Buddhadharma dan Pendidikan STAB, Institut dan Universitas (3) – Menemukan Bentuk Perguruan Tinggi

Home » Artikel » Buddhadharma dan Pendidikan STAB, Institut dan Universitas (3) – Menemukan Bentuk Perguruan Tinggi

Dilihat

Dilihat : 51 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 2
  • 38
  • 33,966

Oleh: Jo Priastana

 

Buddha’s intention was nothing else than to establish what we call

a religion of science. Englightment and science are interchangeable World

(Paul Carus, 1852-1919, Filsuf, Pembelajar Comparative Religion)

 

Kemajuan dunia pendidikan tinggi agama Buddha pada masa lalu dengan keterbukaannya pada bidang-bidang ilmu lainnya adalah dalam bentuk perguruan tinggi yang masa kini dikenal sebagai universitas. Universitas menyelenggarakan berbagai rumpun ilmu pengetahuan, sebuah institusi pendidikan tinggi, yang dalam bahasa Latin berarti “komunitas guru dan akademisi” (universitas magistrorum et scholarium), yang juga sudah ada di Asia dan Afrika. (Wikipedia; Encyclopedia Britanica). 

Perguruan tinggi agama Buddha Nalanda di India masa lalu dianggap sebagai universitas mengingat dalam penyelenggaraannya juga menyertakan berbagai bidang ilmu lainnya melengkapi kajian intinya studi Buddhadharma. Perguruan tinggi Nalanda masa lalu ini kerap menjadi rujukan dan sumber inspirasi, cita-cita maupun acuan bagi penyelenggara pendidikan tinggi agama Buddha.

Kemasyhuran perguruan tinggi agama Buddha pada masa lalu itu selalu membayangi penyelenggaraan pendidikan tinggi agama Buddha di masa kini. Dalam konteks pendidikan tinggi agama Buddha masa kini, mungkin kejayaan pendidikan tinggi agama Buddha inilah yang mau diwujudkan kembali melalui perkembangan bentuk perguruan tinggi, dari STAB (Sekolah Tinggi Agama Buddha), menjadi Institut dan Universitas.

Menjadi Institut dan Universitas

Kini kehadiran STAB di Indonesia yang telah berkiprah selama hampir setengah abad ini mendapat tantangannya untuk mewujud menjadi institut dan universitas. Kejayaan Buddhadharma yang bersemangat saintifik dengan perguruaan tingginya itu serasa mendapatkan momentumnya untuk bangkit kembali di tengah-tengah bangkitnya kembali agama Buddha.

Selain itu, semaraknya “Buddhist Studies” atau kajian Buddhadarma yang ditumbuhkan oleh para sarjana Barat di berbagai Negara Eropa dan Amerika juga intelektual Buddhis di Asia, seperti Jepang, Thailand, India dalam berbagai jurnal dan seminar dengan berbagai topik kontekstual yang menyertakan disiplin ilmu lain turut menggugah STAB meningkatkan statusnya menjadi insitut dan universitas. 

Berinspirasi pada kejayaan pendidikan tinggi Buddhis masa lalu dengan kurikulumnya yang telah melampaui zamannya. Kini tampaknya perguruan tinggi agama yang masih dalam bentuk STAB (Sekolah Tinggi) sedang berupaya mengalihkan bentuknya menjadi institut dan bahkan universitas. Tentu saja, apa pun bentuknya sepanjang institusi pendidikan tinggi yang menaunginya masih bercorak keagamaan dan mengemban misi luhur memajukan Buddhadharma maka bentuk perguruan tinggi ini tidak bisa dilepaskan dari penguasaan terhadap rumpun ilmu pengetahuan ilmu keagamaan dalam hal ini Buddhist Studies.

STAB hanya bersandar pada satu rumpun ilmu pengetahuan (agama) menuju Institut dan Universitas yang melengkapinya dengan berbagai rumpun ilmu pengetahuan. Peralihan bentuk perguruan tinggi ini tentunya juga mengacu pada undang-undang pendidikan dan peraturan yang ada seperti UUD 12 Tahun 2012 tentang Bentuk Perguruan Tinggi, dan ketentuan umum pendidikan tinggi.

