Oleh: Jo Priastana
“Borobudur sebagai “monumen agung” yang
menunjukkan tingkat peradaban tinggi leluhur Nusantara”
(Sir Thomas Stamford Raffles, 1781-1826)
Sir Thomas Stamford Raffles adalah Tokoh Penemu Kembali Borobudur pada 1814, Gubernur Hindia Belanda (1811-1816) dan penulis buku “The History of Java.” Namanya teringat kembali manakala penemuannya itu kini sedang berada dalam polemik. Di puncak Stupa itu, apakah ia kosong atau pernah berpayung (chattra)? Dan mungkin di situlah juga letak ajaran terdalamnya. Kadang yang hilang itu bukan untuk dikembalikan, melainkan untuk mengingatkan bahwa sejarah juga punya keheningan yang harus dihormati.
Borobudur berdiri bukan hanya dari batu, tetapi dari ketiadaan Chattra yang dijaga dengan hati-hati oleh kejujuran. Bahwa tidak semua yang ingin kita lengkapi, perlu kita isi. Dalam kehadirannya kembali, puncak stupa itu kosong dari materi yang berpayung, dan biarkan cakrawala yang terbentang luas tanpa batas mengisi dengan spiritualitasnya, ketidakterbatasan sunyata agar setiap hati ini jadi penuh karena lapang menerima apa adanya membiarkan hukum kesunyataan bekerja dengan sendirinya.
Polemik chattra (payung stupa) di Candi Borobudur sampai sejauh ini (26/4/26) belum benar-benar “selesai.” Ia masih berada dalam wilayah debat ilmiah, etika konservasi, dan makna religius. Yang menarik, perdebatan ini bukan sekadar soal bentuk arsitektur dan klaim religius, tetapi menyentuh pertanyaan mendasar: apakah kita sedang memulihkan masa lalu, atau justru menciptakan versi baru dari masa lalu?
Wacana Polemik Chattra
Sejauh mana polemik pro-kontranya sampai kini? Wacana pemasangan kembali chattra memang bukan hanya muncul saat ini, bahkan bisa dikatakan sudah ada sejak lama. Tahun 1931, Van Erp sudah melakukannya namun menganulir kembali karena meragukan. Beberapa ahli arkeologi juga meragukan karena tidak ada bukti yang cukup tentang keberadaan Chattra di puncak stupa induk Borobudur.
Sekitar awal tahun 2020 dan sampai kini wacana pemasangan chattra itu muncul kembali dan terkesan urgent, agak terpaksakan atau dipaksakan untuk dieksekusi sehingga memicu benturan keras. Kalangan pemerintah seperti Dirjen Bimas Buddha Kemenag, menilai chattra dapat melengkapi konsep candi sebagai cagar budaya, destinasi wisata, dan bangunan suci keagamaan, serta menambah nilai spiritual dan filosofi candi.
Baru-baru ini (akhir April 2026) Dirjen Bimas Buddha mengeluarkan isian survey mengakumulasi opini umat Buddha dan kalangan lainnya untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil tentang pemasangan chattra itu dipastikan sejalan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang terkait dengan Borobudur. Survey sebagai bagian dari uji publik ini bertujuan mengumpulkan masukan, memastikan keautentikan sesuai kaidah yang ditetapkan UNESCO, menghormati warisan budaya dan mendukung pengembangan potensi pariwisata keagamaan di sekitar candi.
Survey itu yang pastinya akan menghasilkan kutub-kutub perbedaan, dualisme pro-kontra dilakukan di tengah-tengah kajian yang menyerukan kehati-hatian. Benturan pro-kontra memang tidak mengherankan karena setiap pemaksaan yang beraroma ekstrim pastinya akan mendatangkan ekstrim kutub lainnya, ada pro dan ada kontranya, seperti bambu yang terpilah dua.
Lalu, dari sumber apakah wujud ketergesaan, pemaksaaan itu? Dari hati yang sungguh religius, kesadaran historis yang dalam atau pesona optimisme pusat wisata religius dalam kalkulasi potensi wisata, pusat ziarah umat Buddha dunia, namun tetap menyimpan spekulasi. Apakah survey pantas dan tepat untuk kebenaran keberadaan Chattra?
Survey mengakumulasi pendapat umum yang mau berkesan ilmiah justru terasakan sebagai cermin dari ketidakpercayaan diri atas yang berkembang saat ini dan perpanjangan dari keputusan yang bersifat politis, hegemoni tentang kejayaan budaya masa lalu untuk legitimasi kekuasaan masa kini, yang bisa membelah komunitas minoritas.
