Oleh: Jo Priastana
“Bila kita tidak dapat mengabdikan diri pada manusia,
bagaimana kita dapat mengabdikan diri pada dewa-dewa?
Bila kita tidak dapat memahami kehidupan,
bagaimana kita akan dapat memahami kematian?”
(Konfusius, Filsuf China 551-479)
Chow Yun-Fat adalah salah satu aktor legendaris asal Hong Kong yang dikenal luas, baik di Asia maupun Hollywood. Ia dikenal bukan hanya karena karismanya di layar, tetapi juga karena gaya hidupnya yang sangat sederhana dan rendah hati di luar dunia gemerlap industri film. Chow Yun-Fat lahir pada 18 Mei 1955, di Pulau Lama, Hong Kong, dimana angin membisik dengan tenang bersama dirinya yang kerap menatap langit panjang. Bukan karena untuk mimpi megah, namun hanya untuk bisa menjalani hidup tenang meski dibesarkan dalam keluarga miskin dengan kesederhanaannya.
Ayahnya seorang pekerja pelabuhan, ibunya bekerja sebagai petani dan pembantu rumah tangga, ia belajar hidup apa adanya. Siapa sangka, anak desa dari ladang dan lumpur ini berjalan ke layar perak, penuh ledakan menjadi ikon global dan juga simbol kebijaksanaan modern berkat cara hidupnya. Dari balik sorot dan dunia lakon, ia tetap lelaki dengan dompet biasa dan senyum sopan, dan bahkan ia dijuluki sebagai bhiksu urban meski tak sekalipun melakoni peran bhiksu dalam film-filmnya apalagi menjadi bhiksu formal berjubah.
Chow Yun-Fat sempat masuk stasiun televisi besar di Hong Kong, dimana ia dilatih sebagai aktor. Namanya melejit lewat serial TV “The Bund” (1980), dan dia menjadi ikon dalam film “A Better Tomorrow” (1986), dengan sutradara John Woo. Selanjutnya film the Killer dan The Hard Boiled, yang menginspirasi sineas dunia. Di Hollywood, Chow Yun-Fat dikenal lewat film “Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000), Anna and the King (1999), maupun Pirates of the Caribbean: At World’s End (2000). Pada tahun 2010, Chow Yun-Fat memerankan Konfusius dalam film berjudul “Confucius” yang disutradarai oleh Hu Mei (Tiongkok).
Konfusius Masa kIni
Chow Yun-Fat adalah aktor legedaris yang dikenal sebagai manusia bijak, termasuk perannya yang menarik sebagai Konfusius atau Kong Fu Zi. Sebuah film drama sejarah yang menggali pemikiran tokoh filsafat terbesar di Tiongkok. Bagi Chow, peran ini bukan akting biasa. Ia pernah berkata bahwa ia merasa “diperlukan untuk membawa semangat Konfusius ke zaman sekarang.”
Dalam film Confucius itu, Chow tampil tenang, penuh wibawa, menyuarakan Konfusius untuk keadilan dan moral di tengah kekacauan politik. Tidak sedikit yang menganggap itu adalah peran yang paling “mewakili jiwanya,” karena Chow sendiri memang hidup dengan nilai-nilai ren (kebaikan hati), li (etika), dan yi (keadilan) yang diajarkan Konfusius.
Ia merasa bukan hanya berperan tapi menjadi Konfusius itu sendiri yang sedang menyampaikan pesan-pesan kebajikan untuk orang modern masa kini lewat sinematografi. Confusius merasuki jiwa Chow Yun-Fat dan mendapati dirinya hidup dalam kejujuran, dalam ren dan li, dalam sunyi, dalam cukup, dan dalam berbagi. Ia sempat berkata: “Harta tak kubawa mati, tapi bisa jadi benih untuk bumi.”
Dan kita tahu semuanya, bintang yang bersinar di dunia sinema internasional ini bukan hanya memancarkan cahaya bintang gemerlapnya dari langit di atas sana, tapi lentera yang mengajarkan arti bahagia berjalan di bumi dalam kesederhanaan, menyapa mereka yang susah. Ia adalah sedikit bintang di dunia perfilman yang memilih berjalan merunduk di atas tanah, meski bisa melayang di langit tinggi.
Bagi Chow, peran sebagai Konfusius begitu membekas secara filosofis. Di situ, dia tampak sedang tidak berakting, tetapi seperti sedang menyampaikan sesuatu yang lebih dalam, seperti sedang berbicara kepada zaman, tentang ajaran Konfusius di masa kini. Dan mungkin, jika Konfusius hidup hari ini, ia akan tersenyum pada Chow Yun-Fat, bukan karena aktingnya, tapi karena cara hidupnya.
Chow bukan hanya aktor, ia adalah manusia Budiman, idaman Konfusius. Ia adalah contoh bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, tapi keberlimpahan yang tidak membutuhkan pengakuan. Ia mengajarkan lewat tindakan bahwa ketenaran bisa digunakan untuk menyentuh banyak orang, bukan meninggikan diri sendiri.
Dia tampaknya ingin menjadikan kehadirannya dalam film “Confucius,” layaknya Konfusius yang sedang mewartakan kebenaran hidup untuk dunia masa kini, untuk generasi muda bisa tumbuh dengan bahagia. Dalam wawancara ketika memerankan Konfusius, Chow pernah bilang: “Saya ingin orang muda sekarang mengenal Konfusius, bukan sebagai simbol kuno yang membosankan, tapi sebagai sumber kebijaksanaan yang masih relevan hari ini.”
