Buddhisme Sweatheart-nya LGBTQ

Home » Artikel » Buddhisme Sweatheart-nya LGBTQ

Dilihat

Dilihat : 7 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
Buddhisme S LGBTQ pic

Oleh: Gifari Andika Ferisqo 方诸德

Ketika kita membahas tentang menjadi seseorang yang ‘lurus’ atau normal (heteroseksual) di dalam masyarakat, serta gay, lesbian, transgender, biseksual, dan queer, apakah kita benar-benar menyadari bahwa kita sedang membicarakan identitas gender dan orientasi seksual?

Singkatnya, mengenai identitas gender yang merujuk pada bagaimana seseorang mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai laki-laki, perempuan, atau yang lainnya. Sementara orientasi seksual merujuk pada bagaimana seseorang tertarik pada pasangan laki-laki, perempuan atau keduanya sebagaimana sering disebut sebagai heteroseksual, homoseksual dan biseksual. Kita tidak perlu munafik, sejauh ini pengetahuan orang secara umum, terutama di Indonesia tentang LGBTQ masih sangat terbatas. Karena, diakui atau tidak LGBTQ masih sering dianggap sebagai topik yang kerap tabu dan mendapat stigma negatif. Sehingga tak heran, jika masih banyak orang yang merasa asing dengan arti dari LGBTQ.

LGBTQ mencakup orientasi seksual dan identitas seksual yang bervariasi di luar dari orientasi seks dan gender yang umum ditetapkan dalam masyarakat, yaitu heteroseksual dan cisgender. LGBTQ cukup sering diperbincangkan belakangan ini, secara umum  LGBTQ adalah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer. LGBTQ adalah istilah yang merujuk untuk menggambarkan sekelompok orang dengan identitas gender tertentu, yang kerap dianggap melenceng dari norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Saat memahami perbedaan orientasi seksual dan gender pada LGBTQ, penting untuk diketahui bahwa orientasi seksual dan identitas gender adalah dua hal yang berbeda. Orientasi seksual merujuk pada ketertarikan secara seksual, romantis, ataupun emosional pada individu lain yang memiliki jenis kelamin atau identitas gender tertentu. Seiring waktu, LGBTQ berkembang karena pengertian orientasi seksual dan identitas gender juga terus diperbarui, hal ini sesuai dengan perkembangan ilmu sosial dan sains. Untuk lebih rincinya, maka berikut akan dijabarkan makna dari setiap huruf singkatan dari LGBTQ.

  • Lesbian pada umumnya digunakan untuk wanita yang memiliki ketertarikan dan mengalami hal berbau percintaan dengan wanita lain atau homoseksual wanita.
  • Gay adalah istilah untuk orang yang homoseksual dan sering digunakan untuk pria yang homoseksual, akan tetapi lesbian pun bisa disebut sebagai gay.
  • Biseksual adalah ketika seseorang mengalami kebiasaan ketertarikan dalam hal percintaan atau seksual terhadap pria atau wanita.
  • Transgender adalah istilah umum untuk seseorang dengan identitas gender yang tidak sesuai dengan jenis kelamin mereka saat lahir. Istilah ini meliputi orang-orang genderqueer (orang yang tidak memiliki identitas gender/nonbiner), transpuan (transperempuan; transgender yang semula diidentifikasi sebagai laki-laki), transmen (translelaki; transgender yang semula diidentifikasi sebagai perempuan), dan bigender.
  • Queer mendeskripsikan identitas seksual dan gender selain heteroseksual dan cisgender. Terkadang istilah ini digunakan untuk mengekspresikan bahwa seksualitas dan gender bisa menjadi hal yang membingungkan dan berubah seiring waktu yang mana mungkin tidak sesuai dengan identitas seperti laki-laki atau perempuan, gay/lesbi atau normal.

Umumnya orang yang mulai menyadari bahwa dirinya memiliki kecenderungan LGBTQ ketika usia muda.  Sebuah penelitian menunjukan perilaku homoseksual dan ketertarikan sesama jenis banyak dirasakan sejak usia 15 tahun, seperti di Amerika Serikat 20.8%, Eropa 16.3%, dan Asia 18.5%. Sedangkan pada   kelompok wanita masing-masing 17.8% di Amerika Serikat, 18.6% di Eropa, dan 18.5% di Asia. Keadaan   ini memperlihatkan kelompok usia sekolah adalah usia yang rentan untuk mulai terlibat dalam hubungan sesama jenis. Sedangkan keputusan untuk menjadi homoseksual kebanyakan terjadi pada usia dewasa muda atau pada usia ketika mereka menjadi mahasiswa.

 

LGBTQ Bukanlah ‘Fenomena Barat’

Ketertarikan pada jenis kelamin yang sama begitu juga dengan orang LGBTQ ada di manapun, di semua negara, dalam berbagai kelompok etnik dan bangsa, pada segala tingkatan ekonomi dan di seluruh komunitas untuk waktu yang sangat lama. Hal yang sangat mencolok adalah reaksi dan hukum kriminal yang digunakan untuk menghukum orang LGBTQ di banyak negara berasal dari kekuasaan kolonial abad ke-19 di negara-negara Barat, sehingga seolah memperlihatkan bahwa LGBTQ adalah ‘fenomena Barat’.

