Buddhadharma dan Sepak Bola (1) – Film “The Cup”, Bila Para Bhiksu Tergila-gila Sepakbola

Home » Artikel » Buddhadharma dan Sepak Bola (1) – Film “The Cup”, Bila Para Bhiksu Tergila-gila Sepakbola

Dilihat

Dilihat : 70 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 49
  • 70
  • 6,332

Oleh: Jo Priastana

 

“Di dalam sepakbola kamu memiliki musuh,

di dalam film musuh adalah dirimu sendiri.”

(Erich Cantona, Pesebakbola, Manchester United 1990an)

 

Dalam JiFFest 2000, Festival Film Internasional Jakarta yang berlangsung pada bulan November 2000 lalu, terdapat sebuah film yang unik dan menarik, hasil garapan sutradara berkebangsaan Tibet, Khyentse Norbu yang berjudul The Cup. Meski sudah 20 tahun lalu lebih, film The Cup yang menggambarkan sekelompok Bhiksu muda yang demam sepakbola masih tetap menginspirasi, khususnya ketika setiap kali perhelatan piala dunia sepakbola datang menjelang, seperti FIFA World Cup 2022 di Qatar.

Sepakbola memang sudah begitu mengglobal, segenap manusia tua muda, lelaki perempuan mengandrungi olahraga sejagat ini, dan daya tariknya sampai juga menggema di biara puncak gunung, merasuki bhiksu-bhiksu muda di biara itu. Para bhiksu yang menjalani kehidupannya secara spititual ternyata juga bisa demam menyaksikan olahraga yang digemari penduduk dunia itu.

Betapa dahsyatnya pengaruh si kulit bundar yang disepak-sepak oleh 44 kaki para lelaki. Stadion pun dipenuhi penonton, melebihi tempat-tempat peribadatan. Belum lagi jutaan pasang mata yang menatap melalui layar kaca. Sorak sorai nyanyian, tambur, kegembiraan dan kesedihan bagaikan gema doa-doa dan harapan di altar stadion sepakbola yang bahkan bisa melebihi perhelatan spiritual.

Pesona Sepakbola

Begitu menariknya sepakbola, bahkan para biarawan yang cenderung menjalani kehidupan spiritual pun bisa berkomentar dengan seriusnya layaknya fantasisme penonton dengan klub sepakbola atau pemaian idolanya, “Gila, jago banget. Kamu nggak lihat sih cara dia main tadi malam. Luar biasa. Coba kamu ikut nonton tadi malam,” celoteh sang bhiksu yang ternyata maniak sepakbola kepada temannya.

Sang teman lalu menimpali dengan pertanyaan balik, “Siapa yang menang akhirnya? Brazil? Lawan-lawannya?” Lainnya, “Busyeet, indah banget tuh, si pelontos, Ronaldo Nazario meliuk-liukkan badannya sambil menggiring bola!”

Obrolan itu mungkin biasa bagi para pecandu sepakbola. Tapi itu menjadi luar biasa, karena melibatkan sekumpulan bhiksu muda di puncak pegunungan perbatasan India dan Tibet. Para bhiksu yang bebas dari urusan duniawi, dan bahkan keberadaan biara di puncak gunung di negara atap langit yang nyaris tak bersentuhan dengan budaya luar, termasuk urusan perlombaan olah-raga, apalagi sepakbola.

Tapi obrolan itu memang nyata dan ada, meski cuma dalam film. Potongan dari film The Cup, sebuah film tentang demam sepakbola di kalangan para bhiksu muda. Momentnya pas Piala Dunia 1998 lalu yang akhirnya Perancis yang dipimpin Zinadine Zidane keluar sebagai juara, menjadi kampiun sepakbola dunia.

Bagaimana kisahnya Film The Cup yang menceritakan tentang antusiasnya para bhiksu muda terhadap perhelatan piala dunia sepakbola itu bermula? Dikatakan bahwa ide cerita film itu sangat sederhana, yakni menceritakan usaha para bhiksu muda merayu kepala biara supaya diijinkan nonton final Piala Dunia 1998. Bukankah para bhiksu muda yang sedang menjalani jalan kehidupan spiritual itu juga terbebani untuk menghindari pertunjukan-pertunjukan yang bersifat duniawi?