Bentuk Perguruan Tinggi

Pasal 59 Bagian Kedua Bentuk Perguruan Tinggi UU 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, mengungkapkan: (1). Bentuk Perguruan Tinggi terdiri atas: a. Universitas b. Institut. C. Sekolah tinggi. D. Politeknik; e. Akademi; dan f, akademi komunitas. (2). Universitas merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam berbagai rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi dan jika memenuhi syarat, universitas dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. (3). Institut merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah rumpun ilmu pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu dan jika memenuhi syarat, institut dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. (4). Sekolah Tinggi merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu dan jika memenuhi syarat, sekolah tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

Pergerakan dunia pendidikan tinggi agama Buddha dalam membentuk perguruan tingginya seperti dari STAB menuju Institut dan Universitas tentunya didasari oleh berbagai pertimbangan dan mengingat cita-cita dan misi luhur. Meski mungkin terinspirasi, terobsesi dan berambisi menuju Institut dan Universitas, namun sejauh masih menandakan sebuah pendidikan tinggi agama keagamaan Buddha, patut pula diperhatikan mengenai rumpun ilmu pengetahuan yang seharusnya tetap menjadi landasan bagi bentuk perguruan tinggi tersebut.

Bisa saja karena pertimbangan dan kebijakan tertentu serta visi dan misi luhur yang diemban, STAB tidak mengembangkan bentuknya menjadi institut atau universitas. Kebijakan untuk tetap berada dalam bentuk STAB patut pula diapresiasi.  Mungkin kebijakan ini didasari atas pertimbangan memprioritaskan penguasaan dan mengembangkan rumpun ilmu pengetahuan keagamaan Buddhadharma, yakni Buddhist Studies yang merupakan core dan goal rumpun ilmu pengetahuan sekolah tinggi.

 

Sekolah Tinggi Kenapa?

Masih banyak kajian di dalam core studi Buddhadharma itu sendiri yang juga tidak lepas untuk bersentuhan dengan disiplin ilmu lainnya meski dalam bentuk Sekolah Tinggi. Keahlian dalam rumpun ilmu agama seperti agama Buddha amat pantas berkembang dalam diri segenap civitas akademikanya terutama pada pemangkunya dan keahlian atau penguasaan pada rumpun ini tentu saja menjadi syarat yang niscaya untuk sebuah perguruan tinggi yang memakai nama keagamaaan.

Komunitas akademik dunia perguruan tinggi agama Buddha pun bisa belajar dari perkembangan berbagai bentuk perguruan tinggi agama lain. Pendidikan tinggi Islam misalnya yang bertumimbal lahir atau bermula dari Sekolah Tinggi (STAI), menjadi Institut dan Universitas. Tampaknya pendidikan tinggi Islam beranjak beralih setelah menguasai rumpun keagamaannya terlebih dahulu sehingga studi dan dunia pemikiran Islam tetap berkembang mengiringi keterbukaan terhadap disiplin ilmu lainnya.

Selain itu, bisa juga belajar dari bentuk perguruan tinggi keagamaan dan tetap sebagai sekolah tinggi. Tetap sebagai Sekolah Tinggi mungkin karena pertimbangan akan misi dan visinya untuk tetap menyelenggarakan, mengembangkam dan memajukan rumpun ilmu pengetahuan yang bersangkutan seraya tidak menutup kemungkinan terlibat dalam kajian rumpun ilmu lainnya serta dapat memberikan sumbangsihnya yang optimal bagi bangsa dan negara serta kemajuan rumpun ilmu pengetahuan itu sendiri.

Terdapat Sekolah Tinggi Filsafat (STF) seperti Driyarkara (Katolik) atau Sekolah Tinggi Teologi (STT) (Kristen) yang berada di Jakarta telah berdiri berpuluh tahun dan mampu mengembangkan rumpun ilmu pengetahuannya dalam hal ini filsafat (humaniora) dan teologi (agama). STF Driyarkara, sekolah yang mempersiapkan para calon pastor dengan pendidikan filsafat nyatanya juga diminati dan didatangi segala kalangan cendekiawan agama lainnya.

