Buddhadharma dan Pendidikan STAB, Institut dan Universitas (5) – Rekonstruksi Kurikulum Studi Buddhadharma Inklusif

Home » Artikel » Buddhadharma dan Pendidikan STAB, Institut dan Universitas (5) – Rekonstruksi Kurikulum Studi Buddhadharma Inklusif

Dilihat

Dilihat : 49 Kali

Pengunjung

  • 16
  • 0
  • 17
  • 30,757
WhatsApp Image 2023-05-05 at 11.50.08 AM

Oleh: Jo Priastana

 

Budddhist and Science aggrement. That are natural laws that govern the developing both person and the world(Jose Ignacio Cabezon (Lahir tahun 1965, Ilmuwan Religius Studies, Humanities and Arts, Universitas Santa Barbara, California)

 

Buddhology merupakan penyelidikan atau kajian berdasarkan prinsip ilmu pengetahuan modern yang bersifat akademis tentang Buddhadharma secara menyeluruh (inklusif). Kajian Buddhadharma inklusif atau Buddhologi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan sebagai upaya pencapaian Kebuddhaan dimana Buddhadharma dikenal sebagai inner-science, ilmu batin.

Kajian Buddhadharma inklusif ini mencakup segenap aspek ajaran Buddha yang ada dalam berbagai tradisi, baik itu yang bersifat fundamental, yang tumbuh dan berkembang di berbagai negara seperti di negeri asalnya, India, maupun negara lainnya seperti China, Tibet, Jepang, Asia Tenggara dan lainnya yang juga memberikan ciri dan spesifik tertentu.

Berbagai aliran yang tumbuh di masa awal perkembangan Buddhadharma seperti tercermin dalam berbagai mashab, baik Theravada, Sarvastivada, Mahasangika, Mahayana dan aliran lainnya. Mengacu pada Buddhadharma inklusif ini setidaknya kurikulum studi Buddhadharma dalam perguruan tinggi Buddha setidaknya mencakup mashab besar agama Buddha: Theravada Buddhism, Mahayana Buddhism dan Vajrayana Buddhism dengan berbagai aliran-alirannya.

 

Budddharma Inklusif dalam Buddhist Studies

Buddhadharma yang bersifat inklusif juga menyertakan kajian yang bersifat historis seperti: Sejarah Buddhadharma di India, sejarah pemikiran Chinese Buddhism, Buddhisme di Tibet, sejarah perkembangan Buddhadharma di Jepang, Asia Tenggara, dan negara-negara lainnya, maupun masuknya dan perkembangan agama Buddha di Indonesia, dengan berbagai aliran, kelompok, majelis maupun komunitas yang berkembang di dalamnya.

Selain itu juga tidak boleh ditinggalkan adalah perkembangan Buddhadharma di masa modern seperti berkembangnya Buddhadharma di dunia Barat seperti Amerika dan negara-negara Eropa maupun Australia. Penyebaran dan perkembangan agama Buddha di dunia Barat, Amerika itu juga melibatkan peran besar guru-guru Buddhis dari Asia serta menghasilkan ahli-ahli dan guru Buddhadharma bangsa Eropa yang juga patut dikenali dan dipelajari.

Pembelajaran dari para guru Eropa ini mungkin sangat diperlukan dan melengkapi bagi perguruan tinggi agama Buddha di Asia yang cenderung tradisional-monastik dimana dogma masih begitu dominan ketimbang kajian. Sangat menarik untuk menyimak dan mempelajari Buddhadharma dari para guru Eropa-Amerika tersebut yang memiliki cakrawala dan wawasan saintifik-sekolastik.

Donald S, Lopez Jr. (2010) dalam bukunya “Buddhism & Science: A Guide for the Perplexed: Buddhism and Modernis,” The University of Chicago Press, Chicago and London mengungkapkan mengenai studi Buddhisme dalam konteks sains modern. Menurutnya: “explore How and Why. These two seemingly disparate modes of understanding. The inner and outer universe have so persistently linked. By presenting an ancient Asian tradition as compatible with – and even anticipative – scientific discoveries, European enthusiast and Asian elites. Have side stepped debates on the relevance of religion in the modern world that began in the nineteenth century and that still flare today. As new discoveries continue to reshape our understanding of mind and matter, Buddhism and science will be indispensable reading for those fascinated by religion, science, and their often vexed relation.”