Dalam sejarahnya, di Asia juga pernah tercatat fenomena LGBTQ bahkan telah masuk ke dalam pemerintahan. Seperti yang dicatat oleh sejarawan Sima Qian (司马迁) dalam buku terjemahannya yang berjudul Records of the Grand Historian, di Tiongkok pada masa Kaisar Ai (哀) dari dinasti Han (漢朝) yang naik takhta pada usia 20 tahun sekitar tahun 7 SM, diceritakan memiliki ‘kekasih pria’ bernama Dong Xian (董賢). Dalam bukunya, Sima Qian (司马迁) mengutip bahwa, “bukan hanya wanita yang dapat menggunakan penampilan mereka untuk menarik perhatian penguasa”, kutipan tersebut menceritakan tentang peran Dong Xian (董賢) dalam pemerintahan saat itu. Semula, ia bekerja sebagai sekretaris pribadi Putra Mahkota, namun kehadirannya berhasil menarik perhatian Kaisar Ai (哀) pada 4 SM, dan tidak perlu waktu lama ia pun menjadi ‘pacar’ Kaisar.

Saat itu fenomena seorang Kaisar dengan kekasih laki-laki bukanlah hal yang aneh. Sebenarnya, fenomena seorang Kaisar memiliki kekasih laki-laki sudah ada sejak zaman Dinasti Zhou (周), bahkan kebiasaan seorang kekasih laki-laki Kaisar berpengaruh secara politik begitu umum. Hingga pada 2 SM, saat usia Dong Xian (董賢) 22 tahun, ialah orang yang dipercaya Kaisar untuk membuat semua keputusan negara, mulai dari mengangkat Perdana Menteri, Panglima Tertinggi Angkatan Darat, hingga mengangkat Kepala Keamanan Ibu Kota, dan Kaisar pun tidak pernah menentangnya. Bahkan Dong Xian (董賢) pernah memenjarakan dan menurunkan seorang pejabat karena memprotes sikapnya. Namun semua kekuasaan Dong Xian (董賢) tamat ketika Kaisar Ai (哀) mangkat, dan ia pun menamatkan hidupnya dengan melakukan bunuh diri.

 

LGBTQ Bukan Merupakan Penyakit Jiwa

Psikolog, psikiater, dan ahli kejiwaan yang lain sepakat bahwa LGBTQ bukan penyakit, kekacauan mental atau masalah emosional. Selama 35 tahun penelitian ilmiah yang dirangcang secara baik dan obyektif telah menunjukkan bahwa LGBTQ itu sendiri tidak ada kaitannya dengan kelainan jiwa, masalah emosional maupun problem sosial. LGBTQ pernah dianggap sebagai penyakit kejiwaan karena ahli-ahli jiwa dan masyarakat mendapatkan informasi yang bias penelitian tentang gay, lesbian, dan biseksual di masa lalu yang hanya melibatkan orang-orang yang mengikuti terapi, dan mengakibatkan kesimpulan yang sangat umum. Ketika para ahli menelusuri data-data mengenai gay, lesbian, dan biseksual yang   tidak diikuti terapi, gagasan bahwa LGBTQ adalah penyakit kejiwaan ternyata salah.

Pada tahun 1973 asosiasi psikiater Amerika Serikat/American Psychiatric Association (APA) menyetujui pentingnya metode penelitan baru yang dirangcang lebih baik dengan menghapuskan LGBTQ dari daftar resmi penyakit jiwa dan emosional. Berselang 2 tahun kemudian asosiasi psikolog Amerika Serikat/American Psychological Association (APA) mengeluarkan resulasi yang mendukung penghapusan tersebut. Selama 25 tahun, kedua asosiasi ini mendesak ahli-ahli jiwa untuk ikut membantu menghilangkan skema penyakit jiwa karena orang-orang masih mengaitkan penyakit kejiwaan dan orientasi homoseksual.

 

Buddhisme ‘Ramah’ LGBTQ

Ajaran Buddha menganjurkan untuk menghindari perilaku tertentu, karena perilaku yang menyimpang akan dikhawatirkan akan membuat seseorang dianggap aneh di dalam etika lingkungan sosial, yang mungkin saja berakibat pada pelanggaran hukum atau norma pada negara tertentu. Menjauhkan diri dari perilaku menyimpang akan membebaskan seseorang dari kecemasan dan rasa malu yang disebabkan oleh ketidaksetujuan sosial atau ketakutan akan sanksi hukum. LGBTQ merupakan salah satu perilaku menyimpang, oleh karena itu, LGBTQ harus menentukan sikap sehingga dapat diterima dalam masyarakat sebagai manusia biasa bukan sebagai manusia yang dianggap aneh. LGBTQ seperti halnya heteroseksual muncul dari ketidaktahuan, semua bentuk seks akan meningkatkan nafsu keinginan dan ketertarikan pada tubuh, untuk melepaskan semua ketertarikan tersebut diperlukan kebijaksanaan.