STF Driyarkara yang berfokus pada rumpun ilmu humaniora filsafat telah memberi sumbangsih besar bagi kemajuan masyarakat dan perjalanan bangsa dan negara serta dunia ilmu pengetahuan dalam menumbuhkan kekuatan intelegensia dan cakrawala berpikir, kecendekiawanan. STF Driyarkara yang berdiri tahun 1969 dan STT yang berdiri pada tahun 1934 (kini bernama STFT/Sekolah Tinggi Teologi Filsafat) sejauh ini tetap berbentuk sekolah tinggi.

Untuk Sebuah Nama

Dalam ilmu semiotika sebuah nama adalah penanda yang merujuk ke sesuatu. Sejauh pendidikan tinggi berasaskan keagamaan pastinya juga merujuk ke rumpun ilmu keagamaannya dan perguruan tinggi keagamaan pastinya juga bersentuhan dan melibatkan dialog antar rumpun ilmu pengetahuan lain. Karenanya, alangkah baiknya menguasai dan mengembangkan rumpun ilmu pengetahuan keagamaannya, seperti Buddhadharma yang pada dirinya sendiri berkarakter saintifik dan terbuka bagi pengembangan ilmu.

Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) bisa memperkuat dirinya sesuai dengan rumpun ilmu pengetahuannya (agama) dan mengembangkan filsafat Buddhadharma dan Buddhist Studies maupun Buddhologi atau studi kebuddhaan. Bukankah dengan berawal dari pendidikan keagamaan pula kejayaan pendidikan tinggi Buddha masa lalu bermula?

Agama, Filsafat dan ilmu pengetahuan saling berkaitan. Kejayaan perguruan tinggi agama Buddha masa lalu juga karena adanya para pemikir-pemikirnya atau para filsuf-filsufnya yang pada akhirnya juga membuahkan berbagai ilmu pengetahuan. Inspirasi tak putus bila segenap insan akademik mau belajar dari sejarah kejayaan pendidikan tinggi masa lalu ini.

Kejayaan pendidikan tinggi agama Buddha yang juga banyak menghasilkan para filsuf dunia dan menjadi sumber pergerakan ilmu pengetahuan serta kreasi budaya serta tumbuhnya peradaban kemanusiaan yang mencerahkan. Untuk itu, dalam konteks perguruan tinggi agama Buddha, penguasaan terhadap rumpun ilmu pengetahuan agama seperti Buddhadharma menjadi niscaya.

Studi Buddhadharma yang menyangkut pula hukum kesunyataan seperti hukum niyama menjadi sangat penting dan relevan. Biarpun hanya dalam lingkup satu rumpun ilmu keagamaan, seperti pada penyelenggaraan STAB tidak kurang relevansinya bagi kemajuan dunia ilmu pengetahuan dan sumbangsih besar bagi bangsa dan negara. Penguasaan rumpun ilmu agama Buddha akan terbuka bagi lahirnya pemikir-pemikir agama, para filsuf, dimana ilmu filsafat itu sendiri dikenal sebagai mother of sciences.

Sebagaimana yang berkembang dalam sejarah pendidikan tinggi agama di dunia, justru dari dalam dunia pendidikan tinggi agama dengan kemunculan para filsufnya memungkinkan terjadinya perkembangan berbagai disiplin ilmu. Pada pendidikan tinggi di Nalanda dahulu ada tokoh-tokoh yang menguasasi buddhist studies. Ada Nagarjuna, sang filsuf Mahayana, Dinnaga, ahli ilmu logika Buddhis, Dharmapala, Naropa, Hsuan-Tsang, Atissa, Dharmakirti yang memberi andil bagi majunya kebudayaan dan peradaban Buddhis.

Selain Institut, Universitas, STAB saat ini pun tetap sama-sama dapat memberikan sumbangsihnya bagi kemajuan pendidikan tinggi agama, dunia ilmu pengetahuan, kemajuan budaya dan peradaban umat manusia. Tentu saja asal rumpun ilmu agama Buddha, Buddhadharma, Buddhist studies sungguh dikuasai, dikembangkan oleh civitas akademika yang ikhlas ber-askestis di jalan sunya pendidikan, begawan dunia ilmu pengetahuan Buddhist Studies!  (JP). ***

 

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)
  • BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA)

sumber gambar: http://usaartnews.com/art/found-photographs-and-book-pages-weave-into-textured-collages-by-hollie-chastain/amp

Butuh bantuan?