Buddhadharma dan Pendidikan STAB, Institut dan Universitas (2) – Menguasai Rumpun Ilmu Pengetahuan

Home » Artikel » Buddhadharma dan Pendidikan STAB, Institut dan Universitas (2) – Menguasai Rumpun Ilmu Pengetahuan

Dilihat

Dilihat : 53 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035

Oleh: Jo Priastana

Science without religion is lame.

Religion without science is blind

(Albert Einstein 1879-1955)

 

Berinspirasi pada kejayaan perguruan tinggi agama Buddha di masa lalu yang tidak hanya sebatas dalam bidang studi Buddhadharma, namun juga turut mengembangkan disiplin ilmu-ilmu lainnya, perguruan tinggi agama Buddha juga terbuka bagi pengembangan berbagai disiplin ilmu. Dengan semangat filsafat dan epistemologi Buddhadharma dan jangkauan kajian Buddhadharma sebagai hukum kesunyataan yang meliputi segala sesuatu, apa pun perguruan tinggi agama Buddha akan mampu mengembangkan berbagai disiplin ilmu.

Buddhadharma mengandung hukum kesunyataan, seperti lima hukum Niyama disertai dengan semangat keilmuan yang menjadi esensi Buddhadharma itu sendiri. Karenanya bentuk pendidikan tinggi agama Buddha seperti Sekolah Tinggi yang menyelenggarakan satu rumpun ilmu (agama/Buddha) maupun institut (rumpun inti dan berbagai rumpun ilmu pengetahuan) dan universitas (yang menyelenggarakan berbagai rumpun ilmu pengetahuan) akan dimungkinkan.

Bentuk perguruan tinggi, baik sekolah tinggi, institut terlebih universitas akan melibatkan persentuhan core atau substansi rumpun ilmu (Buddhadharma) pendidikan tinggi agama Buddha dengan rumpun ilmu lainnya. Dialog lintas ilmu dalam pendidikan tinggi agama (Buddha) tentunya mengandaikan kemampuan pada rumpun ilmu pengetahuan yang bersangkutan terlebih dahulu, dalam hal ini rumpun ilmu agama, seperti studi Buddhadharma, Buddhologi atau Buddhist Studies.

 

Rumpun Ilmu Pengetahuan

Mengacu pada UU No 12 Tahun 12 yang mengungkapkan tentang rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada bagian Kedua Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Paragraf 2 (Pasal 10) mengemukakan Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

  1. Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi merupakan kumpulan sejumlah pohon, cabang, dan ranting ilmu pengetahuan yang disusun secara sistematis.
  2. Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Rumpun ilmu agama; b. Rumpun ilmu humaniora; c. Rumpun ilmu sosial; d. Rumpun ilmu alam; e. Rumpun ilmu formal; dan f. Rumpun ilmu terapan. 3. Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditransformasikan, dikembangkan, dan/atau disebarluaskan oleh Sivitas Akademika melalui Tridharma.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 24 Tahun 2014, mengungkapkan masing-masing dari enam rumpun ilmu.  Ilmu Agama, Ilmu Humaniora, Ilmu Sosial, Alam, Ilmu Formal dan Ilmu Terapan memiliki karakteristik yang menaungi ilmu pengetahuan dengan ciri-ciri yang serupa. Enam ilmu pengetahuan mendasari pengelompokan nama jurusan yang terdapat pada perguruan tinggi di Indonesia. (Sumber: Fatia Qanitat, Quipper Blog/12/3/23)

 

Pengelompokkan Nama Jurusan

Rumpun Ilmu Agama merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji keyakinan tentang ketuhanan atau ketauhidan, termasuk mengkaji tentang teks-teks suci agama. Di Indonesia terdapat 6 agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.

Terdapat banyak program studi pendidikan tinggi yang terdapat dalam rumpun ilmu agama, sesuai agama. Ambil dalam rumpun agama Islam terdapat program studi seperti:  Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Ilmu Hadist, Aqidah dan Filsafat Islam, Ilmu Tasawuf, Perbandingan Agama. Nama-nama jurusan di rumpun ilmu agama dari agama lainnya seperti: Ilmu Teologi, Teologi Kependetaan, Pendidikan Agama Hindu dan lainnya.

