Chattra dan Biarkan Kekosongan Cakrawala Yang Mengisinya (2)

Home » Artikel » Chattra dan Biarkan Kekosongan Cakrawala Yang Mengisinya (2)

Dilihat

Dilihat : 61 Kali

Pengunjung

  • 2
  • 105
  • 571
  • 278,632
Pic 2653

Oleh: Jo Priastana

 

“Dari Borobudur kita Belajar bahwa Puncak dari semua Kemegahan

Adalah Kesunyian dan Kekosongan” (Anonimus)

 

Borobudur dan keberadaan candi maupun budaya Buddhis lainnya tampaknya membutuhkan peran besar dari dunia pendidikan tinggi Buddhis, kaum terdidik dan terpelajar, para budayawan, cendekiawan Buddhis dan arkeologi berlatar Buddhis, disamping para teolog Buddhis yang bersandar pada teks suci. Termasuk juga dalam mencermati polemik tentang chattra puncak stupa Borobudur.  Agama Buddha di Nusantara mengandung banyak peninggalan budaya, termasuk budaya candi, dan kaya dengan simbolisme dan penanda spiritual. Segenap peninggalan budaya Buddhis itu merupakan harta karun leluhur, potensi wisata dan ziarah spiritual Buddha di Nusantara yang pantas dijaga dan dikembangkan.

Sangat penting dunia pendidikan tinggi Buddhis menyimaki masalah dan keberadaan budaya Buddhis. Bukankah di Nusantara juga pernah ada pula rujukannya dengan kejayaan perguruan tinggi agama Buddha masa lalu, di Sriwijaya Muara Jambi, Muara Takus, maupun Padang Lawas Sumatera. Dan sejarah memperlihatkan bahwa peninggalan budaya Buddhis di Nusantara juga berhubungan dengan masa keemasan pendidikan Buddhis di India, perguruan tinggi agama agama Buddha terkenal seperti Nalanda. Sementara dan sejauh ini, kajian Borobudur sebagai bangunan monumental arsitektural yang juga penanda simbolisme spiritual agama Buddha dilakukan oleh para ilmuwan disiplin ilmu Arkeologi yang memiliki bangunan epistemologis, metodologis serta etika ilmiahnya.

Masih sedikit kalangan Buddhis yang melakukan kajian Borobudur dan itu pun terlebih menyandarkannya pada teks suci, ketimbang secara ilmu arkeologi yang memang memiliki obyek material kajiannya meneliti peninggalan budaya masa lalu. Para arkeolog juga yang menjaga, merawat peninggalan budaya termasuk Borobudur. Untuk itu, apakah tidak sepantasnya semua yang kini menikmati keberadaan candi Borobudur dan candi-candi lainnya, terutama komunitas religius Buddhis berterima kasih kepada para arkeolog dan membalas kebaikannya dengan mengindahkan penemuan dan hasil kajiannya sejauh ini.

 

Mengundang Datang Pejalan Spiritual

Ada istilah “kataññu-katavedi,” tahu berterima kasih (bersyukur) dan membalas kebaikannya. Dalam hal ini, kepada para pendahulu dan arkeolog yang telah membangunkan, menjaga dan merawat Borobudur berdasarkan disiplin keilmuannya dan membalasnya melanjuti kebaikan tersebut dengan mengindahkan penemuan dan pendapatnya sehubungan polemik chattra. Para arkeolog yang memberikan kebanggaan kepada komunitas Buddhis untuk membangkitkan kembali kejayaan Buddhadharma Nusantara.

Borobudur telah menghadirkan putra-putra bangsa para arkeolog Indonesia terbaik yang disegani di dalam ranah disiplin keilmuan arkeologi. Seakan mereka adalah mata, tangan, hati, jiwa para leluhur yang dahulu mendirikannya, sehingga melahirkan kembali aura spiritualitas Buddhadharma Nusantara yang mengundang banyak orang dunia datang dan bangkitnya komunitas Buddhis. Mereka datang meneliti, dan juga untuk bersimpuh merasakan getararan atmosfir, aura magis dan spiritual Borobudur yang dibangun ribuan tahun lalu. Begitu pula dengan makhluk lainnya yang terlihat maupun yang tak terlihat.

Apakah Borobudur membutuhkan payung baru untuk menjadi sakral? Bukankah selama ini borobudur telah tumbuh dengan anggun melewati sejarah dan segala cuaca serta rasa damai mereka yang mengunjunginya? Bukankah yang menjadikannya suci dan penuh keyakinan bukan yang kasat mata seperti apa yang mungkin pernah ada seperti material permata di puncaknya.