Apakah chattra buatan masa kini itu harus dipasang? Akademisi dan Arkeolog Mundardjito (1936-2021) menilai pemasangan chattra berpotensi melanggar etika pemugaran candi karena tidak ada bukti yang cukup tentang keberadaan chattra asli. Beberapa ahli lainnya juga menilai bahwa chattra tidak perlu dipasang karena Borobudur sudah terkenal di seluruh dunia tanpa chattra.
Penolakan yang datang itu bukan semata karena penolakan yang hanya bersandar pada dua kutub ekstrim dualitas, iya dan tidak. Ia muncul bahkan dari mereka yang berpengetahuan, ilmuwan dengan disiplin arkeologi maupun dari para pecinta dan pemerhati yang mungkin juga berdasar atas pengalaman spiritual berada di puncak stupa, seperti: para konservasionis, komunitas cagar budaya, peziarah spiritual yang semuanya memiliki kandungan argumen dan alasan baik ilmiah, etik ilmiah, etis maupun spiritualitas.
Karenanya perlu diperhatikan, bahwa sampai kini, polemik chattra itu belum ada konsensus final, dan lebih banyak mengarah pada kehati-hatian di tengah narasi percepatan kepastian eksekusi yang seakan memaksakan. Ada apa dengan arogansi klaim religius? Kesimpulan pastinya yang pantas dipegang adalah, bahwa statusnya masih diperdebatkan, chattra masih dalam polemik. Mungkin Sir Thomas Stanford Raffles, penemu kembali Borobudur di tahun 1814 akan kembali bangkit dari tidur panjangnya.
Prinsip Kehati-hatian
Sikap kalangan arkeologi sebagaimana komunitas religius dan lainnya memang tidak semuanya pro atau kontra namun cenderung terbelah, tetapi yang dominan adalah yang menolak, hati-hati dibanding menerima. Kiranya ada tiga kelompok pendapat, apakah chattra pantas dipasang atau tidak.
Pertama, kelompok yang menolak dan skeptis juga cukup dominan. Argumen utamanya, tidak ada bukti kuat bahwa stupa induk Borobudur memang memiliki chattra. Relief Borobudur sendiri lebih banyak menunjukkan stupa tanpa chattra, ini bukan layaknya sensus tapi keberadaan ilmiah-empiris. Prinsip konservasi menyatakan harus menjaga keaslian (authenticity), bukan rekonstruksi atau adaptasi spekulatif.
Bukankah sejak awal abad ke-20, Theodor van Erp yang memimpin pemugaran pertama Candi Borobudur pada 1907-1911 pernah sempat berupaya memasangnya, namun membongkar kembali sesaat setelah dipasang karena meragukan keaslian struktur chattra dan menyadari kurang bukti material yang asli. Ini menjadi preseden penting bahwa lebih baik tidak lengkap tapi autentik, daripada lengkap tapi spekulatif dan tidak asli.
Lalu, bagaimana kalau diadaptasi dengan material lainnya, elemen bukan batu dan reversibel? Akankah menunjukkan kepalsuan, dan apakah kelak keyakinan terhadap Triratna yang terkandung dalam makna chattra itu juga akan reversibel? Kabarnya, chattra yang akan dipasang bukan terbuat dari batu untuk tidak permanen sehingga memenuhi prinsip reversibel itas UNESCO.
Artinya ini mungkin mengkompensasi tiadanya batu asli, mengantisipasi berat dan bisa dibongkar pasang dinaikkan dan diturunkan. Lalu, upaya yang terkesan mengharuskan ini, akankah juga mencerminkan dan menjadi simbol turun naiknya keyakinan umat? Sedih sekali kalau keyakinan jadi permainan layaknya kurang bermain yoyo semasa kanak-kanak, yang mungkin terjadi dan dilakukan oleh kelompok kedua ini.
Kedua, kelompok yang mendukung, lebih sedikit. Argumen mereka, ada kemungkinan chattra pernah ada, berdasarkan fragmen batu yang ditemukan, interpretasi relief, dan simbolisme Buddhis atau dengan stupa di lain negara. Chattra dianggap penting sebagai simbol spiritual (payung kosmis) yang memperkuat makna religius Borobudur. Perspektif ini juga ada datang dari arkeolog, namun lebih banyak kalangan Buddhis, minoritas dukungan kekuasaan yang terpaku pada fungsi sakral atau ambisi potensi wisata ziarah dunia.
Ketiga, posisi moderat yang sering muncul. Banyak arkeolog tidak langsung menolak, tapi mengatakan: “perlu kajian sangat mendalam sebelum keputusan.” Ini sebenarnya posisi yang paling umum: bukan “ya” atau “tidak”, tapi “jangan tergesa-gesa.”
Bagaimana dengan UNESCO? UNESCO tidak secara terbuka memutuskan “boleh/tidak” secara hitam-putih, tetapi prinsipnya jelas: Borobudur adalah Warisan Dunia (World Heritage) sejak 1991. Setiap perubahan harus mengikuti prinsip: authencity (keaslian) dan integrity (keutuhan). Restorasi besar sebelumnya (1970-an-1980-an) dilakukan dengan metode: anastylosis yaitu memakai batu asli sebanyak mungkin.