Dalam membentuk kurikulum Buddhist Studies, perguruan tinggi agama Buddha bisa belajar dari berbagai perguruan tinggi agama Buddha lainnya di berbagai negara. Selain itu juga memperhatikan dan meneliti baik topik-topik yang fundamental Buddhis maupun inklusif-kontekstual yang berkembang dan muncul dalam berbagai seminar international Buddhism.

Buddhadharma inklusif yang melibatkan kajian historis dan empiris memperlihatkan berbagai Buddhadharma yang tumbuh di berbagai negara. Kajian historis yang juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pemikiran, sosial budaya dan lokal jenius setempat, dan juga tidak bisa dipisahkan dari Buddhadharma sebagai inner science.

Sang Buddha mengajarkan ajarannya demi pembebasan manusia dari derita. Untuk itu, Studi Buddhadharma pun merupakan sebagai proses dan upaya pencapaian kebuddhaan. Melalui studi seperti itu akan dimungkinkan terkandungnya ciri-ciri unik dan khas dari berbagai aliran Buddhadharma yang berkembang sebagai inner-science yang memperlihatkan jalan-jalan dalam mencapai kebuddhaan.

 

Kurikulum Saintifik Inklusif

Akan terlihat dalam kurikulum berbagai cara atau metode dalam upaya mencapai kebuddhaan dari ajaran yang terkandung dari masing-masing mashab yang berkembang di berbagai negara, dan mencerminkan sejarah perkembangan pemikiran Buddhadharma yang dapat diangkat menjadi kurikulum. Kandungan kurikulum yang mencerminkan Buddhadharma saintifik, inklusif dan kontekstual.

Dari perspektif historis, berbagai topik mata kuliah bisa termasuk di dalamnya, seperti: Mahayana Abhidhamma, Chinese Buddhist Thought, aliran Zen yang memang menekankan cara mencapai pencerahan, dan aliran Buddhisme di Jepang lainnya, Buddhisme di Tibet maupun Buddhadharma yang dikembangkan di perguruan tinggi di Sriwijaya.

Studi Buddhadharma yang inklusif juga dalam rangka upaya pencapaian kebuddhaan, dan karenanya mencakup ajaran-ajaran Buddha fundamental yang dapat ditemui di semua mashab dan aliran. Fundamental Buddhis yang cenderung dikonotasikan dalam mashab Theravada, sesungguhnya juga terkandung dalam Mahayana maupun Tantrayana-Vajrayana dalam rangka pencapaian kebuddhaan.

Ajaran-ajaran yang mencakup pokok-pokok dasar yang tercermin di dalam semua mashab dan aliran, seperti: ajaran tiga ciri kehidupan (tilakkhana): dukkha impermanence, non-self, tentang four noble truths, Pratitya Samutpada, Intentional Action (Kamma), tentang kematian dan kelahiran kembali, serta psikologi dan yang berkenaan dengan filsafat manusia dalam konsep Buddhis tentang Mind and Body.

Tiga ruas utama dalam upaya pencapaian kebuddhaan yang menyangkut moralitas sila, meditasi pengembangan batin, dan pengembangan kebijaksanaan (prajna). Moralitas Pancasila serta pengembangan batin dalam bhavana, meditasi, ajaran tentang enam paramita. Tiga ruas utama sebagai bagian terakhir dari hukum empat kesunyataan mulia merupakan ciri universal Buddhadharma untuk pembebasan derita yang memerlukan kecerdasan dan pengembangan didalam penerapannya.

Disinilah perlunya berjalan beriringan dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern dimana jalan pembebasan itu memang dapat diterima oleh masyarakat modern dewasa ini. Kajian moralitas sila maupun meditasi, dan abhidhamma juga harus disertai dengan ilmu pengetahuan modern yang berkaitan dengan hal itu, seperti teori psikologi perkembangan moral, kepercayaan, kognisi dan lainnya.