Orang dengan LGBTQ tampaknya terlihat aneh tetapi orang tersebut tidak mengalami sakit jiwa karena orang yang sakit jiwa menurut pandangan Buddhis adalah orang yang berpikirnya tidak dapat dikendalikan dan diliputi oleh kebodohan. Orang-orang LGBTQ adalah orang-orang yang masih bisa membedakan hal-hal yang baik dan buruk, tidak menutup kemungkinan orang seperti LGBTQ itu bisa lebih bijaksana dari pada orang heteroseksual. Orang yang beranggapan bahwa LGBTQ merupakan salah satu jenis sakit jiwa adalah orang yang hanya memperhatikan dari suatu aspek saja dan tidak   mempertimbangkan aspek yang lain. Pendapat tersebut haruslah diperbaiki agar tidak menimbulkan karma buruk bagi yang beranggapan seperti itu.

Hanya saja dalam teori hukum karma Buddhis, LGBTQ berdasarkan karma-vipaka (akibat perbuatan) bisa jadi merupakan akibat dari perbuatan asusila pada kehidupan sebelumnya. Selain dipengaruhi oleh karma-vipaka juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan, baik keluarga, teman maupun komunitas.

Namun, ajaran Buddha bukanlah ajaran ‘mutlak’, Buddha masih mengizinkan umatnya untuk menelaah dan mempertimbangkan baik dan buruk suatu perilaku. Ini bisa dibuat kesimpulan bahwa Buddha tidak membenarkan namun juga tidak menyalahkan umat yang memutuskan menjalani hidup LGBTQ. Ajaran Buddha menyarankan untuk bisa mengubahnya jika mungkin, bukan karena Beliau menganggap perbuatan ini dosa, melainkan karena Beliau menyadari akan hadirnya tekanan dari masyarakat pada umatNya yang menjalani hidup sebagai LGBTQ.

Lalu bagaimana jika seseorang tetap ingin menjalani hidup sebagai LGBTQ? LGBTQ dalam ajaran Buddha tidak dilarang namun dengan syarat, yakni tidak melanggar Pancasila Buddhis terutama sila ke-3 yakni “kamesu micchacara veramani sikkhapadam samadiyami” yang berarti “aku bertekad menghindari diri dari perbuatan asusila”, yang mana maksud dari Buddha adalah perbuatan asusila di sini bukan perilaku LGBTQ itu sendiri. Asusila di sini adalah jika pelaku LGBTQ tersebut memaksa untuk melakukan hubungan seksual pada pasangan dengan menjebak, menipu orang untuk menjadi pasangan seksual, dan melakukan hubungan seksual tanpa kesepakatan kedua belah pihak.

Pada intinya, Buddha tidak membedakan umatnya baik yang LGBTQ maupun yang heteroseksual. Dalam ajaran Buddha, perbedaan mereka hanyalah pada jenis kelamin pasangan dan aturan karma untuk keduanya baru berlaku ketika melakukan perilaku seksual yang tidak dibenarkan. Singkatnya dalam ajaran Buddha, selama manusia yang memilih jalan LGBTQ adalah manusia yang baik, menjalani hubungan harmonis tanpa memaksa, dan menghindari perbuatan yang merugikan makhluk lain, maka Buddha tidak akan menghakimi LGBTQ sebagai orang bersalah. Sebaliknya jika seseorang hidup heteroseksual sesuai jalan yang seharusnya namun hidup penuh dosa, berbohong, mencuri, ‘nyatut’, berzinah, memperkosa, menipu dengan mengatasnamakan ajaran Buddha melalui yayasan atau organisasi, dan menyalahgunakan uang dana, maka bisa dikatakan orang tersebut terhitung ‘salah’ di mata Buddhisme.

 

Daftar Pustaka

  • Kartono, Kartini. 1989. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: CV Mandar Maju.
  • 2015. The Numerical Discourses of The Buddha – Aṅguttara Nikāya Buku Jilid 2. Jakarta Barat:  Dhamma Citta Press.
  • Qian, Sima. 2011. Records of the Grand Historian. New York. Columbia University Press.
  • Lovas, Karen. 2006. LGBT Studies and Queer Theory. New York. Harrington Park Press.
  • Harold, Richard. 2019. My Buddha Is Pink. Michigan. Semeru Press.
  • Leyland, Winston. 1997. Queer Dharma: Voices of Gay Buddhists Vol. 1. New York. Gay Sunshine Press.
  • Lan Hu, Hsiao. 2017. Buddhism and Sexual Orientation. Oxford. University of Oxford Press.
  • https://www.edutopia.org/article/supporting-lgbtq-students-elementary-school. Diakses April 2022.
Butuh bantuan?