Buddhadharma Sebagai Pendidikan – Sang Buddha Guru Pencerahan

Home » Artikel » Buddhadharma Sebagai Pendidikan – Sang Buddha Guru Pencerahan

Dilihat

Dilihat : 90 Kali

Pengunjung

  • 19
  • 17
  • 37
  • 33,035

Oleh: Jo Priastana

 “Share your knowledge. It is a way to achieve immortality”

(Dalai Lama)

Setelah pencapaian penerangan sempurnanya, Sang Buddha melakukan pembabaran dharma untuk pertama kalinya kepada lima orang pertapa di Taman Rusa Isipatana. Peristiwa ini dikenal sebagai pemutaran roda dharma atau dharmacakra dan diperingati sebagai hari suci Asadha. Sejak Sang Buddha mengajar itu, Buddhadharma berputar menyebar bagaikan roda rodadharma, dharmacakra untuk memberikan pencerahan dan pembebasan. Awal pembabaran ini menjadikan Sang Buddha mendapat julukan sebagai seorang Guru umat manusia dan para dewa untuk pencerahan.

Dengan berputarnya rodadharma, dharmacakra, buddhadharma menyebar dan berkembang hingga di jaman ini. Pembabaran Buddhadharma sebagai pendidikan itu membawa misi pencerahan dan pembebasan penderitaan. Peristiwa yang telah diletakkan Sang Buddha 25 abad lalu terus saja hadir karena mampu merespons perkembangan dunia. Buddha mengawali misinya itu dengan mengibaratkan roda (cakra, asal kata cakkhu, mata atau vision), pemutaran roda dharma. (Priastana, Jo. 2005. Komunikasi dan Dharmaduta. Jakarta: Yasodhara Puteri).

Buddhadharma mampu merespons permasalahan tantangan zaman hingga di zaman globalisasi yang sarat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam sejarah perkembangannya pemahaman Buddhadharma sebagai jalan pembebasan yang bersifat individual-asketis dilengkapi dengan pemahaman Buddhadharma yang bersifat liberal-progresif, yaitu suatu pemahaman Buddhadharma yang kontekstual untuk mampu menghadapi dan menjawab tantangan zaman karena mengandung misi dan visi pendidikan dan visi sosial yang kuat. (Priastana, Jo 2000. Buddhadharma Kontekstual. Jakarta: Yasodhara Puteri)

 

Buddhadharma adalah Pendidikan

Dharmacakra dimana Sang Buddha mengajar dan bertindak sebagai guru merupakan sebuah proses pendidikan. Buddhadharma adalah pendidikan. Dalam pembabaran Dharmanya itu, Sang Buddha secara pedagogis membangkitkan kesadaran Buddha yang terkandung pada diri lima orang pertapa yang menjadi murid-murid pertamanya. Sang Buddha mengajarkan tentang empat kesunyataan mulia: dukkha, pembebasan dukkha, lenyapnya dukkha dan jalan pembebasan dukkha yang menghantar lima orang pertapa mengalami perubahan, transformasi diri dan tercerahkan.

Dharma dihadirkan Sang Buddha ketika mengajar lima orang pertapa, dengan begitu Buddhadharma hadir sebagai peristiwa pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah tindakan proses perubahan bagi anak didik, dan dharma diajarkan untuk terjadinya transformasi diri, pencerahan sebagaimana lima orang perrtapa pada awal Sang Buddha mengajar pertama kali.

Pendidikan dalam agama Buddha adalah Dhamma. Dhamma adalah ajaran Buddha untuk melenyapkan ketidaktahuan/kebodohan. Oleh karena itu, dalam Milinda Panha Buddha menyebutkan Dhamma adalah yang terbaik di dunia (Krisnanda WM, 2002:93).

Pendidikan sebagai pedoman untuk bertindak dalam Milinda Panha mempunyai 28 fungsi yaitu suatu cara hidup murni, buahnya membahagiakan, tidak tercela, tidak membawa penderitaan bagi yang lain, memberikan rasa yakin, tidak menekan, pasti menyebabkan tumbuhnya sifat-sifat baik, mencegah kemunduran, tidak mengotori batin, merupakan perlindungan, memenuhi keinginan, menjinakkan semua makhluk, baik bagi disiplin diri, pantas bagi seorang pertapa, dia mandiri, dia bebas, menghancurkan nafsu, menghancurkan kebencian, menghancurkan kebodohan batin, mengikis kesombongan, memutus pikiran yang mengembara dan membuat pikiran terpusat, mengatasi keraguan, menghalau kelambanan, melenyapkan ketidakpuasan, membuatnya punya toleransi, tidak ada bandingnya, tak terukur, mengarah pada hancurnya semua penderitaan (Krishnanda WM, 2002: 182).

Dengan adanya Pendidikan, diharapkan seseorang dapat membuktikan sendiri dari apa yang dipelajari. Buddha menganjurkan dalam Kalama Sutta, khotbah yang dibabarkan kepada suku Kalama untuk tidak segera percaya dengan suatu ajaran, apakah itu tradisi hingga yang tertulis dalam kitab suci sekalipun, sebelum diselidiki sendiri benar (KWM, 2010:12).

