Buddhadharma dan Sepakbola (2) – When Things Fall Apart From Something To Nothing

Home » Artikel » Buddhadharma dan Sepakbola (2) – When Things Fall Apart From Something To Nothing

Dilihat

Dilihat : 8 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 22
  • 70
  • 6,305

Oleh: Jo Priastana

“Jikalau kamu mau menjadi pemain bola yang baik,

kamu harus menjadi manusia yang baik.”

(Roberto Baggio, Pesepakbola)

Masih ingat kalimat petuah yang mengandung teka-teki kebijaksanaan hidup yang diucapkan oleh pesepakbola Roberto Baggio? Pemain Timnas Italia yang dikenal juga seorang penganut Buddhis yang taat mengungkapkan kalimat itu kepada Luca Tony, striker Tim Azzuri Italia Piala Dunia 2006. Baggio memberitahukannya sewaktu masih bersamanya bermain di Club Brescia, Liga Italia. 

Petuah mantan kapten Tim Piala Dunia Italia, 1994, murid Dalai Lama ini jelas menggambarkan bahwa menjadi manusia baik itu merupakan tujuan utama sebagai seseorang mengatasi dan mensyaratkan keterampilan dan kemampuan yang dimilikinya, entah profesi apa pun yang digelutinya termasuk sebagai pemain sepakbola.

Menjadi pesepakbola yang baik misalnya juga tidak lepas dari menjadi manusia yang baik. Mungkin banyak pemain sepakbola yang berhasil memecahkan petuah teka-teki kebijaksanaan hidup Roberto Baggio itu, seturut dengan pengalaman hidup yang dialaminya. Setidaknya ini mungkin yang dialami oleh maha bintang piala dunia 2006, Zinadine Zidane.

From Something To Nothing

Zinadine Zidane yang sampai saat itu disebut-sebut tidak hanya sebagai pemain bola yang handal, tetapi juga sebagai manusia yang baik, rendah hati, sportif, tidak emosional akhirnya harus berakhir secara tragis.  Di ujung akhir babak final yang menyisakan pertandingan 5 menit lagi berakhir, ternyata ia melepaskan kebaikannya sebagai manusia, harus berbuat salah dikartu-merahkan, setelah menyeruduk pemain Italia Matterazi.

Citra Zinadine Zidane yang telah terlanjur melekat pada dirinya seabagai manusia baik sepanjang kariernya sebagai pesepakbola hancur berantakan justru pada saat di ujung akhir pertandingan. Malapetaka menimpanya justru ditengah-tengah puncak kecemerlangannya, segala sesuatu yang telah dimilikinya dan sesaat lagi akan memperoleh pengukuhannya tiba-tiba hancur berkeping-keping oleh karena kesalahan setitik dan sekejap, from something to nothing.

Hidup tampaknya begitu mudah pecah. Apa yang telah dibina dan diusahakan bertahun-tahun dapat luruh dengan seketika, baik itu dalam prestasi yang telah dibina maupun jalan kesucian yang telah ditempuh. Bahkan cinta pun rawan terbelah, perkawinan tak luput dari perceraian, apa yang tampak serasi atau ditutup secara rapi ternyata menyimpan retakan-retakan dan kebusukan.

Itulah barangkali derita, hukum kesunyataan yang terjadi dan harus ditanggung manusia, dimana perubahan senantiasa mengintip, apa yang laten tersimpan senantiasa menanti muncul. Menjadikan manusia harus menanggungnya karena dapat menjadikan hidupnya berantakan dan bahkan berakhir dengan kehancuran, frustrasi tak terkira hingga kematian.

Manusia itu mudah pecah, berserpih-serpih, dan setiap serpihan pecahannya itu mengingatkan dan menyadarkan bahwa tidak hanya kaca atau gelas, tetapi juga dirinya sendiri mudah pecah. Sebab manusia yang tercipta atas nama dan rupa adalah insan yang dapat bersalah dan fana atau tidak kekal.

Manusia memang tersusun dari rupa dan nama, yang mempunyai nafsu, ketakutan, kerinduan dan cinta. Manusia tidak terbuat dari plastik yang liat atau baja yang kuat, karena itu ia mudah pecah. Itulah realitas yang harus dihadapi setiap insan, sebagaimana dialami oleh Zinadine Zidane. Karenanya kebijaksanaan yang diungkapkan oleh Pema Chodron, atau pengarang Rudolf Walter dalam kumpulan karangannya tentang perlunya “hati yang terbuka” agar manusia bisa menerima dirinya dan menjadi bahagia sangat penting untuk disimak.

 

When Things Fall Apart

Nasib yang dialami Zidane di World Cup 2006 dimana sebutan pemain dan manusia yang baik itu runtuh di sisa lima menit terakhir pertandingan usai. Kisah pemain cemerlang kesebelasan nasional Perancis ini, mengingatkan kita akan judul buku yang ditulis oleh Pema Chodron, “When Things Fall Apart,” Ketika segalanya berantakan atau tak terkendali, terpisah, terpecah, cerai-berai.

