Bulan ‘Hantu’, Bulan Bakti

Home » Artikel » Bulan ‘Hantu’, Bulan Bakti

Dilihat

Dilihat : 134 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256

Oleh: Gifari Andika Ferisqo

Kebudayaan Tionghoa merupakan salah satu dari kebudayaan tertua di dunia. Kebudayaan Tionghoa masih dipertahankan dan dilestarikan sampai saat ini. Salah satu unsur yang memberikan perkembangan terhadap kebudayaan Tionghoa adalah Buddhisme. Buddhisme terlah menjadi salah satu bagian yang sangat penting dari peradaban dan kebudayaan Tionghoa. Salah satu unsur Buddhisme Tionghoa yang tetap bertahan adalah tradisi Festival Hantu Kelaparan (中元节) yang masih dirayakan oleh penganut Taoisme, dan dalam Buddhisme Tionghoa (Mahayana) tradisi ini disebut sebagai Hari Ullambana (उल्लम्बन).

 

Sejarah Ullambana (उल्लम्बन)

Hari Ullambana (उल्लम्बन) dikisahkan dari seorang Bhikkhu yang bernama Maha Moggallana. Beliau merupakan salah satu murid Buddha Gautama, yang terkenal akan kesaktiannya. Suatu hari, Bhikkhu Maha Moggallana menggunakan mata batinnya untuk melihat ibunya yang telah meninggal dunia. Bhikkhu Maha Moggallana merasa terkejut melihat ibunya yang sedang mengalami penderitaan di alam neraka. Di dorong oleh rasa bakti seorang anak dan keinginannya untuk membalas budi, maka dengan kesaktiannya Bhikkhu Maha Moggallana datang ke alam neraka dan berusaha menolong ibunya, tetapi semua usahanya sia-sia. Seluruh makanan yang ia berikan selalu berubah menjadi batu bara api ketika sampai di mulut ibunya. Bhikkhu Maha Moggallana langsung menemui gurunya, Buddha Gautama, lalu berkonsultasi untuk meminta petunjuk dan pertolongan. Dengan penuh welas asih, Buddha Gautama memberi petunjuk kepada Bhikkhu Maha Moggallana pada bulan Karttika (कार्त्तिका) tanggal 15 yang dikonversikan ke dalam kalender Imlek (陰曆) menjadi bulan 7 tanggal 15, untuk memberikan dana kepada para Sangha, lalu memohon kepada para Sangha untuk menyalurkan pahala tersebut untuk menolong ibunya terbebas dari penderitaan alam neraka. Kemudian kisah ini dalam tradisi Mahayana dicatat dalam Ullambana Sutra/Fu Shuo Yu Lan Pen Jing (佛说盂兰盆经) yang diterjemahkan oleh Dharmaraksha (竺法护) pada masa Dinasti Jin (晉).

Bhikkhu Maha Moggallana yang hendak ingin menolong ibunya di alam neraka

Sumber: Inspirasi Dhamma Jayasaccako

 

Di Tiongkok, perayaan Ullambana (उल्लम्बन) atau Yu Lan Pen Hui (盂兰盆), mulai dirayakan sejak Dinasti Liang (南梁) pada pemerintahan Kaisar Liang Wu Di (梁武帝) semasa periode Dinasti Utara-Selatan (南北朝). Untuk mengenang kisah tersebut, maka setiap bulan 7 tanggal 15 penanggalan Imlek (陰曆) diadakan acara Yu Lan Pen Hui (盂兰盆会).

Perayaan Ullambana (उल्लम्बन) diadakan setiap tahunnya di vihara dikarenakan mempunyai makna yang penting dalam kehidupan masyarakat. Perayaan Ullambana (उल्लम्बन) diadakan untuk mengenang dan memperingati para leluhur, dengan adanya upacara Ullambana (उल्लम्बन) diharapkan dapat mengangkat kondisi lingkungan hidup sang mendiang atau leluhur kita dari alam yang rendah ke alam yang lebih tinggi dan lebih baik. Upacara ini diperuntukkan untuk memberikan pertolongan dan bantuan kepada yang terlahir kurang beruntung di alam rendah, serta meringankan karma-karma buruk, penderitaan dan siksaan, agar mereka dapat menuju ke alam kelahiran yang lebih baik. Ritual Ullambana (उल्लम्बन) ini memiliki makna bahwa kita harus selalu ingat dan bersyukur bahwa kita bersumber dari orang tua dan leluhur. Tradisi berbakti kepada orang tua atau leluhur yang telah meninggal dunia ini diharapkan dapat terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berbakti kepada orang tua tidak hanya dilakukan pada semasa hidupnya saja tetapi tetap dilakukan selepas kemangkatan mereka.

 

Mengapa Juga Disebut Sebagai Bulan Hantu?

Hal ini terjadi karena adanya akulturasi atau peleburan antara tradisi Tionghoa dengan ritual sembahyang Ullambana (उल्लम्बन) dari Buddhisme. Di Indonesia akrab dengan istilah Festival Hantu (Gui Jie 鬼節) atau sembahyang rebutan, Cioko (Qiang Gu 搶孤). Cioko sendiri sebenarnya merupakan tradisi masyarakat agraris Tiongkok pada zaman dahulu yang merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur serta para dewa yang dilakukan pada permulaan musim gugur dan semenjak masuknya ajaran Buddhisme di Tiongkok maka dileburkanlah dengan tradisi Ullambana (उल्लम्बन) yang bertujuan untuk menunjukan bakti kepada orang tua dan leluhur yang telah meninggal dunia. Disebut juga dengan sembahyang rebutan karena berdasarkan kepercayaan tradisi Tionghoa bahwa pada saat upacara sembahyang tersebut para hantu yang bebas sementara dari neraka akan saling memperebutkan persembahan yang diberikan oleh para donatur.