Dalam agama Buddha, Buddha pernah membabarkan Dhamma yang dikelompokkan dari satu hingga sepuluh (Digha Nikaya, Dasuttara Sutta, 2009: 545). “Dalam kelompok yang meningkatkan dari satu hingga sepuluh, aku akan mengajarkan Dhamma untuk mencapai Nibbana, agar kalian dapat mengakhiri penderitaan, dan terbebas dari segala belenggu yang merugikan”.

Pembabaran dharma merupakan sebuah tindak pendidikan karena bertujuan untuk terjadinya perubahan, transformsi diri siswa. Tujuan belajar Buddhadharma adalah untuk terjadinya perubahan diri, perubahan batin dan gelap ke terang, dari bodoh hingga mencapai panna, atau prajna, pandangan terang yang menghantar pada terbebasanya dari penderitaan. Karenanya Dharmacakra yang menjadi simbol pembelajaran Buddhadharma adalah demi pencerahan manusia yang mengemban misi pembebasan dan transformasi sosial.

 

Sang Buddha Guru Pencerahan

Buddhadharma mengemban misi pencerahan demi pembebasan manusia dari kegelapan batinnya, dan karena itulah Sang Buddha dikenal sebagai Guru dan mendapat julukan sebagai Guru untuk pencerahan umat manusia, menghalau kebodohan batinnya dan kekotoran batin demi pembebasan manusia dan penderitaannya. Semakin banyak orang yang tercerahkan semakin terjadilah perubahan atau tranformasi sosial yang membawa kebaikan bagi dunia.

Berawal dari Brahma Sahampati yang memohon agar Buddha mengajarkan Dharma, bertindak sebagai guru (Vin. I, 4-7). Buddha mengajar dharma tidak hanya kepada manusia namun juga didengarkan oleh para dewa. Julukan Buddha sebagai guru pun adalah “Satta Deva Manussanam atau Guru para dewa dan manusia.” Sang Buddha mengajar Yasa, umat awam. Katanya “Di sini Yasa, tiada yang mencemaskan. Di sini Yasa, tiada yang menyakitkan. Ke sini Yasa, Aku akan mengajarmu (Vin. I, 15).

Begitu pula dengan Cunda, rakyat kebanyakan, Sang Buddha memberikan pelajaran dharmanya. “Apa pun Cunda, yang harus dilakukan oleh seorang guru, karena cinta kasihnya demi keselamatan para muridnya, telah Aku lakukan untukmu (M. I, 46.)

Sang Buddha adalah guru para dewa dan manusia (satthā devamanussānaṁ). Sebagai seorang guru, Sang Buddha mengajar para dewa dan manusia dengan berbagai macam metode dengan tujuan untuk membebaskan mereka dari penderitaan (dukkha).

Dalam Pasadika Sutta dikatakan bahwa: “Sekarang ada seorang guru yang tercerahkan sempurna: ajarannya benar, diperlihatkan dengan baik dan murid itu, setelah menerimanya, melatihnya dengan benar, dan memeliharanya. Seseorang boleh berkata kepadanya: “Teman, apa yang engkau terima adalah baik, ini adalah kesempatanmu, keuntunganmu, kesempatan baik dan engkau mengikuti ajaran gurumu”.

Dalam hal ini, guru dan ajarannya adalah layak dipuji, dan si murid juga layak dipuji. Dan jika seseorang berkata kepada murid demikian: “Yang Mulia, dengan mengikuti cara itu, engkau akan berhasil (Walshe, 2009:445).”

Sang Buddha juga dijuluki sebagai dokter, memberikan pertolongan kepada makhluk yang menderita. “Aku adalah Brahmana, tempat makhluk-makhluk mendapatkan        pertolongan . . . Seorang dokter, ahli bedah yang tiada bandingnya.” (It. 100).

Kesaksian Brahmana Pingiyanin: “Seperti seorang dokter yang ahli dalam waktu singkat menyembuhkan penyakit, melenyapkan penderitaan seorang pasien. Manakala seseorang merealisasi Dharma yang diajarkan oleh Buddha Gotama, apakah itu melalui sabda, khotbah, tanya-jawab, atau mukjizat, maka lenyaplah kesedihan, keluh-kesah, kesengsaraan, ketidak-senangan dan keputusasaannya.” (A. III, 238)

Sebagai Guru dan dokter, Sang Buddha adalah penunjuk Jalan. “Para Tathagata hanya menunjukkan Jalan.” (Dhp. 276). Sang Buddha seorang Guru yang mencerahkan dan seorang dokter yang membebaskan penderitaan. Dharma hadir untuk pencerahan dan pembebasan! (JP)

***

  • REDAKSI MENYEDIAKAN RUANG SPONSOR (IKLAN) Rp 500.000,- PER 1 BULAN TAYANG. MARI BERIKLAN UNTUK MENDUKUNG OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM
  • REDAKSI TURUT MEMBUKA BILA ADA PENULIS YANG BERKENAN BERKONTRIBUSI MENGIRIMKAN ARTIKEL BERTEMAKAN KEBIJAKSANAAN TIMUR (MINIMAL 800 KATA, SEMI ILMIAH)
  • SILAHKAN HUBUNGI: MAJA 089678975279 (Chief Editor)

sumber gambar: https://www.learnreligions.com/thmb/D9rJrSx1s4NIrX0lae-L7dJb5Io=/1500×0/filters:no_upscale():max_bytes(150000):strip_icc():format(webp)/GettyImages-200475825-001-58b5a53b3df78cdcd88557a7.jpg

Butuh bantuan?