Tidakkah justru kesadaran yang tumbuh di hati manusia yang memandangnya, yang menghayatinya seraya mendakinya perlahan dalam doa suci dan pengalaman spiritual, mereka yang dengan hati memiliki keyakinan dan telah bertekad untuk datang dengan permata hati dalam makna ziarah dan devosi  entah dari mana saja, seraya mungkin berdoa, semoga ini kelahiranku yang terakhir.

Mereka datang untuk merasakan pengalaman kekosongan cakrawala puncak stupa Borobudur yang selama kehadiran kembalinya tanpa chattra. Mereka datang dari delapan penjuru dunia untuk menapaki dan mendapati pengalaman spiritual Borobudur.

Entah diawali upaya membersihkan batin terlebih dahulu dengan berjalan kaki dari Jakarta ke Borobudur seperti yang pernah dilakukan lima orang mahasiswa STAB Nalanda di tahun 2010: Darsono, Noviyanto, Karyono, Susanto, Utomo, dikoordinir serta dimonitor oleh Suhardi. Jejak kaki Mahasiswa Jakarta-Borobudur sejauh 600 km selama 18 hari yang dilakukan jauh sebelum bhikkhu-bhikkhu Tudong import datang menapaki jejak kakinya juga untuk merasakan atmosfir spiritual Bodorobur di tahun 2023, serta para epigon berikutnya, selanjutnya.

Ada juga yang naik truk antar provinsi seperti yang dilakukan para anak-anak muda backpacker, naik bus ekonomi dari Terminal Pulo Gadung Jakarta di sore hari untuk dapat bersimpuh di pelataran Borobudur pagi hari dalam duduk hening meditasi. Ada pula yang mengejar pesawat di sore hari di Bandara Soekarno Hatta untuk dapat tiba merasakan meditasi detik-detik Waisak di malam hari. Banyak pula yang berjalan kaki atau naik andong dari pertigaan di jalan raya Magelang Palbapang sambil bercengkrama dengan sais tentang lima gunung menyambut malam bulan purnama hingga menghantarnya sampai ke tepian halaman Borobudur.

 

Terima Kasih Penjaga Ketiadaan

Halaman dan puncak Borobudur yang menyambut dan seakan berbicara, inilah daku apa adanya sejak penemuannya kembali. Maka dalam masalah polemik chattra itu, pertanyaannya bisa digeser. Bukan “haruskah chattra dipasang?” melainkan: Apakah kita cukup jujur untuk membiarkan masa lalu tetap berkata apa adanya (yathambhutam), dan cukup bijak (wisdom, pañña) untuk menghidupkan maknanya tanpa harus mengubahnya? Seperti dalam mendaki Borobudur dalam pengalaman kesadaran dan mendekati Borobudur secara fenomenologis eksistensialis-rigorous filosofis, lepas dari jebakan kuasa ideologis atau paksaan payung religiusitas.

Biarkan masa lalu bekerja, kekosongan cakrawala puncak stupa Borobudur yang mengundang banyak orang di dunia datang, serta rasa terima kasih kepada para pekerja arkeologi yang berintegritas dengan menerapkan metodologi dan etika keilmuannya, serta dedikasi para arkeolog terhadap Borobudur, bangunan raksasa berbatu mahakarya leluhur anak  bangsa ribuan tahun lalu.

Di antara batu-batu yang diam dan waktu yang panjang tak bersuara sejak dahulu kala, mereka para arkeolog adalah tangan-tangan yang tak mencari pujian, namun setia merawat ingatan dunia, bekerja menjaga warisan ribuan tahun silam dengan diam-diam tanpa berisik. Wahai para penjaga sunyi, yang membaca retak sebagai bahasa, yang menafsir lumut sebagai usia, dan menyusun kembali doa dari serpihan sejarah, terima kasih.

Di Candi Borobudur, para arkeolog bukan sekadar memugar batu, mereka membangunkan napas. Dari kaki hingga puncak stupa, setiap relief kembali berbisik, setiap lorong kembali mengajarkan jalan pulang. Mereka mengangkat yang runtuh, tanpa mengusik kesunyian yang menjadi jantungnya. Mereka menjaga agar kekosongan tetap utuh, agar siapa pun yang datang, dari timur, barat, utara, selatan, dapat meneguk langit tanpa batas di cakrawala puncak stupa itu.

Di sana, di antara angin yang lembut dan cahaya yang jatuh tanpa suara – tanpa merusak atap rumah atau pohon kelapa seperti yang ketiban lampion waisak, – manusia berhenti sejenak menjadi dirinya, lalu larut dalam yang tak bernama. Dan itu mungkin karena adanya mereka yang bekerja di balik sunyi, yang menolak menjadi pusat, demi menjaga pusat yang sejati: hening.