Dalam konteks chattra, dinyatakan, jika rekonstruksi dianggap tidak berbasis data kuat, itu berpotensi melanggar prinsip konservasi, dan bahkan mengancam status warisan dunia (ini yang sering dikhawatirkan kritikus). Posisi UNESCO secara eksplisit sangat konservatif dan lebih condong menjaga apa yang ada daripada menambah yang belum pasti.
Mungkin chattra yang tidak ada itu memang dulunya ada, masih hipotesis, tapi bukankah itu berarti bisa tidak ada atau belum terbuktikan secara aposteriori sebagaimana yang menjadi pegangan etis ilmiah dalam kajian arkelogi, dan karenanya kalangan arkeologi bersikap hati-hati.
Sementara, mereka yang pro pemasangan chattra sesungguhnya bisa dipertanyakan, karena bersifat apriori. Apakah bahwa yang tidak ada itu harus dipastikan ada? Pendapat yang memastikan “yang tidak ada itu pasti ada” adalah suatu sikap apriori, deduksi atas dasar prasangka, atau sebuah lompatan logika, sebagaimana regresi logika tentang sesuatu ada sebabnya dan seterusnya hingga melompat kepada causa prima, sebab pertama, semata klaim keyakinan adanya yang tidak ada, argumen apriori-ontologis atau sebatas cocoklogi-pseudosains, membandingkannya dengan yang ada di negara lain, suatu induktif semu atau juga tafsir atas teks kitab suci.
Manifestasi budaya cenderung bersifat partikular meski mungkin nilai-nilai yang terkandungnya universal, dan Borobudur sebagai bangunan arsitektural adalah juga penanda spiritualitas yang bersentuhan dengan kearifan lokal, yang mengandung spiritualitas leluhur. Maha karya leluhur yang mengundang datang para pejalan spiritual dari berbagai belahan dunia.
Lalu apa sebenarnya yang menjadi inti konflik? Kalau diringkas, polemik chattra bukan sekadar benda di puncak stupa, tapi benturan tiga cara pandang, yaitu: Arkeologi Ilmiah yang “harus berbasis bukti, aposteriori, bukan dugaan spekulatif-apriori.” Konservasi warisan dunia, “jangan merusak keaslian demi rekonstruksi atau adaptasi spekulatif,” dan anggapan religius Buddhis, “kesempurnaan simbol atas tafsir teks kitab suci juga penting dan dipandang harus dilengkapi.”
Pernyataan yang menyentuh inti konflik yang sebenarnya masih bisa diajukan, yaitu di mana batas antara menjaga warisan bangunan spiritual dan memenuhi anggapan hidup suatu tradisi religius? Sebagai bangunan purbakala, penjelasan ini mencakup wilayah etika konservasi. Apa itu wilayah etika konservasi? Soal etika, tentunya kelompok religius pastinya tahu dan akrab, pantas mematuhinya.
Menghormati Wilayah Etika Konservasi
Dalam konteks cagar budaya seperti Candi Borobudur, etika konservasi mendasari seperangkat prinsip moral dan sikap ilmiah yang mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap pengalaman masa lalu, bukan sekedar teknis memperbaiki batu, tapi menyangkut tanggung-jawab lintas generasi.
Beberapa prinsip utamanya adalah: Keaslian, Keutuhan, Riversibilitas, dan Minimum Intervention. Keaslian (authenticity) memperlihatkan jangan menambahkan sesuatu yang tidak terbukti pernah ada. Warisan harus mencerminkan kondisi historisnya, bukan imajinasi, apriori masa kini. Keutuhan (integrity) mencerminkan, jangan mengubah bentuk atau makna keseluruhan situs. Reversibilitas, menunjukkan, jika dilakukan intervensi, harus bisa dibatalkan tanpa merusak. Minimum intervention, mengisyaratkan, semakin sedikit diubah, semakin baik.
Prinsip-prinsip ini banyak dirumuskan dalam dokumen internasional seperti UNESCO dan Piagam Venesia (1964) mengenai dokumen internasional yang menetapkan pedoman standar untuk konservasi dan restorasi monumen dan situs sejarah. Jadi “wilayah etika konservasi” adalah ruang batas moral: sejauh mana kita boleh “menyentuh” masa lalu tanpa mengkhianatinya.
Lalu bagaimana dengan klaim interpretasi dan makna religius? Ini bagian yang sensitif. Jawaban jujurnya: tidak bisa langsung diabaikan, tetapi juga tidak bisa otomatis diikuti. Kenapa?
