Buddhadharma Yang Terlibat

Home » Artikel » Buddhadharma Yang Terlibat

Dilihat

Dilihat : 8 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 3
  • 38
  • 33,967
Pic 3

Oleh: Jo Priastana

 

“Buddhism means to be awake. Mindful of what is happening in one’s body, feelings, mind and the world. If you are awake, you cannot do otherwise than act compassionately to help relieve suffering you see around you. So, Buddhism must be engaged in the world. If is not engaged it is not Buddhism” (Thich Nhat Hanh)

 

Terhadap berbagai persoalan masyarakat atau problem sosial yang mencerminkan ketidaklayakan kehidupan manusia amat pantas untuk diatasi oleh siapa saja. Adalah misi Buddhadharma untuk pembebasan sebagaimana amanat Dharma dan cita-cita Bodhisattva. Etika Buddha mencerminkan moralitas yang mandiri dan sekaligus memiliki kepedulian sosial. Aktif terlibat dan berpartisipasi dalam mengatasi masalah sosial tersebut, dan mencerminkan semangat pembebasan ajaran Buddha, pembebasan untuk melenyapkan penderitaan makhluk hidup.

Tantangan berbagai masalah sosial-kemanusiaan yang merupakan cermin penderitaan mendapat respon dan jawaban dari siswa-siswa Buddha di berbagai Negara. Muncul para Pejuang Sosial Kemanusiaan yang bisa dikatakan sebagai Bodhisattva masa kini. Bodhisattva yang mampu menerjemahkan kepenuhan spiritualitas Buddhadharma secara kontekstual dalam berbagai fenomena masalah yang ada serta melakukan keterlibatan sosial-kemanusiaan dalam beragam cara.

Keterlibatan sosial sebagai keterlibatan kegiatan masyarakat merupakan juga cermin dari salah satu dari lima dimensi religiusitas, yaitu consequential involvement. – keterlibatan dalam kegiatan masyarakat. Kelima dimensi religiusitas yang terdiri dari: (1) ritual involvement – peribadatan wajib, (2) ideological involvement – keyakinan, (3) intellectual involvement – pengetahuan agama, (4) experiential involvement – pengalaman keagamaan, dan (5) consequential involvement – keterlibatan dalam kegiatan masyarakat. (Glock and Stark: 1963). 

 

Buddhadharma Yang Terlibat

Masyarakat Buddhis Internasional yang memiliki keprihatinan yang besar terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan itu mendasarkan tindakan dan keterlibatan, gerakannya pada spirit Dharma. Spirit Buddhadharma yang membebaskan itu mereka rumuskan dalam suatu konsepi yaitu “Engaged Buddhism” atau yang bisa diterjemahkan sebagai Keterlibatan Buddhis atau “Buddhadharma yang terlibat” secara sosial.

Pada pertemuan 22 orang guru Buddhis Barat dengan Dalai Lama di bulan Maret 1993 (Ken Jones: 1999), secara bersama-sama telah dipublikasikan secara luas deklarasi dengan alinea pertama proklamasinya yang berbunyi: 1. Tanggung jawab kita pertama sebagai Buddhis adalah bekerja menciptakan sebuah bentuk kehidupan yang lebih baik di muka bumi. 2. Mempromosikan Buddhadharma sebagai sebuah agama yang memiliki keterlibatan terhadap toleransi maupun hormat kepada agama lain. 3. Setiap aksi memperjuangkan keterlibatan tersebut hendaknya dipimpin oleh prinsip kebaikan dan kasih sayang, serta perdamaian dan harmoni.

Pernyataan deklarasi tersebut di atas mengasumsikan bahwa Buddhadharma bagi masyarakat modern tidak dapat tidak harus terlibat terhadap masalah-masalah sosial yang berkembang. Engaged Buddhism atau “Buddhadharma yang Terlibat” adalah sebuah konsep atau tipologi yang ditawarkan oleh para pemuka Buddhis modern untuk menjawab tantangan masyarakat modern.

Prinsip Engaged Buddhism ditegaskan Thich Nhat Hanh, aktivis dan pemikir Buddhis dari Vietnam, dalam artikelnya “Turning Wheel” di Journal of The Buddhist Peace Fellowship, Summer 1983:

“Buddhadharma berarti kebangkitan – kesadaran yang berkembang yang terjadi dalam diri, perasaan, pikiran seseorang dan terjadi di dalam dunia. Kalau kamu bangun dan sadar, kamu tidak dapat melakukan sesuatu selain tindakan yang penuh kasih sayang untuk membebaskan segenap penderitaan yang kamu saksikan di sekitar kamu. Jadi, Buddhadharma harus terlibat di dunia. Jika tidak memiliki keterlibatan, itu berarti bukanlah Buddhadharma.”  (Ken Jones, 1999).

John L. Esposito dalam bukunya, World Religions Today. Jakarta: Penerbit Elex Media Komputindo (2015: 498) menyebut Engaged Buddhism sebagai “Buddhadharma yang Terlibat”, secara sosial dalam merespons permasalahan sosial kemanusiaan kekinian. Ia mengungkapkan aspirasi Sulak Sivaraksa, aktivis Thailand yang meletakkan konsep penderitaan Buddhis kuno ke dalam kerangka dunia masa kini.