Menghidupkan hikmat (wisdom) dari masa lalu, ujar-ujar kebijaksanaan Konfusius yang direkam oleh para muridnya, diantaranya Chuang Tzu, dalam “The Analects (Lun Yu)”, (translated by Anping Chin, New York, 2014, Penguins Book). The Analects, satu dari sempat buku utama Konfusius, yang mengandung nilai-nilai keutamaan dan juga teknik-teknik mewujudkannya, seperti humanisme (ren), learning (xue), knowledge (zhi), rightness (yi), and petty loyalty (liang).
Dalam sosok Chow Yun Fat yang melakoninya dalam film “Confucius”, kita dapat merasakan getar ujar-ujar kebijaksanaan Konfusius (551-479). Ajaran Konfusius dalam The Analects tentang kebajikan yang tidak semata teoritis tapi juga lakon dalam kehidupan nyata. Chow Yun-Fat mewujudkan itu tidak sebatas lakon dalam film tapi juga dalam kehidupan nyata pribadinya.
Nilai-Nilai Konfusianis Untuk Masa kini
Chow Yun-Fat mengakui bahwa nilai-nilai seperti “ren” (kebaikan hati), “Li” (etika sosial), dan “zhong” (kesetiaan) masih sangat penting di zaman modern yang penuh keserakahan dan kepalsuan. Chow ingin memperlihatkan bahwa Konfusius bukan sosok yang kaku, tapi manusia yang berjuang menghadirkan kebajikan di dunia yang kacau, sebagaimana seperti yang kita alami hari ini.
Ia juga bilang bahwa film Confucius itu adalah peran paling sulit secara batin, karena ia harus “menghayati nilai, bukan hanya naskah.” Terwujud dalam cara ia hidup, bukan cuma akting, tapi refleksi diri, nilai-nilai kehidupan dan filosofi hidup yang juga perlu dibuktikan.
Sebagai Konfusius, Chow Yun-Fat tampak berdiri dengan janggut berurai, suara yang bergema bukan dari naskah using, melainkan suara lama yang hidup kembali dalam tubuh aktor yang diam-diam menjadi murid sejati. Ia tak segan mengajar dalam mimbar tinggi, tapi langkah kakinya memilih rendah hati, ia tak mengutip kitab suci, tapi menyumbangkan hartanya pada bumi.
Serasa Konfusius hidup di masa kini dalam sosok Chow Yun-Fat, baik dalam filmnya maupun kehidupannya. “Ren” (humanisme) ucapnya, bukan hanya sekedar kata. Ketika kau memilih memberi meski bisa memiliki, ketika kau memilih diam meski bisa menang debat. Perannya bukan sekedar lakon tapi menjadikan dirinya sebagai jembatan dari masa lalu ke layar zaman. Ia mempertemukan dunia yang lupa pada hormat dan hikmat lama bakti yang terpendam dalam lemari sekolah-sekolah.
Menyaksikan (film) Confucius dalam diri Chow Yun-Fat, serasa Konfusius hidup kembali. Konfusius yang berkeliaran bukan di istana dinasti tapi di keramaian kota, di wajah aktor tua yang tak pernah mengejar harta, dan menggema di negara-negara yang dilanda kegelapan dan ancaman keruntuhan karena keserakahan dalam korupsi yang merajalela.
“Korupsi menghancurkan moralitas, dan ketika moral hancur, Negara pun Runtuh,” begitu peringatan Guru Kung (Konfusius), Filsuf Tiongkok dari masa lalu yang bergema dalam sosok Chow Yun-Fat. Peran Chow Yun-Fat yang berwibawa, tenang dan tegas sebagai Konfusius dalam Film “Confusius” yang epik dan beredar di banyak negara.
Dalam film Confusius itu banyak sisi “pertapaan sosial”, dimana Konfusius memimpin muridnya seperti guru spiritual yang menggelorakan hidup sederhana dan jauh dari keserakahan. “Jalan kewajiban kita terdapat pada hal-hal yang dekat; namun banyak orang mencarinya di tempat jauh. Tugas kewajiban adalah mudah; namun, banyak orang mencarinya dalam hal-hal yang sulit.”
Pesan menjauhkan keserakahan dan menjalankan tugas kewajiban dharma itu ada dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana juga diajarkan Buddha. Ajaran yang mencerminkan pertapaan sosial ini dilakoni dalam kehidupan sesungguhnya oleh Chow Yun-Fat. Gaya hidup Chow Yun-Fat yang dikenal juga dengan julukan layaknya bhiksu urban! (JP) ***
BAGI PARA PEMBACA YANG MAU MEMBANTU OPERASIONAL SETANGKAIDUPA.COM BISA MELALUI REK. BANK BRI KCP CIPULIR RADIO DALAM 086801018179534 AN. MAJAPUTERA KARNIAWAN. MOHON MENGIRIMKAN KONFIRMASI DANA KE WHATSAPP NOMOR 089678975279 (MAJA).
Sumber gambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7b/Chow_Yun_Fat_for_wiki.jpg/960px-Chow_Yun_Fat_for_wiki.jpg