Pesona Film The Cup

Dan film ini itu pun menjadi tontonan yang segar, menjadi film yang unik di dalam festival film JiFFest 2000. Selain kisahnya yang menarik tentang Bhiksu dan Sepakbola, sang sutradara pun pandai menjalin cerita tersebut. Sang kepala biara yang awam, bhiksu-bhiksu muda yang jahil, serta perbenturan budaya modern dan asli Tibet, diramu tidak hanya sebagai sebuah tontonan yang menghibur namun juga menghadirkan permenungan.

Meski begitu sang sutradara, Khyentse Norbu tidak membebani penonton dengan bahasa-bahasa yang tinggi dalam melukiskan perbenturan dua kultur yang berseberangan atau petuah-petuah moral agamis. Cukup menyajikan secara alami dilematika antara sepakbola budaya modern dan latar belakang budaya Tibet yang tradisional, sepakbola tontonan duniawi yang dilakukan para awam dan para bhiksu di biara yang menempuh kesucian diri yang juga mampu menawarkan permenungan tentang kehidupan dan spiritualitas.

Keluguan dan kepolosan para bhiksu dalam menyikapi tontonan sepakbola terasa tergambar dengan jelas. Sepolos kebenaran yang menggema di biara tersebut. Lihatlah, ketika kepala biara bertanya kepada Geko, “Apa sih sepakbola itu?” Geko menjawab enteng, “Sepak bola itu perebutan sebuah bola di lapangan yang dilakukan dua bangsa yang berbudaya.”

Juga misalnya ketika Orygen, (pemeran utama) menjelaskan kenapa pertandingan diputar malam hari? Sebagai jawaban pertanyaan Palden, si bhiksu baru, katanya, “sebenarnya hal ini berkaitan dengan nggak datarnya bumi ini.” Selanjutnya, “Sudahlah, kamu orang Tibet kampung nggak bakal ngerti juga kalau saya jelaskan, jadi mendingan nonton aja deh,” jawabnya ketus.

Karena itu pantaslah jika dalam JiFFest 2000, film ini mendapat kehormatan diputar belakangan sebagai penutup. Selain itu, memang cukup luar biasa, film yang di sutradarai Khyentse Norbu yang berkebangsaan Tibet negeri atap langit ini mendapat pujian sebagai nominasi film berbahasa asing terbaik di Academy Award 2000, dan terbaik di Cannes Film Festival pada bulan Mei 2000 di Perancis.

Sang sutradara sendiri, Khyentse Norbu memang sebelumnya berasal dari lingkungan biara. Dia tumbuh di biara sebagai seorang bhiksu. Karenanya dia tahu benar, kalau bhiksu-bhiksu di biara juga tergila-gila sama sepak bola. Bhiksu juga manusia yang suka permainan, terlebih perenungan tentang sepakbola yang juga menggambarkan tentang kehidupan sebagai permainan.

Dilematika Kehidupan dan Budaya

Dilematika kehidupan Bhiksu dan Budaya Tibet cukup menarik untuk menjadi jalan cerita dan dan tergambar dalam Film The Cup itu. Kisah dalam Film The Cup yang membawa kita ke dataran tinggi Tibet dengan segala kelucuannya, upaya semangatnya para bhiksu serta keharuan dari tragedi dan komedi yang juga biasa menyertai suatu pertandiangn atau kejuaraan sepakbola.

Pandangan orang umumnya bahwa bhiksu adalah orang yang penuh disiplin dan kaku, nyata sesungguhnya tidak tepat. Karena bhiksu adalah manusia juga yang suka permainan. Ia pun bisa tergila-gila oleh sepakbola. Lalu adakah hubungannya dengan agama? Sang Sutradara yang Bhiksu ini, Khyentse Norbu tidak membidik ke arah itu, cukup sepakbola saja yang memang menawarkan kesenangan dan permenungan kehidupan.

Tampaknya Film The Cup dimaksudkan juga untuk melihat sisi dalam dari kultur masyarakat Tibet. Apalagi bila merenungi kehidupan orang Tibet di tengah zaman globalisasi ini. Mereka seperti orang-orang yang jauh berada di ketinggian pedalaman dan seakan terbuang ditengah-tengah keberadannya yang berhadapan dengan tantangan dunia modern.

Bisa jadi Sang Sutradara yang Bhiksu ini juga mengenali dinamika kehidupan Bhiksu diantara kehidupan budaya modern, dinamika bhiksu yang tinggal di pegunungan Tinggi Tibet yang juga bersentuhan dengan teknologi modern. Bagaimana tantangan yang dihadapai oleh para Bhiksu dan sepakbola yang sangat difanatikkan oleh sebagian besar orang di muka bumi, bukankah sudah bagaikan pengganti agama. Jangan-jangan memang demikian.