“Dalam terminologi Buddhis, dunia penuh dengan dukkha atau penderitaan, seperti bahaya kehancuran dunia yang tertunda melalui senjata nuklir, kejatuhan atomik, polusi udara, tanah, dan laut, ledakan polusi, eksploitasi sesama manusia, penolakan hak asasi manusia, dan kelaparan yang menghancurkan…Dukkha dunia terlalu besar untuk diselesaikan oleh Negara, orang, atau agama mana pun. Kita hanya dapat menyelamatkan diri kita ketika seluruh manusia menyadari bahwa setiap masalah di bumi adalah masalah dan tanggung jawab pribadi kita sendiri… Bahasa Buddhisme harus menawarkan jawaban yang sesuai dengan situasi kita. Hanya dengan begitulah Buddhisme akan bertahan, hari ini dan esok, seperti yang terjadi di masa lalu, memberi pengaruh positif pada umat manusia dan membangkitkan cinta, perdamaian, dan anti kekerasan. (Sulak Sivaraksa, “Buddhism in a World of Change, dalam Fred Eppsteiner, ed., The Path of Compassion: Writings on Socially Engaged Buddhism (Berkeley, CA: Parallax Press, 1988:16-17).

Begitu pula, desakan yang lebih kuat untuk keterlibatan sosial Buddhisme masa kini itu, disampaikan oleh Thich Nhat Hanh melalui ungkapannya. “Kata Buddha berasal dari akar budh, yang berarti “sadar”. Seorang Buddha adalah dia yang sadar. Apakah kita benar-benar sadar dalam kehidupan kita sehari-hari? Itulah pertanyaannya. Masyarakat membuatnya menjadi sulit untuk menjadi sadar. Kita tahu bahwa 40.000 anak-anak di Dunia Ketiga meninggal setiap harinya karena kelaparan, tapi kita terus melupakannya. Masyarakat tempat kita tinggal membuat kita menjadi pelupa. Itulah sebabnya kita membutuhkan latihan perhatian …. Bumi kita ini seperti sebuah kapal. Dibandingkan dengan seisi semesta, bumi kita adalah kapal yang sangat kecil, dan dia berada dalam bahaya tenggelam. Kita membutuhkan seseorang untuk menginspirasi kita dengan kepercayaan diri yang tenang, untuk memberitahu kita apa yang harus dilakukan. Siapakah orang itu? Teks-teks Mahayana memberi tahu kita bahwa Andalah orang itu” (Thich Nhat Hanh, “Call Me by My True Name,” dalam Fred Eppsteiner, The Path of Compassion: Writings on Socially Engaged Buddhism. Berkeley, CA: Parallax Press, 1988: 34-37).

 

Kekuatan Sebagai Pembebas

Kekuatan sebagai pembebas (liberative force) itulah yang merupakan hakikat dari Buddhadharma. Buddhadharma adalah filosofi maupun agama pembebasan. Sang Buddha mengajarkan Dharmanya untuk dipergunakan sebagai pembebas dari segenap dukkha atau penderitaan yang dialami manusia dan juga masyarakat yang juga terdiri dari manusia. Kepandaian melihat ragam penderitaan dan upaya menyelesaikannya adalah sebuah upaya-kausalya, keterampilan melakukan kebajikan dari para Bodhisattva.

Dengan bercermin kepada Sang Buddha sebagai Guru Pembebas, Guru Pencerahan, maka para Guru Buddhis masa kini pun pantas menyuarakan Buddhadharma yang Terlibat demi mengenali kekuatan pembebas yang terkandung dalam ajaran Buddha, kemudian menyebarluaskan dan mempraktikkannya.

Buddhadharma mengandung spirit pembebasan baik bagi penderitaan individual maupun problem sosial-kemanusiaan yang berkembang di masyarakat. Kekuatan sebagai pembebasan inilah yang memberikan inspirasi dan kekuatan bertindak tokoh-tokoh Buddhis modern untuk terlibat di dalam mengatasi persoalan kemasyarakatan dan kemanusiaan seperti menjadi pejuang keadilan dan perdamaian, aktivis lingkungan, pejuang kesetaraan gender, HAM, keselamatan bumi dan hewan, dan aktivitas kemanusiaan lainnya.

Buddhadharma untuk semua kalangan. Buddhadharma tidak hanya ditujukan bagi mereka yang semata hidupnya menyepi atau terkunci dalam biara, namun juga menjawab persoalan-persoalan aktual. Persoalan aktual berupa derita yang dialami banyak makhluk hidup yang terdapat di sekelilingnya dan terbelenggu dalam sistem yang menjadikannya menderita.

“Kita harus berani meninggalkan kuil kita dan memasuki kuil kehidupan manusia yang dipenuhi penderitaan”, demikian dinyatakan Maha Ghosananda, bhiksu pejuang perdamaian dunia dari Kamboja.

Buddhadharma hadir ke dunia untuk pembebasan, menghentikan penderitaan eksistensial manusia. Buddhadharma bersifat kontekstual dan dekat dengan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi banyak manusia di dunia. Muncul tokoh-tokoh Buddhis masa kini yang menjadikan Buddhadharma sebagai kekuatan pembebasan dan dapat dipandang sebagai Bodhisattva masa kini.

Para Bodhisattva masa kini yang melakukan keterlibatan sosial, diantaranya: (1) Master Hsing Yun, (2) Dalai Lama, (3) Bhikkhu Buddhadasa, (4) Daisaku Ikeda, (5) Sangharakshita, (6) Gary Snyder, (7) Thich Nhat Hanh, (8) Sulak Sivaraksa, (9) Dr. Ambedkar, (10) Dr. Ariyaratne, (11) Master Cheng Yen, (12) Dr. Chatsumarn Kabilsingh, (13) Maha Ghosananda, dan juga banyak lainnya. (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ_UuuJF5f-BWrfKhqYOyl4kyyoi1p33IpktS2uPFDbng&s

Butuh bantuan?