Terima kasih, karena melalui tangan arkeolog, penjaga ketiadaan, batu menjadi jalan, sejarah menjadi kesadaran, dan dunia kembali diingatkan tentang damai yang tak pernah benar-benar hilang. Dan tempat dimana orang kini berdatangan sungguh merasakannnya, dimana? Di titik hening puncak stupa Borobudur yang tanpa batas, cakrawala kekosongan yang bebas dari riuh debat dan pesona duniawi.

 

Pelajaran Puncak Stupa

Pemasangan chattra masih dalam perdebatan, dan Borobudur sendiri diam tidak berbicara atau mungkin batu-batu sunyi itu tersenyum kepada mereka yang sedang membicarakannya dan mengunjunginya seperti sejarah memunculkannya, seorang anak muda diantara jutaan anak muda lainnya. Anak muda itu, sejak sekolah menengah pertama selalu datang, tahun demi tahun, menapaki batu-batu sunyi Candi Borobudur yang menyimpan napas waktu lebih panjang dari usianya.

Dalam kesempatan kedatangnya yang sudah tak terhitung, ia datang  bukan sebagai wisatawan atau wartawan atau ilmuwan, melainkan sebagai anak yang pulang ke sesuatu yang tak benar-benar ia miliki dan juga tak harus memiliki.

Ia adalah salah satu dari jutaan peziarah borobudur. Mereka semua yang bersemangat datang memetik pengalaman spiritual dari mandala agung Borobudur, menyibak kosmografis esoterik Buddha yang ada tanpa stupa induk berchattra. Mereka menikmati pendakian dari dasar dengan gambaran semesta alam dan kehidupan keseharian masyarakat lokal pada masanya di abad 8-9 dalam perilaku sosial, agrikultur, seni dan budaya. Menikmati pelajaran dharma, tentang esensi hasrat, derita, karma, samsara, makna pengorbanan yang terpatri indah dalam jutaan batu dengan keindahan dan pelajaran dari relief-reliefnya tentang perjalanan dan pengalaman spiritual.

Dengan langkah berkeliling mendaki sampai ke puncak stupa Borobudur melalui abstraksi dari setiap tingkatannya yang semakin arupa atau tanpa bentuk dan wujud. Hingga tingkat kesadaran yang semakin tinggi mengaktifkan klimaks-ekstasi kesadaran agung ditengah-tengah bentangan kekosongan cakrawala tanpa batas.

Borobudur, piramida berbentuk mandala dengan puncak stupanya selain selain mencerminkan semesta alam, menyajikan pelajaran dharma secara pedagogis-visual dan dokumentasi dinamika kehidupan masyarakat pada masa itu yang mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal, terlebih adalah juga sebagai monumen manual ritual dan prosesi spiritual untuk masuk ke dalam labirin kesadaran dalam setiap tingkatannya, ke dalam mandala agung esoterik yang berdimensi kontemplatif dan berdaya meditatif. Langkah mereka yang datang dari kejauhan mencapai ekstase kesadaran meditatif di puncak stupa induk dalam naungan kekosongan cakrawala tak bertepi yang mengisinya.

Setiap hari raya Waisak, di antara ribuan pelita dan doa yang melayang pelan, anak muda itu duduk bersimpuh bersikap samadi dekat puncak stupa, menghadap kekosongan yang tak berbentuk, tak berpayung, hanya dalam naungan kekosongan cakrawala. Dan justru di sanalah ia merasa utuh dan penuh merasakan motivasi kuat untuk menempuh suka duka hidup dan samsara dunia.

Tidak ada chattra yang memayungi, tidak ada simbol yang “menyempurnakan”, hanya langit terbuka terbentang luas dan batin yang perlahan belajar tentang tidak ada sesuatu yang bisa digenggam karena segalanya sunya, kosong.

Ia pernah bertanya dalam diam, mengapa puncaknya dibiarkan kosong? Namun tahun demi tahun, pertanyaan itu larut sendiri, seperti dupa yang habis tanpa perlu dijelaskan. Kekosongan itu tidak kurang, tidak cacat, tidak menunggu dilengkapi. Ia seperti ajaran yang tak diucapkan, bahwa yang tertinggi justru tak bisa ditambahkan apa pun.

Di antara langkah-langkah sunyi itu, ia teringat pada mereka yang jarang disebut dalam doa. Para arkeolog, pemugar, penjaga sunyi yang mengangkat batu demi batu tanpa menambahkan mimpi mereka sendiri. Ia membungkuk dalam hati. Kepada tangan-tangan yang memilih jujur daripada kepada mereka yang merasa memiliki klaim kebenaran, arogansi klaim religius, sesuatu yang asing terdengar di dalam ajaran gurunya sendiri, Sang Buddha.

Anak muda itu menghormat kepada mereka yang penuh kehati-hatian, yang menahan diri bersama kecerdasan spiritual dan kearifan lokal, dan kemuliaan, keindahan, kebenaran sains arkeologi,  dan kepada mereka yang mewartakan keberanian untuk berkata: “kita tidak tahu, maka kita tidak menambah.”

