitung (samkyana), ilmu okultisme (berasal dari atharvaveda dan Samkhya). Studi filsafat Buddhadharma memungkinkan tumbuhnya beragam ilmu pengetahuan dengan inti/core dan tujuan/goal studi Buddhadharma sebagai pencapaian kebuddhaan.

Nalanda tumbuh sebagai universitas dan menjadi penanda puncak kemajuan budaya dunia yang berperan dalam memajukan agama dan ilmu pengetahuan. Bahkan Studium generale telah hadir mendahului perguruan tinggi di Eropa yang terkenal dengan, “septem artes liberals.”

Tujuh kecakapan orang merdeka yang baru berkembang pada jaman skolastik abad tengah dan kebangkitan renaisans. Septem art liberals terdiri dari quadrium yaitu: geometri, aritmatika, astronomia, musika, dan Trivium yaitu: gramatika, logika dialektika, dan retorika.

Kejayaan yang pernah mewarnai peradaban umat manusia itu kini tinggal sejarah dan banyak faktor yang menyebabkan keruntuhannya, diantaranya adalah seturut dengan matinya kebebasan berpikir dan kajian yang bersifat saintifik. Kajian saintifik ini berganti dengan pengajaran agama yang dogmatik-normatif, otoritas kekuasaan, nepotisme, korupsi serta faktor eksternal sosial-budaya politik lainnya.

Bergantinya ke tradisi pemahaman Buddhadharma yang bersifat dogmatis-normatif, eksklusif-tekstual telah menutupi dan menggantikan tradisi pemahaman dan praktek Buddhadharma yang bersemangat saintifik-akademis serta inklusif-kontekstual.  Kehancuran dua universitas, Nalanda pada abad 12 dan Vikramasila pada abad 13 pada akhirnya juga turut menenggelamkan kejayaan Buddhis di abad-abad selanjutnya. (Eliade Mircea. 1987:  The Encyclopedia of Religion).

 

Kejayaan Pendidikan Tinggi Agama dalam Sejarah

Pendidikan dan agama tampaknya tidak terpisahkan, sebagaimana Buddhadharma yang hadir karena Sang Buddha mengajar. Begitu pula dengan penyelenggaraan pendidikan tinggi agama lainnya yang pastinya juga akan melibatkan berbagai bidang, disiplin maupun rumpun ilmu pengetahuan. Bahkan perguruan tinggi agama pun mampu memberikan sumbangsihnya bagi kemunculan disiplin ilmu lainnya.

Peran pendidikan tinggi keagamaan bagi kemajuan peradaban manusia terlihat dalam sejarah pendidikan tinggi agama. Terdapat perguruan tinggi agama yang bersinar dan berjaya dalam memberikan sumbangsih bagi kemajuan peradaban umat manusia baik itu dalam dunia pendidikan tinggi agama Buddha, Islam, maupun berkembangnya dunia akademik dan ilmu pengetahuan di Eropa yang dimotori dan diinisiasi oleh kalangan terdidik Kristen.  

Dari kalangan Islam misalnya, kemajuan peradaban muslim ini sangat menonjol pada zaman Dinasti Abbasiyah, dimana perhatian pada ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani memuncak, terutama pada ketika Harun al-Rasyid berkuasa. Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan yang disbut dalam Bait al-Hikmah ialah ilmu kedokteran, matematika, optika, geografi, fisika, astronomi, sejarah serta filsafat. Terjadi kontak dengan filsafat Yunani. Cendekiawan Islam tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan filsafat dari buku-buku Yunani, tetapi juga melakukan penyelidikan sendiri dalam lapangan filsafat dan ilmu pengetahuan. 

Muncul ahli-ahli ilmu pengetahuan dan filsuf-filsuf Islam. Ada Al-Fazari (abad VIII) astronom, Abu Ali al-Hasan Ibnu-Haytam (Abad X) ahli optika, dalam bidang kimia ada Jabir ibn Hayyam sebagai bapak Kimia dan Abu Bakar Zakaria al-Razi (865-925 M). Abu Raihan Muhammad al-Bairuni (978-1048M) ahli Fisika, maupun Abu al-Hasan Ali Mas’ud sang pengembara yang ahli dalam bidang Geografi.

