Cahaya Orde Interbeing dan Engaged Buddhism Thich Nhat Hanh

Home » Artikel » Cahaya Orde Interbeing dan Engaged Buddhism Thich Nhat Hanh

Dilihat

Dilihat : 3 Kali

Pengunjung

  • 0
  • 12
  • 18
  • 4,256
IMG-Thich Nhat Hanh

Oleh: Jo Priastana

 

“Buddhism means to be awake. Mindful of what is happening in one’s body, feelings, mind and the world.  If you are awake you cannot do otherwise than act compassionately to help relieve suffering you see around you.  So Buddhism must be engaged in the world. If is not engaged it is not Buddhism” (Thich Nhat Hanh)

 

Memasuki tahun Baru 2022 menjelang datangnya penanggalan Imlek 2537/2022, di tengah-tengah dunia yang masih sakit, ketidakpastian selesainya pandemi Covid-19, dunia ditinggalkan seorang tokoh spiritualnya. Master Zen Thich Nhat Hanh, tokoh yang dikenal setiap langkah dan gerakannya memberikan dunia kesejukan dan kedamaian. Beliau wafat pada tanggal 22 Januari 2022, pada usia 95 tahun di Wihara Tu Hieu, di Hue, Vietnam.

Thich Nhat Hanh merupakan toloh menyejukkan yang secara cerdas mampu memperlihatkan bahwa spiritualitas itu pantas berdaya bagi kehidupan banyak orang dan kehidupan manusia di dunia. Beliau melakukan keterlibatan secara politis dalam rangka mewujudkan misi kemanusiaan dan perdamaian, persaudaraan dengan cara-cara non-kekerasan disertai dengan kesadaran dan kebijaksanaan

 Dalam kehidupan dan gerakannya sebagai rahib Buddhis, Beliau memperlihatkan bahwa spiritualitas Buddhadharma tidak harus mengelak dari permasalahan dunia yang kerap begitu keras dan panas. Kehadiran dan gerakannya di dunia saat ini, membuka mata bagi komunitas dan lingkungan Buddhis serta masyarakat dunia bahwa cinta kasih, welas asih itu dan sikap tanpa kekerasan memang pantas dinyatakan dalam dunia kehidupan.

 

Engaged Buddhism

Beliau adalah seorang tokoh Buddhis besar hadir di dunia yang mampu memadukan Buddhadharma untuk kebahagaiaan manusia dan perdamaian dunia. Baginya spiritualitas dan aktivis dalam lapangan sosial-politis bukanlah sesuatu terpisahkan, sesuatu tindakan luhur dan cerdas sebagaimana yang juga dilakoni Sang Buddha semasa hidupnya.

Keterlibatannya yang mendatangkan kekaguman bagi masyarakat dunia ini menghasilkan gerakan yang bernama “Engaged Buddhism”. Gerakan “Engaged Buddhism” yang juga diprakarsai bersama Sulak Sivaraksa ini memberikan kejutan dan pesona terhadap spiritualitas Buddhadharma, dan dapat dipandang sebagai paradigma shift bagi banyak orang di dalam melihat dam mewujudkan esensi Buddhadharma.

Cara hidup yang berdasarkan Buddhadharma adalah hadir untuk keterlibatan (engaged) dengan penuh kesadaran pada masalah-masalah di dunia untuk perdamaian, kemanusiaan, persaudaraan dan bukan untuk melarikan diri (escapisme) dari dunia. “Meditation is not an escape. It is the courage to look at reality with Mindfulness.

Thich Nhat Hanh pejuang perdamaian dalam perang Vietnam dan Sulak Sivaraksa yang sempat bersama-sama studi dan satu kost di negara Pransis. Keduanya adalah tokoh besar Buddhis, tokoh kemanusiaan dan perdamaian yang menyandang nominasi Noble Prize. Beliau merupakan tokoh utama “Engaged Buddhism,” dan bisa dipandang sebagai Bodhisattva untuk dunia masa kini.

 Baik Thich Nhat Hanh yang kerap menetap di Plum Village, Perancis dan Sulak Sivaraksa yang kadang terusir dari negerinya, Thailand memperlihatkan spiritualitas Buddhis untuk kehidupan dan masalah dunia saat ini. Dalam perjuangannya itu, mereka menekankan aktivitas dalam kehidupan masyarakat, menghadapi persoalan aktual dengan berdasarkan spiritualitas Buddha yakni hidup berkesadaran dalam perhatian murni serta cinta kasih dalam aksi, love in action.