Rumpun Ilmu Humaniora merupakan rumpun ilmu pengetahuan yang mengkaji dan mendalami nilai kemanusiaan dan pemikiran manusia, termasuk di dalamnya ilmu filsafat, linguistik, sejarah, seni, dan sastra. Beberapa nama-nama jurusan di bidang Sastra, misalnya: Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jepang, Sastra Cina, Sastra Belanda, Sastra Jerman, Sastra Prancis, Sastra Jawa, Sastra Nusantara. Sedangkan di bidang seni, misalnya: Seni Rupa, Seni Murni, Seni Tari, Seni Musik, Seni Teater, Seni Karawitan, Seni Pedalangan. Jurusan lainnya yang masih berada dalam rumpun ilmu humaniora seperti: Ilmu Sejarah, Ilmu Linguistik, Filsafat, Kajian Budaya.

Rumpun Ilmu Sosial, adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji dan mendalami hubungan antar manusia dan berbagai fenomena masyarakat. Terdapat banyak jurusan yang termasuk dalam rumpun ilmu ini, diantaranya: Antropologi, Arkeologi, Sosiologi, Psikologi, Ilmu Politik, Ilmu Penerintahan, Ilmu Ekonomi, ilmu komunikasi.

Rumpun Ilmu alam adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji dan mendalami alam semesta selain manusia. Jika tertarik pada rumpun ilmu alam, bisa memilih jurusan berikut: Kimia, Fisika, Biologi, Geografi, Kelautan, Ilmu Tanah, Geofisika.

Rumpun ilmu formal adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji dan mendalami sistem formal teoritis, yang berhubungan dengan logika dan metodologi. Nama-nama jurusan yang termasuk dalam ilmu ini adalah: Matematika, Statistika, Ilmu Komputer.

Rumpun ilmu terapan adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji dan mendalami aplikasi ilmu bagi kehidupan manusia. Program studi atau jurusan yang merupakan bagian dari rumpun ilmu terapan, seperti: Akuntansi, Administrasi, Bisnis, Manajemen, Hubungan Internasional, Ilmu Hukum, Ilmu Perpustakaan, Kesejahteraan Sosial. Selain itu ada jurusan teknik dengan beberapa pilihan seperti: Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Otomotif, Teknik Lingkungan, Teknik Perkapalan,

Termasuk dalam rumpun ilmu terapan adalah juga ilmu pendidikan, seperti: Pendidikan Olahraga, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Teknologi Pendidikan, Pendidikan Khusus, Pendidikan Luar Sekolah.

Pada bidang kesehatan juga bisa ditemui jurusan yang masuk dalam ilmu terapan seperti: Pendidikan Dokter, Pendidikan Dokter Gigi, Kedokteran Hewan, Keperawatan, Kebidanan, Gizi, Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Lingkungan. Pada Ilmu Pertanian terdapat beberapa jurusan seperti: Agribisnis, Agroteknologi, Agronomi dan Hortikultura, Bioteknologi, Produksi Tanaman, Manajemen Sumber Daya Lahan, Teknologi Pertanian.

Dalam bidang desain dan kreatif, terdapat macam-macam jurusan seperti: Desain Komunikasi Visual, Animasi, Desain Produk, Desain Interior, Desain Grafis, Fotografi, Pariwisata, Kulinari, Jasa Perjalanan Wisata, Perhotelan. (Sumber: Fatia Qanitat, Quipper Blog/12/3/23)

 

Niyama dan Rumpun Ilmu Pengetahuan

Buddhadharma yang mengandung hukum kesunyataan juga memberikan perspektif sehubungan dengan rumpun ilmu pengetahuan ini. Dalam Buddhadharma, rumpun ilmu pengetahuan yang memungkinkan tumbuh beragam itu dapat dilihat atau dapat dikembalikan pada ajaran tentang hukum Niyama. (Rashid, Teja SM: 1996).

Dalam hukum Niyama itu, Sang Buddha mengungkapkan secara prinsisipal dan garis besar bahwa di dalam berbagai bidang kehidupan atau alam semesta ini memiliki hukum keteraturannya (niyama).  Hukum Niyama menunjukkan dasar bagi Buddhadharma yang bersifat saintifik sebagaimana ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan penemuan hukum-hukum alam. 

Ada lima Niyama: Utu Niyama (keteraturan dalam dunia anorganis), Bija Niyama (keteraturan dalam dunia organis), Kamma Niyama (keteraturan dalam perilaku manusia), Citta Niyama (keteraturan dalam dunia rohani manusia) dan Dhamma Niyama (keteraturan dalam semesta alam).