Pertama, warisan itu milik bersama, bukan hanya satu kelompok. Borobudur adalah situs Buddhis, tapi juga warisan Nasional Indonesia, dan bahkan warisan dunia. Artinya: apakah maknanya harus dimonopoli satu komunitas, termasuk komunitas religius? Bukankah Borobudur yang memiliki simbolisme, penanda spiritual adalah juga bangunan monumental secara arsitektural masa lalu, dimana arkeologi berperan besar dan nilai-nilai kearifan lokal yang juga mendasarinya.
Kedua, makna religius bisa berkembang, tapi benda sejarah tidak. Kelompok Buddha hari ini mungkin memaknai chattra sebagai simbol penting. Namun pertanyaan bagi arkeologi: “Apakah Borobudur secara historis benar-benar memiliki itu?” Kalau jawabannya belum pasti, maka memasang chattra berarti: bukan memulihkan masa lalu, tapi menambahkan tafsir masa kini ke masa lampau. Arkeologi pastinya juga paham, tafsir religius adalah wilayah kelompok agama yang harus dihormati. Namun, pemaksaaan tafsir dan ketergesaan biasanya akan menimbulkan kecurigaan, ada apa dan kenapa?
Etika konservasi justru melindungi kesucian juga. Sekilas memang tampak konservasi “menghambat” religiusitas. Padahal bisa dibalik: jika kita menambah tanpa dasar kuat, kita berisiko menciptakan “kesucian buatan.” Itu bisa mengaburkan nilai asli yang justru ingin dihormati.
Mungkin posisi yang lebih seimbang sekaligus pendekatan yang baik adalah bahwa makna religius dihormati, tapi diwujudkan lewat ritual, pemaknaan, dan praktik spiritual. Bukan perubahan fisik spekulatif. Dengan kata lain, yang hidup berkembang di batin dan praktik, yang tua, warisan dijaga dalam kejujurannya.
Analogi sederhana, bayangkan sebuah naskah kuno yang sebagian halamannya hilang. Kaum religius ingin “melengkapi” agar ajarannya utuh. Arkeolog berkata: jangan ditambah kalau tidak yakin. Solusi etisnya: kita tidak ingin menulis halaman yang hilang, tapi kita bisa menafsirkan dan menghidupkan maknanya di masa kini.
Dalam konteks untuk chattra benda fisik yang mengandung juga keyakinan terhadap Triratna, maka bagaimana keyakinan yang berada dalam hati yang terdalam itu mewujud dalam hidup sehari-hari dan mengatasi fenomena penderitaan masa kini? Untuk itu, sudah ada kisah-kisah Jataka yang tergambar dalam relief Borobudur yang memberikan pelajaran tentang moralitas dan etika pengorbanan yang pantasnya bisa menginspirasikan bagi tumbuhnya keyakinan yang hidup di masa kini dimana komunitas justru menjadikan Borobudur sebagai living spirituality.
Atau baiknya kita tanyakan saja pada Borobudur, yang menunjukkan peradaban tinggi leluhur bangsa itu, apakah dia membutuhkan chattra, pelindung? Sudah ratusan tahun arkeolog menjaga dan merawatnya. Sudah ratusan tahun arkeolog mengembangkan ilmu pengetahuannya dalam disiplin ilmiah dan kode etik. Ada metode ilmiah dan etika sains disana. Itulah sebabnya, berkat para arkeolog, selama ini semua orang dari masa dan dari mana saja bisa datang melihat Borobudur dan menemukan kesegaran makna hidup dari kehausan spiritual masa kini.
Perhatikan pula fakta historis-sosiologis, umat Buddha, yang katanya baru muncul kembali setelah keprabuan Majapahit di tahun 1956, jauh setelah Borobudur di pugar oleh para arkeologi, bisa melakukan puja dan ritual Waisak. Borobudur hadir kembali berkat para arkeolog yang membangunkan raksasa spiritual itu menjadi pusat perhatian dunia. Pertanyaannya, sejauh mana umat Buddha yang bersikeras memaksakan pemasangan chattra itu menghormati dedikasi para arkeolog yang bekerja membangunkan raksasa spiritual Borobudur dan memungkinkan melakukan perayaan Waisak sepanjang tahun-tahunnya?
Borobudur yang mengundang datang banyak orang sedunia dan bahkan makhluk-makhluk yang terlihat maupun tak terlihat. Mereka datang jauh dari arogansi religius namun dengan kerendahan hati mendaki puncak stupa, keyakinan hati yang devosi untuk melihat, menjajaki dan mengalami pengalaman spiritual. Dari mana pun mereka datang dengan cara apa pun mereka tiba di sana, hanya untuk bersimpuh dan meneguk kekosongan dalam bentangan cakrawala, akasa di puncak stupa itu dan dalam kesadaran ekstase spiritualitas yang mengisinya. (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: Gemini AI