 

Interbeing

Thich Nhat Hanh juga dikenal sebagai penulis produktif yang memperlihatkan bagaimana cara hidup Zen-nya maupun penulisan dalam buku-bukunya sangat dekat kepada fundamental Buddhism. Ia juga mampu menginterpretasi dan mempresentasikan substansi Prajnaparamita untuk melihat persoalan aktual masa kini. Selain itu ia juga menumbuhkannya dalam organisasi yang dibentuknya: “Orde Interbeing”. 

Istilah orde interbeing yang mencerminkan kesunyataan Buddha bahwa realitas hakiki dari kehidupan dan dunia sebagai saling ketergantungan satu sama lain, tiada entitas yang terpisah. Hidup saling tergantung dan membutuhkan satu sama lain, bahwa penderitaan yang ada di dunia ini adalah penderitaan kita juga.

Kebijaksanaan Prajna yang tumbuh dari hasil meditasi berkesadaran tercermin dalam aktualisasi dari karuna, welas, compassion, love in action dalam perjuangan kemanusiaan, perdamaian dan persaudaraan, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi banyak orang di dunia. Melalui Orde interbeing, sikap hidup dan gerakan Thich Nhat Hanh menjadi terhubung dengan semesta dan terlihat dalam persoalan kemanusiaan, perdamaian dunia dan kesejahteraan, persaudaraan umat manusia.

Thay, sebutan akrabnya mengingatkan kita semua akan esensi ajaran Buddha dan siapa Buddhist itu sesungguhnya, apa yang sepantasnya dilakukan seorang Buddhis sejati dalam kehidupan dan kelahirannya di dunia ini. Baginya menjadi Buddhis itu adalah kesadaran penuh mewujudkan engaged Buddhism karena kita semua terhubung satu sama lain yang sepantasnya mewujudkan welas asih.

“Buddhism means to be awake. Mindful of what is happening in one’s body, feelings, mind and the world.  If you are awake you cannot do otherwise than act compassionately to help relieve suffering you see around you.  So Buddhism must be engaged in the world. If is not engaged it is not Buddhism” (Thich Nhat Hanh)

 

Tiada datang, Tiada Pergi

Tubuh fisik Thay telah tiada lagi pada tanggal 22 Januari 2022 pada usianya 95 tahun. Beliau berbaring dalam damai, dalam senyum, dalam bahagia. Secara umum dan etiket pergaulan sosial, beliau dikatakan telah wafat, meninggal dunia, meninggalkan kita yang masih ada di dunia. Tetapi, di dalam kesunyataan mutlak yang telah diselami dan direalisasikannya, sesungguhnya Beliau tiada pergi meninggalkan kita, beliau senantiasa hadir menemani kita.

No coming, no going, no after, no before. I hold you close, I release you to be free. I am in you And You are in me.” Inilah ungkapan terkenal Beliau yang selalu memberikan kehangatan dan kekuatan bagi kita yang kerap tertinggal di dunia dari mereka yang telah pergi terlebih dahulu. Mereka yang mendahului kita dengan inspirasi dan teladannya.

Tiada perpisahan karena hidup adalah saat ini. “Only the present moment contains life,” katanya. Masa lalu dan masa datang adalah hari ini. Kita bertemu hari ini dan kita pun akan selalu bertemu. Setiap saat kita bertemu, bertemu dalam penuh kesadaran karena kita tahu bahwa kita selalu ada dalam bentuk dan wujud yang lain.

Kita berada dalam keabadian dan tiada pernah terpisah, kita akan bertemu terus meski dalam wujud yang lain. Kata Beliau: “We meet today. We will meet again tomorrow. We will meet – at the source of every moment. We meet each other in all forms of life.”

Dalam perubahan bentuk dan wujud di dalam kekosongannya, menunjukkan segalanya  terhubung satu sama lain sebagai suatu kelanjutan terus menerus. Beliau adalah awan yang mengucurkan airnya terus menerus, dan karenanya kita adalah kelanjutan terus menerus. “When a cloud is transformed into rain, it is not dying. A cloud can become rain or snow or ice. A cloud cannot become nothing. It is impossible for a cloud to die. It is a continuation. In the same way. It is impossible for you, as human being to die. You also continuation.”  (Thich Nhat Hanh).

Mari, kita lanjutkan senyum damai dan kebahagiaan Master Thich Nhat Hanh dengan mewujudkan kehidupan saat ini dengan penuh kesadaran. Saat ini, selagi kita tahu kita hidup, selagi tahu kita sadar bahwa dunia sungguh memberikan kehidupan. Kita sebarkan kasih sayang, welas asih untuk kemanusiaan, perdamaian dunia, persaudaraan dan kebahagiaan semua makhluk.  Karena kita terhubung satu salama, untuk itulah kita terlibat dalam kasih sayang! (JP)

***

Butuh bantuan?