Sebab pengakuan Norbu sendiri yang mengalami kehidupan kebiaraan, bahwa film itu sesungguhnya didasari oleh kisah nyata. Pemain film itu pun dipilih dari murid-murid biara dan nyaris seluruhnya tidak bisa berbahasa Inggris. Para bhiksu muda sangat menikmati proses produksi film ini selama dua bulan, dan mereka terbebas dari doa-doa suci rutin setiap hari. Meski begitu semuanya berlangsung natural, termasuk adegan becanda.

Khyentse Norbu, dikenal sebagai penerus ketiga klan Khyentse. Sebagai generasi Khyentse, sesungguhnya ia mewarisi klan besar Khyentse. Dengan menjadi sutradara film, apakah ia menghindari tanggung jawab, melangkah di luar jalur tradisional kebiaraan? Norbu sendiri menjawab tidak. Tetapi katanya, “kita harus menghadapi diri kita, pikiran kita.” Apakah ini sebuah kearifan tradisional dalam menyikapi kemodernan dan untuk tetap survive dengan menjadi orang baik.

Roberto Baggio Manusia Baik

“Jikalau kamu mau menjadi pemain bola yang baik, kamu harus menjadi manusia yang baik.” Roberto Baggio, pesepakbola Tim Nasional Italia mengungkapkan pernyataan itu. Kalimat petuah yang rupanya mengandung teka-teki kearifan hidup yang diucapkan oleh pesepakbola yang dikenal juga seorang penganut Buddhis yang taat.

Wejangan yang diucapkannya kepada Luca Tony, striker Tim Azzuri Italia Piala Dunia 2006. Baggio memberitahukannya sewaktu masih bersamanya bermain di Club Brescia, Liga Italia. Petuah mantan kapten Tim Piala Dunia Italia, 1994, murid Dalai Lama ini jelas menggambarkan bahwa menjadi manusia baik itu merupakan tujuan utama sebagai seseorang mengatasi segala ketrampilan dan kemampuan yang dimilikinya, entah profesi apa pun yang digelutinya termasuk sebagai pemain sepakbola.

Menjadi manusia baik adalah yang utama, terlebih dahulu baru nanti ujungnya berhasil menjadi pemain bola yang baik atau profesi apa pun yang mendatangkan kesuksesan, kekayaan dan kebahagiaan. Menjadi pesepakbola yang baik misalnya juga tidak lepas dari menjadi manusia yang baik.

Mungkin banyak pemain sepakbola yang berhasil memecahkan petuah teka teki kebijaksanaan hidup Roberto Baggio itu, seturut dengan pengalaman hidup yang dialaminya. Setidaknya ini mungkin yang dialami oleh maha bintang piala dunia 2006, yang tidak dapat menguasasi dirinya, Zinadine Zidane. Bintang dan kapten Tim Perancis di perhelatan piala dunia 2066 ini diusir wasit karena melakukan pelanggaran berat menyeruduk Materazzi dari Tim Italia.

Zidane sebenarnya seorang pemain yang banyak mencapat pujian dan kekaguman karena kepribadiannya, tapi ketika diolok-olok oleh Materazzi, ia tak kuasa menahan diri, membendung emosinya. Penguasan diri, pengendalian diri rupanya juga penting bagi pemain sepakbola, tidak hanya bagi siapapun yang ingin menjadi manusia baik. “Pengendalian Diri” kerap kita artikan dengan sebagai ujar Buddha Gautama bagi terwujudnya diri yang bagus, sukses dan kehidupan bahagia.

Tampaknya rahasia hidup juga tercermin dalam sebuah permainan sepakbola. Lihatlah, bukankah dalam permainan yang menjadi pujaan milyaran manusia di muka bumi itu tercermin semua segala perilaku manusia yang diperlukan untuk hidup, termasuk sangat penting menjadi orang baik seperti kata Roberto Baggio, dan juga mungkin dalam menyikapi soal nasib dan kehidupan yang tak menentu bagaikan bundarnya sang Bola yang bergerak kesana kemari di lapangan berumput hijau! (JP). ***

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH).
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor).

 

Sumber foto: https://www.intofilm.org/films/18050

Butuh bantuan?