Buku yang ditulis oleh Pema Chodron, seorang biarawati Buddha di AS ini berisikan nasihat-nasihat yang menyejukkan hati bagi siapa saja ketika menghadapi masa-masa yang sulit. Ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri, Pema mengakui ia bisa keluar dari situasi yang sulit berkat menghayati ajaran Buddha.

Mantan murid Chogyam Trungpa, guru meditasi terkenal yang mendirikan biara Tibet di Amerika Utara ini mengungkapkan tentang efektifnya ajaran Buddha dalam menata kehidupan. Kehidupan yang tak terkendali, dan kembali membalikkannya menjadi kehidupan yang baik dan terkendali, penuh kebahagiaan.

Menurutnya, situasi tak terkendali itu dapat saja tiba-tiba datang sehingga menutup peluang kebahagiaan yang ada di depan mata, karena kita sering terperangkap oleh upaya-upaya untuk melarikan diri dari kepedihan dan penderitaan dan membalasnya dengan agresi. Keadaan yang persis itulah yang dialami Zinadine Zidane. Menurut pengakuan Zidane sendiri, ia menanduk Matterazi karena tak kuasa menahan cemoohan dan hinaan yang ditujukan kepadanya.

Sebagaimana pengalaman hidup yang pernah diterimanya, Pema memberi saran agar kita dapat bersahabat. Katanya, justru ditengah-tengah situasi yang menyakitkan atau ketika kekacauan itu datang, kita perlu menumbuhkan sikap bersahabat, dan rileks, sehingga dapat menemukan kebenaran dan kasih dan mengatasi kepedihan yang datang. 

Pema menyarankan untuk menghadapinya dengan penuh welas asih terhadap diri sendiri. Kebangkitan sikap penuh belas kasih yang tiada kenal takut terhadap kepedihan kita sendiri maupun kepedihan sesama kita. Inilah yang diungkapkan Buddha, ajaran tentang kejujuran, kemurahan dan keberanian, rileks dengan apa pun yang terjadi, dan tetap di jalan yang benar.

Menurutnya, setelah kamu dapat bersahabat dengan dirimu, maka situasimu pun akan lebih bersahabat. Tekadang karena penyakit atau kematianlah kita temukan diri kita di tempat dan pada situasi kepahitan, kepedihan itu. Karenanya, setiap saat itu sangat berarti, setiap detik itu demikian berharga, seluruh kehidupan menjadi sangat berarti, tidak takut lagi menghadapi kematian.

Sesungguhnya ketika segalanya tak terkendali, justru disitulah datang semacam ujian dan juga semacam kesembuhan. Terkendali, tak terkendali, terkendali, tak terkendali, terkendali.  Kita seringkali menganggap dapat memperkirakan segala sesuatu. Tapi sesungguhnya kita tak tahu apa yang benar-benar terjadi. Demikian juga mungkin ketika kesebelasan favorit menderita kekalahan, bagaimana rasa pedih itu datang dan meminta dipulihkan.

Bola Kehidupan

Kita anggap sesuatu itu buruk, kita anggap sesuatu itu baik, padahal kita tidak benar-benar tahu, dan apakah ketika berada di tebing itu adalah semacam ujian? Maka petuah teka-teki kebijaksanaan hidup yang dilontarkan oleh pesepakbola Roberto Baggio itu pun terasa menemukan momentumnya, semacam ujian kehidupan bagi kita semua.

Roberto Baggio sendiri pernah mengalami saat-saat getir from something to nothing ini pada final World Cup FIFA1994 di Pasadena, California AS ketika adu penalti melawan Brazil. Andai saja sebagai penendang terakhir Roberto Baggio berhasil, tentu saja Italia tidak membawa pulang kenihilan, nothing, kalah 2-3.

Sesuatu, something, kemenangan yang tampaknya sudah di depan mata itu akhirnya lenyap, nothing, karena tendangan penalti Baggio jauh diatas mistar gawang. Beban mental dan sebagai kapten Tim Nasional tampaknya turut mempengaruhi sepakannya.

Meski begitu, Baggio, murid setia Dalai Lama ini banyak belajar kebijaksanaan, menemukam wisdom dari lapangan sepak bola. Lapangan sepak bola tampaknya tak terpisahkan dari kehidupan Roberto Baggio, hidup seperti permainan sepakbola.

Tampaknya kehidupan itu memang serupa lapangan sepakbola, permainan sepakbola. Seperti juga kata artis pelantun lagu official song, FIFA-World Cup 2010, Shakira. Waka-waka, eh, eh! (JP)

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH).
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor).

 

Sumber: https://twitter.com/photosofootball/status/843028909365051396

Butuh bantuan?