 

Ekstase Meditatif

Secara arsitektural, Borobudur dikenal sebagai pencapaian budaya terbesar umat manusia, mewakili kematangan spiritual masyarakat pada masa itu di tengah pemandangan keindahan lanskap pegunungan, meru dengan langit biru dan hijau pepohonan, dimana keindahan (pulchrum), kebenaran (verum) dan kebaikan (bonum) itu menyatu lengkap dengan sendirinya dan sempurna sebagaimana adanya. 

Seakan memaknai Buddhadharma yang indah pada awalnya, seperti ribuan relief yang mengajak melangkah, indah pada tengahnya, seperti langkah-langkah meditatif dalam setiap tingkatannya, dan indah pada akhirnya, ekstase meditatif bersama puncak stupa induk yang berisikan kekosongan cakrawala.

Dan dalam dunia masa kini yang gemar melengkapi, yang serasa manis madu proyek, mereka, saudara arkeologi dan timnya justru menjaga kekosongan puncak stupa tetap utuh. Lalu, di dalam diri, dalam hati anak muda itu, tumbuh getar yang lain, seperti rasa malu dan rasa salah kepada para pemerhati yang penuh dedikasi, merawat dan menjaga Borobudur bertahun-tahun agar tak runtuh.  Getaran dari percikan hiri dan ottapa yang perlahan tumbuh melalui ketukan siluet Borobudur yang terbayang sedang tersenyum berlatar Pegunungan Menoreh, Merapi dan Merbabu melayang-layang di udara di saat senja.

Ia, anak muda itu pernah mendengar, bahkan hampir ikut percaya, bahwa puncak itu “harus dilengkapi”, bahwa kebenaran bisa dipasang seperti batu terakhir yang hilang. Namun, kini ia mengerti, betapa mudahnya manusia mengira keyakinan sebagai kepastian, dan kepastian sebagai hak untuk memaksakan, wujud hasrat yang bahkan sampai-sampai melalui sensus atau isian survey kuantitatif material yang harus memayungi kualitas spiritual sunyi borobudur. Kemudian ia menunduk pedih, bukan pada siapa pun, tetapi pada batinnya sendiri. Karena mungkin yang perlu diluruskan bukan stupa itu, melainkan cara ia dan juga yang lainnya memandangnya.

Malam Waisak turun perlahan. Asap dupa naik ke langit, seperti doa yang tak lagi meminta jawaban. Ia berdiri di pelataran puncak stupa yang tetap kosong, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menangisinya akan apa yang kelak terjadi pada kekosongan stupa itu, bukan karena getirnya paradoks dari anicca yang dipaksakan oleh tangan-tangan dan hasrat lokiya, melainkan karena tahu cakrawala yang bersifat lokuttara selalu akan mengisinya dan telah memenuhinya. Di dalam kekosongan cakrawala di puncak stupa tak berchattra itu, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia sadari:

Bahwa sekalipun mungkin itu kebenaran, bukankah sepantasnya berendah hati untuk tidak harus dipasang, tidak selalu harus apriori dipastikan, tidak harus selalu dimenangkan bersama kuasa politis, manakala sains yang menjaga kebenarannya selama ini berkata “hati-hati.”

Kadang ia cukup dihadirkan dalam hening, seperti diamnya batu-batu sunyi Borobudur yang menyimpan kebenaran kesunyataan. Dan diantara batu, langit, dan napasnya sendiri, ia berbisik lirih: “Terima kasih kepada yang menjaga kejujuran dan kehati-hatian ini. Maaf atas keinginan untuk melengkapinya.”

Lalu ia serasa melihat batu-batu Borobudur benar-benar tersenyum, seperti senyum Buddha yang bersemayam di hatinya yang kerap menghias bibirnya ketika ditanya kamu Buddha apa, aliran atau persekutuan mana? Karena akhirnya ia mengerti, bahwa puncak stupa yang tanpa payung itu adalah kebenaran kesunyataan itu sendiri yang tak perlu lagi ditutupi, dipayungi, dimahkotai seakan raja cakrawartin yang lebih berasa lokiya-duniawi dan sammvrty-satya. 

Borobudur kitab pelajaran yang mengundang datang melakukan perjalanan dan menghadirkan pengalaman ekstase kesadaran. Ia memilih membiarkan kekosongan cakrawala tanpa batas mengisi puncak stupa, sehingga tak akan pernah kehilangan karena bersifat lokuttara-transenden, sebuah pelajaran paramartha satya yang paling sunyi tentang pengalaman kesadaran tidak lagi ingin memiliki apa pun, nirvana, sunyawuri! (JP) ***

 

BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).

 

Sumber gambar: Gemini AI

 

error: Content is protected !!
Butuh bantuan?