Pengaruh Islam terbesar juga dalam bidang ilmu kedokteran dan filsafat. Dalam ilmu kedokteran ada al-Razi. Para filsuf ada nama-nama seperti Al Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina. Ibnu Sina (980-1037 M), yang juga seorang dokter. Banyak perguruan tinggi berdiri. Di Baghdad berdiri perguruan tinggi antara lain, Bait-al Hikmah dan al-Azhar di Kairo yang hingga kini masih harum namanya.  (Dr. Din Muhammad Zakariya, “Sejarah Peradaban Islam,” 2018: 38-45)

Di Eropa yang menganut agama Kristen, kemajuan berilmu pengetahuan juga terjadi. Kemajuan ini tidak bisa dilepaskan dari kemajuan peradaban Muslim yang mengembangkan filsafat Yunani. Kemajuan peradaban Islam pada akhirnya juga terbawa ke Eropa berkat perang sabil/salib. Setelah berlalunya zaman gelap, dark age, dan tumbuhnya humanisme dan renaissance, Eropa yang berlatar belakang Kristiani ini mengalami masa kebangkitannya dimana banyak tumbuh pelopor-pelopor ilmu pengetahuan modern.

Beberapa ilmuwan Kristen yang telah memberi pengaruh di dunia, diantaranya: Johannes Gutenberg (1398-1468) penemu di bidang teknologi percetakan, Leonardo da Vinci (1452-1519), musisi, penulis, pematung, Nicholas Copernicus (1473-1543) astronom, matematikawan yang mengembangkan teori heliosentris. Ada Francis Bacon (1561-1626) filsuf, penulis, Galileo Galilei (1564-1642) filsuf, fisikawan yang berperan besar dalam revolusi ilmiah, William Shakespeare (1564-1616), sastrawan terbesar Inggris.

Ada pula Rene Descartes (1596-1650) filsuf matematikawan Perancis, Blaise Pascal (1623-1662) matematikawan, penggagas kalkulator, geometri, penemu teori probabilitas, Isaac Newton (1643-1727) alkimiawan, fisikawan, astronom. Ada pula Adam Smith (1723-1790) pelopor ilmu ekonomi modern, Amademus Mozart (1756-1791) komponis musik klasik terkenal, Carolus Linnaeus (1707-1778) bapak taksonomi biologi, Michael Faraday (1791-1867) bapak Listrik, Robert Boyle (1627-1691) filsuf, kimiawan, fisikawan, penemu, dan masih banyak illmuwan lainnya. (masukkristen.blogspot.com).

 

Ketentuan Umum Pendidikan Tinggi

Menengok sejenak kejayaan pendidikan tinggi masa lalu itu, selalu memberikan inspirasi dan energi bagi setiap insan akademik yang memang berhasrat memajukan peradaban manusia melalui jalur ilmu pengetahuan dengan penyelenggaraan pendidikan tinggi. Penyelengaraan pendidikan tinggi saat ini bisa mengambil berbagai bentuk perguruan tinggi, dari sekolah tinggi, institut atau universitas. Tentu saja pendirian berbagai bentuk perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan tinggi ini patut merujuk kepada berbagai kebijakan, ketentuan dan regulasi yang diterapkan negara saat ini.

Sejalan dengan bentuk perguruan tinggi yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan tinggi ini, penting juga memperhatikan ketentuan umum pendidikan tinggi yang tertera dalam undang-undang pendidikan nasional. Ketentuan umum pendidikan tinggi ini kiranya juga mengandung visi dari kejayaan pendidikan tinggi agama yang pernah berkembang dalam sejarah dan karenanya patut disimak bagi segenap praktisi pendidikan tinggi agama.

Bab 1 Ketentuan umum, Pasal 1, dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 2. Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia.  3. Ilmu Pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali, disusun, dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu, yang dilandasi oleh metodologi ilmiah untuk menerangkan gejala alam dan/atau kemasyarakatan tertentu. 4. Teknologi adalah penerapan dan pemanfaatan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan dan kelangsungan hidup, serta peningkatan mutu kehidupan manusia. 5. Humaniora adalah disiplin akademik yang mengkaji nilai intrinsik kemanusiaan. 6. Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. (BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. UU 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi). (JP)

***

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)
  • BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA)

Sumber gambar: https://www.freepik.com/free-vector/college-campus-concept-illustration_29808764.htm#query=university%20illustration&position=0&from_view=keyword&track=ais

Butuh bantuan?