Kemudian hal ini lama-kelamaan disebut sebagai Festival Hantu Kelaparan (中元節) pada Bulan 7 hari ke-14 sampai 15 dari kalender Imlek (陰曆). Seluruh bulan ke-7 sering disebut sebagai Bulan Hantu (鬼月). Ini adalah saat ketika banyak orang yang percaya bahwa hantu dari alam rendah bebas untuk berkeliaran di alam manusia.

 

Bulan Hantu di Zaman Modern

Di zaman modern ini, kebanyakan orang berusaha menghindari kemalangan dengan menenangkan hantu dengan berbagai cara. Sebagian besar tidak akan menikah dan menghindari memiliki anak di sekitar waktu yang dianggap tidak menguntungkan tersebut. Orang-orang semi-tradisional cenderung memberikan perhatian khusus pada bulan hantu dan menjalani kehidupan dengan hati-hati selama waktu ini. Demikian, bagi Buddhisme Mahayana, sebenarnya ini adalah bulan yang baik dan menyenangkan, dan yang paling penting adalah waktu untuk memikirkan tentang berbagi, berbakti dan welas asih.

Ada kemungkinan bahwa Ullambana (उल्लम्बन) perlahan-lahan mengalami perubahan dan menjadi disalahpahami dari waktu ke waktu dan perjalanan, dan orang-orang untuk mulai mencoba untuk menenangkan hantu daripada bertindak untuk melakukan kebajikan dan bakti terhadap mendiang orang tua dan leluhur. Ditambah ‘gangguan’ dari gerombolan ‘oknum mata duitan’ yang haus untuk menyedot ‘dana segar’ dari para donatur yang ingin berdana untuk mendiang orang tua dan para leluhurnya bagaikan ‘hantu kelaparan’ yang tampak di alam manusia.

 

Pesan Dharma di Bulan Hantu

Master Cheng Yen (證嚴法師), pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi (佛教慈濟慈善事業基金會) yang berpusat di Taiwan yang berfokus hampir sepenuhnya pada kemanusiaan dan pelayanan masyarakat berbicara sedikit tentang teori Buddhisme mengenai Ullambana (उल्लम्बन) dan mengajak semua orang untuk mengurangi pemborosan pada ‘Festival Hantu’ dan lebih fokus pada welas asih, berbakti, dan berbuat kebajikan selama bulan ini.

Pesan Dharma dari Ullambana (उल्लम्बन) atau bulan hantu ini berdasarkan kisah Bhikkhu Maha Moggallana dengan rasa baktinya yang amat tinggi hendak ingin menyelamatkan mendiang ibunya adalah bahwa seseorang pasti menerima hasil perbuatan buruknya sendiri. Bahkan seseorang dengan kekuatan batin yang luar biasa seperti yang dimiliki Bhikkhu Maha Moggallana tidak dapat menolong dirinya sendiri atau orang lain untuk melarikan diri dari karma buruknya. Seseorang yang telah melakukan perbuatan buruk akan menerima ganjarannya dan harus memperbaikinya sebelum ada harapan baginya untuk membebaskan dirinya sendiri. Seperti dalam kisah mendiang ibunya Bhikkhu Maha Moggallana harus menderita karena perbuatan buruknya, dan saat sisa karma buruknya habis, harapan datang melalui putranya. Maka, saran Master Cheng Yen (證嚴法師) untuk lebih menekankan kepada berbakti dan berbuat kebajikan pada Hari Ullambana (उल्लम्बन) atau bulan hantu adalah masuk akal. Kita harus berbakti kepada orang tua dan leluhur, karena mereka yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Sehingga kita harus mempunyai rasa balas budi kepada mereka. Nilai edukasi yang diajarkan dalam makna Hari Ullambana (उल्लम्बन) atau bulan hantu adalah berbakti kepada orang tua yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dan melakukan kebajikan agar terlahir di alam bahagia.

 

Daftar Pustaka

  • Sudharma, B. Buku Pedoman Umat Buddha (Ed. 7). Jakarta: Forum Komunikasi Umat Buddha. 2007.
  • Ch’en, Kenneth K. S. Buddhism in China: A Historical Survey. Princeton University Press. Princeton, New Jersey. 1964.
  • Ch’en, Kenneth K. S. The Chinese Transformation of Buddhism. Princeton University Press. Princeton, New Jersey. 1973.
  • Kenneth K. S. Buddhism The Light of Asia. New York: Barron‘s Educational Series, Inc. 1968.
  • Lan, Nio Joe. Peradaban Tionghoa Selayang Pandang. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2013.
  • Kamus Umum Buddha-Dharma, Pali-Sanksekerta Indonesia. Jakarta: Trisattva Buddhist Center. 1994.
  • https://www.tionghoa.info/sembahyang-rebutan/. Diakses 5 Agustus 2022.
  • https://mahavira.info/2017/09/25/mari-mengenal-apa-itu-ulambana/. Diakses 5 Agustus 2022.
  • https://www.tzuchi.or.id/ruang-master/master-bercerita/maudgalyayana-menolong-ibunya/12885. Diakses 8 Agustus 2022.
Butuh bantuan?