Pertama, Utu niyama yang berkenaan dengan tenaga-panas (utu) untuk dunia anorganis seperti yang diekplorasi dalam ilmu alam seperti fisika, dan lainnya.  Kedua, Bija niyama untuk dunia organis yang berkenaan dengan dunia benih (bija) seperti yang dieksplorasi oleh rumpun ilmu alam seperti biologi, dan lainnya.  Ketiga, Citta niyama untuk dunia batin, jiwa seperti yang diekplorasi lebih jauh oleh ilmu psikologi dan the humanities. Ilmu-ilmu kemanusiaan atau Ilmu Humaniora yang merupakan ekspresi dari jiwa atau batin manusia. Keempat, Kamma niyama mengenai perilaku manusia. Kamma Niyama ini dapat dieksplorasi oleh ilmu etika dan berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial maupun humaniora. Kelima, Dharma niyama yang mengatasi dunia ilmu empiris.

Keteraturan (niyama) dalam masing-masing bidang inilah yang memungkinkan untuk dieksplorasi lebih jauh oleh kerja ilmuwan dan menghasilkan ragam disiplin ilmu pengetahuan untuk tumbuh dan berkembang. Ragam ilmu pengetahuan sebagai turunan, derivative ragam Niyama yang mengkaji masing-masing level realitas dengan obyek material dan obyek formal ilmunya masing-masing.

 

Rumpun Ilmu Pengetahuan Buddhist Studies

Niyama inilah yang masih perlu dieksplorasi dan diketemukan dalam kerja ilmu pengetahuan, sehingga memungkinkan munculnya berbagai jenis ilmu pengetahuan sesuai dengan level realitas yang menjadi subyek kajiannya. Dunia anorganis yang dapat diselidiki dalam ilmu fisika, dan dunia organis pada ilmu biologi yang terangkum dalam utu niyama dan bija niyama.

Begitu pula dengan dunia perilaku manusia pada ilmu-ilmu sosial, hukum dan budaya, dunia mental, pikiran pada ilmu psikologi, sebagaimana tercakup dalam kamma niyama, dan dhamma niyama yang mungkin masih belum terjangkau pada level rasio dan empiris inderawi namun tetap saja masih dimungkinkan untuk dapat diketahui seturut dengan perkembangan kecerdasan manusia.

Dhamma Niyama masih berupa “hukum tersembunyi” yang tidak dapat diamati langsung secara empiris, yakni berkenaan dengan pancaindera supra-sensoris, namun terdapat, umpamanya kemampuan untuk menyembuhkan orang sakit dengan cara melebihi/mengatasi pemakaian obat-obatan.

Dhamma Niyama ini bisa dibandingkan seperti apa yang dikatakan oleh Francis Bacon, (1560-1626) yang mempelopori kebangkitan ilmu-ilmu alam mengenai metafisika dan Magica, maupun yang diselidiki filsafat dan ilmu agama sebagai inner science. Karenanya, masing-masing rumpun ilmu itu memiliki cara kerja, atau kekhasan metodenya.

Pemahaman dan derivasi hukum niyama ke dalam rumpun ilmu pengetahuan tersebut sangat pantas dilakukan oleh perguruan tinggi agama Buddha apa pun bentuk perguruan tingginya, baik Sekolah Tinggi Agama Buddha, institut, dan terlebih universitas. Sekolah Tinggi Agama Buddha meskipun penyelenggaraannya bersandar pada rumpun ilmu agama Buddha atau Buddhist Studies juga terbuka pada pengembangan ilmu pengetahuan lainnya mengingat karakter studi Buddhadharma yang bersifat saintifik disamping bersandar pada hukum lima niyama.

Dengan mengingat kajian Buddhadharma yang di dalamnya memberi perspektif terbukanya beragam ilmu pengetahuan seperti dalam Hukum Niyama, maka bentuk perguruan seperti Sekolah Tinggi Agama Buddha pastinya juga bersentuhan dengan disiplin ilmu lainnya. STAB pantas untuk sungguh-sungguh mengembangkan Buddhist Studies yang terbuka dengan berbagai disiplin ilmu demi kemajuan Buddhadharma itu, karakter buddhist studies itu sendiri dan sejalan dengan ungkapan Albert Einstein.

Sebagai pendidikan tinggi keagamaan, bentuk perguruan tinggi seperti STAB pastinya juga mampu memberikan sumbangsihnya bagi kemajuan ilmu pengetahuan, memajukan bangsa dan negara, dan menghantar pencerahan peradaban manusia. Bukankah Buddhadharma, sebagai Buddhist Studies maupun Buddhology pada dirinya sendiri sudah bersifat saintifik, sebagai inner-science, studi kebuddhaan yang membantu mencerahkan umat manusia dan menjalankan misi luhur Buddhadharma, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta! (JP)

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)
  • BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA)

sumber gambar: https://dosen.perbanas.id/wp-content/uploads/2015/02/tree-of-knowledge.jpg

Butuh bantuan?