Selain itu penting menyertakan pengembangan kebijaksanaan dalam filsafat, seperti filsafat sunyata; emptiness (sunyata), alayavinnana, prasangika, svatantra dan berbagai pokok-pokok dasar filosofis lainnya. Filsafat Buddha yang terkandung dalam aliran Mahayana baik itu Yogacara, Madhyamika, Tantra, Zen Buddhism, Sukhavati, Avatamsaka, Nichiren, Tibetan Buddhism dan sebagainya yang disertai juga dengan perkembangan filsafat modern dan filsafat agama yang berkembang dalam agama lainnya.

Penting pula pemahaman tentang mengenai ketokohan Sang Buddha sebagai guru spiritual. Tokoh Siddharta Muda yang gigih berjuang sebelum mencapai kebuddhaannya patut dihayati dan dikembangkan dengan memperlihatkan segi-segi pribadi yang menarik bagi konteks kehidupan anak milenial masa kini dan penduduk dunia dewasa ini.

Siddharta Muda yang berkepribadian kritis, radikal, solidaritas, humanis, dan emansipatoris sangat menarik bagi kalangan muda yang menandai populasi dunia saat ini dan tertarik dengan spiritualitas ketimbang agama formal. Dunia yang maju dan berkembang, bersama dengan tumbuhnya Iptek yang menyertakan modernisasi dan tidak terkecuali globalisasi yang menyatukan manusia di dunia saat ini dengan berbagai penemuan dan kemudahannya patut pula memperoleh kajian dari perspektif spiritualitas Buddhadharma.

 

Kosmis Religion Bersama Sains

Kesadaran global dan bahkan kesadaran planetaris dimana dunia semakin terhubung dan bahkan antar planet menyertakan kemajuan peradaban manusia dewasa ini. Untuk itu, pembelajaran kosmologi dalam Buddhadharma akan sangat menarik dan memikat dan disertai dengan pengembangan Buddhadharma secara kontekstual yang meliputi hubungan Buddhadharma dengan budaya, multikulturalisme, Buddhadharma dan Masyarakat, pluralisme serta problem-problem aktual kontekstual-aktual lainnya.

Menumbuhkan kesadaran universal, global dan planetaris dapat mengacu pada pembelajaran tentang kosmologi dalam Buddhadharma. “The Buddhist scriptures decribes that, “Many world-systems are full of rock-torn earth – dangerous and destroying.” While this may be true of planets of other star-systems, it is proven for our Solar Systems’s planets such as Mars and Venus. The Earth was also decribed to have formed out of a mass of heavy thick matter that gradually hardened to solidify – this is agreed by Science. (“Be a Lamp.” 1999. Singapore: Kong Meng San Phor Kark See Monastery).

Kesadaran global, planetaris mencerminkan kebutuhan agama yang sungguh bersifat universal-kosmis. Kita ingat apa yang pernah dikatakan Albert Einstein. “the religion of the future will be a cosmic religion. It should transcend a personal god and avoid dogma and theology. Covering both the natural and the spiritual, it should be bases on a religious sense arising from the experience of all things, nature and spiritual, as a meaningful unity. Buddhism answers this description”. Lanjutnya, “if there is any religion that would cope with the modern scientific needs it would be Buddhism”.

Tidak boleh ditinggalkan adalah ajaran-ajaran yang terkandung dalam kesusastraan, kebijaksanaan lokal dalam berbagai karya sastra religius dan literatur lainnya. Karya-karya yang mengandung wisdom-Buddhism baik dari mashab Theravada, Mahayana, maupun Buddhisme Tibet, serta sastra spiritual Buddhis Nusantara seperti Sanghyang Kamahayanikan, Sutasoma, Kunjarakarna, dan lainnya.

Bersandar pada Kalama Sutta, Buddhadharma inner-science, Buddhology maupun buddhist studies, perguruan tinggi Buddha pantas mengembangkan Buddhadharma saintifik dengan ilmu pengetahuan modern. Dalai Lama, tokoh yang sangat antusias mempertemukan Buddhadharma dengan ilmu pengetahuan modern menegaskan: “Keep Buddhism growing and developing by engaging with science.” (JP)

***

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)
  • BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA)

sumber gambar: https://twitter.com/unesco_es/status/1280835353621008386?lang=ur

Butuh bantuan?